The Last Dragon

1st OP(hasil editan sendiri): X-Japan - Art of Life~Novel edit
First Shard: Contract

Hujan deras membasahi daratan. Kilat dan petir yang saling bersusulan memecah kegelapan malam dan menjadikannya kian mencekam. Aku berdiri diam tak bergeming, tak bergerak, dan tak berbicara. Di hadapanku tengah berdiri seorang wanita. Ia mengenakan armor baja yang terlihat sangat berat untuk ditopang tubuh kecilnya. Namun posisi tubuhnya yang tegak, dengan menggenggam pedang raksasa pada tangan kanannya dan perisai di tangan kirinya, seolah-olah mengatakan bahwa dirinya cukup kuat untuk menopang semua itu. Helm yang dipakainya di kepalanya berbentuk moncong naga, menutupi sebagian wajahnya dari cahaya kilat yang menyambar-nyambar. Hanya seperempat bagian dari wajahnya yang terlihat olehku, dari mata kiri hingga pipi kirinya. Rambutnya yang pendek seleher, basah terkena air hujan. Sorot matanya tajam, penuh dendam, penuh kebencian, dan penuh keinginan untuk membunuh. Namun itu saja sudah cukup bagiku untuk mengenalinya.

SRRIINGGG... Ayunan pedang yang bergesekan dengan tanah, meskipun tertutup suara hujan deras yang mengguyur jalan raya ini, sudah cukup untuk membuat telingaku terasa seperti diiris-iris. Tubuhku seakan lemas tak berdaya meskipun aku masih memiliki tenaga untuk menggerakkannya. Saat pedangnya terangkat ke atas, aku hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak.

Matanya menatap mataku. Mata kami sama-sama tak berkedip walaupun air hujan berkali-kali membasahi mata kami. Namun yang ada di mataku tak hanya air hujan. Air mataku yang membaur dengan air hujan ikut turun ke pipi, ke dagu, lalu menetes ke atas aspal jalan. Sebelum deraian air mataku tepat bertumbukan dengan aspal, pedang wanita itu pun bergerak secepat kilat yang menyorot wajah kami. Nyaris tak masuk akal untuk seorang gadis seperti dia mampu menggerakkan pedang seberat ini dengan kecepatan luar biasa seperti ini.

Tepat saat air mataku menitik di atas aspal, pedang itu pun terayun ke wajahku diiringi suara petir yang menyambar dengan dahsyatnya...

CTAAAARRRR!!!!

------------------------------

satu tahun yang lalu...

Malam yang kelam, bulan enggan bersinar. Meskipun begitu, sorot-sorot lentera dari gedung-gedung tinggi yang berdiri tegak sudah cukup untuk memeriahkan malam. Suara burung malam berkumandang, bersahutan dengan deru kendaraan yang menyapu jalan beraspal. Semakin mendekati tengah malam, makin sedikit lentera-lentera kendaraan manusia yang bersimpang-siur kesana-kemari pada hari ini. Hari di mana manusia masih bekerja dengan giatnya. Mereka tak mau menyia-nyiakan tenaga mereka dengan mengendarai kendaraan mereka malam-malam. Mereka hanya menggunakan kekuatan mereka sepenuhnya untuk mengerjakan pekerjaan sehari-harinya, yang dapat mendatangkan keuntungan bagi diri mereka sendiri.

Egois, lemah, dan tamak. Itulah manusia. Makhluk yang kini menjadi penguasa tunggal di muka bumi. Belum cukup dengan itu, mereka saling berebut wilayah satu sama lain dengan senjata-senjata yang mematikan. Saling mengancam, saling melukai, saling menyakiti, bahkan saling membunuh. Benar-benar makhluk paling hina dan kejam yang pernah kulihat. Aku merasa muak harus menjadi salah satu dari mereka hanya untuk berada di sini.

Aku kini sedang duduk di atap sebuah gedung yang tertinggi di daerah ini. Melihat ke bawah, memandang ke arah para makhluk hina itu dari atas. Mereka lemah, namun mereka sangat berbahaya. Para leluhurku binasa oleh karena ketamakan mereka. Kedua orangtuaku binasa karena mereka. Semua sanak saudaraku binasa juga karena mereka. Kini, hanya tinggal aku sendiri di bumi ini. Akulah Grevaedon Silvings...

