Maaf Semua, Pria Baik Di Dunia Berkurang Satu, Sudah Kunikahi

"Undangan sudah selesai? Ini desainnya,"
"Gedung untuk resepsi masih perlu kita pastikan lagi, sayang.."
"Bagaimana dana untuk video syuting? Ah..kamu jangan kuatir. Aku sudah sisihkan dari kemarin..,"
"Ada masalah dengan dekorasi? Perlu aku hubungi mbak Endah lagi?"

Aku duduk berhadapan dengan Doni, pria manis berlesung pipit rambut belah tengah kulit terang yang saat ini dengan detil dan cool mendata semua persiapan pernikahan kami.
Ya, Doni calon suamiku. Mantan pacarku lima tahun ini, dan yang satu setengah tahun ini menjadi tunanganku. Tanpa melepaskan pandangan dari wajah berserinya, aku meraih milk shake coklat dan menyesapnya perlahan. Lembut, manis. Seperti Doni.

"..bunga -hand banquet- untukmu..," Doni mendongak menatapku, sadar kalau sedari tadi aku tidak bersuara.
"Lidya, sayang, ada apa? Ada yang terlewat?" tanyanya lembut. Aku mengangguk, tersenyum.
"Ya, dari tadi aku belum bilang bahwa kamu mengagumkan dan aku bersyukur menikah denganmu -akan"
"I Love you more, Doni..," bisikku. Doni mengelus tanganku.

***

Setelah beberapa pertemuan rahasiaku dengan Mas Jana yang mengaduk-aduk hatiku sesaat sebelum pernikahanku, akhirnya aku tahu alasan mas Jana berubah menjauhiku, berlawanan dengan perkataannya semula: hendak merebutku dari Doni. Menciptakan suatu episode baru runaway bride.
"Lidya, pergilah dariku, kembali ke Doni. Dia pria luar biasa," desahnya, di sela kepulan rokok dari batang yang ke -entah. Aku tersentak.
"Kok mas bisa bilang begitu? Mas pernah ketemu Doni?" dadaku berdebar. Sebenarnya, selama ini, rentihan rasa cintaku pada mas Jana ini sesuatu yang tersembunyi, terutama dari Doni. Kupikir Doni tidak tahu, dan aku memang mencegah ada hubungan yang bisa membuat Doni tahu keberadaan mas Jana dan sebaliknya. Aku pun emggan membicarakan Doni dengan mas Jana.
Mas Jana memandangku lekat sesaat, lalu mengalihkan pandangan lagi.
"Doni tahu ada perasaan di antara kita. Tanpa sengaja dia membaca emailku untukmu yang kamu print dan kau letakkan di sela novel The Alchemist,"
Darahku turun sampai ke perut, mukaku memucat. Aku ingat, saat itu aku masih ke salon untuk merapikan rambut, dan Doni datang ke rumah untuk membicarakan daftar undangan dengan Papa.
"Kapan..kapan kejadiannya?" sengalku.
"Dua minggu yang lalu. Dia menemuiku sepulang kerja. Aku tahu itu dia, feeling saja,"
"Dia..dia marah?"
"Mudah untukku kalau dia marah, Lid, atau mengumpatku, atau mengajakku berantem," mas Jana menghela nafas panjang.
"Dia mengajakku minum kopi, lalu dengan ramah memperkenalkan diri..," mata mas Jana menerawang.

***

Pria di depanku ini, aku menebaknya adalah calon suami Lidya, dari debaran hatiku yang nggak menentu sejak dia mengulurkan tangannya dengan ramah.
"Selamat sore, mas Jana? Saya Doni," aku mengangguk kikuk. Dia tidak menyebut calon suami Lidya, ternyata, dia ingin dikenal sebagai dirinya pribadi.
"Saya Jana," aku menyambut uluran tangannya.
Dia mengatakan ingin ngobrol denganku, dan mengajakku ke kedai kopi kesukaannya. Kesukaan Lidya juga. Wajar kan?
"Saya tahu mas Jana dari email Lidya," dia membuka percakapan. Menerangkan bagaimana dia mencium keberadaan hubungan kami yang sangat halus kami rangkai dan sembunyikan.
Dia tersenyum ramah, tidak menanyakan lebih lanjut hubungan kami, malah menceritakan kesehariannya, dan menanyakan keseharianku. Dia hanya benar-benar ingin berkenalan denganku.
Pembicaraan kami berlangsung satu jam lebih, dan sebelum pulang dia menanyakan sesuatu.
"Apakah Lidya membuat mas repot?" Doni tertawa kecil, "Dia anak tunggal, agak manja memang. Tapi dia tegar dan mandiri -hmm..kadang sih," aku menyetujuinya, dan secara ringan kami membahas Lidya, seperti kami membahas teman dekat yang sudah lama.
Dan tepat sebelum dia menutup jendela mobilnya, dia mengucapkan kata-kata yang membuatku tersadar bahwa aku hampir saja merebut seorang wanita dari orang baik ini.
"Mas, terima kasih ya telah menemani Lidya, dan mengajarkannya perasaan yang lain. Saya yakin itu sangat baik untuk kepribadiannya," senyumnya tulus.
Untuk seseorang yang telah kucuri miliknya -hati tunagannya- dia sebenarnya bisa memperlakukan aku lebih buruk lagi. Tapi itu tidak dia lakukan. Aku yakin, Lidya akan jauh lebih bahagia dan berkembang dengan pria ini.

