Pantai Mutiara (I)

Dering telepon menggema di tengah malam itu. Sekali… dua kali... tiga kali…

Dengan pelipis berdenyut sakit, Masu menggeliat bangun, menggeram kesal.
“..argh baik baiiiik!”

Disautnya asal mantel tidurnya, terhuyung-huyung menuju koridor persis di depan kamarnya. Mengutuk pelan, ia menyambar gagang telepon hitam mengkilat di sudut lorong itu.

“..sebaiknya penting, jika tidak kau akan menyes...”
“Masu…,”

Sealun suara yang sangat dikenalnya terdengar di ujung sana, serak dan datar.

“Loniel-kah? Ah, aku baru saja kembali tadi, dan kini kau sudah menelepon. Haha, ada apa, malam-malam begini? …dan kenapa dengan suaramu?”

Hanya sesenggukan samar yang terdengar.

“Loniel? Kau tidak apa-apa?”
Sekali lagi tak ada jawaban. Masu mulai merasa was-was. Dilihatnya jam dinding tua yang tergantung di dinding. Pukul dua. Ada yang tidak beres…

“Loniel, kau dimana? Kau mau aku datang?”
“Aku di pantai… ingin bertemu kau…,”

Masu mengernyit miris. Suara yang jernih itu, kemana perginya? Yang selalu merdu dan bersemangat? Loniel….

“Baik. Kau tunggu. Aku kesana!”
Tak ada jawaban, kemudian begitu saja telepon itu ditutup di seberang sana.

Masu terburu-buru membanting gagang telepon itu, tak peduli letaknya yang belum benar, ia berlari tergopoh kembali ke kamar. Disambarnya asal jaket tebalnya dan handphone-nya yang tergeletak di meja. Kemudian, berlari ke kamar mandi, menceburkan asal begitu saja wajahnya ke dalam air di bak yang hampir membeku.

“Argh! Brengsek! Dingin sekali!” kutuknya kesal, menyapu wajahnya sekilas dengan lengan baju piyamanya.

Tak ada waktu berpikir, ia kembali tergopoh menuruni tangga, menyeberang ruang tamu dengan cepat seakan terbang. Terserimpet karpet dan terantuk lemari sepatu, Masu menyambar gagang pintu, tak peduli mata kakinya berdenyut sakit.

Ia menghambur ke kegelapan malam. Angin yang membekukan tulang mulai menghampiri, menusuk-nusuk. Masu tak memikirkan itu, yang ada di otaknya hanya pantai itu. Pantai Mutiara… tempat kenangannya dan Loniel. Meringis sambil menahan giginya yang mulai gemetar, ia terus berlari, menginjak salju tebal di bawahnya.

“Sial, seharusnya aku memakai sepatu…,” ia mengutuk, melihat kakinya yang tenggelam sekitar sepuluh centi tiap kali ia menjejak, membuat kulitnya mati rasa.

Terus berlari menembus malam, pikirannya melayang, kembali pada Loniel. Ia ingat saat itu, awal perkenalannya dengan Loniel, gadis periang yang agak terlalu bersemangat. Musim gugur, acara kopi darat dengan rekan-rekan kerjanya… Bermaksud hanya menemani rekan kerjanya, ia malah dikenalkan dengan Loniel. Gadis berambut hitam panjang, lurus sebatas pinggang, dengan wajah putih kalem, berhias mata coklat yang berbinar. Didampingi sifatnya yang bersahabat, tak memakan waktu lama bagi Masu untuk dekat dengannya.
Hari-hari kerjanya, Masu selalu ditemani Loniel, yang pasti mengunjunginya saat hari menjelang sore. Pulang kerja bersama, makan malam bersama, kemudian mengobrol, dan menghabiskan malam di pantai.

“Masu, lihat! Lautnya berkilauan! Aduh, cantik sekali!” malam itu, Loniel memekik.

Ya… Masu memejam, teringat akan kenangannya itu. Pantai curam dengan laut malam yang berkilauan, seperti mutiara. Tempat mereka…

Langkah lebar Masu tiba-tiba terhenti.
“Sam…pai…,” engahnya, menumpu tangannya pada lutut, berusaha mengatur nafas. Dibayangi kepulan kabut putih dari hembusan nafasnya yang tersengal, ia melihatnya, dilatari bulan purnama penuh, sesosok gadis dengan rambut berkibar, berdiri di tepi tebing yang curam.

