Engkong Gue Aja sayang!!! (Bagian 1)

Siang itu panas sekali, matahari begitu teriknya. Cuaca yang tidak begitu bersahabat membuat semua penduduk ibukota saat itu enggan untuk berada di luaran rumah. Anak-anak yang baru saja bubaran sekolah sebisa mungkin untuk secepatnya sampai di rumah.

Berbeda dengan Asti, yang sejak pagi sibuk dengan kertas-kertas berupa pamflet yang di pasang di setiap mading kelas di sekolahnya. Asti yang dibantu seorang sahabatnya, Nina, begitu bersemangat hingga tidak ingat pulang ke rumah.

SAYEMBARA!!! KHUSUS COWOK2 MACHO…

BAGI YANG BISA NEMUIN SEBUAH RADIO BUTUT ALIAS TUA DENGAN CIRI:
1. WARNA DOMINAN ITEM DAN COKLAT
2. DIBELAKANGNYA ADA STIKER BERTULISKAN “PERKUMPULAN ENGKONG GAUL” BERWARNA BIRU TUA DENGAN TANDATANGAN NYENTRIK.
3. RADIO INI DIBUAT PAS JAMAN PENJAJAHAN BELANDA, SEKITAR TAHUN 1943.

AKAN MENDAPATKAN HADIAH BERUPA UANG TUNAI Rp. 500.000 DITAMBAH VOUCHER BELANJA SENILAI Rp. 500.000 DAN MAKAN MALAM GRATIS DI RUMAH GUE. HEHEHEH…

BAGI YANG BERMINAT DAN PINGIN DAPAT PENGHARGAAN, SILAKAN HUBUNGI SDRI. NINA (XIS3) ATAU ASTI DI KELAS YANG SAMA.

INGAT INI HANYA BAGI COWOK2, TIDAK ADA MAKSUD DISKRIMINATIF BAGI KAUM CEWEK. SEKIAN HARAP MAKLUM.

Begitulah kata-kata di pamflet itu terpampang jelas. Dengan kertas warna-warni yang mencolok serta tulisan yang super besar, sehingga mudah sekali dibaca dari jarak dua meter, Asti berharap akan banyak peminatnya.

* * *

Tak ayal lagi, pagi-pagi sebelum bel tanda masuk berbunyi, para siswa-siswi SMU Negeri 007 bergerombol di koridor kelas dihebohkan dengan kertas yang dipasang di masing-masing mading kelas mereka. Siswa cowok merasa bahagia sekali hari itu, apalagi cowok-cowok yang uang jajan bulanannya dirasa kurang.

Nina dan Asti dengan santai dan asyiknya berjalan dari pintu gerbang menuju ruang kelasnya. Mereka tak sadar bahwa satu sekolah sedang memperhatikan gerak-gerik mereka. Ada yang memandag aneh, ada yang memandang kagum dan ada pula yang memandang sinis, terutama genk saingan Asti. Wah, ternyata Asti nggak kalah menariknya dengan seorang artis. Hari itu Asti dan Nina seperti artis yang serba sibuk, dicari para cowok yang tertarik dengan sayembara itu.

“Bagi cowok-cowok yang udah ngisi nih formulir,” jelas Nina di depan kelas XIS3 dengan memperlihatkan contoh formulir kepada siswa cowok yang sejak bel istirahat memenuhi ruang kelas itu, “segera aja serahkan ke saya ato Asti, cos this is so impotent for us,” cerocos Nina yang sok inggris, tentu saja mengundang gelak tawa seisi ruangan dan semakin menambah riuh suasana seperti pasar pagi yang sedang obralan.

“Dasar dodol!” celetuk Asti sambil mendorong pelan kepala Nina,” maapin, ye! Atas kekeliruan temen Aye yang sok inggris ini,” tambahnya, Nina hanya cengar-cengir ndak karuan dengan membagi formulir kepada semua siswa yang ada di ruangan itu.

