Loading... ... ... ... Mode Darurat Berhasil.


Ruangan itu dipenuhi dengan bahan-bahan logam, di atas lantai kabel-kabel berserakan, di sebuah meja besar, kertas-kertas yang berisi gambar sketsa ide teronggok kaku, beberapanya berupa bongkahan sampah. Namun sampah kertas itu bukanlah sebenarnya sampah, hanya sekedar ide brilian yang belum sempurna dari otak yang jenius.

Di dalam ruangan itu terdapat seorang gadis muda yang tengah duduk di dekat jendela. Meja kecil di depannya tak kalah berantakan. Ia memegang sehelai pres-monitor, yang menampakkan kode-kode tak beraturan, dengan kedua tangannya. Gelang-prosesor yang terbalut di pergelangan tangannya berkedip-kedip, itu pertanda ia sedang melakukan sesuatu di dalam komputer yang sudah didukung sistem infra-brain (mengambil perintah dari otak melalui urat saraf di pergelangan tangan, lalu diproses oleh gelang-prosesor, dan pada akhirnya tervisualisasikan di dalam pres-monitor).

Dari balik pintu ruangan itu muncullah seorang pemuda yang berkacamata tebal.
“Bagaimana, Profesor Rani? Apakah segalanya telah dipersiapkan untuk uji coba akhir?” dia adalah Pierre, pemuda berusia 19 tahun. Tiga bulan yang lalu ia mendapatkan penghargaan runner-up scientist muda Indonesia di awal tahun 2069 ini.
Everything is okay, Prof… Estimasi tercepat Sabtu, lima hari lagi. It will be ready in that time.”
Teman bicara pemuda itu bernama Rani, culturist yang seusia dengannya, yang mendapatkan penghargaan budaya di awal tahun yang sama. Hal itu didapatkannya berkat bukunya yang berjudul Membangkitkan Arwah Sejarah, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mengembalikan identitas bangsa, sesuatu yang entah sejak kapan terkubur.
Mereka saling memanggil dengan gelaran profesor karena merasa pantas. Pengetahuan dan IQ mereka berada di atas rata-rata pemuda Indonesia saat itu.

“Tidak bisa begitu, Ran! Sudah empat hari kita terlambat dari rencana awal. It must be finished before thursday, seminggu adalah waktu paling lama bagi sebuah keterlambatan. Apa lagi yang kurang?” pemuda itu melangkah menuju tempat Rani duduk.
See this. Ada masalah singkronisasi waktu dengan visualisasi tubuh,” ditunjukkannya layar pres-monitor yang memperlihatkan script pemrograman yang tak beraturan. Sekali lirik, Pierre langsung menyadari bahwa memang ada yang tak benar.
“Bukankah kita menginginkan pemakai mesin ini benar-benar merasakan berada di dunia itu, Prof?” sambung gadis muda itu.
Off course, Ran!” jawab pemuda itu tegas. Rani tak menyadari wajah Pierre yang memerah.
“Mungkin kita akan membutuhkan Clara sekali lagi, memastikan bahwa tiada yang MISS di dalam script ini,” saran Rani, dan wajah Pierre semakin memerah.

Damn! Buang-buang waktu. No more time for Clara, not anymore! Binatang tak berguna!!” maki pemuda itu menghempaskan topi brain-cooler dari kepalanya menuju sebuah kandang yang berisikan seekor tikus. Topi itu takkan cukup bergunan untuk mendinginkan otaknya yang sedang lelah dan emosi. Namun topi sintetis itu tak serta-merta pecah dihempaskan sedemikian rupa, agak berubah bentuk sedikit, lalu kembali ke bentuknya semula.
“Di dua kali percobaan terakhir tak ada masalah yang begitu berarti. Bagaimana sekarang bisa ada?!” kali ini ia meninju dinding.
I don’t know. Mangkanya kita butuh Clara sekali lagi, Prof!”
“Tikus sialan! Mengapa aku terlalu percaya dengan otakmu. Binatang ya tetaplah binatang!!” kembali ia melemparkan sesuatu ke arah kandang itu, penghuninya terkejut sekali lagi, dan berdecit kencang.

Don’t blame on her, Pierre! Salahmu sendiri yang tak bersedia menjadikan manusia sebagai simulator game ini!” setengah berteriak, Rani melepaskan gelang-prosesor dan berpindah tempat, berdiri di pinggiran jendela ruang apartemen itu. dari jendela ia memandangi Medan yang sudah sangat maju. Kereta api tanpa suara melesat, sekali tertangkap oleh pandangannya, lima detik kemudian telah jauh tak terlihat menyisakan aliran warna ungu di udara.
You knew why I did this. Tak ada lagi yang boleh mencuri ideku, no way!!” pemuda itu mengepalkan kedua tangannya, alisnya menaik ke atas. Ia melangkah menuju ke sebuah mesin logam berbentuk cangkang telur yang terbelah dua, wajahnya berkerut, matanya mengambang, giginya merapat.
“Yeah, masih saja kau ungkit masa lalu itu,” sambut Rani.