“Oh…tidak…Lo…niel,”
Membuang segala pikiran buruk yang berkecamuk, Masu memaksa paru-parunya kembali memompa, berlari ke atas tebing. Memanggil nama Loniel, Masu melihatnya berbalik perlahan, menunduk. Diterangi sorot cahaya bulan, Masu tersentak. Tubuh itu seakan bukan milik Loniel. Memakai gaun tidur biru satin selutut, tubuh itu terlihat jelas. Tubuh yang biasa langsing, dengan kulit putih susunya yang lembut, kini kurus menyedihkan, ditambah sayatan-sayatan kentara di lengan dan betisnya.

Masu tak bisa berkata-kata, hatinya serasa perih melihat Loniel. Rasa rindu, sayang, sekaligus miris muncul serentak, menyesakkan dada.

Masu maju selangkah, mengangkat tangannya, ingin menyentuh lengan kurus Loniel, merasakan sayatan mengerikan yang tergurat disana.

“Jangan!” Loniel mundur selangkah, menangis.
Tersentak, Masu hanya bisa menurut, takut membuat Loniel mundur.

“Loniel,” bisiknya pelan, “Kemari. Menjauh dari sana, nanti kau jatuh.”
“Akan lebih baik kurasa.”

Jantung Masu berdegup tak teratur, darahnya seakan sudah berhenti terpompa. Berjuang keras untuk tetap tenang dan tidak gemetar, ia duduk begitu saja di atas hamparan salju beku.

“Persis seperti dulu…kau tahu aku takkan memaksamu. Aku akan duduk disini. Mengobrol sebentar, tidak masalah kan?”

Loniel memandang Masu sedih. Tertimpa cahaya remang, Masu melihat wajah yang seakan digerogoti dengan cepat itu. Mata yang sembab, basah, dan redup. Pipi yang terlihat tirus, juga berhiaskan satu-dua sayatan… bibir indahnya yang dulu selalu terukir senyuman, kini membeku, hanyut dalam penderitaan.

“Aku disini sekarang,” kata Masu pelan, menatap mata Loniel lekat, “Kau… ingin cerita… ?”
“Satu bulan… kita tak bertemu, Masu,” bisik Loniel parau, “Aku rindu kau. Aku hancur tanpa kau… Kau lihat betapa jeleknya aku sekarang…”

Tetap dalam tatapan lekatnya, air mata Masu mengalir begitu saja. Suara Loneil yang tersirat begitu banyak penderitaan itu....

“Kau pergi dinas saat itu. Tepat malam setelah kau pergi, Masu… semua bermula. Aku baru menyadari, saat dirimu tak ada, aku begitu tersiksa. Sungguh…hati ini…,” suara seraknya tercekat.

“Mengapa?” bisik Masu sedih.

“Kau, kau satu-satunya pemacu semangatku dahulu. Kuingat saat pindah ke kota kecil ini, aku tak bersemangat, tak ingin keluar, tak bisa bebas. Lalu kau muncul dalam hidupku, memberi warna-warni. Aku begitu senang. Aku... senang. Lalu, kau pergi. Dan hidupku kembali retak. Aku merasakannya.”

Loniel berbalik, menghadap tepian tebing. Masu sontak bangkit, bersiap akan kemungkinan terburuk.

“Jangan mendekat!”

“Loniel, kumohon. Apa yang kau pikirkan! Bukankah aku sudah disini sekarang? Aku sudah pulang, Loniel…. Kau bisa mulai dari awal, kau masih punya b…”

“Apa!!” sentak Loniel, “Apa yang kupunya?! Wajah? Tidak! Tubuh yang dibanggakan? Tidak juga! Orang tua? Mana mereka!!?? Dan aku terjepit dalam situasi ini, Masu! Aku kecanduan!! Ini menggerogoti tubuhku! Jiwaku! Hidupku!!”

“Aku gila!” jerit Loniel, menangis sejadi-jadinya, “Kau tahu siapa yang menyileti tubuhku? Aku! Kau tahu siapa yang tak memasukkan makanan ke perutku? Aku! Semuanya aku!! Aku kecanduan! Aku tak bisa menghentikan ini!”

Lemas, Loniel jatuh terduduk, menekap wajahnya. Jeritan tangisnya tak berhenti, menyayat perasaan Masu. Betapa Masu ingin sekali memeluk tubuh rapuhnya….

“Kubilang jangan mendekat!” teriak Loniel, menatap Masu; yang telah maju selangkah, dengan mata merah.

Masu berhenti. Hatinya sungguh sakit. Dialah penyebab ini semua.