THE LAST DRAGON

Suara bising memekakkan telingaku. Suara yang mirip terompet itu terus berkejaran ke sana kemari dengan nada yang berbeda-beda, diiringi suara geraman yang entah mirip geraman makhluk apa. Di balik semua suara itu, suara gaduh manusia yang berbicara satu sama lain juga membuat telingaku geli. Aku sekarang berada di tengah-tengah hiruk-pikuk manusia yang berlalu-lalang kesana kemari.

Kusandarkan punggungku ke dinding sebuah bangunan yang sangat tinggi

Dunia manusia telah berubah pesat, berbeda sekali dengan yang diceritakan ayah dan ibuku, yang pernah berkunjung ke dunia manusia kira-kira seribu tahun yang lalu. Mulai dari cara mereka berpakaian, cara mereka mengikat rambut, cara mereka berjalan, bahkan hingga cara mereka berinteraksi satu sama lain. Beberapa di antara mereka berbicara sendiri dengan benda berbentuk kotak sebesar kepalan tangan yang ditempelkan ke telinga mereka. Benar-benar makhluk yang aneh.

Aku menggerakkan kepalaku ke kanan, melihat ke balik dinding transparan suatu gedung. Di dalamnya ada beberapa manusia saling berbicara satu sama lain. Aku juga melihat kendaraan 'baru' manusia di dalam sana. Kendaraan yang bukan berupa kereta berkuda ataupun hewan lain. Kendaraan ini terbuat dari logam, dengan dinding-dinding transparan dan benda-benda yang dapat bersinar seperti lentera, tapi bukan lentera.

Mereka terlihat berbicara satu sama lain. Aku pun berusaha mendengarkan apa yang mereka katakan.

"Mobil ini harganya berapa?" Tanya seorang lelaki.

Oohh... jadi kendaraan itu disebut mobil? Belum selesai kudengarkan percakapan mereka, aku mendengar suara yang mengagetkanku dari depan.

"HEY!" Teriak orang itu. "Lampu yang berada di atasmu rusak, kami harus menggantinya!"

Aku pun menyingkir sambil bertanya-tanya dalam hati, apa itu lampu? Aku pun memperhatikan orang itu. Ia mengambil tangga dan memanjat ke atas dinding tempatku bersandar tadi. Ia mengambil sebuah benda dari langit-langit, lalu menggantinya dengan benda yang mirip. Lalu ia masuk ke dalam gedung, dan tak lama kemudian benda itu berpendar seperti lentera.

Oohh... aku sekarang mengerti yang ia maksud dengan 'lampu'.

Aku kemudian berjalan menjauhi tempat itu, menuju ke sebuah tempat yang sepi, di mana aku bisa membuka peta rahasia yang ditinggalkan pembunuh ibuku empat puluh tahun yang lalu. Balas dendam. Itulah motivasiku mengunjungi kota yang disebut-sebut Jakarta ini.

Belum sepuluh langkah aku berjalan, tiba-tiba seseorang memegang bahu kiriku. Kulihat tangan itu mengenakan sarung tangan berwarna hitam. Aku pun melihat ke arah wajah orang itu. Ia mengenakan penutup mata hitam dan penutup mulut, serta topi.

"Naga, ikutlah denganku!" Ajaknya dengan suara parau.

Naga?! Ia tahu kalau aku adalah seekor naga? Ia pasti bukan orang sembarangan! Aku harus berhati-hati, kalau-kalau ini jebakan. Saat aku berpikir, tiba-tiba ia sudah berada di depanku, dan berjalan mendahuluiku. Aku pun segera mengikutinya dengan tangan terkepal, siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Ia membawaku ke sebuah lorong sempit yang diapit dua bangunan tinggi. Lorong itu bau, becek dan buntu, serta penuh sampah yang dibuang manusia. Saat aku masuk ke dalamnya, ia sudah berdiri menghadapiku.

Ia mengangkat tangannya ke atas, mengakibatkan tanah yang ada di belakangku, yang merupakan batas antara tempat ini dengan luar, naik beberapa kaki. Melihat situasi yang tidak menguntungkan aku segera melompat maju untuk menyerangnya.

