6. The Unusual & The Extraordinary

Niwa mendorong Edo dari tubuhnya. Mereka berdua pun berdiri dan merapikan diri, bersiap-siap menghadapi masalah besar bernama Handoko, sang Kepala Sekolah yang terkenal galak itu.

‘Oh Tuhan, apa yang harus kukatakan?’ Niwa membatin sambil berusaha tenang. ‘Dan bagaimana bisa orang tua ini masih di sini? Bukankah ia dan beberapa siswa sedang berpencar mencari seseorang yang mereka curigai sebagai pelaku “ pembunuhan” itu? Dan, ah, ya, lagi-lagi Edo menambah daftar masalah untukku. Setelah memerangkapkanku di tempat yang keliru, kenapa ia harus jatuh dan menimpa tubuhku?’

“Bagaimana, Pak, pembunuhnya sudah tertangkap?” tanya Edo sambil membetulkan letak kaca matanya.

“Jangan mengalihkan perhatian!” tegas Pak Handoko. “Coba jelaskan apa yang baru saja kalian lakukan...”

“Kami...” serempak Niwa dan Edo menjawab, namun Pak Handoko malah berpaling memunggungi mereka. Sambil berlalu pergi, ia melanjutkan, “... di ruangan saya. Kalian bisa menjelaskannya di sana. Sekarang.”

Niwa dan Edo saling memandang. Tegang.

***

“Jangan panggil gue Gilbert kalo gue nggak bisa naklukin hati anak baru itu!” ungkap Gilbert jumawa sambil kemudian menyesap milk shake-nya. Saat itu suasana kantin sangat lengang. Selain para pemilik kios dan penjual makanan-minuman, hanya ada beberapa anak yang (biasa) membolos di jam pelajaran pertama, atau berdalih tak ada guru di kelasnya.

“Lo yakin, Bert?” tanya Almon yang duduk di hadapannya sambil meringis dengan luka di pelipisnya yang baru saja diplester. “Bodyguardnya galak gitu!”

“Bodo! Curut itu bakalan merengek dan sujud nyembah gue kalo dia tahu siapa Gilbert yang sebenarnya!”

“Emangnya lo siapa, Bert?” Almon tak bisa menyembunyikan tampang begonya.

Gilbert kesal dan nyaris menjadikan wajah Almon sebagai comberan milk shake, sampai keributan di luar menarik perhatiannya.

“Woi, ada apaan sih?” tak perlu waktu lama, Gilbert yang selalu menjadi pelari tercepat di setiap jam pelajaran olah raga itu kini sudah bergabung dengan kerumunan siswa di luar.

“A-ada pembunuh kkkabur dari tttoilet,” jawab seorang anak terbata. Selain karena capek berlari, juga karena tegang berhadapan dengan seorang Gilbert.

“Pembunuh?” Gilbert mengangkat sebelah alisnya.

“Ya, tttadi ada anak yang ngeliat seorang cewek lllagi nnnodongin pistol ke arah mayat di dalem toilet cowok,” papar anak lelaki yang bertubuh lebih pendek dari Gilbert itu.

Gilbert seakan baru menyadari sesuatu. Dua kali anak lelaki itu menyebut kata toilet, dan betapa ia baru menyadari bahwa sudah cukup lama ia dan Almon menanti Rock kembali dari toilet. Jangan-jangan... Rock...?

Sementara anak-anak lain meneruskan pencarian konyolnya (mereka lebih fokus pada tipuan si pelaku daripada memastikan keadaan di TKP, terutama si korban), Gilbert lekas melesat ke arah toilet.

“Bert, Gilbert, tungguin gue!” Almon yang bertubuh super ramping dan tinggi itu nampak ngos-ngosan, berusaha menyusul Gilbert.

