Seorang Pria Pemilik Penitipan Kucing

Namanya Pak Aris, pria yang membuka penitipan kucing itu. Aku pertama kali melihat sosoknya dua hari yang lalu, saat berangkat kerja. Ah, maksudku, baru sadar. Setiap hari sebenarnya aku lewat di depan gerobaknya, tapi saat itu kucing-kucing titipannya itu sedang bermain jadi yang nampak hanya seonggok terpal, bantal kecil berwarna merah lusuh, jaket kumal, dan piring seng. Pak Aris duduk di halte, nampak seperti orang menunggu bis yang tidak lewat-lewat, dan .. ya, karena itu, aku tidak menyadarinya.
Perkenalanku diawali sore hari kemarin, saat kucing-kucingnya sedang berkumpul untuk makan sore, dan Pak Aris sibuk mengatur agar semua kebagian jatah. Pemandangan yang mencengangkan di tengah pikuknya orang bekerja pulang sore hari -di Jakarta.

"Kucing yang dititipkan ke bapak itu, bagaimana asalnya? Mm..Bapak membuka penitipan kucing sejak kapan? Saat itu kucingnya berapa? Lalu bagaimana biaya mengurusnya? Bapak kerja apa?" semua pertanyaan itu berkecamuk dalam kepalaku, mengiringi intensitas rasa penasaran yang semakin memuncak. Namun aku menahan semua pertanyaan itu karena kulihat Pak Aris sedang asyik (dan sedikit kerepotan) mengurusi kucing-kucingnya yang tendang-menendang mengelilingi piring seng kecil di atas gerobak. Aku memilih untuk mengamati kejadian 'aneh tapi nyata itu' sebelum pertanyaan ala detektifku meluncur padanya.

Pak Aris sudah cukup tua, dilihat dari kerut wajahnya, aku menaksir umurnya ada di sekitar pertengahan enampuluhan.
"Saya baru lima puluh sembilan," jawabnya di tengah eongan anak-anaknya, seakan tahu isi kepalaku. Mulutku membulat. Kerasnya Jakarta menambah kerutan itu rupanya.
"Sudah enam tahun ini saya membuka penitipan kucing," dia terus bercerita tanpa kuminta. Kucingnya yang belang hitam putih ternyata yang paling nakal, menguasai semua permukaan piring itu sehingga Pak Aris harus menahan kepalanya menginvasi ruang gerak teman-temannya, dan mempersilakan kucing lainnya masuk ke area piring. Si kembang telon -totol kuning, putih, coklat-, si blirik -belang putih-coklat muda-, dan si sapi -warna bulunya mirip sapi, hitam putih dengan pola tidak teratur, memandang penuh terima kasih dan bersemangat menjilati piring. Ceceran nasi berserak di kaki-kaki kecil mereka.
"Awalnya tidak sengaja, Mbak. Tuhan memang Maha Baik. Dulu saya bekerja sebagai buruh angkut di pembangunan. Lalu saya dioperasi usus buntu," dia menunjukkan parut bekas operasi di perutnya," karena itu saya keluar dari pembangunan karena tidak kuat kerja berat setelah itu. Waktu saya sedang bingung, apa yang harus saya kerjakan untuk mencari makan, saya dipanggil oleh sipir penjara itu," dia menunjuk Rutan Salemba di seberang halte tempat kami berbincang.
***

"Pak, kemari sebentar," pria tinggi besar, berseragam hitam, dengan tongkat di pinggangnya itu melambaikan tangan kepadaku. Dua minggu yang lalu aku baru keluar dari rumah sakit setelah operasi usus buntu, dan sekarang aku sedang jongkok di depan rutan -di bawah pohon kamboja- dengan wajah kebingungan. Apa disangka Pak Penjaga itu aku mau berbuat macam-macam? Aku diam saja, tidak menanggapi panggilannya.
"Pak, ke sini..," panggilnya lagi. Kali ini aku baru melihat semu ramah di wajahnya, di balik tebal kumisnya. Setelah tengak tengok dan menunjuk dadaku, dia mengangguk, aku baru agak tidak takut dan berjalan tertatih menghampirinya. Perutku masih agak sakit.
"Y..ya Pak?" kuharap tadi selama aku berjongkok sambil melamun, aku tidak melakukan sesuatu yang dianggapnya salah. Walaupun aku tidak punya apa-apa kecuali semua yang melekat di badanku, melakukan kejahatan jauh dari pikiranku. Di luar dugaanku, Pak Sipir itu tersenyum ramah.
"Saya butuh bantuan Bapak, ayo kemari," dia mendahului berjalan di depanku, menuju semak-semak di belakang ruang penjaga.
"Astagfirullah..," aku membekap mulutku sedih.
Bapak itu membawaku pada seekor kucing mati, hmm.. dua ekor. Induk kucing itu menggigit anaknya, mereka berdua mati terlindas mobil, dan posisinya masih si anak kucing ada di mulut induk itu.
"Ada kucing beranak di halaman, dua minggu yang lalu. Saya biarkan karena mereka tidak menganggu. Lalu pagi ini mungkin induknya mau membawa mereka ke rumah aslinya, di bawah pohon depan kantor Depkes itu. Dia berniat menyeberangkan anaknya satu-satu. Tapi pada penyeberangan pertama, sebuah mobil melindasnya..," suaranya melemah sedih, ditingkahi lalu lintas Jalan Percetakan Negara yang memang ramai.
"Berarti... masih ada dua lagi anaknya..?" tanyaku. Pak Sipir itu mengangguk dan mengajakku ke semak sebelahnya. Aku mengintip ke bawah, dan nampak dua ekor kucing kecil cantik dengan mata masih rabun dan jalannya sempoyongan, ribut mengeong mencari induknya. Seketika aku jatuh hati. Kuambil seekor ke dalam pelukanku, kuelus bulunya yang sehalus sutra. Warnanya telon, hitam putih kuning. Satunya blirik, loreng coklat muda.
"Tepat dugaanku, bapak seorang yang lembut. Saya minta tolong Pak..pelihara dua anaknya ya, saya akan beri uang makan dan susu. Sekarang, mari kita kubur jasad induk dan anaknya yang satu..,"
***

