About Me & Nadila's Mom(2)

Supaya tak menimbulkan prasangka buruk dan fitnah yang bisa menjerumuskan kami berdua, aku pun sesekali mengajak Chyntia kakakku dan anak-anaknya untuk bertemu dengan Lia dan Nadila. Jadi aku merasa nyaman saja setiap kali bertemu Lia, karena ada kakakku. Lia dan Chyntia pun berteman baik, apalagi mereka sebenarnya lebih dulu saling mengenal ketimbang aku dan Lia.
*

Seiring waktu yang terus berlalu pertemanan kami pun semakin hangat. Hingga menjelang dua tahun usia Nadila, terjadi prahara dalam rumah tangga Emilia dan suaminya. Aku justru diberitahu oleh Chyntia yang sudah sering menjadi teman curhat Lia. Papa Nadila ternyata sudah menikah lagi, Lia telah dimadu oleh suaminya. Tiada pilihan lain, Lia secepatnya menggugat cerai suaminya dan meminta hak asuh Nadila pada dirinya, meski aku tahu Lia sebenarnya masih sangat mencintai dan begitu setia pada suaminya. Untuk sementara aku menghindari pertemuan dengan Emilia dan Nadila.
Pada satu sisi Lia jelas terpukul dan begitu kecewa pada suaminya yang tega mengkhianatinya. Tapi pada sisi yang lain aku tak ingin Lia pun dituduh berselingkuh denganku. Walaupun sejujurnya aku memang mencintainya, namun tak pernah terjadi sesuatu yang intim di antara kami. Lia tak pernah tahu bahwa selalu kusimpan satu rasa teristimewa kepadanya semata. Aku sendiri tak pernah tahu juga bagaimana perasaan ibunya Nadila kepadaku.

Pengadilan akhirnya mengabulkan gugatan cerai Emilia dan hak perwalian atas Nadila pun ada pada ibunya. Sempat kubayangkan jika saja aku, Lia atau suaminya termasuk public figure, pasti akan tersebarlah sebuah gosip yang menarik. Tak hanya soal poligami sang suami, tapi juga tentang keberadaan selingkuhan sang isteri, dan sang perusak rumah tangga orang itu -menurut gosip- pasti adalah aku. Syukurlah kami hanya orang-orang biasa, tak seorang wartawan pun yang tertarik meliput permasalahan hidup kami. Kubayangkan lagi betapa beratnya seorang artis yang rumah tangganya bermasalah. Tapi mungkin itulah salah satu risiko besarnya menjadi orang yang terkenal dan punya harta kekayaan yang berlimpah ruah, yang ternyata tak menjamin kebahagiaan dan ketenteraman batin selamanya.
*

Beberapa bulan telah berselang semenjak perceraian Lia dengan suaminya. Perasaaanku padanya tak jua berubah. Cintaku masih untuk Lia seorang, tidak untuk perempuan lain manapun. Mungkin inilah saat yang tepat buatku mengungkapkan bagaimana dalamnya perasaanku kepada ibunya Nadila. Siapa tahu Emilialah jodoh seorang Dendra, bisa jadi dialah pasangan jiwaku sejatinya yang selama ini kucari.
Minggu pagi itu kuajak kakakku sekeluarga bersama Lia dan Nadila ke sebuah tempat wisata di luar kota Jogja. Kuminta waktu Lia untuk sejenak berdua saja bersamaku, sementara Nadila dititipkan pada kakakku dan bermain bersama Raka serta Dinda keponakanku. Semula kami bicara santai seperti selayaknya saja, hingga akhirnya aku mulai mengubah arah pembicaraan pada apa yang akan kutuju.

“Emilia,” panggilku lirih dengan hati berdebar.
“Ya, Den. Ada apa?”
“Ada yang ingin kukatakan padamu…”
“Wah, kok kayaknya serius banget nih?” komentar Lia santai.
“Tapi sebelumnya aku mau nanya dulu dan kamu mesti jawab ya,” lanjutku. Lia menganggukkan kepalanya. Kuteruskan lagi kata-kataku padanya,
“ Mmm, gimana kamu memandang masa depanmu bersama Nadila?”
“Yah, aku ingin bisa jadi ibu yang baik untuk Nadila dan aku ingin kami berdua bahagia selama-lamanya. Standar banget ya jawabannya?” sahut Lia meringis. Aku tersenyum saja mendengarnya.
“Kamu mau nggak Nadila punya papa lagi?” tanyaku mulai tendensius.
“Kalo emang Tuhan menghendaki begitu, it’s ok. Tapi yang jelas aku nggak ingin segera menikah lagi lho, dalam waktu dekat ini. Oya, satu hal lagi yang penting, pria yang mau jadi suamiku tentu saja harus mau menerima Nadila dan menyayanginya setulus hati,” ungkap Lia panjang lebar.
“Oke, aku bersedia menunggu. Dan aku sangat tulus menyayangi Nadila,” kataku.
“Apa, Den? Kamu ngomong apa barusan?” tanya Lia penasaran.
“Aku menyayangi Nadila dan sangat mencintai ibunya. Aku ingin bahagia bersama kalian,” lanjutku sambil menatap lembut mata Emilia. Kupegang tangannya dan dia tak menolaknya. Lia tersenyum membalas tatapanku, kulihat matanya berkaca-kaca.
“Kamu serius?” tanya Lia ragu.
“Aku bersungguh-sungguh, Emilia,” tegasku.

