Natal Jalanan -- bagian 2

9 Desember, dua minggu menjelang natal…

Seiring berlalunya hari demi hari, kegembiraan justru semakin terasa, diiringi siraman salju yang membuat gigi bergemeletuk. Dengung lagu-lagu natal yang memberi kesan bahagia dan bersemangat mulai menghiasi kota. Mainan-mainan, perangkat hiasan, dan atribut natal semua diborong habis. Namun diantara suasana bahagia itu, Mui, seorang siswi kuliahan yatim piatu, masih berkutat merenungi apa arti natal, dan tidak habis pikir mengapa natal begitu membahagiakan. Hari-hari terakhir dihabiskannya dengan memperhatikan orang-orang berseliweran dari jendela besarnya; disela-sela jadwal kuliahnya, mendengarkan percakapan siapapun itu yang bisa ia dengar, dan mengamati para preman atas saran Elli, namun hasilnya nihil. Masih tak menemukan arti natal, ia malah jadi mengetahui nama anggota preman-preman itu, kegiatan kesenangan mereka, dan hal-hal lain yang tidak penting baginya.

“Ah, kau ini memang payah…,” sahut Elli lesu, berbaring malas, dengan tangan memegang kontroler dan memencet-mencet seru.

“Apanya!?” Mui membongkar-bongkar laci mejanya, “Aku sudah mengorek banyak info! ….ah, ini dia catatanku. Dengarkan, nih,” berdeham keras, Mui melanjutkan, “Geng Pecinta Wanita. Aih… jelek sekali namanya…. Anyway, geng ini, ada empat orang. Um, mungkin yang dianggap sebagai pemimpinnya adalah si cowok berbadan paling besar dan paling modis, Laza. Sekitar 22 tahun, putus sekolah, kerjanya merayu wanita yang lewat, dan kalau kulihat, biasanya ia yang menentukan geng melakukan apa.”

Elli menguap, masih memandang layar TV. “Teruskan saja, Mui. Aku mendengarkan.”

“Oke…..Laza ini yang rambutnya hitam klimis, ada tindikan di hidung dan alisnya. Lalu, anggotanya... agak mudah membedakannya sih, soalnya rambutnya seperti pelangi saja mereka itu.”

Mui membalik-balik catatannya, yang bercorat-coret disana-sini.
“Si merah, biasanya dipanggil Rock. Hm, dia menarik juga. Kurasa, dia orangnya agak lucu, suka membanyol. Status pendidikan, gak tau. Umur, tak tau juga aku. Mungkin sekitar 24 tahun. Mm, kerjanya tidak begitu buruk, hanya tertawa-tawa, menghibur teman-temannya. Lanjut, Elli?”

Elli menaruh kontrolernya dengan lesu. Layar TV lagi-lagi bertuliskan “Game Over”. Menghempaskan diri di ranjang, Elli memeluk gulingnya sembari berselonjor.
“Ya, ya, baiklah. Aku mendengarmu, lanjut.”

“Hm…. Lanjut. Dua lagi, ada Heon dan Viz. Ah, aku paling suka dengan yang ini, Heon. Aku bertaruh kau juga akan menyukainya! Wajahnya kalem sekali, paling pendiam diantara teman-temannya, suara yang berat dan mengalun sangat perlahan. Ah… caranya bersikap tidak seperti preman! Benar deh…,”

“Hwow… umurnya? Penampilannya?”
“Kurasa sekitar 21 tahun, masih sangat muda menurut para informan, dan penampilanya… ah, tunggu! Hari ini Rabu kan?”

Mui tiba-tiba melesat naik ke ranjang dan melongok ke luar jendela.

“Pas! Itu mereka. Hari ini jadwal mereka berkumpul! Sini, sinii!”

Menarik Elli dengan bersemangat, Mui menunjuknya.
“Lihat. Yang tidur-tiduran itu. Rambut hijau campur coklat campur sedikit pirang.”

Seorang laki-laki berambut hijau cerah dengan bercak-bercak coklat dan kuning, tengah berbaring santai di atas motor besarnya, menghisap rokok yang mengepul. Sementara teman-temannya terlihat mengobrol seru, lelaki itu hanya memperhatikan sambil tersenyum-senyum.

“Ampun…. Seperti pohon saja dia itu. But dia boleh juga! Yah, kesannya cool banget…!”

“I’ve told you,” Mui nyengir puas. Ia kembali duduk dan membuka catatannya.

“Heon. 21 tahun. Di-D.O dari kampusnya, umm… wajahnya ada bekas luka—entah karena apa—di pipi kirinya. Dan yang terakhir, Viz. 22 tahun. Dia yang berambut coklat jabrik kaku, yang tampangnya agak mengerikan, dengan ‘eye-shadow’ hitam legam. Ah ya, juga ada tindikan di lidah. Selesai.”

