Guardians of Lothier "Part 2 - Kebangkitan Ras Level 3 (section 4)"

“Teal!!”

Aku melesat turun dan kudapati blokade sedang disusun di pintu perbatasan.

“Buat pertahanan sekuat yang bisa kau pikirkan. Dengan jumlah sekitar lima puluh dan gerakan lambat, blokade akan menjadi penghalang yang cukup menghambat. Mereka tidak boleh menginjakkan kaki di Lothier.”

“Laksanakan!” seru teal, memberi hormat.

Ia mulai bekerja memperkuat konstruksinya. Karung-karung pasir ditumpuk menghalangi jalan. Pagar kayu darurat dengan lilitan kawat tajam tengah dikokohkan. Aku berlari melihat keadaan di desa. Semua orang sibuk berlalu-lalang dan melesat kesana kemari. Kulihat para wanita setidaknya memegang senjata dan telah menyiapkan berbagai benda yang dapat dijadikan alat menyerang. Seluruh pria dan pemuda yang sudah cukup umur semua bersiap, lengkap dengan senjata. Anak-anak kecil dan orang tua tidak terlihat lagi satupun, mencari tempat berlindung. Ya, ini bagus, melebihi perkiraanku, mereka semua sangat sigap menghadapi saat genting. Kurasa sekarang tinggal menunggu serangan dan berharap Lord Villea dan Guardians segera kembali.

Aku berjaga diatas menara, mengawasi mereka yang bergerak perlahan tapi pasti. Cih… kalau melihat cara gerak mereka yang begitu lambat, kurasa ini tidak akan sulit. Namun…..

Aku melihat kebawah, dibelakang blokade, sekitar dua puluh orang, tanpa kemampuan bertarung yang handal tengah bersiap. Sedangkan kubu musuh… lima puluh makhluk yang tidak diketahui identitas dan kemampuannya tengah mendekat—hanya beberapa meter lagi.

Tch….. sialan..
Aku tidak mengharapkan akan merasa gugup disaat seperti ini, namun perasaan yang menyebalkan itu muncul begitu saja. Pikiran-pikiran buruk datang mengganggu dan membuyarkan konsentrasiku. Bagaimana bila desa gagal dipertahankan? Bagaimana bila seluruh penduduk binasa?

Kutepis itu semua dan berusaha menyemangati diriku sendiri. Kupegang pedangku erat-erat di tangan kiri dan menunggu.

Semakin dekat, semakin aku bisa melihat bentuk makhluk-makhluk itu. Mereka bertubuh bulat kecil, berwarna biru laut dengan mata kuning berkilau. Di ujung kepala, mencuat semacam antena aneh dengan ujung bulat, berwarna merah. Kaki-kaki kecil mereka menapak perlahan-lahan, namun terus mengurangi jarak diantara kami.

Aku mendengus senang. Makhluk kecil rupanya…. Kurasa mereka akan kalah melawan kekuatan fisik. Ya, ini akan mudah.

Aku meluncur turun dari menara dan memberi aba-aba bersiap.

Panah dan senjata lempar lainnya disiapkan, lalu dalam diam menunggu hewan-hewan kecil itu mulai berada dalam jarak pandang.

Sepasang cahaya berpendar kekuningan dari mata mereka mulai muncul, diikuti yang lainnya. Aku mengangkat tanganku, memberi aba-aba. Barisan sepuluh orang pemanah bersiap. Kulihat mereka sedikit gemetar, dengan wajah ketakutan. Cih…. Kenapa orang-orang Lothier semua penakut….

Tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Mereka mulai memasuki perbatasan.

“Bersiap…,” bisikku.
Mereka menarik tali busur masing-masing dan membidik. Makhluk-makhluk kecil itu terus berjalan perlahan-lahan seakan tak berdosa. Tch..…mati kalian.

“Tembak.”
Sepuluh anak panah melesat cepat menyerang mereka. Dengan suara desingan pelan, panah-panah itu menuju tepat pada sasarannya. Namun; membuatku terperangah; ditahan begitu saja di udara oleh gumpalan putih, dan akhirnya berjatuhan di dekat mereka. Mata kuning mereka melihat kami dan mulai bergerak ke arah kami. Sialan…

“Shift 2! Serang!!” jeritku.
Lontaran batu memenuhi udara. Makhluk itu hanya melihat begitu saja. Terdengar bunyi duk keras, namun hewan-hewan itu masih berdiri tanpa luka. Dan aku melihatnya. Ya, mereka menciptakan suatu lapisan berwarna biru transparan. Sial… apa mereka makhluk yang menggunakan sihir? Kacau!

“Berpencar!” perintahku, “Mereka makhluk sihir! Buat mereka bingung menentukan sasaran sihir. Jangan saling menyatu!”

Semuanya berpencar dari belakang blokade, dengan panik mencari tempat dibelakang pohon atau dibalik menara pengawas.

Sial.. mereka panik. Ini berbahaya….

