Otak

Tidak banyak yang berani mendekat kalau Sonya sedang memancarkan aura ketegangan seperti ini.

“Kenapa sih lo?” kata Nana. “Lagi dapet?”

Dia melepas staples dari setumpuk kertas, memaki—setan!—dan memisahkan kertas-kertasnya. Ada Chintya, Zety, dan Kiki juga di sana.

“Sonya. Woi...,” kata Nana lagi. Ketiga orang yang lain mulai saling melirik—membaca tanda bahaya.

“Gue kelahi ama Wahyu.”

Chintya, Zety, dan Kiki ber-oh panjang—dan langsung diam menunduk begitu Nana memelototi.

“Pasti gara-gara lo,” kata Nana. Sama sekali tidak membantu. Chintya mengusap jidatnya. Zety dan Kiki terkikik.

Untung Sonya tidak dengar.

“Masa dia cemburu ama Doni sih, Na, sampe ngambek gitu, yang bener ajaa! Gue kan udah sobatan ama Doni dari semester satu—sampe-sampe Doni-nya yang ga enak trus langsung pamit. Merusak suasana tau nggak sih Wahyu tuh kadang-kadang. Cemburunya norak.”

“Yah, Son—dia cemburu kan artinya dia sayang ama lo!” Chintya tahu-tahu menyusul.

Nana mendeliknya. “Diam,” katanya.

“Pas giliran gue yang cemburu dianya seneng!” lanjut Sonya, “Set—tan....”

“Ya, kan—kalo cemburu kan artinya sayang...,” kata Nana. Chintya langsung mendeliknya (“Itu kata-kata guee...!”), Nana cuek saja, “Si Ian juga gitu....”

“ENAK AJA—DIA KIRA GUE CEWEK APAAN!” suara Sonya menggelegar, mengejutkan Nana dan Chintya hingga diam.

Setumpuk kertas itu berisi role-cards. Nana meraih gunting—menawarkan diri untuk membantu—sebelum Sonya memintanya. Chintya melihat. Di suasana begini Sonya tidak akan sadar sedang dibantu. Tanda bahaya sudah naik satu level.

“Trus, trus...?” kata Nana, sambil menggunting-gunting role-cards dengan pelan-pelan dan rapi.

Sonya memperhatikannya. Tidak sabar.

“Ya gue sebel. Gue kan minta tolong ke Doni soal laptop gue—bukan buat seneng-seneng kan, coba. Berarti gue ga sayang kan ama Doni, berarti gue manfaatin Doni kan, berarti jahat kan gue ama Doni, itu ujungnya jangan panjang-panjang...!”

Nana memotong ujung kertas.

“Nggak kelewat galak lo ama dia, Son,” Chintya menyusul lagi. Nana (lagi-lagi) melotot padanya. “Sama Wahyu maksudnya....”

“Nggak,” kata Sonya—tanpa sadar kepada siapa—dan masih dengan tak sabar memperhatikan Nana yang pelan-pelan memotong-motong role-cards. “Itu nggak perlu digunting satu-satu, Nana. Ditumpuk dulu. Trus digunting bareng-bareng.”

Nana menumpuk dua bagian jadi satu, lalu mengguntingnya.

“Itu kayaknya bakal lama deh, Na.”

Kini Nana berhenti menggunting, menatap Sonya—so what do you want me to do?

“Tangan lo mundur, biar ga usah pindah-pindah.”

Nana menurut. Lalu menggunting.

“Nggak bisa,” kata Nana kemudian, kembali ke posisi awal. “Nanti hasilnya miring.”

“Nggak. Tadi udah bener!”

“Nggak. Itu hasilnya bakal miring!”

“NANA—ini tangan lo titik tuas, guntingnya titik tumpu, itu titik beban, kalo jarak antara titik tuas dan titik tumpu lebih jauh, kerja lo lebih efektif!”

“SONYA—ini gue yang ngerjain, lo tinggal lihat aja hasilnya nanti!”

“Tapi ini role-cards gue!”

