Pantai Mutiara (III)

Langit sore yang kemerahan kini telah menjadi ungu gelap, menyambut datangnya malam. Rumah sakit St. Marine, lantai sembilan, kamar di ujung koridor terlihat tenang. Tak lama, seorang pemuda datang memecah kebekuan. Pintu bangsal kecil itu tiba-tiba menjeblak terbuka.

“Loniel! Tebak yang kubawa! Ak…,”

Masu terdiam, terpaku begitu saja di ambang pintu. Loniel tak lagi berbaring, melainkan duduk bersandar di tumpukan bantal, tersenyum memandangnya. Selang oksigennya telah dilepas dan ia kelihatan jauh lebih segar.

“Masu…,” lirihnya.
Tak bisa menahan senyum gembiranya, Masu melompat senang menghampiri sang gadis, duduk samping ranjangnya.

“Oh, suaramu! Dan kau sudah bisa duduk! Ah bagus sekali!”

Loniel hanya tersenyum lemah, namun matanya seakan bercahaya dan menari-nari senang.

“Ini. Kubawakan roti abon kesukaanmu,” Masu mengulurkan sebuah roti berbungkus tisu, menyebarkan harum mentega yang menggiurkan, “Masih hangat. Ayo dimakan.”

Loniel menerima roti itu, namun tak memakannya. Diam, ia memandang Masu lekat.

“Masu, kenapa menolongku?” Loniel bersusah payah bicara dengan suara paraunya.

Masu hanya tersenyum dan membelai rambut Loniel.
“Makan dulu, gadis manis. Kau akan butuh tenaga untuk mendengarkan ceritanya sampai selesai.”

“Aku tak ingin makan. Aku ingin ke pantai…,”
“Tap..,”
“Kumohon, Masu. Aku tak lagi akan mencoba terjun dari tebing. Aku janji. Aku hanya rindu laut….” Matanya berbinar dan tersenyum manis mencoba membujuk Masu.

Sejurus, Loniel telah duduk di kursi rodanya, berjalan maju perlahan keluar komplek rumah sakit, dengan Masu mendorong kursi itu lembut. Infusnya yang tentu tak boleh terlepas, tergantung di sisi kiri kursi roda. Selop biru pucat—sewarna dengan pakaiannya—terselubung di kakinya, membuat telapak itu hangat. Loniel tersenyum sepanjang perjalanan menuju pantai, menoleh kesana kemari, seakan begitu bahagia melihat dunia. Masu senang melihat Loniel setidaknya telah sedikit bersemangat, mengingat kondisinya yang parah hari-hari yang lalu.

Kegelapan malam menghampiri. Di hamparan pasir lembut itu, Masu duduk, menumpu tangan di kedua lututnya. Di sebelah kirinya, Loniel tetap diatas kursi roda, tersenyum memandang langit indah yang menaungi Pantai Mutiara. Begitu terangnya malam itu, selayaknya siang hari yang terlalu gelap.

“Jadi…,” bisik Loniel—menghela nafas, “Disinilah kita. Kembali.”

“Ya. Kau ingat saat-saat dulu kita selalu disini? Mengobrol… kurasa topik-topik yang hampir sama setiap hari?”

Masu melihat Loniel tersenyum—menerawang bulan.
“Aku senang masih bisa menghirup wangi laut ini…,” Loniel mengatupkan kedua tangannya, “Suara geleseran ombak… sinar bulan… ah, dan aku beruntung hari ini lagi-lagi purnama.”

Terdiam… Masu tenggelam dalam pikirannya. Sejujurnya, trauma Loniel akan mencoba bunuh diri lagi, masih menghantui. Dipandanginya Loniel. Gadis itu telah berubah murung, melihat ke arah tebing curam.

“Masu, karang-karang itukah yang menghantamku?”

Masu tersenyum sekilas.
“Kau lihat tubuhmu. Adakah yang patah? Atau terluka parah sekalipun? Tidak, Loniel. Kau bahkan tak tersentuh oleh karang tajam itu.”

Sedikit terkejut, Loniel berpaling menatap pemuda yang ia puja itu.

“Ti-dak…?”
“Ceritakan padaku yang kau ingat, akan kuteruskan ceritanya.”

