Usang 2nd

Usang melebarkan langkahnya. Sesaat ia merasa bimbang akan
apa yang akan ia tuju. Tapi harap lebih besar dari ragunya.

Ia merasa langkahnya terdorong menuju magnet ilmu. Entah itu di bayangan bumi sebelah mana.

Di sana, di dekat rimbunan kurma ia berhenti. Di hadapannya berdiri sosok ringkih dan rapuh. Usang menyapanya dengan hati, mengharap jawaban dari hati. Tapi orang asing itu berkata dengan jiwanya.
Usang berkata, "Duhai saudaraku yang aku lebih beruntung daripadamu atas kenikmatan jasmaniku." "Mengapa dikau
berdiri di sini, tidakkah panas mengusirmu dan kesegaran merayumu ?"

Orang itu menjawab, "Aku menunggu.."

"Apa yang sedemikian besar hingga kau paksa kakimu yang
menjerit itu terus berdiri ?"

"Aku menunggu rasa optimisku, dan dengan sabar ini aku
mengusir pesimisku.." "Dan kau pasti bertanya padaku mengapa aku menanti optimisku walau sudah separuh umurku kuserahkan padanya"
"Aku akan memberimu jawabnya wahai saudaraku, bahwasanya
orang yang berpikiran optimis akan selalu memandang segala
sesuatu itu sulit, tapi mungkin. Berbeda dengan orang yang
berfikiran pesimis. Mereka selalu memandang segala sesuatu
itu mungkin, tapi sulit"

Usang terhenyak. Bersama detik yang berjalan, hatinya luluh akan derasnya aliran kata penuh hikmah. Tapi, sekali lagi orang rapuh itu berkata seakan telah membaca fikirannya.

"Kata-kata itu sebenarnya tidak mempunyai makna untuk
menjelaskan sebuah perasaan. Usah kau fikirkan dalam-dalam
hingga kau mabuk oleh tuak penasaranmu"

Usang kali ini benar-benar tersentak dan perlahan jatuh
bersimpuh. Ia benar-benar kagum dan heran. Ia ingin belajar banyak dari orang itu.Ia ingin ikut menyelami rahasia alam yang tersimpan dalam perut bumi dan tertutupi oleh batas kemampuan manusia. Tapi selimut keraguan kembali tutupi mata hatinya. Walau akhirnya orang itu kembali berkata kepadanya.

"Wahai usang, belajar itu adalah cinta yang mengejahwantah. Jika engkau tidak sanggup belajar dengan cinta. Maka lebih baik bagimu duduk dengan mengulurkan tangan di depan gerbang ilmu yang orang di dalamnya belajar dengan cinta"

Usang terisak dalam tangisnya. Ia merasa menemukan oase mata air, bagaikan Isis menemukan jasad Osiris yang ia rindukan dalam kelabu malam sepinya.

Usang berkata." Ajari aku luasnya ilmu Tuhanku, izinkan aku memikul sedikit dari titipan-Nya padamu." "Agar aku bisa mencicipi manisnya pengetahuan dan aku akan bahagia dengan kesempatan itu."

Orang itu berkata sebelum akhirnya hilang,"Usang, sesungguhnya setengah dari apa yang aku ungkap adalah tanpa makna. Namun begitu rupa aku katakan hingga separuh yang lainnya sampai kepadamu" "Diatas seorang ahli ilmu pasti ada Yang menguasai semua cabang ilmu."

Usang bangkit dan kembali merenung dalam perjalanan pulangnya.Ia berkata, "Betapa besarnya harapku akan ilmu, hingga akhirnya pahatan hasrat itu benar-benar membekas dan beruang dalam hatiku"

"Duhai Tuhan, Kaulah rahasia terbesar dalam hidupku. Takkan mampu aku ungkap diri-Mu dengan batas akalku. Hanya saja, ukirlah dalam hatiku rasa cinta yang tulus dalam
keterbatasanku memahami-Mu"

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer _aR_
_aR_ at Usang 2nd (12 years 38 weeks ago)
100

kayak cerita sufi yg suka dikliping mama dari koran..
.
bagus :->
.
gaya bahasanya beda..
sufi banget :)

Writer Yulian Em
Yulian Em at Usang 2nd (13 years 16 weeks ago)
70

ye!
ente makin kreatif aja sul! tapi terus terang ana bingung juga memahami tulisan ente...:P
ma'an najah deh

Writer saifullah azzam
saifullah azzam at Usang 2nd (13 years 16 weeks ago)
10

maaf mas..kayanya salah kamar deh..taruhnya aturan di cerpen nih..kept berkarya ya