Jangan Cerai, Pah

Aku menatap kalender di depanku dengan nanar. Dengung mesin pengecat motor di latar belakang seolah terdengar jauh. Desis komputer dari tigapuluh unit desktop di ruanganku juga seolah dalam posisi 'mute'. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah, duapuluh mepat jam lagi aku dan suamiku akan bertemu untuk membahas perceraian kami.

Pernikahan ini baru berjalan dua tahun. Diawali dengan masa pacaran indah (setidaknya bagiku) selama tiga tahun, dan di dalam bunga cinta itu aku mengajaknya menikah, dan entah apa yang ada di pikirannya, akhirnya pernikahan pun terjadilah.

"Nikah? Memangnya siapa yang dulu maksa? Kamu kan?"
"Tapi Pah..,"
"Jangan panggil aku Papah!"
"Tapi mas..,"
"Nggak ada mas-mas lagi! Aku sudah bosan betul denganmu. Kamu yang dulu minta kita nikah, hanya karena kita sudah living together beberapa bulan. Sebenarnya aku belum mau menikah!"
"Kenapa nggak bilang atau menolak, Pah? Eh..mas? Eh..," aku gugup. Mau menangis, tapi aku tahan. Ryo akan lebih marah lagi melihat air mataku.
"KARENA KAMU NGGAK MAU DENGAR! KAMU NGGAK MAU TAHU!!"
"Aku..,"
"Kamu selalu mengikuti cara pandangmu, cara pikirmu sendiri. Tidak pernah mendengarkanku, menghargaiku sebagai suami, semua kamu putuskan sendiri, kamu lalui hari seolah hanya kamu yang paling benar, paling pintar..,"
"..dan ya, kamu pintar. Kamu lulus cumlaude dari Universitas ternama Jogja kan? Sedangkan aku apa? Cuma D2 katamu?"
Ryo menatapiku tajam. Aku mencari sisa cinta di matanya tapi sirna. Dan akulah yang membunuh rasa itu perlahan-lahan.
"Ya, Kar, kamu memang pintar. Tapi itu bukan alasan kamu meremehkanku sebagai suami. Aku tidak punya peran di matamu, dan aku tidak pernah mendapat penghargaanmu. BAHKAN!!" Suara Ryo meninggi, aku terhenyak.
"..kamu bilang aku ejakulasi dini dan mengomel karena itu, padahal kupikir sebagai istri kamu bisa membuatku lebih tenang. Itu yang paling menyakitkanku!!"
Kali ini aku tidak sanggup menahan air mataku.
"Ma..maaf.. maaf..," hanya itu yang bisa kukatakan. Ryo melirikku sekilas.
"Terlambat Kar. Kamu yang mencabuti tumbuhan cinta kita. Dengan superioritasmu sebagai wanita. Memang kamu punya gaji lebih tinggi, pekerjaan lebih baik, pendidikan lebih baik, tapi jika itu kamu jadikan alasan menginjakku, aku tidak tahan. KITA CERAI!"
Aku terbelalak.
"Tapi mas..kita nikah Gereja, tidak bisa cerai..,"
Ryo memandangku dingin.
"Atau kita jalani saja seperti ini? Aku tetap berpacaran dengan Diana, kamu tunggu di rumah..,"
"..terserah kamu. Nanti kita bicarakan Sabtu!"
Ryo mengambil kunci motor dan jaketnya.
"Dan perlu kamu tahu, Kar. Dengan Diana aku tidak ejakulasi dini. Dia bisa menghargaiku," ucapnya dingin di balik punggungnya dan pergi meninggalkanku yang terpuruk hancur di ujung tempat tidur. AKu menangis mengguguk sampai tidak sadarkan diri.

Hari ini Jumat, pertengkaran itu terjadi lima hari yang lalu, puncak dari segala perang dingin yang sudah melanda
rumah kami enam bulan ini.
Aku menyadari, selama ini aku memang keterlaluan. Aku tidak bisa memposisikan sebagai istri dan ratu rumah tangga yang menyamankan Ryo. Aku tidak menangkis tuduhannya padaku, karena tanpa aku tahu itu merobek hatinya, aku lakukan hal itu satu demi satu. Kupikir, tidak ada salahnya kalau aku yang memimpin. Aku yang mengelola keuangan (dengan ucapan 'gajiku kan lebih besar dari aku').
Ya Tuhan..aku..aku tidak punya kata lagi untuk diucapkan.
Aku keterlaluan. Aku kemarin sakit. Aku imature, tidak dewasa.

