Episode Terakhir dari Perjalanan Lidya-Jana

Lidya mematung di depan kamar kost Mas Jana. Dia tahu, Mas Jana tahu dia ada di depan kamarnya. Tapi dia tidak membuka pintu sebelum Lidya mengetuk pintunya. Itu berarti Lidya memang ingin bertemu dengannya.
Hari ini adalah minggu ketiga setelah Mas Jana dengan bijak meminta Lidya menghentikan kisah cinta mereka. Dan Lidya setuju karena Doni yang sebentar lagi menajdi suaminya tidak pantas mendapatkan hati yang mendua saat mereka menikah.

"Lidya," ucap Mas Jana pendek. Dia berdiri di depan pintu, seperti tengah berperang batinnya: mempersilakan Lidya masuk atau di luar saja. Kamarnya menyimpan segala kisah cinta mereka, dan dia ingin Lidya (dan juga dia) tidak membangkitkan kenangan apapun saat ini.
"Mas Jana..nggak pergi?" pertanyaan bodoh. Bukannya sebelum kemari tadi dia sudah memebritahu mas jana via SMS kalau mau datang? Dia menunduk kikuk.
"Nggak, menunggumu," jawab mas Jana pendek, lalu menyerah pada rasa rindu yang dipendamnya.
"Masuk?" tawarnya berat. Karena jika Lidya masuk ke kamarnya, dia harus menahan diri lebih kuat lagi untuk tidak mengelus kepalanya. Dan mengatakan padanya betapa dia merindunya. Lidya tidak menjawab, tapi tangannya bergerak ke kakinya untuk melepas tali sandal cantiknya.

Di dalam kamar, hawa canggung menggantung. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ah!" Lidya memecah kebisuan, lalu mengambil sesuatu dari tasnya, mengangsurkan pada Mas Jana.
Sebuah undangan.
Mas Jana menerimanya tanpa berkata sepatah kata pun, membuka, membacanya, terdiam sejenak.
"Selamat, Lid, all the best for you," ucapnya tulus dalam senyumnya. Lidya memandangnya tanpa berkedip, menyesap setiap jengkal wajahnya. Yang segera akan disimpannya rapat-rapat dalam kotak hatinya.

"Mas aku pulang dulu," katanya akhirnya, setelah ruang kenangan itu semakin menyesaknya. Mas Jana mengangguk dan mengantarkannya sampai ke pintu.
Lidya memasuki mobilnya, dan menatap Mas Jana yang mematung di sana.
"Aku..," Mas Jana menghampirinya.
"Aku masih..,"
"..stt, sudah," mas Jana meletakkan telunjuk di bibirnya, menghentikan pengakuan bahwa dia masih sangat menyayanginya. Mas Jana tahu itu.
"Simpan saja di hatimu, seperti aku menyimpannya di hatiku. Yang terucap malahan akan jadi password untuk membawa kita ke dunia itu lagi tanpa kita bisa cegah. Dan itu yang tidak baik untuk semuanya. Kita nggak boleh egois,"
Lidya mengangguk perlahan, dan menahan air matanya.
"Sekarang, selamat jalan, selamat jadi pengantin yang paling berbahagia, aku ingin lihat senyumanmu yang paling lebar..," kata mas Jana.
Lidya menatapnya penuh terimakasih, tersenyum.
Mas Jana mengusap matanya. Ah, ternyata dia tidak berhasil mencegahnya tertimbun di balik kelopaknya.
"Kamu yang terindah, menguatkan langkahku," ujar Lidya pelan.
"Kamu juga. Selalu. Jadilah istri dan ibu yang hebat," dia melambai.

Mobil melaju pelan meninggalkan kenangan dan menyongsong niatan kuat mewujudkan segala impian yang sempat terhenti. Lidya dan Doni.
***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Makasi ya udah 'menjenguk' ke tulisan-tulisanku.

Punyamu yang ini, rasanya udah ok. Cuma, mungkin konfliknya bisa dibuat lebih naik, ada perdebatan di dalam diri keduanya, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri semuanya..

Terus menulis ya...

Cheers,
Patsy

70

ini pengalaman pribadi ya, hikss...

90

Padahal aku pengen membaca cerita ini agaak panjangan dikit biar dapat bacaan gratis darimu hehehe. Ini cerita bersambung ya? Tapi kok gak ada jilid atau bab-nya sich?

Btw, kalau mau makan siang di McD ajah wakakak

50

Sorry for this inconvenience: salah ketik di sana sini..keburu2 diburu laper makan siang... trimakasih sudah komen :D