Tak kusangka, ternyata ia hanya menahan pukulanku dengan tangan kanannya, namun tidak membalasnya. Ia mencengkeram tanganku begitu kuat hingga aku kesulitan menariknya.

"APA MAUMU?!" Bentakku.

"Kau yang sekarang, sedang dipenuhi kebencian yang mendalam kepada manusia bukan?" Sindirnya sambil tersenyum, sedikit memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Aku diam saja, tak berekspresi. Memang, apa yang dikatakannya benar. Namun aku enggan mengakuinya karena itu akan menurunkan harga diriku. Di sisi lain, aku juga enggan menolaknya karena hal itu memang benar, dan aku tidak suka membohongi diriku sendiri. Jadi, pilihan yang terbaik hanyalah diam.

"Hehehe..." Iblis itu terkekeh pelan. Ia pun melanjutkan perkataannya, "Kebetulan sekali, Aku kemari untuk membicarakan sebuah kontrak..." Ia pun melepaskan tangan kananku setelah yakin aku akan diam selama ia tidak macam-macam.

"Kontrak apa?" Tanyaku heran.

"Yang Mulia Lucifer menginginkan kau menjadi jenderalnya. Dia menawarkan kesempatan untuk membalas dendam pada semua manusia apabila kau mengambilnya!" Jelas iblis itu kepadaku.

"Balas dendam..." Gumamku pelan. Ya, ini bisa menjadi kesempatan yang baik bagiku. Aku mendapatkan kekuasaan, kehormatan, sekaligus kesempatan untuk membalas dendam! Tapi tunggu dulu. Benarkah kenyataannya akan semulus itu? Bicara mengenai Lucifer, ia adalah makhluk yang paling licik dan paling jenius di neraka. Apakah ia dapat dipercayai? Tidak sama sekali. Tanpa Lucifer, aku dapat melancarkan aksi balas dendamku sendiri. Jadi, kenapa harus menjadi anak buah Lucifer? Lagipula aku paling tidak suka bila posisiku berada di bawah makhluk lain, apalagi iblis jahanam seperti dia.

"TIDAK!" Jawabku lantang.

"Mengapa tidak? Ini adalah kesempatan yang tepat bagimu! Bukankah tawaran ini sangat menguntungkanmu? Bila aku berada dalam posisimu, maka akan kuambil tawaran ini!" Iblis ini menguatkan tawarannya.

Namun terlambat. Bagiku, sekali tidak, tetap tidak. "Maaf, tapi kurasa Lucifer terlalu licik untuk dipercayai!" Jawabku sinis. Aku tahu betul seperti apa Lucifer itu. Ia sangat ahli dan bahkan jenius dalam menerapkan strategi-strateginya. Ia menawarkan kesempatan yang sepertinya sangat menguntungkan, namun di balik semua itu, pasti pada akhirnya juga hanya menguntungkan dirinya sendiri saja, tanpa satu pun keuntungan bagiku.

"Kalau begitu, terpaksa kujalankan rencana B..." katanya sambil berjalan menjauh dariku. Setelah beberapa langkah, ia pun berhenti, lalu berpaling ke arahku. "MEMBINASAKANMU!"

Tangan kanan iblis itu memanjang dan melesat ke arahku, tepat mencekik leherku. Ia pun melemparkanku ke udara. Namun sebelum gravitasi sempat menjatuhkan tubuhku kembali ke tanah, iblis itu sudah terbang ke sambingku, menendang tubuhku keras-keras hingga jatuh di atas gedung yang tinggi itu.

Saat aku mencoba bangkit, tiba-tiba pukulan tangan panjang iblis itu meluncur ke arah kepalaku. Secara refleks, aku pun menekuk punggungku dalam posisi setengah kayang untuk menyelamatkan kepalaku. Sedetik kemudian, ia sudah berada tepat di sampingku. Kakinya menjegal pijakanku. Dan sebelum tubuhku jatuh menghantam atap gedung itu, ia menambahkan pukulan di dadaku yang menghempaskanku kembali ke lantai gedung bertingkat ini.

Aku terkapar, meninggalkan retakan cekung di atap gedung itu. Tangan kanan iblis itu masih menancap di dadaku. Aku pun tersenyum puas. Sudah lama aku menantikan pertarungan seru seperti ini!

