Perjalanan Sebuah Mimpi

Kubuka mataku dan
kucari dirimu karena aku
membutuhkanmu

Di langit, di atas awan
Kucari dirimu, namun
tak kutemukan juga

Hingga putus asaku
turun ke bumi yang kotor
dan kulihat dirimu dalam dirinya

“Rin, kok bengong aja?”

“Eh? Ah, enggak. Gua lagi perhatiin pelajaran kok,” jawab Ririn kepada teman sebangkunya itu. Ia kemudian kembali memfokuskan diri kepada guru yang sedang berbicara di depan kelas. Tiga baris di belakangnya, Yonas tampak setengah tertidur di atas buku kimianya.

“Baik. Sebelum kita akhiri pelajaran hari ini, saya ingin mengumumkan program tutorial untuk kelas saya. Kalian yang memiliki nilai rendah akan dipasangkan satu-satu dengan yang nilainya tinggi,” kata sang guru. Kemudian ia membacakan beberapa nama anak-anak yang bernilai rendah beserta pasangan tutornya.

Bel berdering menandakan waktu istirahat. “Yonas, lu dipasangin sama Ririn tuh buat tutor kimia,” kata teman sebangku Yonas.

“Hah? Buat apaan?” kata Yonas yang baru terbangun dari tidurnya.

“Masih tanya lagi. Nilai lu kan amburadul,” kata temannya.

“Ah, gua enggak peduli,” balas Yonas. “Yuk keluar maen bola.” Kemudian ia bersama temannya berjalan ke arah pintu kelas. Belum sampai di luar kelas, Yonas mendengar Ririn sedang berbincang dengan temannya.

“Rin, lu gak apa-apa dipasangin sama Yonas? Tuh anak kan males sekali,” kata teman Ririn.

“Sudahlah. Jangan bicara seperti itu. Kalau dia mau, pasti dia bisa kok. Gua juga enggak keberatan kalau harus mengajari dia. Sesama teman itu harus saling membantu,” kata Ririn. Percakapan selebihnya tak didengar Yonas. Tapi ia tetap berjalan keluar kelas mengikuti teman-temannya.

*******

Ajari aku
Ajari aku merangkai kata
Ajari aku mengurai makna
dengan bahasa indahmu

Bawalah aku menjelajah dunia
Bukalah mata dan telingaku
Tuntunlah lidahku
Namun terlebih lagi, sentuhlah hatiku

“Sudah mengerti belum?” tanya Ririn di telepon.

“Belum. Coba jelasin lagi contoh nomor lima,” pinta Yonas di teleponnya. Besok adalah hari ulangan umum dan Yonas masih belum mengerti sebagian bahan yang akan diuji. Untunglah Ririn bersedia menemaninya lewat telepon hingga larut malam dan belajar bersama.

Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Keduanya masih berbincang-bincang di telepon. “Makasih banget yah, Rin. Lu baik banget deh. Kalo gak ada elu, bisa gak lulus gua besok,” kata Yonas.

“Ah, enggak apa-apa. Sekalian gua juga belajar kok,” balas Ririn sambil tertawa kecil. “Yakin lu udah siap?” tanyanya memastikan.

“Yakin,” jawab Yonas.

*******

Matahari yang bersinar terang
Bunga putih yang melambai
Kicau burung yang merdu di pagi hari
kini dapat membangunkanku dengan hati gembira

Dunia ini, tempatku tinggal
belum pernah terasa seindah ini
Dunia indah ini, tempat kita bertemu
kan kupersembahkan untukmu

“Ini apaan, Nas?” tanya Ririn terkejut. Yonas muncul di rumahnya malam-malam sambil membawa kotak yang terbungkus indah.

“Hadiah ulang tahun buat lu. Sekaligus tanda terima kasih. Buka deh,” kata Yonas sambil tersenyum lebar. Hadiah itu dibuatnya khusus untuk Ririn. Berminggu-minggu ia hampir tidak tidur berusaha menyelesaikannya tepat waktu. Dan malam ini, malam sebelum hari ulang tahun Ririn, ia berharap Ririn menyukai hadiah spesialnya.

“Ya ampun. Ini lu yang buat?” tanya Ririn tidak percaya. Di tangannya terdapat sebuah pot kecil dan di dalam pot itu, setangkai bunga merah yang indah. Namun bunga itu bukan bunga biasa. Yonas membuatnya dari kawat yang digulung kemudian dilapisi dengan benang wol merah yang lembut.

“Buat lu, bunga yang tak akan layu dimakan waktu, seperti kecantikan lu,” kata Yonas.

“Aduh makasih banget!!!” kata Ririn. Ia kemudian melangkah maju dan memeluk Yonas. Keduanya berpelukan erat.

