padang ilalang itu..

Tersentuh diriku saat aku melihat padang ilalang di belakang gedung tua itu. Padang ilalang yang sunyi senyap. Tak seorang pun yang sudi mendatanginya, bahkan hanya untuk memandanginya. Tapi tidak bagiku, aku setiap sore selalu menyempatkan diri untuk memandanginya. Kunikmati setiap lambaian ilalang yang tertiup angin senja. Putihnya bunga-bunga ilalang yang anggun mengajakku untuk ikut berdansa. Tak ayal tubuhku terasa ringan tertiup angin yang berhembus sepoi-sepoi.
Hari ini aku kembali ke tempat ini. Tak seperti biasanya, aku datang ke tempat itu dengan membawa semua bebanku. Aku mencurahkan semua penatku, melepaskannya dari pundakku. Aku ingin semua bebanku hilang terbawa angin senja dan kubiarkan diriku ini dibelai oleh bunga-bunga ilalang yang berdansa dengan anggun.
Aku tertidur oleh bisikan angin yang bercerita tentang dewi ilalang yang selalu menari-nari diiringi melodi dari sang angin. Terdiam, aku hanya bisa terdiam mendengarkan angin bercerita. Aku tersenyum saat angin bercerita tentang pesona ayu sang dewi ilalang. Perlahan-lahan aku tertarik untuk bertemu sang dewi, namun angin melarangku lalu berhembus kencang. Aku tak tahu apa yang terjadi, saat mataku terbuka, aku tergeletak di atas tempat yang lembut. Entah apa itu. Bunga-bunga ilalang berterbangan tertiup angin. Putih tipis terbang bersama angin senja.
Kulangkahkan kakiku memasuki rimbunan ilalang yang terasa seperti menarikku. Bunga-bunga ilalang berterbang dan berjatuhan seperti musim salju. Membuatku semakin masuk dalam dunia mimpi.
Aku terpaku melihat sosok cantik, sosok yang digambarkan oleh angin. Berkulit putih bersih, tak ada cacat yang mengganggu. Tubuh bersihnya terbalut oleh selendang putih seputih kulitnya. Tak ku sia-siakan kesempatan ini. Aku berlari mengejar sosok cantik itu yang telah berlari karena melihatku. Tapi aku tak sanggup mengejarnya. Sosok itu terbang bersama bunga ilalang yang ditiup angin senja. Selendang putihnya melambung tinggi membuatku hilang dalam khayalanku.
TEEEEEEEEEEEET suara bel kereta api menbangunkanku. Ya, padang ilalang ini dekat dengan Rel kereta api. Ternyata aku tertidur dan bermimpi. Duh, mimpi yang indah.
Aku ingin bertemu dengan sosok cantik itu.
****
Pagi hari, aku bangun dari mimpiku. Aku ingin bertemu dengan Dewi ilalang yang kulihat kemarin. Walau hanya dalam mimpi. Aku ingin bertemu dengan wanita yang sanggup menggoda hatiku. Aku teringat tentang cerita dari angin senja yang pertama kali diceritakannya. Cerita yang aku beri judul “Hari Terakhir di Surga”. Waktu itu aku tertawa saat angin bercerita.

Dulu, di surga ada malaikat yang bertanya pada Tuhannya, “Tuhan, mengapa kau ciptakan wanita?”
Tuhan tersenyum dan menjawab, “Tubuhnya untuk regenerasi, jiwanya untuk motivasi, otaknya untuk keseimbangan dan lakunya untuk religi. Sehingga anak-anak adam dapat mengenali siang dan malam, gelap dan terang,hitam dan putih. Dengan harapan, pada waktunya mereka akan mampu berlutut dan sadar bahwa Aku adalah Dzat yang Maha.”

Malamnya sang malaikat gelisah, sibuk mencerna arti dari senyum Tuhan tadi. Esoknya dia menukar sayapnya dengan sepasang tanduk dan turun ke bumi. Cita-citanya ingin memiliki senyum seperti itu.(diambil dari cerita butubego)