Kuraih tangannya yang masih menempel di dadaku dengan kedua tanganku. Saat kualirkan energi yang dahsyat melebihi energi manusia ke tanganku, tanganku pun mulai berubah bentuk. Tangan manusiaku yang kurus otot-ototnya mulai membesar, serta muncul sisik-sisik naga menghiasi kedua tanganku dari bahu hingga ujung jari. Sementara tangan kiriku masih memegang erat pergelangan tangannya, tangan kananku menggenggam lengannya. Lalu kulemparkan iblis itu ke belakang sekuat tenagaku.

BLEDHAAARRR!!! Tubuhnya menghantam atap gedung. Aku pun berdiri, lalu berjalan dengan lamban menghampirinya, berusaha memperpanjang pertarungan. Kenapa? Ya, karena aku menyukai pertarungan. Aku tak ingin pertarungan ini cepat-cepat berakhir dengan mudah.

Tanpa kusadari, tiba-tiba tangan kanannya yang memanjang sudah meraih kaki kananku. Otomatis aku pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Pada saat itulah ia mulai bangkit, lalu membanting tubuhku ke sebelah kiri tubuhnya.

BLAAAMMM!!!

Wajahku menghantam lantai gedung. Belum sempat aku menyelesaikan nafasku, ia sudah membanting tubuhku lagi ke arah kanannya. BLAMM!!! Kemudian dipendekkannya tangan kanannya sekaligus menyeret wajahku menyerempet lantai puncak gedung yang kasar. Kini tangan kirinya ikut menggenggam kaki kananku. Tak lama kemudian, ia memutar-mutar tubuhku beberapa kali di udara, lalu melemparkanku dengan bebas ke arah langit. Ia pun terbang menyusulku ke angkasa. Saat tubuhku sudah menembus beberapa awan, ia pun terlihat. Tangannya kembali memanjang untuk melayangkan pukulan ke wajahku...

GRAB!!

Aku berhasil meraih tangannya dengan kedua tangan nagaku. Inilah kesempatanku! Di balik awan-awan ini, tentu tak ada manusia yang dapat melihatku. Di sinilah aku dapat berubah sepenuhnya. Mendadak seluruh otot tubuhku membesar, sisik-sisik bermunculan di sekujur tubuhku. Mulut dan hidungku memanjang menjadi moncong. Gigi-gigi manusiaku berubah menjadi gigi-gigi tajam. Sayap dan ekor pun tumbuh pada tubuhku. Kulit sisikku berubah warna menjadi hitam dengan sedikit motif merah. Kini aku telah berubah menjadi seekor naga sepenuhnya.

Tangan kiri iblis itu pun memanjang untuk menyerangku. Sayangnya aku sudah menyadarinya terlebih dahulu. Kucambuk tangan kirinya dengan ekorku. Dengan memanfaatkan tangan kanannya, aku pun terbang mendekati iblis itu. Kucekik lehernya dengan tangan kanan, kubelit kakinya dengan ekorku, lalu aku pun menengadah, mempersiapkan 'finishing touch'...

"GRRAAAA..."

BLAAAAAARRRRR!!!! Semburan apiku membakar wajahnya.

"AARRRGGGHH!!! ARRRGGGHHH!!!" Erangnya kesakitan. Aku pun melepaskan belitan dan cekikanku. Api yang membakar kepalanya pun meluas hingga ke seluruh tubuhnya, hingga akhirnya...

DHUAAARRRR!!!

Tubuhnya hancur berkeping-keping. Setiap kepingan tubuhnya yang akan jatuh terbakar hingga lenyap tak bersisa. Di balik kepingan-kepingan yang terbakar itu. aku pun mengembalikan wujudku menjadi manusia, masih dengan sayap tentunya, agar aku masih dapat melayang di udara.

"Lucifer, kau juga kejam seperti manusia... namun kau lebih licik dan jenius. Apa yang sebenarnya kau harapkan dariku?" Gumamku pelan sambil menatap puing-puing iblis itu.

Aku mengepakkan sayapku, lalu mendarat kembali di puncak gedung itu dan melenyapkan sayapku. "Sekarang, di mana aku?" Tanyaku pada diriku sendiri sambil merogoh kantongku, berharap menemukan sebuah peta di dalamnya. Setelah kutemukan, kubuka peta itu lebar-lebar, dan kubandingkan dengan daerah sekitarku.

