~Identity \\ kekuasaan~

--------------------------------------------------------------------------------------------
[ Kekuasaan ]

Hukum. Apa itu hukum?

Undang-undang. Apa itu undang-undang?

Aparat negara. Siapa mereka?

Pejabat negara. Apa itu?

Bukankah semuanya itu merupakan hal-hal yang seyogyanya diketahui oleh warga negara yang baik? Hal-hal yang sederhana, begitu dekat namun begitu jauh. Begitu diagungkan namun begitu dilalaikan. Sangat dihormati namun tidak pernah dapat menghormati yang menghormatinya.

Rumit bukan? Inilah yang mengawali hidup Sura hari ini. Setelah bergumul kembali dengan susahnya bangun pagi dan meninggalkan bantalnya yang memberikan segala kenikmatan sepanjang malam, akhirnya untuk satu hari lagi ia berhasil memaksa dirinya bangun. Bangun untuk kembali menjalani kehidupan. Bangun untuk menjalani hari. Bangun untuk SEKOLAH! Satu hal yang entah kenapa dibenci Sura, meskipun ia tahu bahwa sekolah sangatlah penting (demikian kata orang tuanya selalu...) dan ia tidak mau masa depannya menjadi suram.

Maka ia berhasil menarik diri ke meja makan. Kembali menghadapi si singkong dan teh yang kini telah menjadi sahabat barunya, bukan lagi musuh. Namun baru saja ia akan menggigit singkong itu, suara ayah Sura menggelegar di seluruh rumah...

„APA-APAAN INI? BELOM DISIDANG UDAH DIBUNUH? GILA YA!!“ seru ayahnya, sambil tetap menatap lekat-lekat artikel di koran tersebut.

„Ada apa sih Pak,pagi-pagi udah teriak-teriak segala? Kaya politisi aja…” komentar Sura dengan mulut penuh singkong dan belepotan teh.

“Kamu liat sini! Sini,sini! Baca nih!” seru ayahnya lagi.

Sambil tetap mengunyah singkong, yang rasanya makin nikmat saja (hmm…) Sura melangkah mendekati ayahnya, mengambil koran dan membaca berita yang ditunjuk oleh ayahnya.

“Seorang pemuka agama pagi ini baru saja dieksekusi hukuman mati di Doaman. Menurut salah seorang saksi, yang juga bekerja di LP tersebut, orang tersebut diduga kuat terlibat dalam sindikat keagamaan yang bertujuan menghancurkan norma-norma serta adat-istiadat di Edosia. Beliau, lanjutnya, merupakan salah seorang orator yang selama ini mempergunakan umat-umatnya sebagai alat untuk menyalurkan aspirasi. Orasi-orasinya di beberapa kota di Edosia telah menimbulkan kecurigaan Pemimpin negara, dan oleh Pengadilan Maha Tinggi Edosia dijatuhi hukuman mati. Diduga ada kecurigaan politik uang, dan dinilai ada hubungannya dengan kritik-kritik pedas olehnya dan anggota-anggotanya.
Lebih lanjut, Pemimpin telah mengeluarkan perintah untuk memberantas segala tindak-tanduk kritisasi terhadap Pemerintahan Edosia, terutama kritik-kritik yang tidak membangun negara. Proses eksekusi ini orang ini, oleh para pengikut-pengikutnya akan dilaporkan ke badan perlindungan HAM luar biasa, yang berpusat di Vaenge. Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi perihal hal ini dari Pemerintah Edosia, dan para pengikut-pengikut beliau berharap segera keluar pernyataan resmi, yang akan dijadikan sebagai salah satu bahan tuntutan yang akan diajukan pada badan perlindungan HAM luar biasa.”

“Loh, kok rasanya aneh ya Pak? Ini orang cuman ngasih orasi kok dieksekusi?” tanya Sura.

“YA ITU! Menurut kamu ada apa aja perangkat hukum di negara ini?” ayahnya bertanya balik.

“Umm… undang-undang, peraturan Pemerintah, aparat, ya gitu-gitu deh pak. Maksudnya itu?”

“IYA! IYA ITU MAKSUDNYA! Sekarang kalau segala hal-hal yang harusnya bisa dipakai untuk perlindungan rakyat malah berbalik menyerang rakyat, terus apalagi yang bisa dipercaya di negara ini? Darimana lagi rakyat dapat meminta kekebalan hukum kalo negaranya aja udah nggak bisa ngasi jaminan keamanan HAM lagi?” jawab ayahnya.

