Seminggu Bertanya (Selasa)

Sssrrrrr…… Kriet kriet kriet

Keran dimatikan, air berhenti mengalir. Ia mengangkat ember hitam tua yang telah penuh air itu bersama dengan satu ember penuh air lainnya. Bu Indah sudah menawarkan ia menginap malam tadi, jadi, hari ini ia akan membantu sang Ibu menjaga Wartegnya. Mencuci, memotong sayuran, atau sekedar nungguin air matang, apapun yang mungkin bisa sedikit membantu Bu Indah.

Ditaruhnya kedua ember tersebut di samping Warteg dan ia masuk ke dalam.

“Bu, airnya sudah saya ambil.”
“Oh oke. Kamu tolong cuci piring ini yah.”
“Beres, Bu.”

Diangkatnya piring-piring yang telah ditunjuk Bu Indah dari sudut, dan setelah menemukan sabun colek yang barang lima ratus rupiah itu, ia keluar lagi untuk mencuci. Seluruh konsentrasinya tertuju pada piring yang sedang dicuci sampai-sampai ia tidak mendengar ada orang datang makan. Baru ketika orang itu mulai berbicara keras-keras pada temannya, ia menangkap sebagian dari percakapannya.

“….. harus percaya kalau semua orang itu sama. Ya perempuan, ya laki, ya orang kita, ya orang Cina, ya normal, ya homo, semuanya sama. Patriotisme itu taik. Perang itu goblok….” **

Mukanya menoleh. Dilihatnya seorang pemuda berbadan gagah, dengan pakaian serba metal. Anting-anting tak terhitung di mukanya, apalagi gambar tengkorak di bajunya. Ditambah tato-tato yang garang, orang itu lebih seram dari tukang pukul manapun. Tapi kata-katanya….

Ia bergegas mencuci piring terakhir, berharap dapat melihat wajah sang pemuda lebih jelas ketika membawa masuk piring-piring itu. Namun, begitu dia masuk ke dalam, pemuda itu bersama temannya sudah membayar Bu Indah dan berjalan ke mobil yang diparkir di dekat sana.

“Ibu, tadi itu siapa?”
“Ah, cuman pelanggan. Akhir-akhir ini dia sering datang ke sini sama temen-temennya. Tapi gak pasti kapan aja. Kenapa?”
“Engga apa-apa. Cuma tampangnya kayaknya serem banget yah.”
“Ya gitu lah anak muda jaman sekarang.”

Matanya menatap mobil merah yang telah menjauh dan hilang di belokan. Dari bentuk dan rendahnya mobil, ia tahu bahwa itu bukan sembarang mobil. Pasti impor punya. Sungguh penasaran bagaimana orang dengan mobil seperti itu sudi secara rutin makan di Warteg. Apalagi di daerah kumuh bantaran kali seperti ini. Bisa-bisa….

Penasaran, ia berlari ke belokan. Hatinya setengah mengharap mobil itu belum jauh sehingga ia mungkin bisa mengikutinya. Namun setengah hatinya lagi tahu mobil seperti itu rata-rata berkekuatan tinggi.

Harapannya terkabul, namun tidak sebaik yang diinginkannya. Di depan sana, mobil itu berhenti. Di sekelilingnya banyak orang-orang. Lima… enam… tujuh… delapan orang. Ada yang membawa kampak, golok, bahkan palu. Beberapa orang menggedor-gedor kaca mobil. Bahkan, ada yang sempat menusukkan pisaunya ke ban mobil itu.

Kemudian terjadi hal yang membuatnya tambah semakin ngeri. Orang tadi bersama dengan 3 temannya keluar dari mobil. Yang satu tampak berusaha berbicara baik-baik dengan mereka. Sia-sia…

“Lu cari masalah di sini?! Dateng pake mobil impor segala!”
“Lu pikir lu hebat?!”
“Mas… Mas… Sabar dulu. Kenapa sih?”
“Sabar… Sabar… Orang-orang kayak lu tuh yang bikin negara miskin!”
“Mana bokap lu yang pejabat?!”
“Eh, bokap kita-kita ini gak ada yang pejabat. Jangan sembarangan lu!”
“Alah! Banyak bacot! Diem lu!”

PRANG!!! Satu kaca mobil pecah.

“EH! Lu jangan maen serang orang dong! Lu mau duit bilang ajah!”
“Heh! Kita ni gak butuh duit lu! Haram! Dasar Ci*a koruptor!
“Ngomong sembarangan! Gw bukan Ci*a! Lu tuh! Pribu*i gak tau adat! Maunya duit gampangan melulu!”
“Brengsek! Rasain nih! Biar tau rasa!”

