QUIET

Dia gadis 13 tahun. bertubuh jakung dan ceking, nampaknya kurang sehat tetapi cantik. Seragamnya sudah longgar dan usang, dan sol sepatu kanvasnya sudah mengelupas dari bagian atas. Penampilan Sanna tidak membuatnya disukai oleh teman-teman seasramanya. Anna mungkin adalah sosok seorang gadis yang berbeda diantara gadis-gadis yang bersekolah di asrama tersebut. Karena dia selalu nampak murung sepanjang hari, padahal dia bersekolah di Asrama elit se-Indonesia.
Hari itu, cuaca panas sekali, sampai-sampai tiada satu pun yang keluar dari kamar asrama, untung saja sekolah sedang diliburkan karena ada rapat guru mendadak. hanya satu-satunya murid yang keluar dari kamar asrama,sedang duduk-duduk di gazebo sambil membaca buku besar bersampul kulit hitam yang berjudul “kesaksian hidup”. Tanpa sadar butir-butir airmatanya berjatuhan dan merayap-rayap di pipinya yang halus dan lembut. Nyaris tiada hal-hal lain yang terpikirkan di otaknya selain kelanjutan kisah di buku itu. Semakin dia fokus membaca satu-persatu kata-kata yang tercetak pada setiap halaman di buku itu, semakin larutlah Ia dalam kesedihannya. Padahal angin melambai-lambai menyibakan rambutnya yang panjang, mengirim kesejukan batin, tetap saja Anna tidak mau menghapus airmatanya sedikit pun, bahkan Ia biarkan saja airmata itu sampai membasahi bajunya. Satu-persatu kejadian masa lalunya yang mengerikan terngiang-ngiang dalam kepalanya. Denyut nadi Sanna bertambah cepat mengingat kejadian yang mengerikan itu seolah-olah itu adalah salahnya. Belum lagi tuduhan-tuduhan itu, semuanya adalah tidak benar sehingga nenek dan adik laki-lakinya membencinya. Apa daya, semuanya membecinya, walaupun Sanna tidak tahu-menahu soal terbunuhnya Ibu karena saat itu dia masih berumur 10 tahun. Kedatangan Ayahnya ke kediamannya belum lama saat kejadian itu berlalu, mengubah kehidupannya, sehingga dia terbebas dari perasaan membenci nenek dan adik laki-lakinya. Saat, menginjakkan kaki ke Asrama Thilles, Ia merasa sangat ringan, seolah-olah akan terjadi sesuatu yang akan menguak kebenaran kisah itu. Sungguh kelewatan dia masih begitu kecil, belum mengerti apa yang harus dilakukannya ketika, melihat Ibunya di serang oleh orang jahat itu. Apa daya, Anna hanya bisa pasrah, dan menunggu kiamat dari kisah itu. Dan beraninya nenek menuduhnya telah membunuh Ibunya karena tidak memberi pertolongan bahkan adiknya pun ikut-ikutan. Hanya, ayah yang memperhatikannya dengan kasih sayang walaupun kebersamaan Anna dan ayahnya hanya beberapa saat, karena Sanna di asrama. Sesaat dia membiarkan dirinya dikuasai oleh kesedihan yang melarut-larut, mustahil bila tidak ada yang menjawab kesedihannya. Meskipun demikian, masih ada yang mau memperhatikannya selain ayahnya dan perlu diketahui bahwa Anna tidak mempunnyai sahabat. Tiba-tiba terdengar suara merdu yang pernah didengarnya. Suara itu berasal dari seorang yang cantik, berkacamata dan tampak berwibawa.
“Anna, mengapa kau menangis?.” tanya bu kepala sekolah penasaran.
“Ahh—tidak apa bu kepala, aku hanya merasa suntuk.”jawab Sanna dingin.
“Ceritakanlah kepada, Ibu apa yang terjadi.”
“Maaf, tetapi aku tidak bisa. Lebih baik Ibu lanjutkan rapatnya saja.” Katanya sambil berlalu.

--> bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at QUIET (15 years 22 weeks ago)
70

lanjut, kayanya bakal rame nih

Writer Olivierly
Olivierly at QUIET (15 years 22 weeks ago)
50

Cukuplah. Lanjutin lagi ya... :)

Writer prima
prima at QUIET (15 years 22 weeks ago)

RALAT : namanya Anna bukan Sanna maaf,maaf. saya kurang teliti.