BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun

1
Awal Kesialan Beruntun

Tuesday, October 16th 2007 – pagi

“Halo, Sakti Hidayat, my friend!” sapa lawan bicaraku lewat perantara handphone.
“Kayak mana, Sak? Udah siap lagu buat show besok malam?” sambungnya.
Klick! Telpon ditutup setelah ia mendengar kata NGGAK dariku.

Dia adalah Johan, teman seperjuanganku. Di band Super X, dia memegang posisi sebagai juru pukul alias Drummer. Dari kecil dia emang udah hobby banget memukul apa pun yang bisa dipukul. Bayangkan… Mulai bisa memukul nyamuk semenjak umur delapan belas bulan, sering mukulin kentongan pos ronda tengah malam walau nggak ada maling yang bisa diserbu (alhasil dialah yang digebukin karena mengganggu tidur penghuni kampung), penghargaan tukang berantem nomor wahid dari esde ampe esemu, dan dia mengaku bahwa hal pertama yang ia lakukan ketika lahir adalah… tepuk tangan pramuka.

Grrrrttt… grrrrttt… Handphoneku kembali bergetar hebat di dalam saku celana.
“Halo, Sak. Jam berapa kita latihan?”
“Mmm… Mungkin abis makan siang. Nanti gue hubungi lagi dah!” jawabku.
Kali ini adalah Krisna, personil band yang memegang posisi sebagai juru betot alias Gitaris Bass. Suaranya yang sering kami pake sebagai backing vocal persis sama dengan suara bass. Orangnya kalem dan pendiam, bersuara jika dia pikir apa yang bakalan diucapin adalah hal yang nggak buang-buang enerji. Hemat kata, itulah yang bisa menggambarkan kepribadian dari lelaki bermuka baby face pipi kempes ini.

Aku sendiri, Sakti, adalah pemrakarsa pembentukan band Super X yang berdiri sejak tanggal 3 Maret 2007 lalu. Di band, aku memegang posisi sebagai vokalis dan pencipta lagu. Tempat tinggalku adalah studio latihan bagi kami.

Hampir sama dengan Johan, bakatku pun telah nampak jelas semenjak kecil. Bayangkan… Aku sudah bisa bernyanyi pok ame-ame belalang cupu-cupu semenjak umur sebelas bulan. Di mana pun dan kapan pun aku paling nggak tahan kalo ngeliat ada mikropon (jadi korban semprotan mulut). Di masjid menjadi langganan tetap baca azan, sewaktu upacara bendera selama sekolah selalu kepingin gabung di tim penyanyi (walau giliran bertugas adalah kelas lain), dan kata nyokap… aku lahir (19 tahun yang lalu) dengan tangisan yang bernada lagu penyanyi cilik masa itu, Melisa. Begini lagunya…

Semut-semut kecil saya mau nanya,
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut caciiing…
Oeeeeek oek… itu katamu
Oeeeeek oek… itu jawabmu

Namun, setelah kupikir-pikir, hal ini lebih mirip seperti sindiran daripada pujian. Semua bayi pasti bisa menyanyikan lagu itu kalo hanya di bagian Oeeeeek-nya aja.

Personil terakhir band ini adalah Ezra, personil band paling narsis yang memegang posisi sebagai Lead Gitar. Nggak bisa dipungkiri, kenarsisannyalah yang membuat kami menjadi terkenal dengan pesat. Tapi dia memang berhak untuk narsis karena permainan gitarnya luar biasa hebat. Sebelum bergabung dengan band, dia sudah memiliki tabulatur melodi ciptaannya sendiri. Terkadang, aku menciptakan lagu berdasarkan melodi-melodi itu. Mahluk narsis seperti dia, aku yakin yang pertama kali dicarinya setelah lahir adalah cermin. Dan sekarang pun, aku yakin dia nggak peduli jam berapa kami bakal latihan. Dia pasti sedang menunggu konfirmasi dariku di depan cermin kamarnya yang sudah retak-retak karena nggak tahan dipaksa melulu untuk bilang Ezra ganteng.
“Wahai cermin… Gue ganteng, kan? Bener, kan? Pastinya dong? Awas loh kalau loe bilang gue jelek! Gue ganteng kan?” ucap Ezra yang mencoba memasang tampang segenit mungkin.
Ahhh… pagi yang segar.