“Eh, emang tuh radio penting banget, ya Ti ?” tanya Bayu, temen satu kelas Asti yang duduk paling depan.

“Iye, bener!” timpal seseorang yang tak Asti kenal. Dari tampangnya dia seperti kakak kelas Asti,”moso demi radio, radio butut lagi, elo tega bayar kita segitu banyak. Ngalah-ngalahin reality show di tipi aja,” diikuti gelak tawa yang semakin menjadi-jadi.

“Eh, pada bacot ye! elo semua kalo dikasih juga pada mau kaaan ?” bela Nina yang juga ikut ngebantu bagi formulir.

Tiba-tiba seorang cewek masuk ke dalam kelas. Wajahnya tak asing bagi semua yang ada di ruangan itu. Perawakannya kecil dan pendek, rambut sebahu dikepang dua kanan kiri dan dengan kacamata hitam yang super tebal menghisai matanya yang agak sipit. Ketua osis ruapanya, apakah dia juga ingin ikut sayembara? Tanya Asti dalam hati.

“Ma’af saya mengganggu kesibukan kalian sebentar,” berdiri di depan kelas dengan gaya pejabat yang sok diplomatis itu, badan tegak berdiri dan padangan menyapu seluruh isi kelas dengan mantapnya,” Asti, Nina !” Asti dan Ninapun menengok ke arahnya,” kalian dipanggil Pak Petrus ke ruangannya,” tanpa basa-basi dia bicara, “ sekian, terima kasih,” lalu keluar ruangan dengan gayanya yang angkuh.

Seisi kelas pada ribut. Mereka menduga pasti Pak Petrus, sang Kepala Sekolah yang super tegas marah besar pada Asti dan Nina. Berbeda dengan Nina yang wajahnya kelimpungan bukan main, Asti terlihat santai dan rileks. Karena dia tahu apa yang akan dia jawab nanti.

“Eh, pokoknya formulir itu harus udah ada di tangan gue ato Nina jam tiga siang ntar sepulang sekolah.” Terang Nina sebelum dia cabut ke ruang Pak Petrus, “yang lewat jam segitu, nggak bakal gue terima!” tegas Asti. Cowok-cowok pada manggut-manggut aja.

Asti dan Nina keluar ruang kelasnya bertepatan dengan bel tanda istirahat selesai. Diikuti cowok-cowok yang bergerombol kayak ketan. Dag… dig…dug… itulah yang ada di hati Nina saat berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.(Bersambung)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

hehehe... salam kenal semua, ya! ternyata hasil karyaku yg pertama cukup meriah responnya. makasih yang dah bikin web ini, makasih yang dah mau saling sharing...
salam kenal aja... ngomong2 tentang 'aja' ada lagi nggak yang make ID 'aja' di belakangnya??? hihihi...

Writer meier
meier at Engkong Gue Aja sayang!!! (Bagian 1) (14 years 7 weeks ago)
80

GREAT,ditunggu lanjutannya.enak,suka ngebacanya.

Writer KD
KD at Engkong Gue Aja sayang!!! (Bagian 1) (14 years 7 weeks ago)
100

pasti Pak Petrus ikutan daftar

Writer farida
farida at Engkong Gue Aja sayang!!! (Bagian 1) (14 years 7 weeks ago)
90

awalnya bagus memulai dengan membuat penasaran pembaca dengan "SAYEMBARA" tsb. Jadi pengen baca lanjutannya ^_^

50

"segera aja serahkan ke saya ato Asti, cos this is so impotent for us"

Duh.. emange tokoh engkongnya mana..? Kok Impotentnya dah disebut duluan... tapi kakeknya belum..?
Tar lanjutannya, pake tokoh yang namanya seragam yah.. kayak kita... Ada Alya Aja, Imr Aja dan Uchinaja

Writer imr_aja
imr_aja at Engkong Gue Aja sayang!!! (Bagian 1) (14 years 7 weeks ago)
50

eh kok kita sama "aja"-nya ? :d