Nana berdiri dari kursi, meletakkan gunting dan kertas-kertas. “Gue cuma mau bantuin lo aja kok, Son! Kalo ga mau tinggal ditolak aja—ga usah pake ngedikte dengan cara berpikir lo yang kelewat teknis itu!”

Sonya ikut berdiri. “Elo tuh, Nana, yang harusnya mulai berpikir sedikit teknis dan fungsional dan bukan estetis!”

Mereka berhadapan, diam, saling melotot. Wajah Sonya memerah, Nana juga. Tiga orang yang lain ikut merasakan ketegangan (dan sedikit kesenangan, “Wah, seru....“). Dua napas saling memburu. Nana berpikir keras—berusaha menemukan sesuatu untuk membalas Sonya.

“Hihh!!” sentaknya—tahu ternyata tidak berhasil. Lalu dia kembali ke mejanya, mengemas barang-barang ke dalam tas, menendang pintu dan keluar.

Tiga orang itu kini menatap Sonya.

“Nggak kelewat galak lo ama dia, Son?” kata Chintya lagi.

Sonya melotot padanya.

“Sama Wahyu maksud gue...,” kata Chintya takut.

“Hihh!!” kata Sonya—sumpah Chintya kaget—lalu dia berbalik menyusul Nana keluar. “Dasar anak otak kanan. Nana! Nana, come back here! Kita mesti ngobrol!”

***

“Sori ya, Na,” kata Sonya. “Gue masih sebel ama Wahyu.”

Mereka ada di mobil. Sonya harus membelikan dia secangkir kopi dan mengajaknya jalan-jalan dulu sebelum dia mau diajak bicara begini.

“Ya, ngerti gue. Ian juga sering gitu, kok. Cemburunya nyebelin,” kata Nana. Sebenarnya, waktu itu Nana sudah sadar kecemburuan Ian ini nanti akan benar-benar jadi masalah. “Cuman, makian lo itu diganti kenapa, sih.”

“Makian yang mana?” (Makian Sonya banyak sekali.)

“Ya, SETAN lo itu.”

“Diganti apa dong?”

“Ya, jangan Setan. Apa, kek. Sutet, kek,” kata Nana asal.

Lampu merah, mobil berhenti. Di depan mereka ada skuter matik dengan warna yang membuat mata Nana berbinar: pink.

“Lucunyaaa....”

Sonya menoleh kepadanya. “Pink? Iiih....”

Nana menatapnya. Mata kembali membesar—tahu Sonya benci pink. “Emang kenapa?”

“Jijik gue. Biru, kek.”

“Memangnya apa-apa mesti warna biru?” kata Nana.

“Eh, biru itu warna sejuta umat. Cowok-cewek bisa make. Coba, seragam SMP putih-biru, bukan putih-pink. Biru dipake ngajar bisa, dipake ke pesta bisa ...!“

“Emangnya pink ga bisa dipake ngajar ama ke pesta?”

“Biru bisa dipake ke layatan! Biru dongker! Pink? Mana bisaa...!”

“Ya—pink dongker....”

“HAHA...! MANA ADA PINK DONGKER! Ada-ada aja lo...!”

“Tapi pink itu warnanya lucu! Bagusan pink daripada biru, tau!”

“Tapi pink cuma bisa dipake ke pesta ama ngajar! Nana, lo tuh mestinya mulai BERPIKIR TEKNIS DAN FUNGSIONAL DAN BUKAN ESTETIS!”

Wajah Nana memerah, napas memburu, mata pun melotot lagi.

“Sonya, elo—BERENTI! GUE MAU TURUN!” Dilepaskannya sabuk pengaman. Tangannya sudah memegang handel pembuka pintu, membuat Sonya takut dan langsung menepikan mobil. Sejumlah kendaraan mengklakson keras.

Sonya panik. “Lo apa-apaan sih, Na! Bisa chaos di tengah jalan kalo lo gitu, tau! Gue ga sempat pasang sign kiri lagi! Nana...!”

Nana sudah turun dari mobil dan ke trotoar.

Sonya ikut keluar. Masih terdengar sejumlah klakson dan makian kepadanya dari para pengguna jalan. “Nana! Hei, lo udah ngerusak sistem lalu lintas, kabur lagi! Nana...!”