Bisa dibilang aku cukup beruntung punya bokap relatip kaya yang mau ngedukung hobby anak semata wayangnya ini. Bokap adalah perantauan dari Jakarta yang sukses berat menjadi saudagar kelapa sawit di Rantauprapat sejak tujuh tahun yang lalu.

Aku sendiri baru empat tahun terakhir menyusul ke Sumut, setelah tamat esempe tepatnya. Dipaksa bokap agar nggak merindu, bisa ketemuan kapan pun dia mau. Saat aku masuk kuliah di USU–Medan, bokap sedang dirundung keuntungan hasil kebon yang berlipat ganda. Itulah mengapa aku bisa dengan gampang ngebujuk bokap untuk ngebeliin sebuah rumah, bekas studio musik yang sudah bangkrut, sebagai tempat tinggalku di Medan. Maka dibelilah rumah studio itu plus alat-alat musik band yang baru agar hobby musikku pun dapat disalurkan.

Sekarang ini aku sedang berbaring di open space yang terletak di tengah-tengah rumah studio yang sederhana ini. Kalau kita liat sekeliling, dari belakang ke depan akan kita jumpai kamar pembokat, dapur, toilet tamu, studio musik nomor dua, ruang kecil yang aku pake buat gudang, studio musik nomor satu, pintu menuju garasi yang dulunya adalah ruang tamu (secara aku nggak butuh ruang tamu karena bisa aja pake teras di depan rumah yang berukuran cukup besar buat menerima tamu), dan akhirnya kamarku yang di dalamnya ada kamar mandi, pantry, ruang menulis dan belajar, ruang shalat, dan offcourse ruang tidur.

Dan kini aku sedang berbaring di sebuah ayunan ditemani sebuah gitar merk Yamaha di pelukan, di bawah pohon jambu air yang berdaun rindang. Keringat mengalir bercucuran menunggu sesuatu buat dikeluarkan. Entah apa yang mengganjal sehingga yang kutunggu-tunggu untuk keluar belum juga bisa berhamburan. Ough… sudah dua jam dan belum juga terkeluarkan.

“Gue kok jadi lem nasi (lemah imajinasi) gini yak?” aku mempertanyakan kerja otak yang biasanya gampang konek. Biasanya, cukup berbaring sebentar di ayunan ini, dan crottt…! keluarlah semuanya berhamburan, sebuah lagu terciptakan.
Dua jam berlalu begitu saja tanpa setitik nada pun tergores di buku warna biru langitku ini. Belum ada nada yang cocok, belum ada nada yang benar-benar ngepas di hati. Kucoba liat sekali lagi lirik yang sudah tiga hari terus terbaring kaku tanpa punya nada.

[/b]S’moga turun cahaya bintang yang terang itu
Menghiasi hari-harimu nanti
Dan bila cah’ya itu datang janganlah kau lepaskan
Teruslah kau pandangi aku yang ada di situ[/b]

[/b]Selamat ulang tahun kepadamu sahabat
S’moga bayangan malam tak mengganggu tidurmu
Selamat ulang tahun kepadamu sahabat
S’moga s’lalu tersenyum dalam hari yang indah[/b]

[/b]Ada bayangan kita waktu kita bersama
Bermanja bawa ceria oh sahabat..
Hadirmu bawa arti sendiri di dalam hati kami
Bebas layangkan malam terbawa sampai mimpi[/b]

“Uh siaaalll…!!!” mulutku mulai menggerutuk menampakkan urat nadi di jidatku yang rada nongol seksi.

