bukan (puisi) ini!

[1]

"gila mang, manakala kita menata airmata
mereka malah asyik bermain mata!"

mang kardi meneropong langit, dengan sikap ala pasukan kerajaan memberi hormat pada atasan. menahan matahari menuju senja. mang mista taklebih takkurang merasa silau. matanya menerawang ke negeri kenang. tempat ia pernah menanam wortel, terong, dan cabe keriting

"inikah pertanda kemajuan kerajaan kita?"

"kemajuan apa, jika tanah sepetak yang kita punya
diambil paksa oleh kerajaan, demi memenuhi
kebutuhan gila orangorang kaya?"

"ya, kata mahapatih, kemarin di tivi, semakin banyak kompor gas, semakin kaya warga kerajaan. semakin kurang penerima be-el-te pertanda semakin banyak orang kaya."

tapi mang kardi pesimis

"apa iya?"

[2]

mang mista tersenyum, getir mengambang di bibirnya yang coklat kehitamhitaman. kebanyakan mengisap racun tembakau. atau, mungkin juga kebanyakan menelan getir hidup separau kemarau

"aku malah lebih ragu. jika ukuran penentuan
kesejahteraan masyarakat kerajaan Nusatiwi:
adalah seberapa kurang penerima be-el-te,
mengapa tetangga sebelah rumahku yang puasanya
bukan senen-kamis tapi malah setiap hari
tidak menerima kucuran dana kompensasi itu?
janganjangan kompor gas diperbanyak, lagilagi
demi memperkaya mereka yang dasarnya sudah kaya."

"maksud mamang?"

"benarkah hanya sebegitu jumlah orang miskin
di negeri Nusatiwi ini? bagaimana para
petugas kerajaan menentukan miskin-kayanya seseorang?
mengapa si entong yang punya motor juga dihitung miskin
hanya karena kepala desa adalah kakak kandungnya?"

"ah, mamang purapura tidak tahu yah. kekuasaan istana itu mutlak. kita nggak punya hak
untuk sekadar menolak. apalagi hak peto."

[3]

mang kardi meringis. ia menyapa gerimis. dari kelopak matanya yang cekung. membayang airmata

"akan mengalir lagi pembodohan. orangorang miskin
dipaksa menerima umpan demi pengapusan subsidi,
demi kestabilan keuangan kerajaan, demi kesejahteraan."

"sejahterakah namanya, jika pagi sarapan singkong
siangnya makan nasi jagung, dan malamnya meregang
karena kebanyakan makan angin?"

"ah, mang kardi jangan ngomong gitu,
nanti kedengaran matamata kerajaan. mereka punya telinga
dan mata dimanamana."

[4]

matahari yang sepotong menyapa di sebalik arakan awan. rerumput hijau yang dulu menghampar sekarang berbalik menjadi lawan. rawarawa buatan dan tebingtebing hiasan. jalanjalan tol merampas tanah dan lahan. petanipetani yang dulu rajin mencangkuli lahan, kini menjadi kuli kerajaan di pinggirpinggir jalan. menjadi petugas kebersihan, menjadi pengatur kendaraan, dengan upah sekenanya. lalu, mereka tidak terhitung orang miskin. karena mereka terhitung punya upah dan pekerjaan.

"apakah kita harus bertani di emperan jalan?" keluh mang kardi

[5]

gerimis yang tipis mulai reda. mang mista beranjak menangkap serangga. di matanya menjelaga setangkup nestapa

"kita tak boleh menyerah. kita harus melawan," sergah mang kardi

"melawan apa? melawan siapa?"keluh mang mista

"melawan pembodohan. melawan petugas kerajaan."sanggah mang kardi

mang mista semakin nelangsa dibekap asa

"mustahil, kita harus berhadaphadapan
dengan pasukan kerajaan yang tangguh dan militan.
melawan, berarti nyari mati."

"mang mista takut mati?" cecar mang kardi

mang mista terhenyak. degup itu tersedak. nadinya seperti kehilangan detak. mang mista membelalak. hatinya menderak

"aku tak takut mati. karena matilah jalan keluar dari derita penjajahan dan penindasan. tapi, apakah mati itu kemenangan? atau, malah kekalahan? tak mungkin kubiarkan anak cucuku kehilangan masa depan. lagipula, mahapatih takkan mengampuni keluarga para pembangkang. itu yang kutakutkan. bukan kematian."