PRANG!!! Satu lagi kaca pecah.

“Brenti gak lu?!”
“Ato apa? Lu Mau tabok gw? Wahahahaha!!!”

*BUK*

Satu suara yang diikuti keheningan, kemudian keributan yang memecahkan telinga. Ia berpaling, namun sudut matanya menangkap banyak darah. Ada orang-orang berjatuhan. Bukan keempat orang itu saja. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ketika suara-suara berhenti, tidak ada orang yang berdiri.

Di dekatnya beberapa orang berlarian. Menghindari masalah lanjutan yang siapa tahu akan datang. Tapi tidak ada satupun yang mendekat untuk melihat keadaan pria-pria yang tergeletak itu.

Akhirnya rasa penasaran menguasai dirinya. Pelan-pelan, ia berjalan maju mendekati. Bau darah mulai tercium menyengat. Hampir ia muntah melihat luka-luka terbuka di tubuh-tubuh itu. Hatinya tercekat ketika melihat orang itu, terbaring terlungkup dan bermandikan darah.

Cepat-cepat ia membalikkan tubuh orang itu. Di perutnya ada sobekan besar. Kemudian untuk beberapa saat, mata mereka bertemu. Ia masih hidup!

“Kamu…. tolong…”
“Ah… Iya. Saya akan panggil polisi. Sebentar yah, Bang. Abang bisa…”
“…tolong… mereka… Jangan saya.”

Ia terbatuk, dari mulutnya keluar darah. Perlahan-lahan, kepalanya turun. Sekilas, ia melihat pemuda itu tersenyum. “Syukurlah… masih… ada…. yang….” Dan ia tak pernah menghembuskan nafas lagi.

<… tolong mereka… Jangan saya…>

WeHa
16 Mei, 2007
16 : 37

** Dikutip dari ‘Supernova : Akar’ untuk mengingatkan kita kembali bahwa kita adalah sebangsa dan setanah air

Read previous post:  
36
points
(996 words) posted by wehahaha 15 years 6 weeks ago
72
Tags: Cerita | kehidupan | lagi | pertanyaan
Read next post:  
Writer creativeway13th
creativeway13th at Seminggu Bertanya (Selasa) (15 years 5 weeks ago)
80

hmm kebijaksanaan seseorang mungkin bisa terlihat dr tulisan dan wawasannya kali yah..

Writer KD
KD at Seminggu Bertanya (Selasa) (15 years 6 weeks ago)
100

topik yang langka

Writer Armila_astofa
Armila_astofa at Seminggu Bertanya (Selasa) (15 years 6 weeks ago)
70

Gut..dalam kondisi ujian,sempat juga ya buat cerita seperti ini..kalah aku buat cerpen sama adik yang satu ini.

kaka doain supaya lulus ujian.Jadi teringat adikku..he..he..
Semangat menulis Ok

Writer picsou
picsou at Seminggu Bertanya (Selasa) (15 years 6 weeks ago)
90

MARKOTOB!! MAKNYUS...!! aduh,,semua deh... gw suka banget yg berbau rasialis nasionalis gini... penyampaian straight to the point,,gw jd terharu... dan terinspirasi!!

Writer dana
dana at Seminggu Bertanya (Selasa) (15 years 6 weeks ago)
70

untaian cerita yang menarik... lanjutannya saya tunggu dan semoga hasil ujiannya menggembirakan.

Writer miss worm
miss worm at Seminggu Bertanya (Selasa) (15 years 6 weeks ago)
70

isu yang disampaiin oke bgt!

Writer bungabunga
bungabunga at Seminggu Bertanya (Selasa) (15 years 6 weeks ago)
80

Gooddddddddd

Writer brown
brown at Seminggu Bertanya (Selasa) (15 years 6 weeks ago)
70

aku sempat terkejut dengan awal mula pertikaiannya, ada kesan mengada-ada, mungkin karena aku blm pernah melihat sendiri ada orang digebuki karena membawa mobil mewah ke warteg. tapi aku suka pesan yg disampaikan penulis.
satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita, INDONESIA!!!

Writer Littleayas
Littleayas at Seminggu Bertanya (Selasa) (15 years 6 weeks ago)
90

ini sepenggal tentang si kembar (aku lupa namanya) temennya bong sama bodhi kan??

great great...aku suka cerita ini.

don't judge the book by the cover yakan?