Well, bagaimana aku nggak ngerasa suntuk. Besok malam Super X bakalan nampil di pesta ulang tahun si Olva, gebetan sejatiku. She’s the special one, satu-satunya cewek yang pernah nolak proposal cinta dariku. Rencananya inilah percobaan kedua mengungkapkan rasa cinta dengan cara memberi kesan indah di pesta ultahnya. Tapi, bagaimana bisa? lirik lagu ini aja belum bisa kusempurnakan tercipta dengan nada irama. Kalo boleh ngutip kata pepatah, Ingin hati memeluk gunung apa daya kecebur di sungai, dikejer ama buaya, sampai di hutan dikejer lagi ama harimau, cappek deeeeh!
Jrengg…

Suntuk, kucoba genjreng-genjreng tuh gitar sembarang genjreng, menutup mata seraya membayangkan kecantikan Olva yang terakhir kulihat lagi jogging di sekitaran kampus dengan keringat mengalir di wajahnya. Aku ngerasa bahwa perempuan akan selalu terlihat cantik kalo sedang berkeringat.

Jrengg… Kubuka dari kunci C…
Jrengg… Pindah ke kunci G…
Jrengg… Pindah lagi ke kunci C…
Jrengg… Terus pindah ke kunci D…
“Ah! Kunci-kunci standard yang jarang sukses untuk bikin lagu bagus!” pesimis, kuserup teh manis hangat biar lebih menyegarkan jari ini biar kembali terampil.

Jrengg… Kunci itu-itu lagi…
Jrengg… Idem…
Jrengg… es-de-a
Jrengg…
Lamat-lamat pesimistis yang tadi ada berubah bersemangat. Kekeuh dengan kunci yang itu-itu aja, nggak bisa menuju ke kunci lain, akhirnya membuat beberapa nada mulai tergumam dari bibirku.
“Wew!!!”
Nggak lama kemudian tubuhku sudah terlihat meloncat-loncat girang.

“Bisa nih, enak nih, wew! Yang denger lagu ini kalo udah jadi, pasti bakal ikutan loncat-loncat girang!!!”
Akhirnya kudapatkan inspirasi irama dan kini mulai lebih serius dengan buku not balok yang sudah kupersiapkan sedari tadi. Namun… ketika hendak membuat irama di bagian REFF lagu, tiba-tiba aja…

Blugggkk…!!!
Ada sesuatu yang keras jatuh ke kepalaku dari atas pohon. Langsung aja kuberdiri memasang jurus Gajah Terkutuk Mengamuk di Saat Ngantuk dan kucampurkan dengan jurus Macan Bertanduk Menyeruduk Kunyuk yang Digigit Nyamuk. “Hiatt… Hiaaattt…!”
Blugggkk…!!!
Ada lagi yang jatuh. Kali ini kupasang jurus Kuda Terbang Melayang Waktu Siang Ketabrak Pesawat Terbang dan tak lupa memadukannya dengan jurus Rusa Belang Menerjang Musang Jalang Dari Kumpulan yang Terbuang. “Hiatt… Hiaaattt…!”
Blugggkk…!!!
Kucoba mengatur nafas menenangkan jantung yang berdebar kencang.
“Ahhhhhh,” bener aja. Ternyata yang jatuh tadi itu hanyalah jambu air yang sudah kematengan.
“Jambu sialan!” mulutku munyung.

Aku pun meneruskan lagi cumbuan yang sempat tertunda bersama nada-nada. Rasanya itu melegakan banget tatkala bisa mengeluarkan ide dari hati dengan sangat lancar tanpa hambatan. Hanya butuh beberapa menit... hingga akhirnya lagu itu telah siap sedia sempurna tercipta, siap untuk diaransemen. Aku beranjak bangkit dari ayunan santai, masuk ke dalam kamar mengambil handphone di pembaringannya, menghubungi kawan-kawan yang lain.
Kringggg… Kutelpon Johan, “Siap, Bos!”
Krongggg… Kutelpon Krisna, “lima belas menit aku nyampek!”
Krengggg… Kutelpon Ezra, “Pas banget. Gue barusan siap facial ama creambath!”

Kini, yang perlu kulakukan hanyalah menunggu mereka semua datang. Mendiskusikan style lagu yang cocok, dilanjutin dengan aransemen di masing-masing posisi, ngedit aransemen lewat beberapa kali latihan, dan lagu ini pun bakalan siap ditampilin tepat pada waktunya, besok malam. Olva… Here I come, honey.