Pierre tidak bisa benar-benar dipersalahkan atas pendiriannya itu. tiga bulan lalu bisa saja ia mendapatkan gelar sebagai scientis muda terbaik Indonesia. namun idenya dicuri oleh Tung, pemuda cerdas yang berasal dari keluarga super kaya. Sebulan sebelum sayembara science diadakan, Tung mempublikasikan proyek robot pencetak gambar imajinasi (robot yang bisa menggambarkan apa pun yang dibayangkan oleh penggunanya). Ia mengaku bahwasanya proyek itu telah dikembangkan olehnya sendiri selama dua bulan terakhir, yang sebenarnya curian.
Ide murni proyek itu tentunya berasal dari otak Pierre, entah mengapa bisa bocor ke tangan Tung. Belakangan Pierre mengetahui bahwa Sheila, gadis yang dimintakannya untuk menjadi bahan simulator proyek itulah yang membocorkan idenya. Alhasil, tak akan mungkin Pierre bisa membuat robot yang sama dengan kualitas lebih unggul. Tung, lawannya itu, memiliki sumber dana tak terbatas. Dan Pierre harus mengakui bahwa Tung sangatlah jenius sebagai seorang plagiator yang super hebat. Saat itu ia hanya memiliki waktu sebulan untuk menciptakan ide baru dari otaknya. Bisa dipastikan, sama sekali tidak maksimal.

“Jadi apa yang harus kita perbuat, Prof?” tanya Rani yang masih memandangi Medan dari jendela apartemen. Pukul sepuluh malam dan jalanan masih terlihat ramai. Mobil-mobil bertenaga listrik lalu-lalang, semuanya meninggalkan jejak warna yang berbeda di udara.
“Baiklah! Ambil saja otakku untuk simulasi akhir!” pemuda itu tak menunggu sanggahan dari rekan proyek sainsnya. Segera ia masuk ke dalam mesin berbentuk cangkang telur yang terbelah dua itu, bersiap menekan tombol penutup.
“Hidupkan mesin ini, Profesor Rani!”
“Anda serius? Mesin ini belum sempurna, masih banyak kemungkinan resiko. Aku menolak!! Biar kulanjutkan sedikit lagi dulu,” seru Rani, menjauhi jendela dan kembali memasang gelang-prosesor di kedua pergelangan tangannya.
“Turuti saja perintahku, sayang. Atau kita putus!!”
“Agh… Mengapa kau selalu mengancamku seperti itu? Tetap saja aku menolak.”

“Baiklah…” pemuda itu keluar dari mesin dan mendekati sebuah tabung besar berisi jejaring enerji berwarna putih. Di sebelah kanan dan kirinya terdapat tabung lain yang jauh lebih kecil berisi jejaring enerji berwarna merah dan kuning.
Stop it , Pierre! Jangan nekad!” Rani mencoba mencegah pemuda itu melakukan niatnya, namun terlambat, pemuda itu telah memasukkan enerji merah dan kuning tadi ke dalam tabung utama.
Zwuuuurrrzzhh
Penggabungan jejaring enerji itu menciptakan percikan-percikan listrik yang menyala terang. Pierre telah terlebih dahulu memakai kacamata hitamnya sementara Rani tidak, gadis muda itu menutupi kedua matanya dengan telapak tangan dan merasakan pedih yang tak akan hilang setidaknya sampai sepuluh menit kemudian, cukup untuk Pierre mengaktifkan mesin itu tanpa gangguan.

Permainan: dimulai. Masukkan nama pengguna Anda.
Mesin berbentuk cangkang telur yang telah menutup sempurna dengan kaca transparan di bagian kiri itu mengeluarkan suara musik bernuansa melayu, sesuatu yang hampir tak pernah terdengar lagi di masa ini. Pemuda itu mengetikkan sebuah nama – NAGA BONAR – Klick!
Pilih plot yang akan dimainkan:
- Legenda Danau Toba
- Legenda Meriam Puntung
- Legenda Putri Hijau
- Klick di sini untuk mendapatkan pilihan lebih banyak

Pemuda itu menekan pilihan pertama – LEGENDA DANAU TOBA – Klick!
Pilih plot yang akan dimainkan:
- Legenda Danau Toba
- Legenda Meriam Puntung
- Legenda Putri Hijau
- Klick di sini untuk mendapatkan pilihan lebih banyak

“Hei! Aku sudah memilih, mesin sialan!!” maki pemuda itu.

Dengan terpaksa ia kembali memilih, kali ini – LEGENDA MERIAM PUNTUNG – Klick!
Pilih plot yang akan dimainkan:
- Legenda Danau Toba
- Legenda Meriam Puntung
- Legenda Putri Hijau
- Klick di sini untuk mendapatkan pilihan lebih banyak

Got damn it!
Bug… Brakk…!! “Come on! Kemarin malam kau bisa lebih jauh daripada ini!”
Request ERROR
Bug… Brakk…!!
Pilihan diterima… harap tunggu sejenak, Anda akan ditransformasikan…
“Ini dia yang kutunggu.”