Loniel meneleng sedikit.
“Aku ingat terakhir, aku minta maaf padamu, aku memandang bulan itu. Begitu terang… menyilaukan. Tiba-tiba semua itu hilang, dan jadi kegelapan. Suaramu menjadi dengungan yang menyakitkan. Dan… aku terbangun di ranjang nyaman itu.”

Masu menarik nafas panjang, tersenyum.
“Yah... dokter bilang badanmu terlalu lemah, ditambah luka-luka di sekujur tubuhmu. Waktu itu… sejujurnya aku berusaha menarikmu mundur diam-diam. Kau mulai terhuyung dan oleng ke tepi tebing. Lalu kau jatuh. Tapi aku di sampingmu, Loniel. Aku memelukmu di saat yang tepat.”

Loniel mengernyit, tak paham.

“Yah, singkatnya,” kata Masu cepat, “Aku ikut terjun sedikit dan menyambarmu di saat yang tepat. Kita hanya di ujung tebing itu. Terperosok sedikit saat kutahan tubuhmu yang—sungguh mengejutkanku—begitu ringan. Kurasa saat itu kita menggantung aneh di tepian sana. Tapi, toh akhirnya kita bisa kembali disini.”

Masu nyengir senang, namun Loniel tetap dengan wajah sedihnya.

“Kenapa? Bukankah kau bisa mati juga…. Kau membahayakan dirimu sendiri.”
“Tak perlu cemaskan diriku. Aku tahan banting, tapi kau…, kau hanya miliki satu nyawa. Kenapa kau sia-siakan?”

Loniel menduduk sedih.

“Aku hanya ingin pergi…meninggalkan hidupku ini, yang seakan seperti sebuah film drama tragis ditambah tokoh yang terlalu lemah.”

“Jangan bodoh!” sentak Masu, “Kau sudah janji tak akan mencoba perbuatan konyolmu itu lagi kan!”

Loniel tersenyum.
“Tidak. Aku janji padamu…. Aku tak akan mencoba terjun lagi. Kita mengobrol disini, luruskan segalanya.”

Hembusan angin membuat Masu merinding, namun ia merasakan kehangatan dalam tubuhnya, yang ia sendiri tak tahu asalnya. Ia merasa rindu saat-saat seperti ini.

“Masu… kau tahu… aku sayang kau,” bisik Loniel pelan.

Masu memejamkan matanya dan menunduk, tak kuasa menjawab.

“Aku benar-benar sayang kau…,” lanjut Loniel, dengan suara mengalun lembut, “Tanpa alasan, tanpa syarat… dan takkan pernah berakhir, kecuali aku mati.”
“Please… cukup kata-kata mati, Loniel. Aku serius.” sahut Masu cepat.

Loniel tersenyum tipis, bersandar santai di kursi rodanya.

“Yah…,” kata Loniel, mengabaikan jawaban Masu, “Aku tak mengharapkan kau membalasku. Tentu tidak…. Aku ingin yang terbaik untukmu, Masu. Aku ingin kau gembira, senang-senang dengan hidupmu, bebas dari masalah… aku tak ingin membebanimu, dengan masalah-masalahku.”

Masu teringat diary itu, buku saksi mata segala yang terjadi.

“Kau sembunyikan dariku, Loniel. Kau sembunyikan masalah-masalahmu dariku…”

Senyum Loniel melebar.
“Masalah apa? Aku tak punya masalah. Aku hanya rindu padamu, itu saja.”
“Jangan bohong!” Masu mendongak gusar, menatap Loniel, “Sayatan itu! Orang tuamu! Katamu kau kecanduan melukai dirimu sendiri!? Oh, kau buatku kesal, Loniel. Kau menyimpan itu sendiri saja! Kenapa tak kau ceritakan!? Bahkan perasaanmu padaku, kau simpan itu semua.”

Loniel menoleh, matanya berkilau karena air mata, namun ia tersenyum.

“Kau sungguh senang… Kau begitu berbunga… Kau temukan belahan hatimu saat itu. Untuk apa kuganggu itu semua? Aku terlalu mencintaimu…,”

“….jangan menangis lagi, kumohon…,”
Masu melihat Loniel tersenyum. Bibirnya terlihat putih pucat. Namun matanya bersinar-sinar senang.

