The Wired --Line 01-- (Pilot Project)

Line 01

--------Dreamgarden Presents--------

Indri berjalan di sela – sela keramaian para pejalan kaki di salah satu distrik pertokoan. Sesekali pandangannya tertarik pada barang – barang yang dipajang di kaca depan toko. Ia tak terganggu riuhnya keramaian sepanjang jalan. Sepasang earphone terpasang di kedua telinganya. Alat yang terhubung pada ponsel itu melantunkan lagu ”Jadikan aku yang kedua” yang dinyanyikan oleh Astrid. Saat ini dunia telekomunikasi seluler semakin canggih. Ponsel keluaran terbaru dapat mendownload berbagai jenis hiburan multimedia seperti lagu, video, games bahkan browsing internet, membuka e-mail beserta attachmentnya, chatting dan sebagainya. Bahkan tak jarang orang bertransaksi seks virtual lebih personal lewat ponselnya.

Tiba – tiba lagu itu terputus. Suara ”nit – nit” terdengar menggantikan lagu tersebut. Indri menghentikan langkahnya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku ke hadapannya. Di display tertulis ”Wulan” dan kata ”Calling”. Sebuah panggilan dari Wulan. Indri tersenyum. Ia bersandar di salah satu dinding toko lalu menekan tombol di handsetnya.

”Halo, Lan.”

Terdengar suara balasan dari suatu tempat.

”Halo Indri.”

-----Another VQ’s novel project-------

Rintik hujan mulai turun. Para pejalan kaki mulai meninggalkan trotoar mencari tempat untuk meneduh. Di bawah payung sebuah kafe. Indri duduk sambil berbicara dengan seseorang di ponselnya.

”Wah, tumben kamu menelpon, ada apa nih ?”

“ Ah nggak, nggak ada apa – apa kok. Cuma ingin bicara denganmu.“

”Oh, ya? Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan ?”

”Ngg. . .apa ya? Mmm kamu tahu tidak sekarang aku ada di mana ?”

”Tentu saja tidak, kamu tidak menyalakan video callnya.”

”Oh ya lupa. Sebentar ya.”

Sejenak Wulan berhenti berbicara digantikan suara ”kesrak – kesrak”. Kemudian di display ponsel Indri muncul wajah Wulan yang sedikit kabur.

”Hai! Apa aku kelihatan ?”

Wulan tertawa lebar. Ekspresi ini jarang ia lakukan karena di kelas ia adalah anak pendiam.

”Iya. Aku bisa melihat tampang culunmu itu.”

”Nah, ini petunjuk tempat aku berada.”

Gambar di display ponsel Indri berubah. Kelihatannya Wulan merubah arah kamera ponselnya ke suatu tempat hingga Indri melihat garis – garis horisontal dan sesuatu yang kecil yang bergerak sejajar namun saling berlawanan arah. Indri berpikir sebentar. Sementara itu kamera kembali menghadap Wulan.

”Sekarang, kamu sudah tahu kan ?”

”Lan, ka-kamu ada di atas gedung.”

”Yap, aku ada di puncak apartemen tiga puluh lantai.”

”Hah, sedang apa kamu di sana ?!”

Suara Wulan mulai tidak jelas. Suara – suara berderak seperti gesekan angin mulai menyusup.

”Aku . . ingin . . bertemu . . Tuhan.”

Gangguan suara itu semakin mengaburkan gambar dan suara Wulan di ponsel Indri.

”Apa kamu bilang?! Hei Kamu gila Ya?! Halo!? Halo!?”

Akhirnya gambar dan suara Wulan menghilang. Bagai petir menyambar, perasaan kalut melanda Indri. Ia segera bangkit lalu beranjak meninggalkan tempat berteduhnya. Ia bergegas menuju tempat Wulan berada di bawah guyuran hujan deras. Dan mungkin sudah terlambat.

Wulan menutup flip ponselnya yang berbentuk clampshell. Masih mengenakan seragam SMU ia berdiri tepat di ujung pelataran atap apartemen. Di bawahnya, mobil – mobil bagaikan semut berwarna – warni yang berlalu lalang. Tubuhnya dicondongkan ke udara bebas. Ia hanya bertahan pada tangan kanannya yang masih menggenggam railing. Tak ada keraguan ataupun kegalauan di wajahnya.

Apa kau sudah siap ?

”Tentu, aku sudah siap.”

Bagus, karena kau tidak perlu memiliki tubuh.

”Ya, aku sudah tahu”

Sekarang tinggalkan tubuhmu dan bersatulah dengan Tuhan.

”Ya”

Dengan tersenyum bahagia ia melepaskan pegangannya, meninggalkan tas dan ponselnya yang terus berdering, serta dunia yang selama ini ia tinggali.
***

--------The Wired--------

Indri menghentikan langkahnya. Ia terengah – engah setelah sekian jauh berlari. Di depannya berdiri berkerumun orang – orang yang semuanya memfokuskan pandangan mereka pada sesuatu. Gadis itu menerobos, menyelip di antara orang – orang untuk memastikan apa yang ia duga.

”Wulan . . .”