***

“Sekali lagi saya bertanya, apa yang kalian lakukan tadi?” suara Pak Handoko meninggi, membuat Niwa sesaat menutup mata sambil mengeratkan bibirnya. Inginnya, ia menutup telinga juga. Hening setelahnya pun terasa masih menyisakan gema di ruangan yang berukuran lima kali tujuh meter itu.

“Bapak perlu jawaban apa lagi?” Edo yang duduk di sebelah Niwa nekat balik bertanya. Secara fisik, pemuda itu memang tidak meyakinkan. Tetapi, siapa yang tahu di balik semua itu, ia menyimpan sesuatu. “Baiklah, semoga ini menjadi jawaban terakhir dari saya: tadi, kami...” Edo melirik Niwa, mencari kekuatan dari wajah cantiknya, “kami hanya bergabung lalu tertinggal dari kerumunan para siswa yang sedang mengejar... ehm, ya, pembunuh itu. Dan, saat menuju tangga, terjadi kecelakaan kecil yang membuat saya menabrak dan... menimpa tubuh Niwa.”

Pak Handoko menggeleng pelan, nampak sangsi, “Kalian hanya memanfaatkan situasi. Bukan tindakan yang bijaksana, ketika orang-orang sedang kalang kabut dengan isu pembunuhan, sementara kalian berdua malah asyik-asyikan berbuat mesum...”

“Pak,” Edo menegakkan punggungnya, “saya sangat menghargai Niwa sebagai seorang perempuan. Dan demi Tuhan, saya tidak pernah sedikit pun berniat untuk berbuat yang macam-macam. Justru, saya selalu berusaha melindunginya.”

Mendengarnya, Niwa merasakan senyawa kimia di dadanya mulai bereaksi dan meletup-letupkan olahan rasa tak biasa yang membuatnya hangat sekaligus berdebar tak menentu. Betapapun akhirnya masalah demi masalah datang menghampirinya, Edo adalah sosok pahlawan yang selalu hadir menyelamatkannya. Dan, di balik kesederhanaan dan keapaadaannya, ada sebentuk mutiara luar biasa yang perlahan mencuri hati Niwa.

“Ya, apalagi Niwa adalah anak baru di sekolah ini,” lanjut Edo. “Saya kasihan padanya, Pak. Di hari pertamanya, bukan penyambutan positif yang kita berikan, justru sebaliknya.”

‘Kasihan?’ Niwa mengulang kalimat itu dalam hatinya. Oh, ya, ia merasa telah salah paham terhadap Edo. Sedikit kecewa, tetapi kemudian Niwa mencoba menyadarkan dirinya sendiri bahwa memang dirinya terlalu sempurna untuk pemuda sebiasa Edo. Yeah, Edo bukanlah siapa-siapa. Ah, syukurlah, ia tidak sedang jatuh cinta pada Edo. Tetapi, mengapa tiba-tiba ia seakan dihantui perasaan patah hati?

“Oh, jadi kamu gadis yang tadi mengahadap saya? Anak baru, siswi pindahan itu?”

Astaga, Kepala Sekolah ini benar-benar sudah pikun. Pantas, ada lapangan bola mini pada poros kepalanya yang dikelilingi rambut-jarang yang sebagian telah memutih. Niwa yakin, tak lama dirinya di sini, Pak Handoko akan segera pensiun.

“Ya,” anggukan Niwa membuat Pak Handoko kembali membuka arsip milik Niwa yang masih berada pada tumpukan kertas di mejanya. Cukup lama ia mengamati setiap lembarannya dengan ekspresi yang tak bisa dimengerti. Niwa dan Edo saling bertukar pandang, tak banyak berkomentar. Hanya hati mereka berkomat-kamit, berharap sesuatu yang lebih buruk tak akan terjadi.

“Ok, saya sangat menyesalkan hal ini terjadi,” akhirnya Pak Handoko berbicara, kepada Niwa, “dan terpaksa saya harus mempercayai pembelaan pemuda ini. Maafkan saya, Nona Niwa Sanjaya.”

