Burung-burung Membicarakan Mel Pagi Itu

Melisa Purnama Wangi, lengkapnya. Gadis manis yang hari itu berkemeja putih motif kembang merah malu-malu.. Sepatunya hak tinggi yang seiring berganti hari berganti pula rupa dan lekuknya. Hari ini Mel yang kutemui adalah seorang gadis periang dan lucu. Sendiri dia duduk di pojokan sembari membaca majalah mode edisi terbaru. Seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi.
“Tugasmu udah selesai ya, Mel?”
“Ya, iyalah! Mel gitu loh”
“Iya deh…”
Cukup itu saja sapaanku. Takut ia tambah nyerocos dan merusak pagiku yang indah ini. Akupun berlalu meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Mel yang makin tenggelam dalam kesibukannya. Memelototi sepatu-sepatu merk ternama di majalah mode sambil kupingnya tersumpal headset berisi hingar bingar musik R n B.
Kususuri sisi koridor yang lain. Tiba-tiba, kudengar sayup suara menyebut-nyebut nama Mel. Aku celingak-celinguk mencari asal suara yang sepertinya adalah dialog sepasang makhluk berjenis kelamin perempuan. Ah, rupanya burung-burung tengah bergosip, batinku. Tampaknya topik menarik. Maka kutajamkan pendengeran.
“Oh, pantas, hari ini si miss mode itu kelihatan sumringah dan ceria. Ternyata, lagi jatuh cinta ia rupanya,” kata burung pertama. Sebutlah namanya si Podang.
“Kamu tuh ketinggalan banget ya? Hi..hi..hi padahal gosipnya udah lumayan lama loh,” kata burung kedua. Aku menamakannya si Cuwi.
“Eh, emang siapa pria beruntung itu?” Tanya Podang penasaran
“ Itu tuh, berondong…”
“Berondong?”
“Iya…” suara Cuwi menggantung. Mengajakku untuk ikut bersenam jantung. “Maba…” lanjutnya dengan desah berbisik.
“Ya ampun!” jerit Podang. Cuwi sepertinya sibuk membekap paruh teman gosipnya yang selebar ember.
“Bisa nggak suaranya dikecilin dikit,” gusar Cuwi khawatir
“Ah, kamu lupa ya? Kita ini kan burung. Mana ada manusia dengar kita” balas Podang cuek. Tapi tak urung suaranya berbisik pula.
“Eh siapa berondongnya?”
“Ada deh…”
“Curang! Katakan, siapa?” Podang sedikit memberenggut. Tak pelak kontrol suaranya sedikit menurun.
“Pssst, itu tuh…”
Sejenak hening. Aku terkesiap. ah, pemuda itukah? Pria berperawakan sedang berbadan atletis dengan senyum bak bintang iklan sikat gigi yang saban hari nampang di tivi-tivi. Aku mencermati pria itu sejenak . Memang, secara fisik ia jauh lebih gagah dari aku. Tapi pabila di sandingkan dengan Mel? Ah, aku takut berpendapat.
Pria yang juga adik angkatanku itu mendekati Mel dengan tatapan hangat dan senyum simpatiknya. Mel, Mel suara ketar-ketir jantungmu seakan sampai di gendang telingaku. Menjelma jadi histeria yang hanya bisa terdengar saat piringan langit keropos berniat untuk runtuh.
“Ah Podang, aku pamit dulu…”
“Hai Cuwi, mau ke mana? Kau belum menceritakan rahasia-rahasia cinta anak manusia lebih banyak lagi”
“Suatu saat nanti kau pasti akan tahu. Sudahlah, anak-anakku menunggu sarapan cacing yang sudah kujanjikan”

