Akhir cerita cinta

Tik...tik...
Tik tik tik... tik....

Rintik hujan satu-satu membasahi bumi.... bau tanah basah, gelegar petir, semilir angin dingin masuk melalui celah dinding gedhek* rumahku. Cepat-cepat aku mengambil beberapa ember untuk menadahi air yang bocor.

Aku berdoa dalam hati semoga gubuk reyot ini tidak hanyut atau roboh terbawa arus air hujan. Aku sedang cemas menunggu suamiku pulang dari menambang pasir.

”Oe.... oee... OEee....”
”Duh... anakku, cup-cup.... jangan nangis ya. Bapak pasti sebentar lagi pulang membawa susu buat kamu. Sabar nak ya....”
Kasihan anakku, beberapa hari hanya minum air gula encer. Karena aku tidak kuat membeli susu. ”Suamiku cepat pulang, dimana kamu...?” batinku merintih pilu.

Aku ingat waktu masa-masa kami pacaran dulu, sungguh berlimpah kebahagiaan, jauh dari kehidupan penuh penderitaan seperti ini. Orang tuanya pegawai pemda kaya raya di kota kecil kami, dan aku yang yatim piatu ini berharap dengan menikahinya akan hidup makmur tak kurang satu apapun.

Namun takdir berkata lain, sebulan setelah pernikahan kami, musibah itu terjadi. Ayah mertua divonis sebagai orang yang melakukan korupsi. Beliau terbukti menggelapkan beberapa ratus juta dana milik pemerintah.

Akhirnya rumah beserta harta benda kami disita oleh pemerintah. Beruntung aku masih memiliki tabungan dan membeli sepetak tanah di dusun terpencil.

”Rina beruntung ya... dapat suami cakep, kaya lagi....”

“Makasih pak....” jawabku waktu itu sambil tersipu malu. Walaupun dalam hati berbunga-bunga. Saat itu aku sedang mengantarkan surat pengunduran diri pada bos di pabrik tempatku bekerja, sekaligus menyerahkan undangan untuknya.

Harapan telah jauh dari kenyataan, apakah aku telah salah memilih? Apakah aku menyesal?.....
Berjuta tanya dikepalaku.

Aku menduga-duga ini akibat dari kemalasan mas Hery suamiku dimasa mudanya. Tidak lulus sekolah akibat kebanyakan bermain, dan sama sekali tidak mempunyai ketrampilan apapun selain menghamburkan uang. Aku memang salah, tidak memikirkan apapun selain ketampanan dan kekayaannya. Dan sekarang menyesalah aku sejadinya.

Kutengok jam tangan mungil dipergelangan tanganku, hadiah dari almarhum Ibu. Satu-satunya benda berharga yang belum kujual untuk menyambung hidup. Jarum jamnya menunjukkan angka lima sore. Hujan telah berhenti. Aku bernafas lega, sebentar lagi mas Hery pasti pulang.

Waktu beranjak perlahan menunjukkan angka tujuh malam. Aku semakin gelisah. Seharusnya mas Hery sudah pulang.

”Ada apa ya....semoga tidak terjadi apa-apa pada mas Hery,” batinku khawatir.
Terbersit sebuah perasaan dalam hatiku, aku teringat kata tetangga kemarin. Mas Hery suka nongkrong di warung janda kaya.

”Jangan-jangan mas Hery main di warung janda gatel itu,” aku berharap cemas, semoga hal itu tidak terjadi. Hari ini memang sikapnya agak aneh, lebih pendiam dari biasanya.

”Seandainya benar mas Hery tidak pulang dan lari dari tanggung jawab, apa yang harus kulakukan. Bisakah aku hidup berdua sendiri dengan anakku.” Gejolak emosi berkecamuk dalam dada.

”Dok... dok.. dok dok...” sebuah suara menggema dari pintu. ”Nah itu pasti Mas Hery, syukurlah dia pulang.”

”Iya bentar mas.....” tergesa-gesa aku menuju pintu. “Ohhh... mbok Sarti...” kataku kecewa dan bertanda tanya. Ada apa gerangan dia datang malam-malam.

“Rin... ayo cepet... kejar suamimu. Dia lari sama janda gatel itu. Cepet Rin.... keburu dia jauh.... ayo....” katanya sambil menyemburkan ludahnya kesegala arah saking semangatnya memberi tahuku.