Niwa hanya bisa terbelalak mendengar permintaan maaf Pak Handoko. Kepala Sekolah yang kukuh tak terbantahkan itu mendadak agak lunak, meski tetap masih bersikeras menjaga wibawanya. Sedangkan di mata Edo, jelas ini pemandangan yang sangat tidak biasa. Bahkan dalam mimpi sekalipun, Edo tak pernah sanggup menghadirkan bayangan Pak Handoko meminta maaf pada muridnya, seperti yang saat ini dialaminya. Hanya, diam-diam ia menyimpan kecurigaan tentang Pak Handoko, tentang jati diri Niwa.

Dengan hati bagaikan kertas ujian yang terdiri dari soal-soal yang luput pemecahan, Niwa dan Edo meninggalkan ruang Kepala Sekolah setelah dipersilakan. Terlebih ketika di ambang pintu, Pak Handoko menahan Niwa sejenak dan berkata, “Salam untuk Tuan Sanjaya.”

***Bersambung***

Read previous post:  
34
points
(1676 words) posted by nirozero 13 years 22 weeks ago
68
Tags: Cerita | cinta | dadun-niro | duet | terjebak! | toilet
Read next post:  
Writer heinz
heinz at 6. The Unusual & The Extraordinary (12 years 3 weeks ago)

Hm, gimana nih cara pasang anti copy-paste?

90

Penasarannnnnnnnnnn .... !!!

Ayo lanjutannya donk ...
Detik terus berdetak ... dan penasaran dihati ini malah giat menghentak-hentak.
Boleh juga ide pemenggalan plotnya. semakin memperkuat karakter rasa yang ingin dicurahkan.

Sip Kawan...

PS: Sori kemaren lgsg sign out, SPV tau2 dah berdiri di belakangku dan berdehem ria. Beuh ... kena deh SP 2 saya kemaren.

90

wah, kaang, lagi-lagi akang menyuguhkan sesuatu yang sangat menarik untuk abdi nikmati.

hatur nuhun.

Writer Arra
Arra at 6. The Unusual & The Extraordinary (13 years 17 weeks ago)
90

kayaknya saya kehilangan satu seri dari ceritanya NIwa deh... solanya dari yang terakhir saya baca bukan ini.. huhu.. tapi saya masih menikmatinya pak...ceritanya dan jalinan katanya khas dirimu

Writer orchid
orchid at 6. The Unusual & The Extraordinary (13 years 17 weeks ago)
90

keren, kenapa baru kali ini gue baca ya?
DADUN..yups such an unsusual and extraordinary you are..

salam kenal ya..

Writer nirozero
nirozero at 6. The Unusual & The Extraordinary (13 years 18 weeks ago)
100

Seru-seru!Keliatan banget jati diri Niwa yang sangat tinggi!

Bagus dun! Besok wa terusin deh! Eh, kalau abis posting kirim-kirim kabar kek pake sms. Akika kan nggak tahu kalau udah diposting.

n_n

40

Writer mel
mel at 6. The Unusual & The Extraordinary (13 years 18 weeks ago)
80

huaa Dun, saya sangat menikmati tiap kata yang kamu bangun menjadi sebuah cerita.. bener2 bagus! tapinya nanggung, pendek, hehee =) jadi penasaran.. yup, kayaknya masih panjang yaa ceritanya? seru seru kok! ga bikin bosen.. konflik yang dibangun banyak yang mengejutkan..

90

Kamu suka Thriller ya Dun, bagus tuh buat dibikin script film. Alus coy, kumaha ka lembang jadi?

maaf menggangu kang dadun,

boleh minta komentar dan kritik sarannya?

gertaklah aku wahai komandan

terima kasih.maaf menggangu.

Writer dhewy_re
dhewy_re at 6. The Unusual & The Extraordinary (13 years 18 weeks ago)
80

sepertinya masih akan lama untuk sampai di penghujung...;)