Aku, Ia dan Mereka

Aku, ia, dan mereka. Di tengah kegelapan. Di dalam sebuah ruangan.

Aku menutup mata. Membiarkan ia mengeluarkan semua isi kepalanya dan aku hanya mendengar. Sedangkan mereka, tetap diam di sudut sana. Membiarkan aku dan ia duduk tak tersentuh di sudut meja yang sama.

Sekarang hanya ada aku dan ia. Sementara mereka sudah pergi entah kemana. Ia tetap berbicara mengeluarkan seluruh isi dirinya hingga tak bersisa. Aku tetap menutup mata. Mendengarkan. Namun tetap hadir bagi ia.

Aku tahu, ia sedang terluka oleh mereka. Namun ia tak berani menelanjangi mereka mentah-mentah. Ia tak cukup kuat untuk membuka tabir menuju nyata. Dan sekarang, ia berada dalam sebuah perjalanan menuju penyembuhan. Bagi ia, akulah penyembuhan itu. Tapi, aku lebih suka menyebut diriku hampa. Karena aku hanya menerima, dan menyimpan semua di dalam suatu tempat yang tak akan pernah tersentuh oleh hidup. Hanya mati yang boleh mengetahuinya.

Sama seperti ia, aku pun pernah terluka oleh mereka. Berulang-ulang kali aku terpuruk ke dalam jurang yang paling hitam dalam hatiku. Beribu-ribu kali pula aku mati dan hidup kembali. Sampai suatu ketika, aku terlahir dalam sebuah posisi untuk mematahkan semua. Tak ada lagi duka, dan tak ada lagi suka. Aku bertumbuh hingga mencapai satu tahap yang paling tak kuinginkan. Namun, tak kusangka, itulah satu bentuk jiwa yang sesungguhnya paling kucintai.

Menyerap. Meniadakan. Menghilangkan.

Ia berhenti berbicara. Dan aku membuka mata. Kubentuk sebuah senyum dan sedikit sentuhan di tangannya. Ia membalas dengan senyum. "Semua akan terhenti. Sampai saatnya tiba, jadilah lebih kuat. Aku akan tetap disini saat kau membutuhkanku. Aku tak akan pernah pergi."

Ia menjawab "Seandainya aku kembali terjebak dalam lingkaran . . .". Ia kembali terdiam.

"Bawalah semua luka itu kemari. Aku akan menghapusnya. Aku percaya justru jebakan itulah transformasi sesungguhnya.".

Aku terdiam. Kembali menutup mata. Tak ingin melihat ia yang melangkahkan kakinya keluar menuju arena kanibalisme di luar sana. Aku memilih untuk tetap disini. Aku bukan siapa-siapa.

Aku, ia, dan mereka. Di tengah kegelapan. Di dalam sebuah ruangan.

Aku menutup mata. Membiarkan ia tertawa. Membagi semua kemenangan dan kegembiraan yang ia peroleh dalam kejayaan di luar sana. Aku tersenyum. Ia berevolusi menjadi sebuah kekuatan. Sementara mereka, hanya bisa mengikuti. Serangkaian kekalahan tak bisa disembunyikan dari ketakutan yang meraung dalam mata mereka.

Aku tahu bahwa ia tak selamanya rapuh. Aku percaya bahwa ia akan bertumbuh. Sebuah hadiah termanis yang ia persembahkan untukku.

Kini, mereka tenggelam dalam ilusi berkepanjangan. Mencari kekuatan di antara dentuman nada tak bernyawa dan dentingan anggur tak berkesudahan. Pagi dan malam. Tawa dan tangis. Mereka menikmati kekalahan dalam lingkaran yang mereka ciptakan sendiri. Entah kapan mereka akan sadar. Saat ini, mereka adalah autis sejati. Penikmat disintegrasi jiwa. Menikmati peran sebagai avatar bagi diri mereka sendiri. Mereka tak akan mendengarkan siapapun. Termasuk aku dan ia.

Aku dan ia tanpa mereka. Di sebuah meja. Terikat dalam suatu masa. Tiada kehidupan dan kematian yang berani mengusik. Hanya tatapan yang saling menelanjangi dan mencintai.

Melompat keluar dari perbatasan. Melakukan hal yang paling tabu. Dan tetap terintegrasi dalam satu jiwa yang merdeka. Menghancurkan topeng kepatuhan. Tak terkukung oleh dualitas.

Aku dan ia tanpa mereka. Menikmati deburan ombak dan sinar rembulan. Tak terikat, namun satu.

Ia menangis.

"Untuk apa air mata itu ?" aku bertanya.

"Untuk sebuah hati yang tertempa berulang kali demi hari ini.". Ia tersenyum.

Aku menghela nafas. Bagian rapuh dalam diri ia masih tersisa. Itulah warna yang hilang dalam diri aku.