Aku tahu aku bersalah, tapi aku ingin memperbaikinya. Cerai itu suatu bencana besar untukku. Aku tidak mau melepaskannya dalam keadaan berdarah-darah. Jika kali ini Ryo ingin membalas dendam dengan berpacaran dengan wanita lain, aku rela tapi jangan dia pergi. Bodoh aku?
Tapi sungguh, aku tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku rela membalas semua kesalahanku dengan dibacoknya berkali-kali dengan cerita tentang Diana.
"Dia bisa memberiku kepuasan"
"Dia lebih mengerti aku"
"Dia itu ramah dan suka ngobrol, tidak seperti kamu"

Ya Tuhan, aku berdarah juga sekarang, tapi aku tahu Ryo juga berdarah, dan aku tidak mau berpisah dengan cara demikian.

Baiklah, besok akan kukatakan dengan tegar bahwa aku tidak mau bercerai, apapun yang terjadi. Karena perjuanganku memenangkan hatinya baru saja akan dimulai.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer panda_d1d1
panda_d1d1 at Jangan Cerai, Pah (14 years 17 weeks ago)
70

bagus

Writer azelia
azelia at Jangan Cerai, Pah (14 years 18 weeks ago)
80

wah, ceritanya mengharukan sekali, saya ngikuti terus nih dari awal.... kisah nyata kah?? Kalo iya, moga jadi pelajaran buat pembaca. Kalo bukan, salut sama penulisnya :) Kutunggu kisah perjuangan karla selanjutnya. nice :)

Writer avian dewanto
avian dewanto at Jangan Cerai, Pah (14 years 19 weeks ago)
90

hubungan seksual bukan semata raga namun juga batin makanya banyak yang mengatakan sebagai "nafkah batin"

kesiapan mental dalam menjalani pernikahan memerlukan perjalanan panjang. kalau cuma tiga tahun samen leven terus menikah, sudah sepantasnya dalam keseharian setelah menikah, keributan soal hubungan batin tadi mencuat ke mana-mana.

nah, jauh lebih baik menikmati hubungan batin tadi setelah menikah saja. sehingga risiko tak terlalu besar buat perempuan. laki-laki sih enak. tanggung jawab dibagi: pihak perempuan yang tanggung, pihak laki-laki yang jawab.

lagi pula, kenapa sih poligami jadi perkara? sepanjang halal dan dapat menjauhkan dari hubungan batin yang semena-mena (yang sangat merugikan kaum perempuan), poligami sah kok.

bahkan Abraham telah mencontohkan hal itu kepada seluruh umat manusia melalui kehidupan poligami dengan Hajjr dan Sarah. bukankah Abraham milik semua juga. lalu mengapa menolaknya?

toh cerita itu terus berulang, sebagaimana dikatakan penulis: "Ryo ingin membalas dendam dengan berpacaran dengan wanita lain, aku rela tapi jangan dia pergi."

oke ya.

Writer kevinatura
kevinatura at Jangan Cerai, Pah (14 years 19 weeks ago)
70

baiklah...

Writer Shinichi
Shinichi at Jangan Cerai, Pah (14 years 19 weeks ago)
70

hehehe

ternyata ada juga perempuan yang mengatakan hal demikian

kamu ejakulasi dini, Mas

ahak..hak..hak...

but, it's OK

ide yang bagus

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Jangan Cerai, Pah (14 years 19 weeks ago)
80

Aku membaca duluan ceritamu tentang pernikahan, kemudian membaca cerita ini tentang perceraian.

Kesimpulanku dirimu sedang menulis tentang kehidupan. Tetapi apakah tidak ada jalan lain selain perceraian? wuahahaha

Writer solubolone
solubolone at Jangan Cerai, Pah (14 years 19 weeks ago)
50

Nyata banget....
Nyataaaaa bangetttt...........

Writer dewi pujangga
dewi pujangga at Jangan Cerai, Pah (14 years 19 weeks ago)
70

"sesuatu yang disatukan oleh Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia" ?

bikin nangis ceritanya,mba....nice banget

Writer em_el
em_el at Jangan Cerai, Pah (14 years 19 weeks ago)
70

Karena pernikahan adalah penyatuan dua hati untuk saling mengerti

Writer GodelivaSilvi
GodelivaSilvi at Jangan Cerai, Pah (14 years 19 weeks ago)
50

aku menahan tangis ketika mengingatmu, sist