Untukmu, Min.....

Alkisah, pada tahun 1700 sesudah Masehi, tinggallah dua ekor rayap pada sebuah meja kayu dalam rumah yang tak berpenghuni. Yang jantan bernama Han, betinanya dipanggil Min. Keduanya—secara terpisah—tinggal diselubungi kegelapan di dalam pori-pori meja. Setiap hari, Han menggigiti serpihan kayu di depannya, berharap menemukan sedikit cahaya atau tanda-tanda makhluk hidup lain. Di lain pihak, Min; sang betina, juga berjuang menembus lapisan demi lapisan kayu yang menghalanginya, dengan harapan bertemu siapapun itu yang bisa menemani di sisinya.

Hari-hari berlalu, musim berganti musim, pekerjaan terus dikerjakan, namun kedua rayap belum juga menemukan titik terang akan apa yang mereka harapkan. Keputusasaan melanda rayap-rayap malang itu. Di saat serpih-serpih harapan nyaris sirna, langit mengulurkan tangan memberikan bantuan.

Han yang masih berkutat dengan gigit-menggigit, sayup-sayup mendengar suara isak tangis di kejauhan, dan yang membuat adrenalinnya terpompa lagi, suara tangis itu jelas suara betina.

Dengan semangat menggebu-gebu, jantung berdegup bahagia, dan pikiran yang melayang-layang tidak karuan, Han merobek serat-serat kayu yang menghadangnya, terus mendekati arah suara. Hari-hari kini berjalan cepat. Setiap inci dilalui Han dengan hati riang, memikirkan akan bertemu gadis dari tengah-tengah kegelapan.

Musim dingin berganti dengan semi. Udara menghangat tapi juga tak jarang dibasahi oleh guyuran hujan. Tidak peduli setan dengan perubahan cuaca, Han menajamkan pendengaran, berharap menangkap suara apapun itu, sambil terus mendesak maju. Dan hatinya pun seketika melompat saat dengan sangat jelas terdengar suara merdu seorang gadis. Han tak kuasa menahan. Ia berteriak nyaring, memanggil-manggil sang gadis. Tak pelak, haru biru bercampur rasa rindu dan bahagia yang tak terbendung saling bertaut. Sang gadis—yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Min—menyambut kedatangan Han dengan hati yang meluap-luap. Dan akhirnya pekerjaan pun terlupakan untuk sementara. Han dan Min saling berbagi cerita dalam pusaran kegelapan itu, berbataskan kayu padat.

Malam itu, keduanya terus berada sedekat mungkin dengan satu sama lain. Han dan Min duduk berdua dalam hening malam, menempel pada batas yang memisahkan mereka, menumpahkan ganjalan di hati masing-masing. Min mengungkapkan kegundahan yang menyumbat hatinya selama ini. Dengan kata-kata lembut, Han—seakan menyediakan air segar bagi jiwa Min—terus berbicara menenangkannya. Hujan yang mengguyur tiba-tiba, tak sedikitpun menyurutkan perasaan mereka yang mulai tumbuh. Dan berakhirlah malam penuh kasih itu dengan janji dari Han untuk menembus kayu penghalang mereka dalam waktu singkat.

Malam berganti pagi, siang berganti sore, kedua makhluk itu—dengan kerja keras Han—akhirnya bertemu dan bercengkrama hangat. Harapan yang satu terpenuhi, maka timbullah hasrat Han untuk melihat rupa sang gadis. Diajaknya Min bersama-sama menerobos pori-pori menuju permukaan, untuk melihat cahaya, udara segar, kehidupan luar dan mimpi-mimpi mereka yang selama ini hanya teronggok jauh dalam hati.

Kali ini, dengan semangat baru dan kekuatan yang bergabung, Han dan Min menerjang membabi buta menembus sedikit demi sedikit kayu-kayu penghalang itu. Han terus bekerja sambil bicara, menemani Min, sementara Min; dengan rasa sayang tulus di hatinya, menopang Han saat pejantan itu tak kuasa menahan letih.

Hari yang lama ditunggu tiba. Han menerjang keluar, dan dilihatnya… dunia luar yang sama sekali berbeda. Cahaya mentari yang menerobos masuk dari jendela, menyinari lantai pondok yang berselimut debu tebal. Perapian itu… sofa di hadapannya….. karpet yang mengalasi persis dibawah sofa. Han sungguh gembira, hatinya seakan mendesak keluar. Namun diingatnya sang gadis, Min.

