The Wired --Line 02--

Line 02

Eva Airline Connection
Distrik Sentra Bisnis
14.25

Seorang pria menaiki atap sebuah bus shuttle yang diselimuti oleh kain – kain spanduk dengan berbagai tulisan. Dikelilingi ribuan karyawan yang berdemonstrasi , ia menatap tajam gedung berlantai dua puluh. Kegeramannya yang mewakili kegeraman rekan – rekannya terpusat pada pandangan pria itu ke arah salah satu jendela di lantai tertinggi gedung. Sebuah lantai tempat kerja direktur utama.

Disaksikan puluhan polisi anti huru hara yang memblokade gerbang utama, ia mengangkat megafon lalu meneriakkan orasinya.

”Hei, para pengecut, iblis kecil yang bersembunyi di balik tumpukkan uang, cepat kalian turun dan dengarkan keluhan kami. Apakah kalian pernah sekalipun memperhatikan kami, para pekerja ujung tombakmu? Apa kalian pernah merasakan penderitaan yang kami rasakan? Perut kami tidak hanya satu kau tahu itu? Cepat turun kalian hadapi kami !”

Para demonstran dan massa berteriak serempak di setiap akhir kalimat pria orator. Suasana terdengar semarak sekaligus mencekam. Aura kemarahan membubung tinggi mengisi udara di sekitar. Mereka meneriakkan yell – yell yang mewakili amarah mereka itu sambil mengacungkan spanduk – spanduk.

”Kau Hardi! Cepat tampakkan batang hidungmu pada kami! Kaulah yang paling bertanggung jawab atas hak kami! Mana upah yang seharusnya kau bayar tiga bulan yang lalu? Mana tunjangan – tunjangan kami yang seharusnya kami nikmati sebelum keringat kami habis? Kami bukan sapi perahmu! Kami adalah tangan dan kakimu! Tanpa kami kau lumpuh, tanpa kami kau tak berguna. Sekarang turun segera sebelum kami menyeretmu turun!”

Pria itu menghentikan orasinya beberapa saat menunggu respon dari direksi. Beberapa saat itu dirasakan amat lama bagi para karyawan yang darah telah naik hingga kepala. Pandangan penuh amarah dari ribuan pasang mata yang memperjuangkan nasibnya
***

Seorang pria berdasi datang tergopoh – gopoh menuju ruang direktur. Saat membuka pintu ganda, ia menemukan Hardi, direktur utama, berdiri menatap pada jendela besar di belakang mejanya.

”Pak Hardi . . .” pria itu memanggilnya.

Sang direktur utama menoleh.

”Oh, kau rupanya, Pak Wawan.” ia merespon dengan suara yang amat tenang.

”Pak Hardi, karyawan meminta anda menemui mereka. Apakah bapak akan turun? Saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi mengingat banyaknya jumlah mereka.”
Hardi tidak segera menjawabnya. Pria itu dengan tenang berjalan kembali ke kursi tingginya yang empuk. Di atas mejanya yang agung ia menjalinkan kedua tangan di depan wajah.

”Wawan, sebelumnya aku ingin tanya, apa hubungan Tuhan dengan kita?”

”Ha?”

Wawan, sang wakil direktur utama menatap atasannya heran. Mulutnya menganga atas pertanyaan tiba – tiba yang tidak masuk akal itu.

”Jawab saja dulu, Wan.”

”Saya pikir . . .Tuhan adalah Sang Maha Kuasa, kita manusia adalah makhlukNya dan wajib menyembah dan beribadah kepadaNya.”

”Oh begitu?”

Hardi menghela napas panjang. Wajahnya terlihat tenang walaupun kerutan di dahinya menggambarkan beban pikiran yang amat berat. I

”Wawan, katakan pada mereka yang berdemo, aku akan turun.”

”Baik pak.”

Tanpa mengetahui maksud pertanyaan yang ditanyakan padanya, Wawan segera meninggalkan ruangan direktur utama, meninggalkan sang direktur utama sendiri.

Hardi masih menjalinkan tangannya, tetapi irama napasnya semakin cepat. Matanya mulai terbelalak. Sejak tadi ia menahan jarinya yang gemetar. Suatu kegalauan menggerogoti hati dan pikirannya dan serangan jantung yang dideritanya bagaikan bom waktu yang dapat meledak tanpa seorangpun menduganya.

Ini tidak bisa. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tidak tahu. Tidak tahu. Tidak tahu. Tidak tahu. Tidak tahu. Tidak tahu. Tidak tahu.
***

Eva Air, perusahaan transportasi udara yang dipimpinnya, selama dua tahun terakhir mengalami masalah yang cukup berat. Rentetan kecelakan pesawat yang terjadi membunuh ratusan penumpang dan menghilangkan kepercayaan pelanggan. Pemasukan tidak cukup membayar tunggakan sewa pesawat, pinjaman pada pihak ketiga, pengembalian investasi, penggajian karyawan serta beban – beban lainnya.

Namun yang paling membebani pikirannya adalah tuduhan penggelapan dana perawatan pesawat dan penyediaan alat – alat navigasi pada dirinya. Hal ini merusak nama baiknya di masyarakat dan keluarga Sungguhpun ia bisa menanggapi pertanyaan auditor dan wartawan dengan kepala dingin, ia tak bisa berkata apa – apa dalam menghadapi pertanyaan keluarganya.

Kedua anaknya malu karena ejekan teman sekelasnya atas ayah mereka. Istrinya tak tahan lagi menerima ancaman dan gosip – gosip negatif yang mencoba menggoyang rumah tangga mereka. Semua ini terasa semakin tak terkendali.