Tiba-tiba Lia mendekatkan tubuhnya padaku dan mendekap erat tubuhku. Dia menangis dalam pelukanku. Meski aku tak tahu pasti apa kata hatinya saat itu, tapi kurasa telah kudapatkan jawaban atas kejujuran hatiku padanya. Tak kuduga bahwa Lia akan begitu saja menerima niat baikku untuk membahagiakannya. Terima kasih Tuhan, telah Kau pilihkan sebuah jalan yang cukup mulus untuk kulewati kali ini.
*

Ternyata cinta memang sesuatu yang harus diperjuangkan. Lia sudah bersedia menikah denganku, meski dia tak ingin sesegera mungkin. Dia minta waktu sekitar sepuluh hingga dua belas bulan sejak perceraiannya. Aku bersedia sabar menunggunya. Nadila anaknya sudah dekat denganku sejak dulu dan mungkin dia hanya perlu mengubah panggilannya padaku, biasanya ‘Oom’ menjadi ‘Papa’. Papa dan Mamaku juga sudah menyetujui rencanaku, meski semula Mama sempat keberatan aku mau menikahi seorang janda beranak satu.

“Bukannya Mama nggak setuju kamu menikahi janda, Dendra. Tapi kamu pikirlah, dia itu jadi jandanya karena cerai, sudah punya anak pula. Terus belum lagi usianya, lebih tua dia berapa tahun ketimbang kamu? Masalah rumah tanggamu itu pasti lebih kompleks ketimbang kalau kamu menikahi seorang gadis. Mama cuma khawatir kamu nggak bahagia hidup bersamanya,” ceramah Mama padaku.
“Kalo soal umur, dia hanya lima bulan lebih tua dari aku. Dia jadi janda karena nggak mau dimadu, Ma. Dan soal anaknya, aku udah lama akrab sama Nadila kok. Insya Allah, aku siap menanggung risiko apapun dengan menikahinya, Ma,” tegasku.

Berkat dukungan moril dari Mbak Chyntia, Mama akhirnya merestui pilihanku. Tapi ternyata belum rampung juga masalah kami. Aku mesti bisa meyakinkan orang tua Lia bahwa aku bisa menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk Lia dan Nadila. Berkat dukungan dari seluruh keluargaku, akhirnya orang tua Lia merestui anak perempuannya menikah lagi untuk kedua kalinya. Mereka begitu terkesan dengan kedekatan Nadila denganku, juga atas sambutan hangat kami sekeluarga ketika mereka berkunjung ke Jogja untuk menjenguk Nadila dan ibunya.

Memang mesti berliku-liku jalan yang kami lalui, namun ternyata memang jodoh tak akan lari ke mana. Kini aku tinggal menunggu akad nikahku dengan Emilia yang akan berlangsung dua minggu lagi. Mohon doa restunya ya, semoga saja ini pernikahan terakhir kami berdua dan kami sekeluarga akan bahagia selama-lamanya. Semoga segala aral dan rintangan yang menghadang di depan kami selalu dapat diatasi dengan ridho Ilahi. Amin.

TAMAT

Yogyakarta, 15 November 2006

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer loushevaon7
loushevaon7 at About Me & Nadila's Mom(2) (15 years 21 weeks ago)
50

makasih buat semua yg udah baca dan kasih komentar. sptnya cerpen ini cocok buat cewek ya, yg komentar cewek semua sih.. btw, ini bukan true story kok :)

Writer bungabunga
bungabunga at About Me & Nadila's Mom(2) (15 years 21 weeks ago)
80

Bagus

Writer windymarcello
windymarcello at About Me & Nadila's Mom(2) (15 years 21 weeks ago)
70

aku lebih suka cerita yang part 1. lebih ketangkep perasaannya dendra. yang ini kog kesannya buru2.trus aku ngerasa agak ga pas aja menyelipkan gambaran mengenai kehidupan artis di cerita ini.sorry yah cerewet banget ;p

Writer Littleayas
Littleayas at About Me & Nadila's Mom(2) (15 years 21 weeks ago)
80

ko jadi kepikiran kalo ini true story yaaa???