Mati Gaya Anjing

“Karto… Sakit… Rasanya sakit sekali…”

Napas Supri terdengar semakin berat. Tangannya mulai bergetar dan genggamannya mulai lemah. Darah terus mengalir dari lubang-lubang peluru di tubuhnya. Namun, di tengah desingan peluru senapan musuh, Karto tetap berlutut di samping sahabatnya.

“Tenang, Supri. Tenang. Jangan banyak bicara. Kita pasti dapat keluar dari sini dengan selamat,” kata Karto mencoba menenangkan. Tak sampai sepuluh meter dari mereka, sebuah granat meledak. Pasir dan batu beterbangan dan berjatuhan di atas pelindung kepala mereka.

“Karto…”
“Sudah, Supri. Sudah. Jangan bicara lagi…”
“Karto, aku tahu waktuku hampir tiba,” kata Supri. Sesaat wajahnya tertekuk menahan sakit. Pandangannya tertuju ke belakang bahu Karto. Di mana-mana, pasukan mereka berlarian. Mungkin komandan telah memberikan perintah untuk mundur. “Karto, kamu masih ingat perbincangan kita?”

“Masih, kawan. Waktu itu kita…”

******

“Karto, kalau kamu mati nanti, kamu mau mati seperti apa?” tanya Supri.

“Hah? Ngawur kamu. Malam-malam begini kok ngomong soal mati,” ujar Karto kaget.

“Ayo lah… Daripada kita bengong saja,” desak Supri.

“Hmm… Entahlah. Mungkin mati sebagai pahlawan yah?” jawab Karto.

“Pahlawan? Pahlawan yang bagaimana?” tanya Supri lagi.

“Pahlawan… ya… Pahlawan perang kali. Kau pikir kita ini sedang apa? Pahlawan perang kan pasti diingat banyak orang,” tegas Karto.

“Ya. Aku tak bisa membayangkan. Sepuluh tahun setelah kau meninggal, rakyat di jalan berteriak-teriak ‘Hidup Karto!! Hidup Karto!!!’ Pasti lucu,” kata Supri tergelitik.

“Hus! Ngawur! Kamu sendiri inign mati seperti apa?” tanya Karto balik.

“Aku? Hmm… Kalau aku, aku cukup puas kalau ketika aku mati, aku masih dicintai, walaupun hanya satu orang,” jawab Supri.

“Memangnya Inah, pacarmu, kau bawa ke sini?” kata Karto menggoda Supri.

“Kamu juga mulai ngawur!! Hahaha. Yah… Bagaimanapun nantinya, aku tak ingin mati seperti anjing,” kata Supri. Ia bangkit dari duduknya untuk meluruskan kaki yang pegal-pegal setelah tiga jam duduk menunggui pos.

“Mati seperti anjing?” tanya Karto bingung.

“Ya. Lihat saja anjing-anjing di kota. Mati tertabrak mobil, sesudah itu didiamkan saja. Dilupakan di pinggir tumpukan sampah sampai berbau busuk,” ujar Supri.

“Sudahlah… Kau tak akan mati. Tenang saja. Kan ada aku,” kata Karto.

“Tapi kan kamu bawa sial…” canda Supri. Dan kedua prajurit itu melewati malam yang tenang itu dengan penuh canda dan tawa.

******

“Lihatlah teman-teman kita. Semuanya lari menyelamatkan masing-masing. Tidak ada lagi ‘satu untuk semua, semua untuk satu’ yang digembar-gemborkan komandan. Ke mana pasukan medis yang seharusnya menolong korban-korban lain? Ke mana komandan, pemimpin kita yang hebat itu?” Kata Supri penuh sarkasme. “Aku akan mati seperti anjing. Ditinggalkan teman-temanku sepasukan. Diinjak-injak pasukan musuh.”

Karto tidak dapat berkata apa-apa mendengar omongannya itu. Matanya sibuk menoleh kesana kemari mencari jalan. Di belakang gundukan pasir tempat mereka bersembunyi, Karto melihat kendaraan baja mendekat ke arah mereka.

“Supri, ayo. Kita harus segera pergi. Jangan bicara lagi. Simpan kekuatanmu untuk…”

“Tak usah, Karto. Aku tahu aku akan mati sebentar lagi,” sela Supri. Kemudian ia berkata, “kamu masih punya granat yang kita racik bersama-sama? Berikan padaku.”