Aku mengendap2, disembunyikan oleh gelapnya malam itu, mendekat ke arah makhluk-makhluk sihir itu yang tengah berkumpul. Entah terlihat begitu tenang atau tidak memiliki ekspresi, namun mereka dengan santai terus mendekat tanpa takut. Aku sedikit gentar melihat keberanian mereka.

Bagaimana caranya melawan makhluk sihir? Cih… ayah….. bagaimana dengan menghadapi makhluk sihir? Kelemahan…..pikirkan kelemahan mereka……

Tidak ada waktu. Mereka sampai diperbatasan dan menghadapi blokade. Lalu kusaksikan sendiri bagaimana mereka menyerang. Dengan mata terpejam, antena dikepala mereka berpendar redup, dan dari tangan kecil mereka yang bulat, muncul sinar biru ganjil, dan begitu saja melesatkan bongkahan-bongkahan es menghantam blokade. Dentuman keras terdengar, namun—untunglah—blokade itu masih berdiri. Cih…. Giliranku, setan-setan kecil.

“Heeeeaaaa!”

Aku berlari dan mengagetkan mereka dengan arah kedatanganku yang tidak terduga. Sebelum mereka bisa melakukan sesuatu, aku menerobos dan membuyarkan barisan mereka dengan sabetan pedangku.
Haha, hadapi aku, cebol!

Satu makhluk terpisah sedikit jauh, aku berlari mendekat dan menghunuskan pedangku. Namun tiba-tiba gumpalan salju dibawah kakiku membuncah dan berdiri menghalangiku seperti tembok.

“Brengsek!”, umpatku dan menoleh kebelakang.
Sekompeni telah siap menghadang di belakang radius satu meter.

“Sial…. Makhluk es rupanya. Kalian mengendalikan es, eh? Peduli setan!”

Dengan pedang bersiap posisi menangkis, aku berlari dan kembali berusaha membuyarkan barisan mereka. Namun kali ini mereka siap. Bahkan sebelum aku menyadari apapun, segumpal salju padat tiba-tiba menghantamku keras di wajah. Aku jatuh terjengkang ke belakang, dengan hidung yang mulai mengeluarkan darah.

Brengsek! Mereka unggul dengan adanya salju-salju ini…. Bagaimana ini….

Menyadari ketidakseimbangan ini, aku mundur ke belakang blokade. Rekan-rekan yang melihatku kalah mendadak panik ketakutan.

“Matilah kita! Habislah sudah!”
“Mereka terlalu kuat! Kita kalah!”
“Mundur, cari perlindungan!!”
“Brengsek pengecut!!” jeritku.

“Jangan sekali-sekali berpikir untuk mundur, terkutuk! Berani lari, akan kupastikan kalian mati di tanganku sendiri! Brengsek!” hardikku keras, memelototi manusia-manusia pengecut itu.

Mereka membisu dalam ketakutan sambil sesekali melirik makhluk-makhluk biru kecil yang mulai mendekat dan menyerang blokade lagi.

“Dasar pengecut, lindungi tanah kalian Lothier!! Kita hanya perlu menghalau mereka dengan batas waktu satu jam!”

DRAAAK!!!
Blokade dihantam oleh gumpalan salju berat.

Sialan…… bagaimana mengatasi mereka…. Tch… kelemahan….. kelemahan mereka….

Dan tiba-tiba suara ayahku seakan menggema dalam otakku.

“Menghadapi makhluk besar, tidak perlu gentar. Sebagian besar dari mereka lambat dan akan mudah untuk diserang. Yang kaubutuhkan hanya kecepatan. Serang mereka sedikit-sedikit dengan kecepatan.”

Itu dia! Makhluk-makhluk ini lambat. Aku butuh kecepatan. Tapi ukuran mereka……

“Menghadapi sebagian besar makhluk kecil, kau butuh ketajaman penglihatan. Mereka bergerak cepat, namun dengan beberapa serangan, mereka akan kalah. Fisik mereka tidaklah kuat.”

DRAAAKKK!!!
Sekali lagi blokade dihantam, menimbulkan bunyi berderak keras.

“Baiklah, prajurit!” teriakku, membuat semuanya berpaling, “Kita hanya perlu bertahan dalam kira-kira satu jam! Aku punya rencana. Serangan gerilya. Mereka lambat, jadi kita menyerang dengan kecepatan. Tubuh kecil, pertahanan fisik lemah, jadi akan mudah dikalahkan. Tetaplah berpencar dan jangan menyerang secara bersamaan!”

“Masing-masing harus terus berlari, jangan berada didekat mereka dalam waktu lama, mundurlah persis setelah menyerang. Barisan panah dan penyerang jarak jauh, terus dukung para penyerang dari belakang! Sekarang, menyebar!!”

Entah mereka mengerti atau tidak, tidak ada waktu lagi. Aku kembali menuju blokade dan berlari secepat kakiku bisa membawaku. Melompati blokade, kudapati makhluk-makhluk itu tengah memejam dan kembali melontarkan salju padat kearah blokade.