"Semoga kau menikmatinya. Aku berharap, itu tak akan hilang.". Dan itulah yang menjadikan aku begitu betah dengan ia.

Ia tahu aku sudah melepas bagian yang disebut manusia. Karena itulah, ia masih menyisakan itu di dalam dirinya. Menjadi pelengkap bagi aku. Sebuah kesempatan kedua ? Mungkin sebuah kesempatan yang tak akan pernah dilepaskan untuk selamanya.

Aku dan ia tanpa mereka. Dalam masa. Tak saling bergantung. Tak saling terlepas. Bebas. Berdampingan.

Sebuah jalur menuju akhir dari sebuah awal, dan awal dari sebuah akhir. Hanya aku dan ia.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer arudoshirogane
arudoshirogane at Aku, Ia dan Mereka (10 years 32 weeks ago)

kip it ap

Writer imoets
imoets at Aku, Ia dan Mereka (15 years 24 weeks ago)
30

gak ngerti..
terlalu samar dan gak jelas...

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at Aku, Ia dan Mereka (15 years 39 weeks ago)
30

bikin pusing dan darah tinggi. Punya mentimun Ngaa?

Writer KD
KD at Aku, Ia dan Mereka (15 years 40 weeks ago)
10

aku pusing, baca ini jadi lebih pusing lagi

Writer ima_29
ima_29 at Aku, Ia dan Mereka (15 years 40 weeks ago)
80

MMmmmm...Butuh waktu dan pemahaman yang LUAR BIASA memang!!

Writer niawmiaw
niawmiaw at Aku, Ia dan Mereka (15 years 40 weeks ago)
90

Kayaknya saya pernah mengenal dan mbaca gaya penulisan seperti ini. Gaya penulisan yang sama: kalo mbaca harus mikir dengan suasana yang tenang beserta kopi atau teh hangat :P Ni cerita lo banget lah, ven! :D
Gw baca tanpa memperdulikan (berpikir setidaknya) siapa itu aku-ia-mereka. Karena kalo gw mikir, ntar jadi bingung. Hohohoh..
Menyimak dari komentator dua kolom dibawah: terlalu puitis.
Apa ini termasuk overused sophisticated of words yak? Katanya itu tidak baek yak?

Writer Farah
Farah at Aku, Ia dan Mereka (15 years 41 weeks ago)
80

good,,ngebuat pembaca nebak2 siapa Aku, Ia dan Mereka,,jadi pembaca bener2 bebas berekspresi lewat cerita ini,,,

Writer mugisby
mugisby at Aku, Ia dan Mereka (15 years 41 weeks ago)
50

Terlalu banyak kata puitis menyebabkan pembaca kesulitan mengikuti alur cerita, bahkan cenderung dibuat bingung, sehingga tak dapat menangkap maksud atau tujuan utama tulisan ini.

Saran saya, tetapkanlah tujuan dari apa yang hendak diceritakan, jangan sekedar kata2 indah namun mudah dilupakan.

Writer anangyb
anangyb at Aku, Ia dan Mereka (15 years 41 weeks ago)
50

Aduh, mungkin karena aku baru satu kali baca, di luar udara panas, berisik lagi, jadi... aku belum nangkep alurnya selain pilihan katanya yang puitis...

Writer ratihsugarzels
ratihsugarzels at Aku, Ia dan Mereka (15 years 41 weeks ago)
80

kalo menurutku ini contoh cerpen sureal ya?
alurnya ga jelas terlihat dan memang minus jalan cerita.
berisi sepenuhnya kiasan yang membebaskan pembacanya menafsirkan segala rupa.
sebagai pecinta kebebasan dalam berseni sastra, saya suka karya anda.
cuma... just to note...
ga ada menelanjangi mentah2 yang ada menelanjangi bulat2.
kita tau sebagai penulis kita bebas mengotak atik diksi. tapi untuk standar harus diketahui. jangan sampai malah jadi terlihat 'kurang' memadai.
itu tantangan lho ;)
keep up d gud wurk

Writer cen nih...
cen nih... at Aku, Ia dan Mereka (15 years 41 weeks ago)
90

dunno why...but i really like reading this..

Writer peggymuliadi
peggymuliadi at Aku, Ia dan Mereka (15 years 41 weeks ago)
100

PERFECT... alur cerita, pilihan kata, mengetuk emosi...

Writer PoeTry_ThaMie
PoeTry_ThaMie at Aku, Ia dan Mereka (15 years 41 weeks ago)
90

Sori, gi gak connect, nih! Kata-katanya sih, gak bisa dipungkiri, emang bagus banget! Tapi... Mungkin daya serap aku yang gak bagus atau memang... Gini deh. Sori-dori-menyori, beh... Ngg... Maksudnya apa??? Sumpah, gue lagi gak connect banget, niey!!!