Indri membekap mulutnya sendiri. Matanya langsung berkaca – kaca. Ia tak tahu apa yang harus dikatakan. Di depannya, Wulan tergeletak bersimbah darah. Tubuhnya terpelintir ke arah yang tak wajar. Gumpalan otak yang pucat kemerahan meluber keluar dari kepalanya tetapi wajahnya tersenyum bahagia seperti hal ini sudah diinginkannya sejak dulu.

End of Prologue

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Aussey
Aussey at The Wired --Line 01-- (Pilot Project) (12 years 40 weeks ago)
80

keren... critana tentang teknologi yang sanggup mempengaruhi pikiran manusia ya...? ^^

90

Pada bagian pertama ini sy blom bisa nemuin sesuatu kekurangan, terutama karena yang dibangun adalah suasananya, dan itu bener2 dapet! Adegan orang yang bunuh diri selalu saja menarik.... Bakal jadi menarik nih...

Writer nirozero
nirozero at The Wired --Line 01-- (Pilot Project) (14 years 25 weeks ago)
90

Tapi, prolog-nya beneran mengejutkan! Keren buat pembukaan. Seakan-akan masih banyak misteri yang dibuatnya.

Wuih! Style kamu kini beda Ki!

90

make it thriller than others

Writer Zhang he
Zhang he at The Wired --Line 01-- (Pilot Project) (14 years 25 weeks ago)
90

Fuh, mantap nih!
Mengejutkan

Writer Alfare
Alfare at The Wired --Line 01-- (Pilot Project) (14 years 25 weeks ago)
90

Agak garing, tapi pada saat bersamaan, agak keren. Memang, yang pertama kepikirian waktu baca ini adalah SELain, walau kaitannya sama internet sama sekali belum kelihatan.

Mau dibawa ke mana nih, cerita?

Writer addang13
addang13 at The Wired --Line 01-- (Pilot Project) (14 years 25 weeks ago)
50

Wah...Wah...Wah...

Aku gak bisa bilang apa2. Pokoknya,
Keyeeen

any way. Aku liat dari subjudul (ada hubungan ama internet), rasanya ada kemiripan dengan manga yang pernah aku baca. Cerita ringkasnya gini:

di Jepang saat itu (sekarang), ada sebuah game virtual reality online(sejenis Counter Strike). Tapi, game itu justru membuat player tidak bisa membedakan dunia game dengan dunia nyata. Hal ini karena game itu terhubung langsung dengan sistem syaraf pusat & membuat player merasakan apa yang dirasakan oleh char-nya (contoh: ada satu adegan di mana tokoh utamanya diperkosa dalam game. Di dunia nyata, dia juga merasakan hal serupa -diperkosa-). Nah, pemain yang sering main (baca:sering mati) nantinya mengira bahwa dirinya gagal menyelesaikan misi dalam game dan sebagai hukuman harus me-reset (bunuh diri). Mereka yang mengira masih dalam game akan bunuh diri di dunia nyata.

Dari prolog yang hampir mirip dengan prolog manga itu, akhirnya aku berasumsi bahwa cerita keren kakak mirip.

Anyway, aku lupa alasan aku komen sepanjang ini...

Ugh, ingatan jangka pendekku payah.

Anggaplah yang tadi aku bilang gak ada. ^~^

aku tunggu lanjutannya...

Nb: browserku ngadat. Aku gak bisa ngasih poin 10. Tapi, seperti yang Senior Miss Worm pernah bilang (di forum), yang penting bukan angkanya tapi kualitas tulisan yang terus meningkat.
Wakakakakakak

tensai : Ini belum seberapa sadis

adrian : Kurang shock kah? Mungkin melotot bisa lebih ekspresif

145 : Aku tahu SEL kok, "Weird" itu subtitle untuk Layer 01 sedangkan "Wired" adalah istilah untuk jaringan menyerupai internet dengan alat namanya "Nav"

Writer Villam
Villam at The Wired --Line 01-- (Pilot Project) (14 years 26 weeks ago)
90

seperti biasa, vq selalu mengejutkan.

Writer 145
145 at The Wired --Line 01-- (Pilot Project) (14 years 26 weeks ago)
80

Salah satu chapter dalam anime "Serial Experimental Lain" berjudul mirip dengan cerita ini: "Wired" atau "Weird" hmm saya lupa.

Nuansanya gelap ya >_<

Hmm mw coba kolaborasi dengan saya?

80

a*jr*t! This is good!

Btw, kok indri ga shock ya lihat temennya mati menggenaskan... yah... just a thought...

:::EDIT:::

He he he. Viq, maaf ya. Maksud aku, aku mau kasih saran nih. Gimana kalo adegannya jadi begini:

Indri membekap mulutnya sendiri; isi perutnya terasa ingin keluar. Matanya berkaca-kaca. Badannya bergetar, dan lututnya terasa lemas. Pelan-pelan ia jatuh berlutut. Ia tidak tahu...

Bro, ini saran aja ya. Maaf kalo ada yang kurang berkenan :)

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

90

keren dan sadis! Mas, lanjutannya dong...^^
Salam kenal dari tensai