***

Aku menatap mas Jana tak percaya.
"Doni..Doni..," Doni tidak marah, dan selama berminggu ini, ketika bertemu denganku, dia nampak biasa, bertanya bagaimana hatiku, kujawab baik-baik saja, dan aku sedikit heran dengan pertanyaannya. Ternyata ini alasannya.
Padahal bisa saja dia ngamuk, aku mengkhianatinya. Tapi dia memilih untuk membiarkanku menyelesaikan sendiri, menunggu sinyal dariku, tanpa mengintimidasiku, dan tetap menatapku penuh cinta, tidak berkurang, tapi malah melimpah sekarang.
Mas Jana mengambil tangan kananku dan meletakkan di atas jemari manis kiriku yang tersemat cincin tunanganku dengan Doni.
"Aku tahu, aku tumbuh salah musim, dan sekarang aku tidak keberatan kamu cabut. Hubunganmu dan Doni membutuhkan luas tanah itu sepenuhnya, tanpa ada aku atau rerumputan lain. Aku yakin, dialah pohon yang besok akan merindangimu, dan anak-anakmu," mataku membasah.
"Lidya, aku tetap mengenangku, tapi dengan caraku sendiri. jangan cemaskan aku,"
Saat itu aku tahu ini saatnya, mencabut tanaman yang tumbuh salah musim itu...

***

"Sayang, kok senyum-senyum sendiri?" Doni bertanya, geli dan sedikit gemas. Daritadi aku 'iya-iya' saja dengan usulannya.
"Di mana-mana, sebenarnya mempelai putri yang lebih detil dan repot. Ini malah...," omongan Doni tertelan kecupanku.
Ya, aku akan membiarkan cinta pria baik ini memenuhi ladang hatiku, sampai tidak ada seberkas tanah lagi untuk rumput lain.
Wanita di seluruh dunia, maaf ya, pria baik di dunia berkurang satu, menikah denganku!!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Ih.... aku bangget siii.. :)

Tapi aku akan menikahi "Doni" lain itu, agustus ini :)...

Ok ni cerpen lo

90

Gak nyangka ternyata aku dah ga onlen 3 minggu ya. Sampe2 ketinggalan 6 episode tulisan kamu. Ckckck.... subur amat idenya neng. Bagi duooonk ;)

100

ceritanya hampir mirip sm kisahku...
bedanya sedikit, dia bukan mantanku sebelumnya... :)
pas suamiku baca, dia bilang kasih nilai 10 buat kamu...

ceritanya ok banget...
hidup...

salam kenal yaaa...

80

alurnya oke.
bahasanya enak.

kesabaran mengalahkan segalanya. hai para wanita, pilihlah doni.

haha..

90

Ide yang menarik. Pembawaannya juga asik. Kukasih 9. ^^

80

alurnya bagus... senang membacanya sampai habis tanpa berkedip dan tanpa menarik nafas... saking kerennya.

90

membuka cerita dengan langsung menggunakan kalimat percakapan memang kerap digunakan namun kerapkali juga dihindari. sebab penulis tak cukup menggambarkan suasana apabila langsung menjadi dialog.

tapi itu soal pilihan kok.

oke de

80

gimana yah, dari beberapa cerita kamu yang pernah saya baca,, terlihat kamu memang ahli dalam cerita romantis, two tumbs up.

 

NAh, yang saya kritiki disini adalah teknik penulisan, masalah ide mah kamu jago deh. kalo pake bahasa inggris, harusnya kamu ketik miring, trus kalo ada judul buku pake tanda petik, dan beberapa bagian mohon diperedetil lagi...tapi sejauh itu Ok kok. 

50

karakter oke walau belum bisa bedain. alur te op pe. mantaph lah!

100

wah ada gak "Doni" lain di muka bumi ini? Kalau ada cepetan email aku yah! "v"

Ceritax ringan banget, tapi ngena di hati.
Ciayo!!

80

Keren!!.. Alur maju-mundur disusun apik banget!.. Mungkin lebih bagus kalo menceritakan Lidya-Doni-Jana dari awal.

Two thumbs up!! ;)

80

hohoho...

ini sungguh menarik
terlebih ke tema cerita dan gaya penulisan...

bdw, kamu kok suka banget siy ngebahas hal ini? Perasaan karya-karya kamu melulu soal suami2an deh!

hehehe

good job, sis

40

tapi karakternya belum bisa dibedakan. kayak godeliva semua, ada yang versi ga setia, versi perebut kekasih orang dan versi jagoan. keep writing!!!

50

Judulnya direvisi: maaf semua, pria baik di dunia berkurang satu karena menikah denganku!

hehe piss