"..begitu awalnya, Nak," Pak Aris membuang nafas berat, seperti terbawa sedih mengingat peristiwa itu enam tahun yang lalu. Mulai saat itu, dia memelihara anak kucing itu. Lalu ada orang penyayang kucing yang ingin menitipkan kucingnya karena dia harus pergi bolak balik Kerawang Jakarta melihat betapa tekunnya dia merawat dua anak kucing itu, lalu ikut menitipkan kucingnya dengan memberi biaya penitipan limapuluh ribu sebulan. Esok harinya, ada seorang pengamen yang kontrakannya ditimpa tanah longsor turut menitipkan kucingnya karena dia harus memperbaiki rumahnya dulu. Dan semakin banyak kucing yang dititipkan sampai berjumlah lima belas saat itu. Pak Aris merasa sangat bahagia, ternyata ada pekerjaan yang menyenangkan untuknya.
"Sekarang sudah banyak yang lulus, Nak..kucing-kucing itu banyak diambil yang punya lagi. Sisanya tinggal delapan ini. Dan itu," dia menunjuk kembang telon dan blirik,"..adalah kucing kecil yang saat itu ditemukan di semak," mulutku menganga, takjub dan heran juga terharu mendengar penuturannya.
"Kucing ini berkah, mereka ini anugerah buat saya. Dan, orang yang menyia-nyiakan kucing akan dapat celakanya," gumannya perlahan. Dahiku mengernyit.
"Iya Nak, sering ada cerita seperti itu, awalnya saya memang tidak terlalu percaya. Dulu, kucing titipan saya pernah main-main di penjual bakso pinggir jalan itu, lalu mereka menjilati tempat pembuangan sisa bakso. Karena dianggap menganggu, oleh penjualnya disiram kuah bakso yang panas!" aku bergidik ngeri membayangkannya.
"Mereka mati, Nak! Kondisinya kasian sekali! Kaki dan tangannya mengkerut, wajahnya kesakitan, mereka mati seketika," Pak Aris menarik nafas panjang.
"..seminggu setelah iu\tu, si penjual bakso itu jatuh dari sumur, dan manjadi bongkok cacat seperti posisi kucing itu saat mati. Itulah tulah kucing, Nak..,"
"Wah...," aku kehilangan kata. Luar biasa mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan betapa dalam cinta Pak Aris ini pada kucing peliharaan sementaranya.
"Lalu, makan Bapak sehari-hari..," tanyaku ragu. Pak Aris tertawa memamerkan deretan gigi ompongnya.
"Jangan kuatir Nak, saya dijaga kucing,"

Tin tin..
Suamiku sudah sampai di depan halte. Aku melambai, memintanya menunggu sejenak.
"Besok..besok saya mein lagi ya Pak," ujarku pendek, lalu aku teringat, tadi barusaja ada pembagian susu di kantor. Kuangsurkan dua kotak susu itu.
"Untuk si Buta, supaya cepat sembuh,"
"Alhamdulillah..," ucapnya penuh syukur, dengan mata berbintang yang selalu kukenang sepanjang jalan menuju rumahku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rijon
Rijon at Seorang Pria Pemilik Penitipan Kucing (12 years 19 weeks ago)
90

Iyah, cerita yg lumayan asyik.....dan cukup menarik!! Gud job sis!!

Kalo sempet mapir ke kisah, Trapped, aku yak!!

Writer dian k
dian k at Seorang Pria Pemilik Penitipan Kucing (12 years 20 weeks ago)
90

asyik sekali baca tulisan2mu. hal-hal biasa yang dituturkan secara luar biasa.

cuma satu hal di ujung, 'mata berbintang' itu seperti apa ya? setahuku biasanya untuk konteks begini, biasanya dipakai 'mata berbinar'.