Kembali ke ruang terbuka…

Betapa ku sangat kaget luar biasa ketika balik ke situ. Dua kucing berwarna hitam terlihat sedang berantem cakar-cakaran di ruang terbuka yang kuberi nama Theater of Dream (saking seringnya aku ketiduran di sana).
Miawwzzz…
Miauoewwz…
Mi tiauwz…
Mi bakpaowzz!!!
Teriakan mereka berdua nggak kalah heboh dengan suara ibu-ibu yang sedang ngegosipin berita cerai para artis yang sedang gencar ditayangin di infotaiment. Mereka mulai bergumulan, cakar-cakaran, gigit-gigitan, dan senggol-senggolan.

“Oh, my God!!!” jeritku menggigit bibir bawah. Gawat, mereka mulai bergumul di atas meja tempat aku menaruh buku not balokku tadi.
“Oh sialan!!!” Wajahku mulai menyedihkan, buku not balok itu berantakkan dibuat mereka. Aku mulai ketar-ketir melintir menguncir. Buku itu harus diselamatkan sekarang juga sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Nggak mau menunggu lama, mulai kucoba cari cara buat ngusir mereka enyah dari situ.

Kulemparin beberapa batu kerikil mungil sebesar kutil kuda nil. Hasilnya nihil, mereka nganggap lemparanku seolah upil.
Kulemparin daun sehelai. Ahh… kaga nyampe.
Kulemparin ikan satu ekor, mereka cuek bebek dan tetep aja berlaga tarung ronde ketiga.
Kulemparin ikan dua ekor, tiba-tiba malah lenyap menghilang. Grrr… ternyata kucing lain yang nyamber.

“Sudah!!!” jeritku bergegas. Kesabaranku habis sudah. Akhirnya aku nekat nyamperin mereka berdua dengan resiko tercakar atau tergigit. Kujewer kuping mereka dan kupukul pantat masing-masing ampe berwarna merah meriah renyah.
“Awwww!!!” terpekik dan meringis. Salah satu kucing menggigit pahaku dan hampir saja menggigit sumber maksiat warisan berharga dari nenek moyang.
“Sialaannnn!!!” makiku merapatkan gigi.

Sebenarnya sedari kecil aku memiliki kelemahan yang sudah menjadi penyakit akut. Sensitifitasku ama hal-hal yang bersifat mengejutkan sangatlah tinggi. Kalau dalam bahasa kerennya disebut berbakat latah. Seperti sekarang ini, terkejut digigit secara tiba-tiba membuat refleksku kambuh.
Syuuut!
Kulempar kucing yang curang maen gigit itu sekuat tenaga nggak tentu arah.
Brakk!! Pertama ia membentur ranting pohon jambu,
Brukk!! Lalu mental ke arah tembok samping dan akhirnya jatuh ke dalam parit.
Glup…!!! glup… glup…
Kutunggu kucing itu keluar dari parit agar bisa puas kuejek-ejek kekalahannya.
Satu detik…
Dua detik……
10 detik………
20 detik…………

”Oh my god, I think I kill the cat… ooops.” Kudekati parit itu dengan perasaan was-was. Ahhh, parit itu terlihat berwarna hitam dan lebih hitam dari biasanya. Mungkinkah warna hitam itu adalah cat bulu si kucing untuk nutupin ubannya?

Where the hell is the cat now?” Nggak kudapatin dia diam membisu, nggak kudapatin sisa erangannya di sana, yang kudapatin hanyalah hening yang membiru bisu. Nggak ada bekas luka, nggak ada bekas pergumulan, hanya bercak merah di sepray ini… Oops wrong window… Tapi begitulah, dua kucing hitam itu menghilang secara misterius. Tinggallah aku hanya bisa memandangi parit itu dengan ekspresi bingung. Sebelum otakku sempat bertanya-tanya lebih jauh lagi, temen-temen satu bandku mulai berdatangan satu-persatu.

Buku not balok ini masih utuh, temen-temen personil Super X telah datang. Hanya sejenak lamunanku disita oleh si kucing hitam, namun akhirnya terlupakan oleh bisingnya gitar listrik, gitar bazz, drum, dan suaraku yang tetep aja terdengar begitu merdu. Kami siap untuk manggung besok malam. Di pesta ulang tahun Olva Patriani, si manis dari Jembatan Semanggi.