Elli masih memandang melongo ke luar jendela.
“Heran… darimana sih kau mendapatkan itu semua?? Kau gak kuliah??”

Mui nyengir bangga, bergeser ke jendela dan ikut memandangi Geng Pecinta Wanita.

“Mui kan bisa apapun. Hihi…., masalah mudah ini. But, aku masih belum menemukan…er..apa katamu waktu itu? Cinta? Bleaaaagh….,”

Kali ini Elli cuma tersenyum-senyum misterius.

“Mungkin kau belum, tapi kurasa aku sudah, Mui…. Hihi,” Elli bangkit dengan cepat sambil menggaet lengan Mui, “Ayo, kenalkan aku pada si Heon!”

>>>

Read previous post:  
71
points
(602 words) posted by Zhang he 13 years 22 weeks ago
64.5455
Tags: Cerita | cinta | natal
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Punya_4W1
Punya_4W1 at Natal Jalanan -- bagian 2 (13 years 19 weeks ago)
80

saya setuju dengan kawand yang lain.,
cerita ini mengalir dan lugas sekalii, diksix pun menarik.,

kunjungi tulisan saya ya.,
hohoho.,

Writer naela_potter
naela_potter at Natal Jalanan -- bagian 2 (13 years 21 weeks ago)
80

mengalir enak,cill..
^^
sukak bangettt..
yg ini lebih terasa teenlit daripada yg pertama.
ditunggu yaaah selanjutnya..

Writer Shinichi
Shinichi at Natal Jalanan -- bagian 2 (13 years 21 weeks ago)
70

hmmm...

Oh, saia mongucapin makasiy atas koment kamu di cerita-cerita saia. Dan, sekarang gantian.
Ini mau dibuat teenlit kan?
Cerita kamu udah bagus dengan aliran yang lembut dan menarik. Dialog-dialog tokohnya agak "dewasa" banget.
Jadi, kalo ini disebut cerita teenlit, ga cocok. Warnanya ga ada merujuk ke teenlit. Coba deh, saia baca yang pertama..

nice

Writer death_note
death_note at Natal Jalanan -- bagian 2 (13 years 22 weeks ago)
90

i hate local teenlits
but i like this one
simple not irritating with full of "gombal sambal".
hehehe..
pkknya g suka aja ma cara l cerita
mengalir bgt n enk bacanya ga kyk pengarang dengan bahasa sulit yang "memusingkan"

Writer Rijon
Rijon at Natal Jalanan -- bagian 2 (13 years 22 weeks ago)
80

Ini teenlit toh?? Kok diriku ndak merasa seperti teenlit??

Kalau ini film, aku merasa seperti nonton film Santaclause, dan bukan teenlit Natal???

Mungkin bener kata-kata om Pakijo, you need more uhm.....centil dalam menuliskan cerita ini. More 'teenly'.........

Satu hal lagi, dirimu tidak melupakan angka XXO

Writer Paijo RX
Paijo RX at Natal Jalanan -- bagian 2 (13 years 22 weeks ago)
80

Dari cerita bagian awal, cerita bagian kedua lebih bagus, kesan teenlitnya jadi lebih terasa...

Mungkin gaya teenlit yg kamu tulis nggak mirip dengan gaya cerita2 teenlit kebanyakan, coz kamu pernah cerita kalo kamu nggak pernah baca cerita gituan, n kamu berusaha dengan gaya kamu sendiri...

Cecillia..em unik kamu ya, berusa membuat cerita padahal kamu nggak suka cerita teenlit, mungkin malah menjadi tantangan buat kamu,

Percakapannya lebih dibuat lepas aja, kesan natural anak ABG ditojolin ya...

Pendeskripsiannya lebih dipertajam untuk menjabarkan setiap bagian ceritanya

Lanjutin ya....

Writer serpentwitch
serpentwitch at Natal Jalanan -- bagian 2 (13 years 22 weeks ago)
90

Seperti biasa flow cerita lo bener2 enak dibaca :) Ringan dan bahasanya mudah dicerna.

umur 21 mungkin bar masuk kuliah, make narkoba, trus lgsg di DO kali ^^

Writer Villam
Villam at Natal Jalanan -- bagian 2 (13 years 22 weeks ago)
80

cil, yang terasa emang bukan teenlit lokal kayak umumnya. terutama, mungkin, karena gaya bahasa dialognya yang belum sepenuhnya lepas dan ceria.

Writer Alfare
Alfare at Natal Jalanan -- bagian 2 (13 years 22 weeks ago)
80

Menurutku, kesan remajanya masih kurang. Meski aku sekarang ngerti gimana latarnya, kupikir sedikit deskripsi tambahan enggak akan nyakitin. Mungkin juga perlu diceritain secara lebih konkrit dan sederhana alasan Mui enggak mengerti natal.

Ngomong2, cerita ini benar2 berkembang ke arah yang menarik.

Satu lagi, usia 21 menurutku agak terlalu muda untuk jadi DO.