[6]

benci yang menular terbawa angin. mang mista masih juga mencerca

"sementara kita tak punya kekuatan. pasukan kerajaan membunuh semangat dengan tekanan. siapa berani melawan maharaja digjaya?"

teriakan mang mista mengoyak langit

"jika mati adalah pilihan, hidup mungkin tak lagi menguntungkan. jadi, telah kukemas rasa ketakutan. akan kupilih jalan kematian dengan cara yang menyenangkan."

burungburung berhenti mengepak sayap. benci itu menular ke angkasa. bumi bergetar. dari rahimnya mengalir lahar

mang mista semakin kesetanan

"jika kehidupan tak memberi rasa nyaman, kenapa kita harus enggan memilih kematian?"

mang kardi ikut kesetanan

"jika pembangunan tak memberi rasa nyaman, waktunya revolusi berjalan."

dari arah perkampungan kardus di sepinggir jalan tol, melenggang bergegas bibi suwani, isteri mang kardi. sembari mengepal tinju ke udara, matanya membeliak seakan ingin meracak suaminya

"hey, jangan ngoceh tentang revolusi. anakmu butuh nasi, bukan merdeka atau mati."

mang kardi terbiritbirit mencari aman. mang mista melenggang mencari selamat. begitulah kehidupan. begitu selalu.

pejaten, 05/06/08

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Cinta Kata
Cinta Kata at bukan (puisi) ini! (12 years 26 weeks ago)
100

makin menikmati nih

Writer novhi pahlevi
novhi pahlevi at bukan (puisi) ini! (12 years 27 weeks ago)
100

sebuah pencarian bentuk puisi yang menurutku sangat memukau. berhasil menjelajah kata dengan purna

Writer huda
huda at bukan (puisi) ini! (12 years 44 weeks ago)
90

ironis ya negeri kita
gemah ripah loh jinawi sekedar jargon?

Writer zasdar
zasdar at bukan (puisi) ini! (12 years 44 weeks ago)
100

Wah,,
Om ini paling bisa bikin puisi seperti ini..
mulai dari gaya bahasa, setting, dan segudang pesan di dalamnya!

itulah ciri khas bung khrisna pabichara..
salut banget dah seorang zasdar ma ente!

om..
kalau boleh...
ajarin dong...

hehehehhehehe...
kabboooorrrr *mode on

Writer ningrat_oey
ningrat_oey at bukan (puisi) ini! (12 years 44 weeks ago)
90

wah cerita yang lincah brooo....bahasa yang unik...dan pesan yang dibawa pun terkesan memberikan penyadaran dan gambaran pada pembaca tentang keadaan indesia saat in...

semangat...

Writer chezna
chezna at bukan (puisi) ini! (12 years 45 weeks ago)
80

Bagusss....kasih koment pnyaku juga

Writer Jacky 212
Jacky 212 at bukan (puisi) ini! (12 years 45 weeks ago)
80

apapun bentuk & corak/ciri, baik sentilan, cinta, amarah, ketidak percayaan dll dlm sebuah karya ad anugerah, apalagi ketika sang penyair menuangkan/ menyampaikan patut dihargai bukan utk diriny namun org lain. karyamu ok, juga kawan.tank komentnya..salam merdeka utk kemerdekaan bagi yg merdeka..

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at bukan (puisi) ini! (12 years 45 weeks ago)
100

Ya, membacanya seperti membaca cerita. Dikatakan Bukan Puisi tapi bait narasinya indah tersusun, dikatakan Bukan Ini, tapi memang itu yang dimaksud dalam tulisan ini.

Percakapan yang sangat dalam makna. So, terakhir jangan lupa kasih comment dicerita terbaruku.

Writer namakutya
namakutya at bukan (puisi) ini! (12 years 45 weeks ago)
90

Gaya yang berbeda dari seorang Khrisna Pabichara...beda sekali dengan ciri khas-mu selama ini...

mengkritisi permasalahan sosial memang tidak akan pernah ada habisnya....

tapi kalau disajikan dengan puisi karyamu, ah aku jadi tergoda.....

Writer mochipa_matripa
mochipa_matripa at bukan (puisi) ini! (12 years 45 weeks ago)
100

ga pake komentar deh cuma acung jempol aje!!

Writer cintafitri
cintafitri at bukan (puisi) ini! (12 years 45 weeks ago)
100

great.. luar biasa..

Writer rinitrihadiyati
rinitrihadiyati at bukan (puisi) ini! (12 years 45 weeks ago)
80

Alo pak....
Pak menyimak karya2mu kayaknya unik banget di K.com ini. Bukan puisi bukan cerita tapi apa ya?
Kayak script buat pementasan teater...
Cocok deh Pak dirimu bikin karya2 bout kritik sosial, habis karya2mu sungguh tinggi nilainya....high quality dah pokok'e
Teruslah berkarya Pak...
Aku tunggu selalu! halah...hehe ^_^

Writer nuryadi
nuryadi at bukan (puisi) ini! (12 years 45 weeks ago)
100

bagus,terus berkarya