Terburu-buru kembali masuk dan menggandeng Min, Han mengajaknya keluar dan menikmati itu semua. Terlebih, hasrat di hati untuk melihat Min begitu tidak terbendung lagi. Min dengan pasrah mengikuti langkah Han menuju cahaya keemasan diluar, berharap Han akan meresponnya dengan baik setelah topeng kegelapan Min terkuak.
Namun harapan tinggallah harapan. Terpantul cahaya yang menyilaukan, Han melihat rupa gadis, dengan siapa ia sebelumnya bercengkerama, mengobrol, dan menumpahkan isi hati. Tangan-tangan yang bertaut bergandengan itu terlepas begitu saja. Kekecewaan terpatri jelas di wajah Han. Kenyataan di hadapannya saat ini tidaklah sesuai dengan harapan tingginya. Sementara Min, yang telah melihat Han, tak memprotes, terdiam pasrah menyerahkan keputusan di tangan Han. Menundukkan kepalanya dalam-dalam, Min menunggu jawaban Han.

Detik-detik berlalu, Min tetap bertahan dengan posisinya, terus menunggu, namun kata tak kunjung datang. Min menengadah, dan—hancur meremukkan hatinya—dilihatnya hanya debu-debu beterbangan di hadapannya…..

Read previous post:  
103
points
(488 words) posted by Zhang he 13 years 25 weeks ago
73.5714
Tags: Cerita | kehidupan | detik detik terakhir | keabadian | kematian | zhang he
Read next post:  
Writer bl09on
bl09on at Untukmu, Min..... (13 years 20 weeks ago)
80

ini bagus setuju dengan Villam

Writer death_note
death_note at Untukmu, Min..... (13 years 22 weeks ago)
50

bad ending
hate it

Writer trisun123
trisun123 at Untukmu, Min..... (13 years 22 weeks ago)
90

keren, aku terhanyut dalam perjuangan mereka

Writer dirgita
dirgita at Untukmu, Min..... (13 years 22 weeks ago)
90

Klo cerita, aku ga anggap serius, deh. Tapi, di beberapa bagian, ada yang keseleo partikel "di"-nya. tuh. Seharusnya misah, kamu satuin. Yang ini baru namanya melanggar kodrat.
Hehe. Sori. Maaf.

Writer tenmon
tenmon at Untukmu, Min..... (13 years 23 weeks ago)
50

pada awalnya gw pingin ketawa krn tumben2nya ada cerita ttg rayap...
tp setelah mengikuti, bagus juga maksudnya...

btw...thx udah ngasih komen di cerita gw. suka laruku juga ya... mo ntn konser mrk??

Writer arroyani
arroyani at Untukmu, Min..... (13 years 23 weeks ago)
50

katanya yang tajam mebuat saya mengerut puas.ngga sia2 saya nunggu buka account ini
terimakasih

Writer minehaway
minehaway at Untukmu, Min..... (13 years 23 weeks ago)
70

Yaks... saya Mimin dan biasa dipanggil Min. Tapi itu bukan untukku kan hihihi
Salam kenal. Emang Si Han itu penokohan untuk Rayap ya...

Writer Villam
Villam at Untukmu, Min..... (13 years 23 weeks ago)
80

idenya mungkin biasa, tapi disampaikan dengan tokoh dan deskripsi yang menarik.

tapi, barangkali nanti kamu sempat (atau tertarik), cil, beberapa adegan uraikan saja menjadi dialog2 supaya terasa lebih emosional dan personal, dan ceritanya bisa jadi lengkap dan solid.

Writer dee_xfr
dee_xfr at Untukmu, Min..... (13 years 23 weeks ago)
80

mank dasar rayap sialan..

Writer mocca_chi
mocca_chi at Untukmu, Min..... (13 years 23 weeks ago)
70

mejanya sebesar apa yak sampe bermusim2 baru bisa ditembus.
hii...
maksudnya bagus, lebih mengutamakan maknad daripada kisahnya snediir, tapi jangan lupa, makna bisa lebih dihayati jika sarana penghayatannya menairk.

Writer Rijon
Rijon at Untukmu, Min..... (13 years 23 weeks ago)
60

Tuh kan Cil gw bilang, tanda strip menyatakan keternagan atau penjelasan, dikau sendiri pakenya buat 'menjelakan' kok!! Dan penggunannya di sini, gak berlebihan, jadi tetep apik.....

Jujur saja, secara pribadi saia kurang suka dengan team yg ini, entah kenapa?? Mungkin karena tokohnya rayap ya?? Agak2 aneh gitu buat aku --'

Tenang2 itu cuma komentar pribadi kok........

Saia lebih suka LOTHIER mu atau YANG ABADI mu itu.........MAAP ^^

Writer Zhang he
Zhang he at Untukmu, Min..... (13 years 23 weeks ago)

Buat pembaca, komen daku hargai sekali ^^
Tapi catatan, cerita yang ini cuma uneg2 aja kook..

Hihihihii.. gx perlu ditanggepin serius yaah ^^
Thanks komen2nya!

Writer sadistic_tensai
sadistic_tensai at Untukmu, Min..... (13 years 23 weeks ago)
50

Ini kisah yang tragis buat tensai..