Aku melompat minggir dan berlari menjauh ke arah bayang-bayang yang gelap. Kulihat dibelakang, blokade sudah mulai goyah dan menunjukkan tanda-tanda akan hancur dalam waktu singkat.

Makhluk-makhluk itu melihatku dan kini mengalihkan perhatiannya kepadaku.

Hmm.. rasanya aku mulai memahami mereka. Serangan kelompok ini…. Konsentrasi hanya pada satu objek…. Haha, kalian tidak cukup berotak rupanya. Mampuslah kalian dengan serangan gerilya ini…

Tiba-tiba suara desingan memenuhi udara, dan lontaran-lontaran batu menghujani mereka. Beberapa yang kena telak, terjungkal, beberapa diantaranya kembali bangkit dengan garang. Namun barisan mereka telah kacau. Konsentrasi mereka terpecah antara melihat-lihat udara dan berkonsentrasi padaku.

“Heh… terima itu, bola kaki,” ceplosku, bangga dengan rekan-rekanku yang mulai berani menyerang.

Beberapa orang tiba-tiba muncul dari arah yang berbeda-beda dan menerobos barisan mereka, menyambit dengan Dagger. Seorang dari mereka terpental setelah dihantam balok es. Yang lain berhasil melukai beberapa makhluk.

Ya... kurasa ini bisa berhasil. Aku ikut berlari dan mengacaukan formasi. Dalam beberapa menit, kubu kami menikmati menghajar makhluk-makhluk kecil yang kini tidak berdaya itu. Satu persatu mulai berjatuhan dan tidak muncul lagi dari timbunan salju. Namun kusadari, kekuatan kami pun mulai melemah. Jumlah prajurit yang terluka sudah hampir mencapai separuh kompeni. Tubuhku sendiri kini telah berhias memar dan percikan darah. Namun pertarungan masih terus berlanjut.

Tiba-tiba lengkingan yang memekakkan, berdenging di telingaku. Musuh-musuh kecil itu terlihat membuka mulut dan seperti menangis. Kemudian serentak bumi bergetar.

“Sial! Ada apa ini!” jeritku spontan.
Makhluk-makhluk kecil terkutuk itu kini diam, memandang ke arah barat, seakan menunggu sesuatu, sementara tanah dibawah kakiku terus berguncang.

Gerakan ini…. Suara seperti benda diseret ini….. jangan-jangan…!!

Aku memandang hutan Dwann, dan seketika hatiku seakan jatuh ke usus. Ketakutanku terbukti. Segerombolan pohon-pohon dengan batang kayu yang berbonggol dan daun yang lebat menggeleser bergerak menuju ke arah kami.

Brengsek….. bala bantuan!

>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Read previous post:  
41
points
(785 words) posted by Zhang he 13 years 29 weeks ago
68.3333
Tags: Cerita | petualangan | fantasi | petualangan | zhang | zhang he
Read next post:  
70

tokoh utama-nya(si miller) demen nge-ludah yak (sepanjang cerita ber-cih2 ria), bisa gw bayangin tempat setting ceritanya bakal becek banjir acai.. =))

ayo muridku tercinta, bersemangatlah! master mendukungmu dari belakang..

50

........

Maaf sebelumnya Senior. Rasanya (dari mata orang awam) ada penurunan dari cerita sebelumnya. Yang sebelumnya lebih bagus, terutama yang pertama.

Anyway, aku boleh copy paste kan? Sekedar referensi. :p

salam...

70

Kurasa bukan masalah orisinalitas. Kupikir kekurangan utama cerita ini adalah pada makna apa yang cerita ini mau sampaikan, yang sampai saat ini masih belum kelihatan.

Adegannya seru sih, tapi kurasa deskripsinya masih agak berantakan.

Berjuanglah.

80

Sepertinya anda benar2 menghayati ya, menjadi tokoh utama. Jadi ikut tegang nih. Btw tolong lebih deskriptif lagi T_T

Bahasa asing yah...
Iya nih, suka kebiasaan pake kata2 aneh.
Nanti aq coba ganti kata2 yg baku..
Kikikkkikii..

Arielf>> Waks gubraaakk. Jangan daku dibandingkan dengan tolkien >.<
Emang kebanting jauuuh... Ngwehhh
Makanya dikasi kritik2 lah daku ini biar suatu saat bisa jadi Tolkien...

Wkwkwkwkwkkk *ngimpi*

-zhang

10

biasa bnggt,knp ngga' kreatif kaya tolkien

70

Setuju sama kk villam....harus dipertimbangkan kalo mau comot kata dari Bahasa Asing, apakah enak gitu nyebutinnya dalam kalimat lokal??

LANJUT!! Mau liat lanjutannya..........

50

lumayan

90

aku masih tetep suka.
seru. dan lancar kubaca dari awal sampe akhir. emang sih ada beberapa kata yang aku kurang sreg, kayak 'antena', 'kompeni', 'shift', tapi itu soal kecil. dan aku masih bertanya2 kenapa suara ayah bisa tiba-tiba muncul di kepalanya. mm... tapi pasti ada penjelasannya nanti.
oke. lanjutin, cil...