Sial, Dia Keras Kepala!!

"Sial, dia keras kepala sekali!" seruku jengkel pada dinding kamar mandi kantorku. Sebuah bank swasta di bilangan Jakarta Selatan. Kimin, cleaning service kantor melongok bingung dari bilik WC yang sedang disikatnya. Aku melambaikan tanganku gusar dan menunjuk telingaku -tergantung hands free device-, menunjukkan aku sedang bicara pada seseorang di ujung selular phone ku. Dia mengangguk gugup lalu menghilang di balik dinding.

"Ya paksa terus saja, Sayang..," suara manja Diana menyulut semangatku.
"Iya, besok akan kutegaskan aku mau pisah, meninggalkannya. Sebodo amat dia menghiba padaku. Lukaku sudah bernanah dan sulit sembuh,"
"Bisa aku sembuhkan, Sayang?" tawarnya manis. Sudut bibirku terangkat sedikit.
"Perlu Antibiotik dosis tinggi, Huni," panggilan sayangku padanya.
"Mau setinggi apapun kamu, aku layani kok, Sayang..," emh, aku tahu kami sekarang sedang tidak membicarakan Antibiotik.
"Haha, ketemu nanti Huni, pertanggungjawabkan ucapanmu!" ancamku gemas-gemas-mesra. Diana terkikik di line seberang sebelum menutup telpon.

Aku menghela nafas panjang, mengingat Karla. Istriku dua tahun ini, yang membuatku banyak kecewa-terluka-sakit hati tapi dia acuh saja. Ucapannya itu tajam, menyakitkanku. Meremehkanku. Aku hanya diam, mengalah. Karena kupikir dengan aku diam, dia mereda dan bisa menjadi membaik. Tapi harapan itu pupus setelah dua tahun ini semuanya tidak ada perubahan, malah menjadi buruk.

"Aku..aku tidak tahu, Mas, kalau itu menyakitkanmu. Kupikir, begitulah caraku berkomunikasi denganmu, dan kamu sudah tahu sejak awal kita pacaran, dan kamu menerimanya, dan..," kata Karla kemarin.
Ah, tai kucing. Apa dia pikir dia autis? Menginjak kaki orang sampai luka dan tidak berpikir itu menyakitkan?
"Aku akan merubah diri, beri aku kesempatan, mas..," Karla menghiba. Aku memandangnya dingin. Dalam keadaan sakit seperti ini apa aku bisa sabar menunggu perubahannya?
"Mas..apa saja kekecewaanmu padaku, akan aku coba ubah perlahan-lahan mas..beri aku kesempatan. Selama ini tidak ada yang protes pada lidah tajamku...," sampai akhirnya aku tidak tahan dan ngamuk di depanmu kan? Shock therapy yang bagus bukan, Cintaku? (dulunya, Kar..).
"Mas, aku mencintaimu..," hibanya lagi. Aku menghentaknya.
"AKU TIDAK!!" Karla memandangiku terperangah. Sejenak aku ingin menghapus air mata yang menderai pipinya tapi sakit hati mengingat perlakuannya ini menahanku.

Cukup, Kar. Aku sudah lelah menahan selama tahunan ini. Tiga tahun pacaran kita, setahun hidup bersama, dan dua tahun menikah denganmu. Setiap katamu meremehkanku, Kar. Tidak menghargai eksistensi pria-suami mu. Aku habis tenaga, Kar. Hilang rasa. Aku ingin pisah.

Tapi, kita menikah Gereja ya Kar?
Ah, akan sulit ini...

Sampai kapan sih, Kar, kamu kuat bertahan??

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Sial, Dia Keras Kepala!! (12 years 22 weeks ago)
80

Ceritamu aku baca aja ya.

Commentku, coba terus menulis dengan tokoh/karakter laki-laki pasti lama-lama dapet macho-nya (hehehe apaan tuh)

Writer papalupi
papalupi at Sial, Dia Keras Kepala!! (12 years 22 weeks ago)
60

Tokoh lakinya terlalu cengeng.. hanya karena soal komunikasi, lalu ingin berpisah.. padahal disaat yang sama ia juga bermesraan dengan cewek lain..

Dan si istri, kalo memang ia berwatak keras, mengapa jadi mengemis dan menghiba.

Writer luvandraa
luvandraa at Sial, Dia Keras Kepala!! (12 years 22 weeks ago)
50

jadi yakin deh ama ucapan masku...pernikahan itu adalah saling memahami...kalo ngga ya kayak di ceritamu ini Vi. Hehehe....lam kenal

Writer avian dewanto
avian dewanto at Sial, Dia Keras Kepala!! (12 years 22 weeks ago)
90

menulis fiksi di tengah kesibukan sehari-hari tidaklah mudah. hanya karena kecintaanlah sebuah tulisan terlahir. disebabkan cinta tak dapat tumbuh di waktu luang, menulis pun perlu kecerdikan menyiasati waktu.

tulisan yang sungguh baik awalnya ini tampak diburu oleh waktu. penulis sungguh tak punya waktu luang berlebih. apalagi di tengah kesibukan sebagai dokter.

padahal kalau mau membunuh waktu ketika menaiki kereta jogja-jakarta, sungguh tulisan penulis ini akan menjadi lebih bernas dan menghujam.

a writer, Justice Brandels, tell me, "There is no great writing, only great rewriting." so please rewrite this one as you mention in your own comment below.

keren deh nantinya

Writer muhammadusysyawal
muhammadusysyawal at Sial, Dia Keras Kepala!! (12 years 22 weeks ago)
60

Maaf banget, aku malah agak ga mudeng ama ceritanya...Maksud endingnya gimana sih?

Writer GodelivaSilvi
GodelivaSilvi at Sial, Dia Keras Kepala!! (12 years 22 weeks ago)
50

ini sebenernya nyambung, dari Jangan Cerai, Pah; Pernikahan itu apa; Dik, Pernikahan itu; dan Sial, Dia Keras Kepala!!. Bergilir, kakak, adik, dan si pria -suami kakak- mengungkapkan rasanya. nanti rencananya ada juga dari sisi selingkuhannya, dari sisi anaknya.. tapi tunggu tanggal main (en mood nya ya hehe)

thanks Yosi.. ^_^

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Sial, Dia Keras Kepala!! (12 years 22 weeks ago)
80

Tambah lagi dong konfliknya. Masa cuma berhenti sampai di situ? Anyway, awalnya keren. aku suka.