“Loniel… aku...akulah yang bersalah. Aku tak menyadari itu… aku sungguh...,”

“Tidak,” jawabnya, menggeleng cantik, “Hatiku… hati ini yang salah. Mencintaimu, itu dosaku. Kau tak melakukan apapun, Masu… Saat-saat gelap itu, aku yang memulai. Tak makan. Ya, makanan itu terlihat seperti bangkai di mataku! Lambungku, lidahku, semua menolak. Aku berdiam di kamarku, berputar-putar, mencari setitik saja bayanganmu… Hari-hariku, terus berharap kau muncul suatu hari, bahkan bila hanya bayangan…”

Loniel mengelus lengannya perlahan. Luka-luka itu beberapa masih menganga merah, beberapa tertutup darah menggumpal. Masu tak kuasa menahan air matanya melihat kulit yang terkoyak itu. Perih…

“Ini…,” bisik Loniel, mata sembabnya menerawang, menatap luka-luka di tangannya, “Hari demi hari, aku semakin putus asa…. Awalnya kuretakkan cerminku…. Perih dan sakit di tanganku, entah mengapa… membuat pikiranku lepas darimu sesaat, Masu… Ya, tidakkah itu lebih baik? Aku memulainya. Satu sayatan panjang di telapak tangan. Begitu darah itu mengalir.. begitu perih menguasaiku, batinku tenang. Pikiranku lepas dari semuanya…,”

Loniel tersenyum.. senyum yang membuat Masu semakin miris. Senyum itu… seakan ia sudah kerasukan. Hatinya menjadi kalut, rasa sayangnya membuncah, pada gadis yang telah menderita itu, dan telah begitu kuat menahannya sendiri. Pisau tak terlihat seakan mengiris hatinya…

“Loniel, kau masih bisa bangkit! Kau sudah begitu kuat kan? Kau bisa terus maju! Kemana dirimu yang dulu begitu bersemangat?”

“Kau tak tahu…,” isak Loniel, “Masa depanku hancur. Aku tak bisa maju, tak bisa mundur…. Dan aku tak bisa jelaskan padamu, Masu…terlalu sakit untukku…,”

Loniel terhuyung bangkit, kembali menghadap tepian.

“Kau lompat, aku akan lompat juga, Loniel!” seru Masu, menggertakkan gigi dan mengepal, bertekad melindungi Loniel dari hantaman karang.

Loniel berbalik, tersenyum hangat. Senyum yang dahulu pernah terukir…. Senyum saat Masu memberi nama untuk pantai kesayangan mereka, juga saat Masu mengusap kepalanya pelan, atau saat untaian kata Masu menenangkannya. Namun, air mata turut menghiasi senyum indah itu, mengalir, menjadi saksi bisu penderitannya.

“Terima kasih, Masu,” Loniel menatap bulan yang bersinar keperakan, “Meskipun tubuhku tak ada, rohku akan terus bersamamu, melewati suka, dan duka.... Menemanimu di kala kau sendiri, di kala kau bekerja, di kala kau butuh teman. Aku harus minta maaf… aku bodoh. Aku...,’

“Jangan bodoh, Loniel. Kau tidak akan lompat! Dan bukan rohmu yang akan menemaniku, tapi seluruh nyawamu! Tolong, Loniel!”

Masu putus asa, menatap lekat rambut hitamnya yang tergerai berantakan. Loniel diam tak bereaksi. Masu memanfaatkan itu untuk mendekatinya, berusaha mendekapnya mundur. Namun bahkan sebelum Masu sempat bergerak, tiba-tiba Loniel terhuyung lunglai.

“LONIEL!!!”

Tubuh itu perlahan berayun ke depan, bergerak jatuh menuju hantaman ombak yang menghempas karang-karang tajam…

Read previous post:  
Read next post:  
Writer khrisna pabichara
khrisna pabichara at Pantai Mutiara (I) (13 years 24 weeks ago)
80

teknik penuturannya boleh juga nih

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Pantai Mutiara (I) (13 years 25 weeks ago)
80

Writer Shinichi
Shinichi at Pantai Mutiara (I) (13 years 25 weeks ago)
70

zhang he!
kutuk itu baiknya rutuk!

nice

Writer Nanasa
Nanasa at Pantai Mutiara (I) (13 years 25 weeks ago)
90

Terlalu lama diriku tidak buka2 k.com, hingga baru nemu tulisan sebagus ini sekarang :o

Yup, penggambaran adegannya bagus, sampe keasyikan bayangin adegannya, aq nggak sempat mikir tentang penulisan dll dll..