*** Bersambung…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Scorpion1d3x
Scorpion1d3x at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 10 weeks ago)
90

Aneh tapi ada beberapa bagian lucu

Writer recto
recto at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 18 weeks ago)
100

hahahaha!!!

Writer diesonne
diesonne at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 23 weeks ago)
70

kwakwkawkawkawkawkawkawk

rip8 at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 23 weeks ago)
90

no coment deh^^
bagus jadi gak bisa kasi pendapat apa2

heheh kk kan pro aku belom kwok
kk ajarin aku bikin cerita begini

Writer mocca_chi
mocca_chi at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 23 weeks ago)
80

kebalikan dewi, ngakak di depan, di belakang rada mikir apa-apaan tuh si kucing? wkwkwk

Writer kun744
kun744 at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 24 weeks ago)
90

boleh tanya ...
knapa critanya ditolak penerbit???
ceritanya bagus
tapi aku masih merasa ada yg belum pas
tapi kira2 dimana ya kurang pasnya??
mungkin cenderung tergesa2 ...

Writer naj14p
naj14p at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 24 weeks ago)
80

Aku suka ama pendeskripsiannya...

Writer chaghoeths
chaghoeths at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 24 weeks ago)
50

jujur...bagus bgt ceritanya, OK

Writer arie juang
arie juang at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 24 weeks ago)
80

ha. ha.ha.haaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaakhhhh!:I

80

asyik. seperti menelan kata-kata. mantap. maju terus

Writer Rijon
Rijon at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 24 weeks ago)
90

Iya bang amri pisahin dong paragrafnya (hehehehe)!!

But, yeah I'm speechless!! KOCAK!! KONYOL!!!

Writer dut_chuby
dut_chuby at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 25 weeks ago)
80

hehehhehehe
lucu ni !!!
lumayan ngibur di akhir ujianku
ixixiixix

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 25 weeks ago)
80

Duh, kok paragrafnya gak di pisah-pisahin hehehe. Ceritanya sangat nyantai ya.

Writer dhewy_re
dhewy_re at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 25 weeks ago)
80

muup ya bang, dew kok ngrasa asik di belakang, rada bosen di depannya? apa dew yg gi kumat onengnya?

Writer Super x
Super x at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 25 weeks ago)
50

Sekar88... bener, ini adalah versi editan dari cerita setahun yang lalu.

Namun... cerita ini dulunya berjudul 13HMS. Dan sekarang sudah berubah. Plot dasar tetap sama yaitu mengatasi 13 kesialan namun antar schene sudah 'diusahakan' ada kesinambungan. Secara dulu ketika awal membuat cerita ini diriku adalah 'amatir' abis... maka semoga hasil editan ini bisa dinilai sebagai karya yang bernilai lebih daripada sebagai 'tulisan iseng'.

Sekar88... coba buka balik ke yang lama dan bandingkan ^^ Kalo saya rasa sih, cerita kali ini lebih detil dan lebih rapi dari segi penulisannya. Dan untuk membuktikan itulah mangkanya diriku memposting balik. Secara patokan standard kualitas di k.com sekarang ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan setahun yang lalu... maka akan sangat menyenangkan jika bisa di-review ulang.

Sekalian menunjukkan kepada user k.com... draft novel yang sudah ditolak 2 penerbitan T_T

So... please... kritik dan saran sangat dihargai.

Writer sekar88
sekar88 at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 25 weeks ago)
50

apalkah ini tulis ulang dari cerita 13HMS kok basic ceritanya sama yagh

Writer meier
meier at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 25 weeks ago)
90

ANDA GILA BUNG...itu saja.

Writer naela_potter
naela_potter at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 25 weeks ago)
80

ahahahaha,,
lucuu lucuu, baaang,,
;)
gokil critanya!!
menghibuuurr,,

^^

Writer Shinichi
Shinichi at BAB 1 - Awal Kesialan Beruntun (12 years 25 weeks ago)
90

waaaaah....

ga nyesel neh saia baca cerita Om Amri..
wakakakakk...konyol abiss dah...

mampos deh saia ketawa sendiri di depan kompie op...

ahak...hak...hak...

lannjjoootttt...Om!!!