Hahaha, wanita oh wanita. Semuanya bisa menjadi bodoh karenanya. Malaikat yang tidak punya nafsu saja bisa menjadi bodoh. Aku sendiri pernah menjadi sangat bodoh. Hati terbakar oleh api cinta yang dikobarkan oleh seorang wanita. Wanita yang biasa kupanggil Peri kecilku. Dia begitu sempurna di mataku, membuatku ingin melakukan apa saja demi dia. Hatiku terbakar olehnya dan sekarang telah hangus. Hancur. Lebur. Aku menyesali hal ini.
Kadang aku tidak setuju dengan kalimat yang dikatakan oleh Tuhan dari cerita angin. “Sehingga anak-anak adam dapat mengenali siang dan malam, gelap dan terang, hitam dan putih.” Namun ketidaksetujuanku hilang saat aku melihat sosok ibuku. Wanita yang rela melahirkan diriku yang hina. Akan tetapi, keyakinanku akan sosok wanita tetap seperti semula. Aku akan tetap percaya bahwa wanita bisa membuat semua makhluk tuhan menjadi bodoh.
Termasuk aku.
****
Mentari sudah membentuk sudut sorenya. Aku kembali ke tempat ini. Padang ilalang tetap seperti kemarin. Bunga-bunga ilalang berterbangan dengan pasrah hingga jatuh ke tempat dimana dia akan ditakdirkan untuk tumbuh. Aku memandang kagum dengan padang ilalang ini. Sepi dan sunyi. Namun memberikan kedamaian bagiku yang tak bisa kuutarakan dengan kata-kata.
Aku memejamkan mataku. Aku ingin kembali bermimpi tentang Dewi ilalang itu. Niatku bukan untuk mencintainya. Aku hanya ingin bertemu. Mungkin Tuhan sudah mengetahui maksudku. Dan aku berharap Dia tidak akan membatalkan maksudku.
Angin berhembus kencang. Apakah angin juga mengetahui maksudku? Atau dia disuruh tuhan? Aku tidak mengetahuinya dan aku tidak menghiraukannya.
Aku merasakan diriku telah berada di dunia mimpi. Aku menelusuri rimbunan ilalang yang kurasa semakin menyesakkan. Aku menemukannya, Dewi ilalang itu. Dia tersenyum melihatku, dia tak lagi takut melihatku. Dia begitu anggun dan cantik. Aku membalas senyumannya. Dan aku memulai maksudku.
Aku merogoh sakuku, kuambil sebuah korek api. Aku menyalakannya. Api kecil ini telah ada di tanganku. Dengan perasaan penuh kemantapan aku lemparkan api itu ke arah Dewi ilalang itu. Ya, aku membakarnya. Aku tersenyum puas.
Angin marah padaku. Dia berhembus dengan kencang. Kemarahan yang sia-sia. Apiku semakin membesar dan meluluhlantakkan padang ilalang yang sangat aku senangi ini. Akhirnya aku melakukan sebuah keputusan bodoh untuk diriku dan hatiku. Bukan wanita.
Angin bertanya padaku mengapa aku melakukan hal ini. Aku membakar Dewi ilalang sebelum dia membakar hatiku dengan api cintanya. Sebelum hati hancur. Sebelum keangkuhanku hilang. Sebelum aku bisa melupakan Peri kecilku. Sebelum aku bertemu dengan Peri kecilku kembali. Aku masih menunggunya. Bukan karena aku bodoh. Tapi karena peri kecilku adalah satu-satunya api dalam hatiku yang masih membakarku. Dia yang membuat aku berlutut pada Tuhan dan menyadari bahwa Tuhan adalah dzat yang Maha.
Pemandangan menjadi kabur. Angin tak lagi berhembus. Mungkin angin telah lelah berhembus atau tak ingin melihat padang ilalang menjadi hancur. Angin telah pergi. Dengan hangusnya padang ilalang ini, dengan perginya angin, dengan terlihatnya bintang, dengan keyakinanku pada Peri kecilku.
Aku sudah bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan di mana sang peri kecil tak akan pernah datang lagi. Peri kecil telah terbang bebas, meninggalkan api yang sebenarnya bukan untuk membakar, tapi untuk menyadarkan diri bahwa ada Tuhan yang menentukan jalan hidup setiap makhluknya. Keputusan bodoh adalah keputusan yang paling pintar.

Rasa itu tidak hadir hari ini. Dan memang bukan untuk saat ini.
Aku meredup.
Pada hati.
Mungkin di lain hari.
Mungkin hadir lagi.
Tapi tidak hari ini.
Mungkin.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Armila_astofa
Armila_astofa at padang ilalang itu.. (11 years 29 weeks ago)
80

suka sama ilalang juga....coba lebih di ekspor tentang ilalang aja...atau misalnya kau mengamati seorang cewe yang senang bermain ilalang seperti kamu. aku sih berkhayal cowok yang selalu melukis di padang ilalang dan aku diam2 mengamatinya.

Writer pirdaus
pirdaus at padang ilalang itu.. (13 years 1 day ago)
70

boleh juga ceritanya

Writer dewi pujangga
dewi pujangga at padang ilalang itu.. (13 years 28 weeks ago)
80

hai......salam kenal ya. bagus lho ceritanya. apa karena wie juga suka padang ilalang kali, yee ?

tapi beneran, wie suka kata2nya. mengalun.

(Ntar wie sampein deh sama DEWI ILALANGNYA, hehehehe )