Dik, Pernikahan itu...

Dik, pertanyaanmu kemarin membuat dahiku berkerut cukup lama. Selama ini aku pikir jika pernikahan itu sudah berlangsung, maka yang lain akan secara otomatis berubah: sifat jelek, komunikasi yang kurang baik, perekonomian, ..

Ya, aku salah dik. Ketika kautanya pernikahan itu apa, aku hampir menjawab bahwa pernikahan itu seperti tongkat peri yang dengan sedikit 'cling' lalu semua menjadi berkilau.
Waktu pacaran dan hidup bersama 'masmu' (pstt..jangan bilang dia dik, sebenarnya sekarang aku sudah tidak boleh memanggilnya mas lagi), aku sedikit menyadari bahwa kami itu sedikit bicara, banyak tengkar, aku bicara, dia diam, dia bicara, aku marah.. dan kupikir dengan menikah semua itu membaik. Lidah tajamku, sifat diamnya, (dan bahkan aku yang tidak bisa masak) kupikir akan berubah indah jika menikah.

Ternyata, semuanya itu salah kan, Dik? Pernikahan bukan akhir segalanya, malahan awal segala perjuangan dan perjalanan panjang dari dua manusia (syukur bagimu jika kemudian mertua atau bapak ibu tidak ikut di dalamnya..). Rumit sekali. Pernikahan bukan juga mantra ajaib yang membuat semua benda besi menjadi emas.

Sayangnya aku sadar terlambat, Dik. Aku menggantungkan harapan terlalu besar pada 'Pernikahan', dan sekarang 'Pernikahan' menjatuhiku, rontok dari gantungannya yang ternyata tidak terpatri kuat di dinding komitmen kami.

Aku lambat sadar bahwa peran seorang istri itu mengayomi suaminya. Biar bagaimana pun suamimu Dik, (apakah dia lebih bodoh' darimu, gajinya lebih rendah, bahkan.. ehm.. kekuatannya memuaskanmu secara rohani -eh, kamu tahu betul maksudku kan?-) itu bukan alasan untuk mencacinya, bahkan dalam keadaan bawah sadarmu. Betul Dik, segala langkahmu harus dengan sadar. Pun, sepatah kata pun yang terlontar dari bibirmu, kau upayakan lah untuk membangun kokoh dinding rumah tangga kalian. Jangan malah membuat celah, ucapanmu membuatnya sakit hati, yang lalu mengijinkan kesempatan itu menang dalam kesempitan. Datangnya orang ketiga.

Kamu menghela nafas panjang sore itu, di hadapan es krim vanilla yang mulai mencair di rumah makan cepat saji (junk food, eh?), memandangiku dengan pandangan so-what-next-sist mu itu. Aku menggeleng lemah, entahlah Dik. Sekarang yang aku inginkan hanyalah mempertahankan pernikahanku, mengubah diriku, membuang lidah tajam dan hati batuku, menerima sakit dari perlakuan Ryo masmu dengan cerita cinta ABG nya dengan Diana.

"Tidak ada yang terlambat, kak..," katamu dengan senyum. Aku memandangmu penuh sayang, lega. Dukunganmu yang hangat akan mempertahankan niatku.

Aku tetap akan berusaha dan berharap. Berharap sambil berusaha. Dan berdoa, tentu. Kuat tidak aku nanti ya Dik?

Kamu memandangiku lekat, lalu nyengir.
"Kuat, kak. Kamu kan kepala batu, tidak cepat menyerah..,"

Haha, kelemahanku yang mau kubuang sekarang jadi kekuatanku ya. Baiklah...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hujaniaku
hujaniaku at Dik, Pernikahan itu... (11 years 21 weeks ago)
80

ehem... aku terinspirasi nih... keren...

Writer aL-Drii
aL-Drii at Dik, Pernikahan itu... (12 years 21 weeks ago)
40

setuju sama arra
jadikan kelemahan jadi kekuatan

Writer Arra
Arra at Dik, Pernikahan itu... (12 years 22 weeks ago)
70

awal tulisan ini menarik! sumpah deh aku juga sampe ikutan ngalir... tapi sayang kok pas ending jadi turun...

Writer kavellania
kavellania at Dik, Pernikahan itu... (12 years 22 weeks ago)
70

ini cerpen bergenre esai ya. idenya bagus seh. cuma teknik penulisan ajah yg perlu di kembangin
mari mari semangat

Writer Shinichi
Shinichi at Dik, Pernikahan itu... (12 years 22 weeks ago)
60

Dik...

ku akan menjagamu

kayak lagu wali itu loh

heheheh

nice deh