“Aku tak akan membebanimu lagi, Masu,” bisik Loniel. Masu tersentak dengan betapa lemahnya suara Loniel.
“Kau tak apa, Loniel? Ayo kita kembali saja, kau terlihat lemah.”

“Tidak. Sebentar lagi saja, Masu. Please….”
Masu tak tahu harus berbuat apa. Ia duduk lagi, memperhatikan wajah Loniel yang terlihat berseri.

“Aku senang,” kata Loniel lagi, “Kau membuatku berbunga, Masu. Aku merasa diperhatikan…”
“Tentu aku memperhatikan,” potong Masu tak sabar, “Kau membuatku cemas setengah mati! Dan sampai sekarang kau belum menceritakan masalahmu padaku. Aku menunggumu bercerita…,”

Loniel menggeleng perlahan.
“Tak apa, Masu. Benar. Aku hanya ingin memberikanmu ini…,”

Loniel mengulurkan tangan kurusnya. Di telapak itu, cincin perak mungil yang berkilau, diam tak bergerak.

“Untukmu, ambillah… dan pakai,” kata Loniel, melihat Masu tak bereaksi, “Telah kusimpan ini begitu lama, kini aku miliki keberanian untuk memberikannya padamu.”

Masu ragu-ragu, menyelipkannya di telunjuk. Cincin itu berkilau dan terasa dingin.

“C-cincin?”
Loniel tersenyum.
“Ya. Untuk… mengenangku suatu saat nanti,”

Masu mendongak tersentak.
“Apa maksudmu, Loniel! Jangan bicara yang tidak-tidak! Kau sudah berjanji tidak akan ulangi perbuatan konyolmu!”

Loniel terbatuk sekali.
“Tak apa, Masu… Aku toh sudah kehilangan segalanya…,”

“Jangan bicara, Loniel,” jawab Masu tegas, berdiri, “Ayo kembali ke rumah sakit. Kau pucat sek…,”

Serasa tersambar petir, Masu melihat infus yang tergantung di samping kiri kursi roda Loniel, seluruhnya berwarna merah, menyebar melalui selang bening itu, mengalir masuk dalam nadi Loniel.

“LONIEL!!”
Masu sontak menyambar lengan Loniel, dan menarik lepas jarum yang tertusuk di punggung tangan Loniel. Dilihatnya wajah tirus Loniel telah memucat, namun tersenyum tenang. Tangannya menggenggam sepucuk jarum suntik, dengan sisa warna merah di tabung isinya.

“Sudah… tak apa, Masu…,” bisik Loniel tersenyum manis.

"Sialan!”
Masu menyambar Loniel, menggendongnya dan berlari kembali ke rumah sakit. Jantungnya berdegup cepat melihat mata Loniel yang semakin redup.

“Bodoh!” sentak Masu, disela sengal nafasnya, “mana... janjimu!”

“Aku tak ingkari kata-kataku, Masu.” Loniel tersenyum, memandang mata coklat Masu yang kini panik, “Aku janji tak akan melompat. Maka aku tak lompat…aku sedari tadi… uhuk… hanya duduk...”
Loniel mengerang, menekan dada kirinya. Bibirnya kini membiru.

Masu membelah udara malam seperti kesetanan, seakan tak peduli, menabrak orang-orang yang berlalu lalang di jalan, berteriak panik untuk memberi jalan.

“Kumohon, Loniel! Bertahanlah! Hampir sam… MINGGIR KALIAN!”

Masu menabrak begitu saja segerombolan remaja yang tengah terkikik menghalangi jalan, menerobos kerumunan orang-orang.

“Masu… sudahlah… tak usah…,”
Tangan kurus Loniel terangkat, menyentuh pipi Masu perlahan.

“Aku… sayang kau, Masu… kaulah… satu-satunya…,”
“MINGGIR SEMUA, SIALAN!!” raung Masu, air matanya mengalir perlahan, namun ia tak peduli, terus menerobos maju, memasuki pelataran rumah sakit.

Loniel menyunggingkan senyumannya… senyuman yang paling manis yang pernah Masu lihat. Mata itu begitu tenang dan bercahaya. Kemudian semakin meredup.

“Demi Tuhan, Loniel!!!” teriak Masu panik, “Dokter!! Darurat!! Tolong!!!!”