”Ugh!”

Satu detak jantung yang berdetak di tengah kegalauan pikiran Hardi terasa amat sakit. Ia memegang dadanya, meringis hingga uratnya timbul. Jantung itu seakan hendak keluar dari dadanya.

Hardi terkulai kejang di atas mejanya. Sementara tangan kirinya mencengkram dada, tangan kanan meronta – ronta. Sakit di dadanya bagai ditusuk tombak panas. Nafasnya sesak. Serangan jantungnya kambuh. Beban pikiran itu menjadi reaksi berantai bagi seluruh tubuhnya. Saat itu yang ia ingat adalah obat penenang.

Apakah kau sedang dalam kesulitan?

”Hah?”

Apakah kesulitan itu menyakitkanmu?

”Itu benar.”

Kumpulkanlah rasa sakit yang kau derita, karena setiap sakit yang kau rasakan adalah pembebasanmu dari segala beban yang kau pikul.

”Tapi . .aku tidak tahan lagi. . .”

Kalau begitu bebaskanlah dirimu dari tubuhmu yang terbebani itu. Terbang dan bersatulah dengan Tuhan.

”Begitukah? Aku bersedia.”
***

”Mana si Hardi? Katanya dia mau turun ?!”

“Iya nih, kita sudah menunggu lama, tapi dia belum turun – turun juga. Dasar pengecut!”

“Lebih baik kita seret saja dia turun, ayo maju rekan – rekan !”

Gerutu para karyawan yang berdemo mencapai puncaknya. Kesabaran mereka telah habis. Serempak mereka berlari tunggang langgang ke arah gerbang. Para polisi Anti Huru – Hara menyambut mereka dengan tameng transparan. Bentrok terjadi ketika mereka bertemu. Keadaan menjadi sangat kacau tak terkendali. Riuh renyah membana ke seluruh penjuru. Tembakan – tembakan gas air mata meletus di sana sini. Merobohkan manusia – manusia yang tak mempunyai pertahanan.

”Berhenti! Berhenti semuanya!” teriakan megafon seorang orator membelah keriuhan. ”Semuanya lihat ke atas gedung, ada orang di sana!”

Semua orang yang bergumul menghentikan diri. Mereka memusatkan pandangan pada seseorang yang berdiri di balkon lantai dua puluh. Orang itu berdiri membelakangi silaunya sinar matahari bagai gerhana kecil.

”Pak Hardi . . .” gumam Wawan dari gerbang utama.

Di tepi balkon, Hardi berdiri di atas railing, pandangannya jauh ke atas langit, mulutnya tersenyum.

”Aku akan turun sesuai dengan yang kalian minta, tetapi jiwaku akan bergabung dengan Tuhan di Eden.”

Pria itu merentangkan tangannya. Raut wajah itu tidak menunjukkan beban sama sekali. Seakan telah menemukan kebahagiaan ia memejamkan matanya kemudian menjatuhkan tubuhn pada udara bebas di hadapannya.

Bruaaakkk

Seluruh mata terpejam ketika sebuah suara benturan yang miris terdengar. Tubuh yang melayang itu menghujam lantai semen yang keras dan panas terbakar matahari. Saat semua orang menghampiri, sang direktur utama terbujur kaku. Wajah penuh bahagia itu hancur berserakan di lantai, bersamaan dengan darah yang menggenang.

Semua mata terbelalak dan mulut terbungkam melihat sebuah bola mata yang menggelinding bagai bola kepedihan dari seorang direktur utama.
***

”Masa depan adalah sebuah jaringan teknologi informasi yang menghubungkan manusia satu dengan yang lain secara lebih personal. Sebuah jaringan manusia yang amat luas dan menyatukan manusia – manusia itu sehingga menjadi sebuah makhluk tunggal. Makhluk yang menyamai Tuhan.”
(Wayne Reiner, konsep dasar ’The Wired’)

bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Aussey
Aussey at The Wired --Line 02-- (12 years 40 weeks ago)

lanjutttttttttttt^^

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at The Wired --Line 02-- (14 years 23 weeks ago)
Writer addang13
addang13 at The Wired --Line 02-- (14 years 25 weeks ago)
50

Writer nirozero
nirozero at The Wired --Line 02-- (14 years 25 weeks ago)
90

VQ! Kurang Ajar!

Biikin orang makin penasaran aja! Tapi, aku jadi agak tahu-tahu dikit nih alurnya. Hehehee. . ..

Tapi, nggak mau buka kartu duluan ah. . . .

n_n

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at The Wired --Line 02-- (14 years 25 weeks ago)
90

Keren!

Writer Zhang he
Zhang he at The Wired --Line 02-- (14 years 25 weeks ago)
90

0.0
Hoo, mnrutku bagus ini!
Suka suka suka suka!

Writer Alfare
Alfare at The Wired --Line 02-- (14 years 25 weeks ago)
80

Umm... gimana ya? Kok jadi terkesan kurang orisinil ya? Enggak jelek sih, cuma kurasa masih bisa lebih menarik lagi.

Untuk saat ini kurasa masih baik-baik saja.

Writer 145
145 at The Wired --Line 02-- (14 years 25 weeks ago)
80

"Close The World, Open The Next"

"Everyone is Connected"

"Memory is merely a Record, you just need to rewrite it"

"Fulfill the Prophecy!!!"

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at The Wired --Line 02-- (14 years 25 weeks ago)

Apa sebenarnya suara misterius itu?

Mengapa mereka melakukan bunuh diri dengan bahagia?

Apa itu "The Wired"?

Cerita sebenarnya akan dimulai pada Line 03