"Gedung ini... terletak di sebelah sana," gumamku setelah mengamati peta itu. "Ibu, pasti akan kubalaskan dendammu!" Kataku sambil meremas peta yang baru saja kulihat.

To Be Continued...
==================
1st ED: Shin - Se Le Tou Yau Ai~Novel edit

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer angel16
angel16 at The Last Dragon (11 years 14 weeks ago)
60

ideya bagus. he3

Writer andreas
andreas at The Last Dragon (12 years 13 weeks ago)
80

bravo-bravo. Ceritanya sgt berpotensi utk jadi seru !!

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at The Last Dragon (12 years 13 weeks ago)
90

Manusia jelmaan naga?

Wah keren banget nih. Aku ngebayangin naga vs lucifer bertarung di atas langit Jakarta yang dihujani petir.

Menyelinap di antara gedung2 pencakar langit dan menyerang bagai dua badai yang saling berbenturan.

Nice work

Writer Zhang he
Zhang he at The Last Dragon (12 years 13 weeks ago)
80

Halo halo admin!! Wkwkwkwk..
Daku uda pernah komen kan ya? ^^
Masi inget gx komenku dulu apa....

Hahahahahhaaa,pasti dah lupa.
Tak kasi yang baru dah ya ^^
Yang lebih mendetail.

Oke, gini.
Ada beberapa kalimat yang menurut gw kurang efektif. Misal:
1. Helm yang dipakainya di kepalanya berbentuk moncong naga, menutupi sebagian wajahnya dari cahaya kilat yang menyambar-nyambar. Hanya seperempat bagian dari wajahnya yang terlihat olehku, dari mata kiri hingga pipi kirinya.

Mulai dari hanya seperempat dst dst...
itu mnrut gw gx perlu, klo prasaan gw sih jd aneh kalimatnya yang sebelumnya dah bagus.

2. Matanya menatap mataku. Mata kami sama-sama tak berkedip walaupun air hujan berkali-kali membasahi mata kami.
^^ gimana klo 2 kalimat ini digabung. Soalnya jadi ngulang 2 kata mata di pembuka kalimat.

Dan masi ada yang laennya, yg kepanjangan klo disebut disini. Wkwkwkwkkk...

Dan sebelum kepanjangan ^^, komen secara overall, idenya lucu ^^
Harusnya veed, dibikin semacem prolog gitu, sampe di bagian akulah grevaedon silvings.
Baru dikau post cerita lanjutannya di part berbeda ^^ biar dramatis.
Wkwkwkwkwkkk...

BTW! Crita fantasi gw gx ada YAOI nya! XD wkwkwkwkkk!! Trauma bgt ya? Waahhaahahahahahh! Ntar deh disisipin... atas request om veed. Hihiihiihihi ^^

Writer Rijon
Rijon at The Last Dragon (12 years 13 weeks ago)
80

>>> Egois, lemah, dan tamak. Itulah manusia. Makhluk yang kini menjadi penguasa tunggal di muka bumi.

Kalau saran dari aku, bukannya sebaiknya kalimat pertama itu digabung dengan kaliamat kedua?? Kenapa?? Karena kalimat pertama itu berupa frase (bukan kalimat) rasanya aneh aja kalau berdiri sendiri kayak gitu ^____^

Dari segi penceritaan, ini pake sudut pandang orang pertama kan, dan SUDAH DAPET TUH FEELnya sebagai orang pertama!!

Cerita tentang NAGA TERAKHIR (keliatan dari judulnya) temanya oke!!

Saran lagi untuk karya2 selanjutnya, hati-hati om dalam membubuhkan SOUNDS EFFECT!! Karena indera pendengaran Indonesia dan Inggris beda lo?? Kalau cerita ini disajikan unutk orang Indonesia, sebaiknya gunakan versi Indonesia.

CONTOH:
Inggris: BAAAAANG!!
Indonesia: DHUAAAAAR!!
Inggris: Cock-a-doodle-doo!
Indonesia: Kukuruyuuuk!

Dan belum tentu ada orang Indonesia yg tau kalau BAAANG = DHUAAAR!!