Seorang Lelaki dan Delapan Ekor Kucing

Pagi hari, sebelum jam delapan pagi, di halte bus depan Rutan Salemba.

Aku mencium tangan suamiku dan melambaikan tangan, "Dijemput jam lima ya,"
"Tunggu di halte, bunda, jangan jauh-jauh" sahutnya, melemparkan cium jauh padaku, lalu melaju menuju Hayam Wuruk, kantornya. Aku membalikkan badan, hendak berjalan memasuki kantorku di bilangan Percetakan Negara, suatu badan penelitian milik Departemen Kesehatan.
"Ouch!"
"Miaw miaw miaw"
Rombongan kucing itu melintas di depanku, memotong jalan. Satu, dua, tiga..hmm..delapan ekor kucing! Mereka kemudian melompat naik ke atas gerobak seng berukuran 100x50x50 sentimeter, mengelilingi sesosok pria. Aku melirik sekilas, merasa terganggu dengan gerombolan kucing itu, dan berharap sesosok pria itu baik-baik saja.

Sore hari, untung cerah, jam lima sore, di halte bus depan Rutan Salemba.

Aku mempercepat langkahku menuju halte. Sebentar lagi suamiku menjemput. Dia bisa kesal kalau aku belum ada di sana, padahal dia tahu aku selesai kantor pukul empat. Ups, tadi aku keasyikan menyelesaikan laporan, jadi agak telat keluar. Sampai di halte, belum kulihat sosoknya dengan balutan jaket merah dan helm hitamnya. Untunglah.
"Miaw miaw miaw!"
"Ssh ssh ssh jangan berebutan, yang rukun, dibagi-bagi..," terdengar suara dari sampingku. Aku teringat serombongan kucing yang hampir melindasku -ehm baiklah aku melebih-lebihkan- hampir kutabrak tepatnya, tadi pagi.
Sesosok pria renta itu terlihat asyik meremas-remas nasi putih dan ikan di atas gerobak, sementara kucing-kucing di sekelilingnya nampak kelaparan dan mencuri-curi gigit sana gigit sini, jilat sana jilat sini.
Aku mengerutkan kening. Kucing-kucing itu...
peliharaannya?
Ah, aku memang seorang Taurus sejati, selalu penasaran dan spontan. Tanpa sempat kusadari, aku sudah mendatanginya dan bertanya, "Kucingnya, Pak?"
Lelaki tua itu mendongak dan tersenyum memamerkan gigi ompongnya.
"Iya, tapi banyak juga yang titipan..,"
"..bapak buka penitipan kucing?"
Di Jakarta ini? Penitipan kucing di pinggir jalan?
Bapak itu tersenyum lagi.
"Iya..,"
Bluk, "mm..mmiaw..,"
"Si Buta!! Aduh kasian, kamu jangan minggir-minggir..jadi jatuh..," ujar bapak itu cekatan sambil memungut satu kucing yang terjatuh dari gerobak. Ternyata dia buta.
Kerutan di keningku semakin dalam.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

ada apa dengan kucingnya?

60

lanjutannya apa?
cuma segitu aja ya?

menarik si. hanya menceritakan sepenggal kisah yang memang cuma itu adanya.

50

80

Heheheh.. Lucu kalo ngebayangin tingkah kucing2 si bapak tua itu.

Tapi kayaknya di paragraf terakhir kok kayak "kepenggal" yak??

80

Cerita yang seharusnya masih bisa di eksplor, ceritanya lucu dan mengharukan euy....

80

dan...