* * *
Melisa Purnama Wangi. Di sebut begitu karena gadis berpipi semburat lembayung ini terlahir dalam kedamaian bulan purnama. Wangi, karena wangi tubuhnya yang tak sudi menghilang walau panas bara bumi memeluknya setiap waktu. Mel yang semakin cemerlang pendar cahaya dalam matanya dibingkai potret bernuansa sephia.
Gadis itu hari ini memakai kemeja satin putih bergaris kelabu. Sendu. Apa yang tejadi dengannya? Batinku. Tak ada majalah mode, atau R n B berdenyut-denyut. Di pipinya seakan ada mendung bergayut.
“Hai Mel…” sapaku. Astaga, gadis ini menganggapku angin salah musim atau apa? Melirik dengan ekor mata pun ia tidak.
Dan seperti biasa, aku pun berlalu. Aku memilih mencari tahu lewat cericit burung-burung. Mungkin karena mereka berkabar dengan terbuka dan sederhana. Kucari tempat di mana Podang dan Cuwi biasa berceloteh riuh rendah. Tapi tak kutemukan juga. Ah, jangan-jangan sepasang burung itu ikut pula berduka.
Matahari hampir meninggi saat harapanku beranjak memupus. Burung-burung itu rupanya sedari tadi hinggap di atap-atap. Melagukan sesuatu dalam bahasa yang aku tak tahu. Dan aku mendengar mereka bicara saat berhenti melagu.
“Kasihan ya mel, sampai kapan dia harus menunggu” terdengarlah suara si Podang. “Kali ini cinta belum sudi hinggap di kisi-kisi hatinya. Kekasih yang dia pikir mencinta ternyata telah menambatkan hati di dermaga yang lain””
“Ah, soal cinta itu hanyalah persoalan waktu. Pertanyaannya, apakah dia sanggup menunggu?” suara Cuwi mantap meningkahi ramainya koridor pagi itu.
“Menurutmu, adakah Mel pantas mendapatkan cinta?”
“Tentu, aku yakin sekali akan hal itu”
Podang menyergah, tampaknya ada sebait doa yang ia panjatkan. “Apa yang kau doakan untuknya?” Tanya Cuwi kepada sobatnya.
“Ah, hanya keinginan kecil semoga sang putri menemukan pangerannya. Seseorang yang bisa menyelamatkannya dari menara gading ini”
Cuwi tersenyum, “ Seperti dalam dongeng”
“Ya, seperti dalam dongeng”
Aku bernapas lega. “Mel, Mel tahukah kau? Bahkan burung-burung pun sudi berdoa untukmu,” gumamku perlahan.
Matahari perlahan menarik benang pagi. Hembuskan kehangatan yang menghapuskan titik-titik embun di rerumputan goyah. Aku masih mencermati kedua burung yang masih bertengger di atap gedung itu. Sekonyong-konyong Cuwi menatapku. Membisikkan sesuatu di telinga Podang. Sesuatu yang masih dapat kutangkap samar.
“Sobat, ayo cepat kita pergi dari sini. Aku curiga dengan anak muda di pojok sana. Di sana, yang berbaju hitam itu. Sepertinya ia tahu arti pembicaraan kita.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer brown
brown at Burung-burung Membicarakan Mel Pagi Itu (15 years 19 weeks ago)
80

seluruh tulisan2mu yg kubaca di kemudian.com memang terasa berbeda. entahlah kalau akunya yg tak banyak membaca, tapi sejauh ini aku blm pernah menyesal membaca karya2mu dan aku berharap bisa melihat lebih banyak lagi. btw, 2 paragraf terakhir sgt menarik untuk disimak. siiplah.

80

yang berbeda dari biasanya

70

salut....ceritanya sebenarnya sederhana tapi kog jadi menarik sekali yah kalo diolah sama mas jamil ini.....

50

Rien suka ceritanya..
its nice...
keep writin ya
Rien tunggu yang selanjutnya

yang "di kecilin" ama "di bingkai" ya?
oh ya, ya aku lupa
thx buat tegurannya.

70

..dalam memakai kata dan merangkainya.. apalagi mengatur alur.. ^_^ salut.

anyway, ejaan 'di' untuk verb seharusnya digabung lho, mas. Berbeda memang kalau digunakan untuk tempat.

Wah wah.. saya ketemu tempat berguru satu lagi ^_^ Numpang belajar ya..