“Yang bahannya kita curi itu? Supri, kamu mau apa? Kita sudah tidak punya waktu lagi.”

“Berikan padaku! Setelah itu, pergilah kamu! Lari! Kamu tidak boleh mati di sini bersamaku. Kamu masih dapat membantu pasukan kita,” desak Supri.

“Supri…”

“Pergilah, Karto. Terima kasih telah menemaniku selama ini. Kamu memang sahabatku,” kata Supri lemah.

Di tengah air mata deras, Karto memberikan granat yang diminta Supri. Ia juga sebenarnya tahu. Waktu Supri tidak lama lagi. Setelah memeluk sahabatnya itu sekali lagi, ia berguling ke sebelah dan dengan kepala tertunduk, berlari menjauh dari tembakan pasukan musuh.

Supri memperhatikan punggung Karto yang semakin menjauh. Dengan sisa tenaganya, ia menarik diri ke atas gundukan pasir untuk melihat keberadaan kendaraan baja itu. Kemudian, ia menarik pin pengaman granat itu.

Di ujung sana, Karto telah bergabung dengan sisa pasukannya. Ia menoleh ke arah tempat Supri terbaring. Hatinya melonjak melihat kendaraan baja telah ada di atas tempat itu. Dan tak lama kemudian, kendaraan baja itu terbungkus amukan api. Api ledakan granat special yang mereka buat.

“Mungkin matimu seperti anjing, teman. Tapi anjing pahlawan,” kata Karto dalam hati.

WeHa
Mei 25, 2008
00:03

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer naela_potter
naela_potter at Mati Gaya Anjing (12 years 17 weeks ago)
90

wah, akhrny baca tulisan wehaha.. ^^

cerita yg unik, settingnya gag biasa, tokohnya juga. idenya bagus sekali..

tp, iya, kurang berderai air mata ini, bagian karto dn supri akn berpisah..
;)
ah, but nice..

Writer benz
benz at Mati Gaya Anjing (12 years 18 weeks ago)
80

bagian endingnya kok kurang yah bang wehahaha.. Maksudku, kurang deskripsi ledakan granatnya itu. Kurang menggambarkan bahwa terjadi ledakan besar yang membuat kendaraan baja itu melayang eberapa senti dari atas tanah dan hancur. Yak, kurang itu aja sih menurutku..

Maap yah Om kalo sok toyy.. ehehe.. ^o^

kalau ada waktu mampir2 ke cerpenku : Melodrama Sepasang Mata yaahh..

makasih banyak sebelumnya..

^_^

Writer Rijon
Rijon at Mati Gaya Anjing (12 years 18 weeks ago)
90

eheheh iyak, aku suka tema ceritanya!!

Sedkit menambahkan dari Bang Tedjo?? Mungkin dalam deskripsi, ada baiknya sedikit menambahkan anak-anak kalimat (agar kalimatnya gak terkesan minim deskripsi). Atau dengan istilah lainnya, kalimat majemuk.....

Kalau sempat mampir ke Secrets (1st Day) ya!!

Writer kornelius.kevin.kristian
kornelius.kevin... at Mati Gaya Anjing (12 years 19 weeks ago)
90

keren banget weha. bagus sangat. bisa dibuat lebih "penuh" lagi ya, kayaknya?

dan yah, kalimat terakhirnya kuat banget. a very very very nice piece indeed. =D

Writer Tedjo
Tedjo at Mati Gaya Anjing (12 years 20 weeks ago)
90

how is ging?, heiyah...lama tak sign in to this site, jadinya baru komen. saya suka tema, plot, dan pesan yang sudah kamu coba bangun, tapi saya merasa kok kamu agak pelit..deskripsi ya..
contoh pada kalimat "Napas supri...dst" cuman satu kalimat ajah untuk menggambarkan kondisi supri..sebanarnya kalo misal ditambah lain, saya kira hasilnya lebih dramatic loh..lalu konektor "namun"nya musti dipikir dulu
oleh pembaca..ya mungkin karena minim diskripsi itu...tapi saya saya setuju dengan komen sebelumnya..ini dedikasi yang luar biasa untuk tema sejarah, salut Bro...

gruß

Writer khrisna pabichara
khrisna pabichara at Mati Gaya Anjing (12 years 20 weeks ago)
90

membaca ceritamu ini, seperti menguak rerentet ketakberdayaan pelaku sejarah, dan memilih mati dengan secara luar biasa -mati gaya anjing- karena teman pasukan telah melupakan slogan kebanggaan.

luar biasa! apalagi jika saja cerita ini dikemas dengan lebih "serius", seperti pola penulisan, teknik penulisan, dan penggambaran karakter.

jangan berhenti menulis kawan!