Nana berbalik kepadanya. “Lo tuh, Son, pikiran lo tuh cuman teknik sama sistem melulu tau nggak! Nggak ada sisi estetis atau emosional sama sekali, YOU LEFT-BRAINED ROBOT, yang sibuk ngebedain telor setengah mateng, yang seperempat mateng, yang tiga perempat mateng, GUE GA AKAN MAU PUNYA OTAK KIRI KAYAK LO!”

“Nana Otak Kanan, elo tuh yang kelewat perasa!”

Sebuah Jazz berhenti di belakang Peugeot biru Sonya. Tiga cowok mengeluarkan kepala dari jendelanya.

“Tampar, Mbak,” teriak salah satu.

“Duh, jangan berantem, dong—aku cinta kalian berdua, kok...,” teriak satu lagi. Yang terakhir terdengar berkata, “Bukan rebutan kamu, tolol, mereka rebutan otak....”

Sonya melihat kepada mereka, lalu kembali menatap Nana. “Liat gara-gara lo. Masuk ke mobil.”

“Bukan gara-gara gue,” kata Nana.

“Masuk ke mobil, gue bilang.”

Inginnya membantah, tapi tatapan tiga orang dalam Jazz itu benar-benar mengganggu. Jadi Nana kembali masuk ke mobil, diikuti Sonya lewat pintu seberangnya.

Teriakan itu terdengar lagi. “Yaah, rebutan otaknya udah selesai...! Jadi siapa yang dapet kanan? Yang kiri...?”

Sonya dan Nana saling pandang selama beberapa saat. Lalu Nana membuka pintu, Sonya membuka pintu. Keduanya keluar dan berjalan ke arah Jazz.

“Set—“ Sonya sempat memandang Nana sesaat, sebelum dua-duanya menyembur kepada tiga orang itu, “SUTET!”

Lalu mereka masuk. Meninggalkan tiga wajah yang melongo bingung. (“Otak di dengkul aja...,” kata Sonya sambil menghidupkan mobil.)

Mobil berjalan normal hingga ke perempatan berikutnya. Belum ada yang berani bicara. Sonya menghadap ke kanan, Nana ke kiri.

Lalu terlihatlah gift-shop itu begitu mobil berbelok ke arah Kotabaru. Nana melihatnya—Sonya juga, sampai mobil melaju begitu lambat.

Tertulis besar-besar di etalase: 30% OFF for All PINK and BLUE Items.

***

Belum, itu belum cukup mendamaikan keduanya.

Chintya—baru keluar dari students lounge, selesai main internet—melihat dua orang itu berjalan ke teachers room. Dua-duanya menenteng kantong belanja. Yang satu biru, yang satu pink—tapi tak ada satu pun yang bicara.

“Kebanyakan kopi,” kata Chintya.

“Apa?” mereka menoleh serentak.

“Kebanyakan kopi.”

“Siapa?” tanya Sonya.

“Ya elo!” kata Nana.

“Elo berdua yang kebanyakan ngopi!” kata Chintya. “Sini!” Dia berbalik lagi dan kembali ke students lounge. Nana dan Sonya saling pandang—lo duluan—tak ada yang melangkah sampai Chintya berhenti. “SINI!”

Mereka ikut juga.

Chintya meng-load internet explorer. Nana dan Sonya menunggu.

“Berantem gak jelas soal otak,” omel Chintya, “nih, cek dulu. Baru berantem.” Dia berdiri, dan menghidupkan satu monitor di belakangnya, dan mengabaikan tulisan DILARANG MEMAKAI FASILITAS KANTOR UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI yang ditempel di tepi monitor. “Nana, lo disini.”

Chintya pergi, Nana dan Sonya duduk. Punggung bertemu punggung. Tidak nyaman. Nana menggeser kursi ke kanan, Sonya ke kiri.

Pernyataan pertama: I am good at math, dengan empat pilihan; often, some, rarely, never.

Ada empat puluh pernyataan dengan pilihan yang sama. Sonya dan Nana mengisi semuanya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Klik untuk melihat hasil. Lalu mereka berdiri, di saat hampir bersamaan.