******

Mari kita terbang bersama
dengan sayap-sayap yang telah kita latih
menuju ke dunia yang luas

Mari kita terbang bersama
menembus badai dan angin ribut
menyusuri gurun dan pegunungan rimbun

Hanya kau dan aku
dan dipandu mimpi-mimpi kita
mari kita terbang bersama

“Penumpang pesawat penerbangan nomor GA731 diharap segera menuju ke terminal penerbangan. Kami ulangi…”

“Makasih yah, Rin. Tanpa elu, gua gak mungkin bisa dapat beasiswa ini,” kata Yonas.

“Nanti kalau lu udah lulus, udah dapat kerjaan yang lu ingini, jangan lupa tanah air,” kata Ririn.

“Mana mungkin aku lupa. Kan di tanah air ada kamu,” ujar Yonas tertawa kecil. “Sekali lagi, terima kasih atas semua bantuannya.”

“Sama-sama. Sukses ya di sana,” jawab Ririn.

“Kamu juga. Ingat janji kita. Kita akan capai cita-cita kita bersama,” kata Yonas.

*******

Ingatkan aku lagi, kumohon
Ingatkan aku lagi mengapa aku di sini
Ingatkan aku lagi mengapa aku tidak di sana
bersamamu

Apakah senyummu masih seperti dahulu
dengan bibir merah merekah seperti bunga mawar?
Apakah tawamu masih seperti dahulu
ringan dan nyaring seperti kicau burung di pagi hari?

Ingatkan aku lagi, kumohon
Akan hari-hari yang telah kita lewati
Akan mimpi-mimpi yang kita miliki
Akan janji-janji yang telah kita buat

Karena aku lelah
Karena aku lemah
tanpamu di sampingku

“Ririn sayang…”

“Ada apa, Bu?” kata Ririn menjawab panggilan ibunya.

“Ibu dapat telepon dari keluarga Yonas. Nak, katanya Yonas…” Kata-kata ibu Ririn menggantung tak terselesaikan.

“Kenapa, Bu? Ada masalah dengan Yonas?” tanya Ririn mulai khawatir.

“Yonas… Sayang, Yonas meninggal,” kata ibunya.

“Ya ampun, Yonas! Kenapa, Bu?!” kata Ririn kaget.

“Katanya ia mabuk-mabukan lalu tertabrak mobil larut malam kemarin,” jawab ibunya.

WeHa
Juni 12, 2008
14:58

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 17 weeks ago)
100

Siiip... Kolaborasi yang baik puisi dan cerita.

Writer benz
benz at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 18 weeks ago)
80

Tokoh yang make dialog kok kata-kata yg lainnya malah jadi baku. Contoh : "Gua juga enggak keberatan kalau harus mengajari dia." Lebih enak bacanya kalo di-gaul-in aja semua ucapannya. Contoh : "Gua juga enggak keberatan kalo harus ngajarin dia."

Maap yah kalo sok tewek.. Hehe.. piss.
salam kenal Om wehahaha.

kalau ada waktu mampir2 ke cerpenku : Jalang Terlentang yaahh..

makasih banyak sebelumnya..

^_^

Writer Shinichi
Shinichi at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 18 weeks ago)
80

jahattt...

tapi emang gini yak kalo chicklit?

saia lom paham bener

Writer An Fana
An Fana at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 18 weeks ago)
50

ini komentar ngawur aja lho..soalnya aku bukan pembaca karya chicklit.

utk cerita chicklit, i think, km sudah cukup berhasil.

Writer alwafiridho
alwafiridho at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 19 weeks ago)
80

okeh2 boss
good! :-)

Writer Arra
Arra at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 19 weeks ago)
80

cerita ini seperti kepingan-keingan yang dijadikan satu.. unik! original! tapi disini waktu awal Yonas pake"aku" tengah tengah jadi "gua", hehhe. Tapi saya paling suka puisinya huhu

Writer donal
donal at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 19 weeks ago)
80

perpaduan yg indah. sebuah cerita rasa yg teenlit. Sip..! maju terus!

Writer vthree
vthree at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 19 weeks ago)
80

aq suka puisinya, keren!!! tp kok Yonasnya mati...???

Writer GodelivaSilvi
GodelivaSilvi at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 19 weeks ago)
90

Nice!perpaduan antara puisi dan cerita. unik banget, ga kepikir sebelumnya. nice work!
betewe, dengan karya segitu banyak, ga nyoba dibukuin tyuh? :D

salam kenal..

Writer dhewy_re
dhewy_re at Perjalanan Sebuah Mimpi (12 years 19 weeks ago)
80

weha...aku suka puisinya..:)