Harap tunggu sejenak… … … Loading… … … loading… … … loading… … Processing…
Harap tunggu sejenak… … … Loading… … … loading… … … loading… … Processing…
Harap tunggu sejenak… …
Bug… Brakk…!! “Gosh ! Ada apa denganmu? Mengapa lama sekali?!”
Bug… Brakk…!!
……………
Fatal ERROR… Fatal ERROR… Persiapan mode darurat… 50… 49… 48… 47…

“Apa-apaan ini? Apa itu mode darurat?! Rani… hentikan supply enerjinya…!” teriak Pierre mencoba berkomunikasi dengan Rani. Ia lupa mengaktifkan loud speaker mesin itu. Gerakan tangannya yang menyilang tak cukup dimengerti oleh Rani.
“Apa? Abort atau mode rahasia?” jerit Rani yang matanya telah sembuh dari keterkejutan jejaring enerji tadi. Ia mempertanyakan maksud sebenarnya dari kode yang diperagakan oleh Pierre. Mereka memiliki kode rahasia dalam mesin game adventure itu yang bernama : Mode X.
Abooort!!” jerit Pierre. Namun percuma, mata Rani masih belum dapat melihat dengan sempurna akibat keterkejutan tadi, ia tak mengerti.
“Apaaa???” dan Rani tak mau gegagabh untuk menghentikan mesin itu, karena Pierre akan sangat marah jika ia kembali salah mengerti.

7… 6… 5…
Abooooooooort!!” jeritan terakhir dari Pierre tertelan oleh asap, yang tercipta sesaat sesudah NOL disebutkan oleh mesin itu. sesaat sebelum asap itu muncul, sempat dilihatnya senyuman puas terukir dari bibir Rani… Apa maksud dari semua ini?, hatinya bertanya-tanya.
Mode darurat berhasil… … … … Loading komponen data…
Pengiriman… … …
Transformasi data… … …
Pengiriman… … …
Transformasi tubuh…

Brakkk!!!
“Ough! Di mana aku?”

*** bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

akan dilanjutkan...

70

Di awal awal cerita sempat terganggu dengan bold dan english-nya nih bung. Mending di taruh sebagai catatan kaki bukan yang bold itu?

Sebenernya tidak ada bagian yang lucu dalam cerita ini, NAGA BONAR; Legenda Danau Toba; dst; itu bukan sesuatu yang lucu namun karena KAU yang menulisnya jadilah gua tersenyum. Saya punya patron untuk ini : -Kejenakaan dalam setiap cerita Super X. -

HARUS dibuat nih kelanjutannya, kalau engga gua kecewa berats nih bung.

70

he..he.. selalu lucu, tapi ada yang kurang ya. aku lebih asik membaca ceritamu yang lain terutama kesialan beruntun itu

90

wah Mas Amri mencoba tantangannya adrian ya? Boleh juga tuh icip2 tantangan orang lain.

Hell, sci-fi kental banget ya. Genre ini adalah aliran Cyberpunk. Penulisannya hebat sekali. Aku ga bisa nulis ky gini. Takut dianggap sok tahu.

Oh ya, aku mendapat kesan menarik di akhir cerita. Permainan simlator di akhir cerita itu memberiku kesan video game "Assassins Creed"

100

hehehe
tapi tetap aja bikin ketawa.
ada dialog yg pake kata, mangkanya, Om!
secara yg lain pada ngomongin Hi-Tech and blablabla. Bagus neh. Tapi, saia malah kena kontaminasi cerita yang lain neh. Tentang Mba' Yosi.
Ahak...hak...hak...
kebawa juga kesini.

Hmmm, kadang saia pikir cerita yg gini itu adalah cerita buat anak-anak SMP ke bawah. Tapi, ternyata melihat penulis kawakan k.com yg atu ini, bener-bener menyediakan cerita yang cepat alurnya dan gress gituh...

Lanjut deh, Om!

90

waadduuhh,, >.<
kerasa banget science nya, bang. Sy terbawa, smpai ikut berimajinasi.
Idenya juga masih fresh, byk hal baru di sini..
;)
salut buat bang amri!

90

Huehehehe...kayak lagi nonton film, mas.

70

Cerita yang menarik, hanya saja agak terganggu dengan penggunaan bahasa Inggris di cerita ini. Pendeskripsiannya sudah mendetil, tapi masih bersifat tell not show . Mungkin akan lebih baik jika si tokoh melakukan sesuatu dengan alat2 canggih itu, daripada dijelaskan oleh penulis.

Btw ada beberapa typos tuh. Click atau Klik, bukan Kclik hehehe...

-ditunggu lanjutannya-

90

huaaa.. keren banget!
saya ikut berimajinasi tentang kecanggihan2 itu. wow .. keren Om!
tapi saya sedikit terganggu dengan kata-kata yang di bold..
di ending saya masih bingung sebetulnya.. tapi ceritanya bener-bener seger, idenya brilian..