Gaya km khas :p
Nice, i love it :)
Lanjuuuuttt :D

Writer serpentwitch
serpentwitch at Pantai Mutiara (I) (13 years 25 weeks ago)
80

setuju ma naela, lo emang jago untuk tema2 melo gini :) Dan bahasa lo dalam bercerita selalu ringan dan enak dibaca. Pokoknya khas Zhang He bgt deh XD

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Pantai Mutiara (I) (13 years 25 weeks ago)
90

Bagian satu, siiip! Nanti commentnya dibagian ke-2

Writer 145
145 at Pantai Mutiara (I) (13 years 25 weeks ago)
80

Satu hal yang terbersit ketika saya membaca cerita ini, lucu sekaligus menegangkan.

Hmm paragraf2 nya disusun dengan kalimat-kalimat yang singkat dan padat membuat adrenalin pembaca naik turun.

Yup agak kacau memang kelihatnnya dimana dalam satu paragraf dicampurkan deskripsi dan isi kepalanya Masu, tapi justru itu yang membuat tambah menarik.

Dari segi cerita, seperti yang saya bilang tadi, lucu dan menegangkan. Sayang si Masu agak kurang cerdas ketika membujuk si Loniel, hmm mungkin karena kecapekan berlari ya?

Writer naela_potter
naela_potter at Pantai Mutiara (I) (13 years 25 weeks ago)
90

waaahh.
zhang he memang jagonya bkin cerita melow yah? aq terbawa nih,berasa masuk k critanya. ^^ adegan yg mengiris...

oke,lanjooott..

Writer cLaRacLaRa
cLaRacLaRa at Pantai Mutiara (I) (13 years 25 weeks ago)
90

uda bagus..^^
kaenya dah siap bgt jadi penulis...hoho....

Writer Paijo RX
Paijo RX at Pantai Mutiara (I) (13 years 26 weeks ago)
80

Wah Cil, km berbakat bikin cerita dengan model seperti ini, udah berdamailah dengan teenlit mu n teruskan yg seperti ini saja :p

Dialog dan pendeskripsianmu BAGUS cos ceritamu terkesannyata, hidup n bisa dirasakan oleh pembaca

cuma aku rada nggak enak waktu ada kalimat "Disambarnya asal jaket tebalnya", apa maksudnya itu mengambil jaket dengan asal? hehehe, mungkin pemahamanQ yg keliru :p

hihihi si rip8 berani buat pengakuan dosa n bales dendang dengan panggil kamu KOKO :))

Writer Rijon
Rijon at Pantai Mutiara (I) (13 years 26 weeks ago)
80

Good......

Tulisanmu dah rapi, gak bisa berkoak-koak panjang lebar aku di sini......

Tak lanjut dulu.........

rip8 at Pantai Mutiara (I) (13 years 26 weeks ago)
80

wew bagus benget ceritanya
ko2 ajarkan saya pls

oya tentang keluarga bahagia
aku ceritanya itu di ceritain ama
p.luis tendean
buahahah^^
jadi untuk karangan cerita pertamaku aku coba menjadikan cerita p.luis sebagai percobaanku sebagai bahan tulisan hheheheh

Writer Villam
Villam at Pantai Mutiara (I) (13 years 26 weeks ago)
80

alasannya loniel berubah drastis dalam satu bulan itu belum bisa kuterima, seperti ada suatu emosi yang hilang di sini. tapi coba kulihat lanjutannya.

Writer death_note
death_note at Pantai Mutiara (I) (13 years 26 weeks ago)
90

good ending for this episode

still wonder about the next episode

Writer genky
genky at Pantai Mutiara (I) (13 years 26 weeks ago)
80

good...
tpi kyak ada yang kurang kejang2nya...
tpi g ngebosenin kok...
GANBATE!!!1

Writer Lynn
Lynn at Pantai Mutiara (I) (13 years 26 weeks ago)
80

waduh 1 bulan. jd teringat girlfriend saia yg menunggu di indonesia :cry: adegannya tergambar dgn cukup baik, keep going!

Writer mocca_chi
mocca_chi at Pantai Mutiara (I) (13 years 26 weeks ago)
80

walau ada beberapa kata-kata dan kalimat dialog yang belum tertangkap dengan benar, tapi ini bagus...

yah, aku tak terlalu memperhatikannya, aku ingin cepat selesai membaca dan tahu ending kisahnya

nice work cilll