”Apa?” kataku tidak mengerti.

”Ya ampun nggak ngerti lagi.... sadar Rin... suamimu pergi sama janda gatel itu. Pergi, nggak balik lagi,” sambil mengguncang-guncang tubuhku. Sesaat kemudian tubuhku lemas dan merosot ke tanah.

”Oee... oeee...oe....”
”Makasih mbok,” kataku kemudian tersadar karena suara anakku. Kututup pintu dan meninggalkan mbok Sarti yang terbengong di depan pintu. Segera kugendong anakku, memeluknya erat dengan hati galau.

”Tenang ya... cup-cup.. Ibu janji akan memberikan yang kamu mau. Terbebas dari penderitaan.” sekilas kupandang aret** yang tergeletak diatas meja. Inikah akhir hidup kami.

*gedhek: rumah tradisional jawa dengan bahan bambu yang dijalin
** aret: senjata tajam khas jawa timur. Biasanya digunakan untuk menyabit rumput.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer khrisna pabichara
khrisna pabichara at Akhir cerita cinta (12 years 35 weeks ago)
70

makasih atas inspirasinya. jangan berhenti menulis

Writer naela_potter
naela_potter at Akhir cerita cinta (12 years 35 weeks ago)
80

alur campuran yak..??^^

bagus dari segi cerita and idenya,,
tp aq merasa masih ada yang kurang,,coba emosi tokohnya lebih dieksplor lagi, dan endingnya juga lebih ditendang,,lalu bagaimana dengan si arit? apakah si ibu sama sekali tidak ragu untuk mempergunakan arit itu? naahh,,

terbersit, lbh baik ditulis 'terbesit'

pkoknya, kiip nulis yaa, mari sm2 belajar,,

^^

Writer rainvyza
rainvyza at Akhir cerita cinta (12 years 35 weeks ago)
50

sepertinya cerita kali ini masih terkesan begitu datar deh, coba utak utik alur atau diksinya, mungkin akan sedikit terasa lebih berbeda ^_^ semangad yah...

Writer kavellania
kavellania at Akhir cerita cinta (12 years 36 weeks ago)
80

Ide ceritanya bagus kok, SALUT!! Endingnya juga bikin aku miris banget. Kasian si ibu, seandainya dia punya iman dan mental yang kuat

sedikit masukan ajah neh "mas Heri" bukankah lebih baik "Mas Heri" ?

Writer GodelivaSilvi
GodelivaSilvi at Akhir cerita cinta (12 years 36 weeks ago)
50

agak melompat2 ya.. but it's oke, keep writin ya ^_^

oiya, aku pecinta Paulo Coelho's work. dan di atasnya udah kutulis, diinspirasi dari judulnya ituw..hehe..salam kenal ya

Writer danu yudhatama
danu yudhatama at Akhir cerita cinta (12 years 36 weeks ago)
70

tp knp cerita sll berakhir menderita, sedih, kecewa, knp????

Writer navigator
navigator at Akhir cerita cinta (12 years 36 weeks ago)
50

sbnrnya bgus, tp klimaksnya kurang..terkesan biasa n datar.

Writer Shinichi
Shinichi at Akhir cerita cinta (12 years 36 weeks ago)
60

waahh...

klimaksna kurang neeh...

jika, mau dibuat si ibu itu bunuh diri, baikna ada banyak penyesalan dalam hatina yang dituangkan lewat kalimat lirih.
Dan, dia terlalu cepat memutuskan akhir cerita...

jadi, kaget saia sebagai pembaca menelaah sifat dan karakter si ibu itu

anyway...

keep write aja deh

Writer iksan01
iksan01 at Akhir cerita cinta (12 years 36 weeks ago)
80

bagus
aku suka ceritanya.

Writer mocca_chi
mocca_chi at Akhir cerita cinta (12 years 36 weeks ago)
80

emosinya dapat tih, apalagi dengan ending yang begitu.alur yang menyedihkan, dan yah... karakter sang cewek yang khas orang jaman sekarang, tak berpura-pura tegar, dan apa adanya.

ada kata-kata yang janggal. "Semilir angin", wakak... ujan-ujan,mana bisa anginnya semilir, yang ada anginnnya keras atuh.

ayo terus berlajar bareng2...