Nana: 57% Right, 43% Left.

Sonya: 43% Right, 57% Left.

Mereka menatap dua monitor itu bergantian, kemudian saling pandang.

“Gue gak mau jadi pasangan hidup lo,” kata Nana.

“Lo kata gue mau,” kata Sonya.

Masih pandang-pandangan juga—sebelum sesaat kemudian, keduanya, saling tersenyum.

***

Nana dan Sonya menatap monitor, menganalisa otak satu sama lain sambil tertawa-tawa.

Tahu-tahu sang principal hadir disana. Sonya menyikut Nana, yang terhenyak dan langsung berdiri. Sonya melirik tulisan yang ditempel di tepi monitor itu.

“Sedang apa?” tanya principal.

“Oh, ini, Pak,” Nana, spontan, maju dengan yakin—yakin bahwa principal pasti akan tertarik dengan tes ini, “Lagi cek otak. Bapak juga bisa coba, nanti dia bisa nunjukin dimana otak Bapak ....”

Sonya terkikik, tepat saat sang principal berbalik dengan muka merah, kesal.

Read previous post:  
122
points
(1442 words) posted by w1tch 14 years 19 weeks ago
76.25
Tags: Cerita | komedi | persahabatan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer my bro
my bro at Otak (14 years 8 weeks ago)
80

ternyata ad juga yg bisa ngalahin tulisannya super x...(mdh2an orgnya gak denger ^_^)keren punya witch!!

Writer v1vald1
v1vald1 at Otak (14 years 8 weeks ago)
80

Asyik sekali ngikutin dialog ringan yang cerdas dari karakter2 yang ditulis oleh seorang witch. Ada tehnik penulisan yang aku salut, spt ini contohnya:

“Ya, kan—kalo cemburu kan artinya sayang...,” kata Nana. Chintya langsung mendeliknya (“Itu kata-kata guee...!”), Nana cuek saja, “Si Ian juga gitu....”

Dari kepandaian tehnikal witch itu lah, suasana dalam cerpen dia selalu tergambar "hidup"
Kita dibawa larut dalam suasana akrab, yang menjadikan kita selalu kangen dengan karakter2 yang ia ciptakan.

Sudah pernah dicoba kirim ke majalah remaja sebagai serial?

Hmmmm.. gak heran kalo bisa disamakan dengan seri Olga dan Sepatu Roda... jaman dulu...

Writer w1tch
w1tch at Otak (14 years 8 weeks ago)

FrenZy: targetnya diturunin dulu, baru baca, it's nothing complicated!
Splinters: you've inspired me even much more than this! Thanks a bunch, buddy!
Gina: studentawards.com, tau bakal banyak yang tertarik--tes otak ini benar-benar ada, lho!
v1valdi: (oh, belum ada disini ya? biar aja, ntar kapan-kapan kalo mampir) aku sempat ngira-ngira Kak Nuke punya percentage segitu (seperti yang kutulis di "Belok Kiri")huihihi.... :D

Writer Super x
Super x at Otak (14 years 8 weeks ago)
80

ebat. Bikin cerita dari hal yang sederhana kemudian menyusun alur mendukung ide.

Writer gina
gina at Otak (14 years 8 weeks ago)
60

alamat website nya apaan tuh? pgn ngecek juga... jadi sonya apa nana ya?? hehe....

Writer FrenZy
FrenZy at Otak (14 years 8 weeks ago)
70

hmmm layla, aku agak bingung dengan jalan ceritanya. awal dan akhir, tidak ada hubungannya..? ceritanya memang ringan, tapi aku tidak menangkap esensi yang ingin kamu sampaikan di sini :) maaf ya bukannya nge-flame hehehehe aku cuman agak bingung aja stelah membacanya.

Writer splinters
splinters at Otak (14 years 8 weeks ago)
90

suka, ringan, lucu, terlihat bagaimana kamu sangat suka dengan serial nana, tokoh dan karakter-karakter pendukungnya! seru ... eh splinters merasa terhormat dikutip di catatan penulisan :)