Writer luvandraa
luvandraa at Mati Gaya Anjing (12 years 21 weeks ago)
90

mati gaya anjing, mengkaing-kaing diantara lucutan peluru berdesing. MAti gaya anjing, mungkin bau pesing bahkan bisa jadi muter-muter kayak gasing. Tak ada arah, mati langkah dan pasrah.

mati gaya anjing,....tak peduli orang pada bergunjing, dan bilang aku sinting. Sudahlah...biarkan aku mati dan dikenang sebagai pahlawan...(supri)

Writer wehahaha
wehahaha at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)

Makasih smuanya atas komentar dan feedbacknya.

Sinichi : Iyap. Sudah kubaca cerita2 anjingnya. ^^

rip89 : salam kenal jg. Sudah kukomen kan? ^^

Arra: lupa akan EYD? Enggak tau d. Mnurutku itu EYD nya sudah lumayan. ^^

dhewy_re : besok anjing gila. ^^

Bambi : Betul!!! ^^

satriyopena : sering2 bereksperimen sajah ^^

dll dll : makasih smuanya!!! ^^

Writer satriyopena
satriyopena at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
80

Ahahaha.. Antara kocak dan heroik ceritanya.. Good job yo!...

Jadi pengen bikin model flashback2 gini... :)

Keep up the good work!

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
90

Hehehe seharusnya adegan Karto meninggalkan Supri di medan pertempuran bisa lebih dibuat berderai-derai air mata (itu lhokayak di film-film perang).

Dari segi cerita walaupun ceritanya cukup singkat tetapi cukup tuntas.

Aku berkesimpulan ceritamu bukan tentang anjing. Tetapi tentang seseorang yang lebih memilih mati sebagai pahlawan daripada mati sebagai "anjing" yang tiada berguna, seperti para koruptor dan penjahat kriminal. Bukan kah begitu?

Writer AkangYamato
AkangYamato at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
100

"Mungkin matimu seperti anjing, teman. Tapi anjing pahlawan."
-Karto-

best quote di cerita ini!!X)
======================

Pssst!..Check this out!!..

http://kemudian.com/node/135077

Writer Dikna Da Masta
Dikna Da Masta at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
90

Kasian juga dia, akhirnya diapun mati seperti anjing, mautnya tetep dari kendaraan besi yang diciptakan oleh manusia. Karya yang satu ini sangat ringan untuk dibaca ... menyegarkan, apalagi barusan liat aksi demo anarkis di tv yang bikin males. SIP kawan !!!

Writer x_zombie
x_zombie at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
90

YEA..CH.., enak bacanya bro, perang yang tidak menegangkan, ada tertawa dan ada makna

Writer dhewy_re
dhewy_re at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
70

ya ampuunnn mbak wehahaha. kali ini nulis tentang anjing pahlawan besok anjing apa lagi???

Writer Arra
Arra at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
80

jarang ada cerita seperti ini.
cerita yang lupa akan EYD, menjadikan cerita ini khas sekali untuk orang-orang seperti supri dan Karto.
tapi kenapa tiba-tiba di ending jadi turun yah???
saya tidak merasakan adanya klimaks disana.

rip8 at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
90

wa wa wa
anjing tipe pejuang nie

bagus banget deh sumpah

lihat karya aku donk
and salam kenal kk

Writer ramza_nightmare
ramza_nightmare at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
80

sekali-sekali 'anjing'pun perlu dihormati.

Writer Shinichi
Shinichi at Mati Gaya Anjing (12 years 22 weeks ago)
80

waaaahhhh....

saia debar-debar baca cerita heroik gini..

bagus...

anjing pahlawan.
btw, tahu Paijo RX kaga?