Loniel mengalungkan lengannya perlahan sekali di leher Masu.
“…sayang… Masu…,”

Air mata itu semakin meleleh. Gelora sedih dan rasa kesepian itu datang begitu saja, menyayat hatinya. Kakinya seketika lemas. Berhenti berlari, ia hanya bisa terus memandang mata Loniel, dan senyumannya, tak kuasa bersuara.

Para suster mulai mendatangi, mengangkat Loniel ke atas ranjang pasien, melepaskan pelukan lemah Loniel pada leher Masu, dan membawa Loniel masuk ruang gawat darurat, meninggalkan Masu berdiri hampa dalam tangisnya...

Read previous post:  
152
points
(1334 words) posted by Zhang he 13 years 26 weeks ago
84.4444
Tags: Cerita | kehidupan | zhang he
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer just_hammam
just_hammam at Pantai Mutiara (III) (13 years 12 weeks ago)
80

wah bagus..aku baca 1-3 langsung.emang yang ketiga terasa janggalnya..
yang tidak jadi jatuh, yang darah masuk ke infus..itu mah tidak apa2..ga bikin orang mati hehehe

Writer kes_luph
kes_luph at Pantai Mutiara (III) (13 years 23 weeks ago)
70

mengharukan...
ihik..ihik... T__T

lanjutinnya buruan....

pnasaran..
ihik..

kci komen jg y k kryaku...

met terus berkarya..

Writer snap
snap at Pantai Mutiara (III) (13 years 24 weeks ago)
70

janggal ya zhang hahhahaha.... yupz masih bahyak tuh. salah satunya kata paijo. sorry pointku ga sebagus yg laen keknya qeqeqe.... sebenernya apa yg terjadi pada infus - selang - dan suntikan. 5X baca masih o'on juga nih...

Writer cLaRacLaRa
cLaRacLaRa at Pantai Mutiara (III) (13 years 24 weeks ago)
100

bagus bgt..
pengen bisa buat ide2 cerita yg keren kae gini..^^

Writer khrisna pabichara
khrisna pabichara at Pantai Mutiara (III) (13 years 24 weeks ago)
90

ide yang kaya. alur yang mengalir. tapi: perlu lebih diasah (sesekali aku bergaya bak kritikus)

salam kenal

Writer mocca_chi
mocca_chi at Pantai Mutiara (III) (13 years 24 weeks ago)
90

wkwk.. cara bunuh diri yang menyenangkan. itu racun yak? racun tikus? wakakak....
no coment dhe, mau nunggu lanjutannya aja.:P

Writer serpentwitch
serpentwitch at Pantai Mutiara (III) (13 years 24 weeks ago)
100

wih.. berasa bacanya... gw bener2 ngiri ama skill bercerita elo. Ga perlu konsep aneh udah bisa bikin orang terpesona dan terharu bacanya.

Btw, si Lionel itu bunuh dirinya gmn sih? bingung bacanya, cabut selang infus atau gimana ga ngerti?

dan kok aneh ya cewe dinamain Lionel dan cowo dinamain Masu hehe gw sempet ketuker2 brp kali bacanya.

Writer 145
145 at Pantai Mutiara (III) (13 years 24 weeks ago)
80

Hee tidak kusangka si Leonel begitu dendamnya pada si Masu :P ...
Tiba2 saja saya jadi menyukai tokoh yang satu ini, aura "evil" -nya mengharukan TT_TT

Ternyata memang rasa cinta dan benci itu hanya setipis kertas...

to Leonel: berusahalah!

Writer death_note
death_note at Pantai Mutiara (III) (13 years 25 weeks ago)
100

bagaimanakah kelanjutannya??
akankah loniel mati??
atau????

Writer Paijo RX
Paijo RX at Pantai Mutiara (III) (13 years 25 weeks ago)
90



MENGHARUKAN, hiks... bikin aku mau nangis T_T


aku nggak bisa komen macem2, cuma itu aja.^^

Lanjut Cil,...!!

PS : Rumah Sakit - Pantai, berapa kilo ya ?

Writer fruity_mae
fruity_mae at Pantai Mutiara (III) (13 years 25 weeks ago)
50

Wah, benar-benar menggugah perassaan, kok jadinya ya sad ending gitu loh..

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Pantai Mutiara (III) (13 years 25 weeks ago)
80

Menghanyutkan sekali. Sangat emosional.