“Ooh,iya juga ya…” jawab Sura.

Setelah itu ayahnya beranjak pergi, bersiap-siap untuk pergi kerja. Sura pun bergegas bersiap menuju sekolah.

Sepanjang perjalanannya ke sekolah, kata-kata ayahnya terngiang-ngiang di benaknya. Betapa mengerikan yang terjadi di negara ini, pikirnya. Semua orang yang memberikan kritik pada negara dieksekusi, setidaknya mendapat hukuman berat. ‚Aneh’, pikir Sura, dikritik kok malah marah? Kapan mau maju negara ini kalo nggak pernah menghargai kritik? Sedangkan di forum penggila game saja, berapa banyak kritik yang pernah diterima Sura gara-gara salah memberikan kode untuk membuka suatu teka-teki? Ratusan. Bahkan semuanya itu berisi hujatan dan kutukan yang sangat menyayat hati (namanya juga maniak, tidak heran hal-hal seperti ini terjadi,hehe...). Namun justru dari situlah Sura menyadari kesalahannya, dan ia mulai lebih teliti dalam membuat panduan untuk suatu game. Bahkan sekarang panduannya menjadi salah satu favorit di forum, yang membuatnya seringkali kewalahan dalam membalas e-mail dari para penanya.

-----*-*-*-----

Sekolah terasa berat hari ini. Apalagi hari ini ada pelajaran etika. Salah satu pelajaran yang dapat membuat siswa manapun berpikir untuk segera lulus, atau – paling tidak – membolos untuk jam pelajaran itu saja. Tapi ide ini tidak akan pernah terwujud, karena pengajarnya merupakan kepala sekolahnya. Ya, Pak Eman, demikian namanya, merupakan salah seorang yang tegas dan keras. Meski demikian anak-anak menganggapnya berpikiran kolot, sangat tidak berperi-kemuridan. Bahkan Ia dapat saja mengusir murid yang ketahuan mengobrol ketika Ia berbicara, meskipun dengan gelombang infrasonik sekalipun.

Tentunya semuar murid berharap bahwa mereka dapat mendapat kepala sekolah baru. Namun apadaya, aspirasi mereka tidak akan mungkin didengarkan, kecuali –ya, KECUALI dan HANYA – orang tua mereka mampu untuk membujuk rayun dirinya. Setidaknya pernah, atau seringkali memberikan bantuan.

Ya, BANTUAN. Dalam bentuk apa?

Moral? Tentunya tidak.

UANG. Tentu saja. Di Edosia, terutama di kota Kajark, uang merupakan hal yang dapat diatas namakan, dipertuan agungkan, daripada subyek manusia sendiri.

Hal ini tentu saja sudah tercium oleh para murid, dan staf pengajar. Namun mereka tidak memiliki daya untuk melaporkannya. Mau melapor pada siapa?

Mungkin hari itu akan menjadi suatu hari yang biasa saja, di mana Pak Eman akan mengakhiri pelajarannya dengan khotbah singkat, yang intinya Ia memberi wejangan pada murid-muridnya agar menjadi lebih baik (menurutnya) dan lebih beretika (menurutnya juga). Namun hari itu sesuatu yang luar biasa – menurut Sura – terjadi.

Hari itu Pak Eman datang terlambat. Biasanya Ia sangat tepat waktu soal jam perlajaran. Merasa Pak Eman tidak akan hadir, beberapa anak mulai meninggalkan kelas, dan duduk-duduk di selasar kelas. Bercanda-canda, ngobrol, atau membaca. Apapun itu, tiba-tiba Pak Eman datang. Jelas kelihatan bahwa Ia sangat terburu-buru dan nampaknya panik. Ketika Ia melihat murid-murid tersebut berada di luar kelas, air mukanya berubah 180 derajat. Sura belum sempat membayangkan apa yang akan terjadi, ketika...

“APA-APAAN KALIAN INI?! KENAPA DI LUAR KELAS? MASUK! MASUK, CEPAT!!” teriak Pak Eman, dengan suara setaraf gemuruh petir.

Setelah semua murid masuk di kelas, ia membanting bukunya di atas meja guru. Beberapa orang murid tersentak kaget, dan semuanya menjadi tenang dan hening.

“KALIAN MERASA SUDAH HEBAT, HAH? KALIAN ITU MASIH MURID! MASIH MURID! MASIH MURID!!!
NGGAK USAH GAYA-GAYA SOK JAGOAN, NGGAK, NGGAK USAH KATA SAYA!
Kalau kalian merasa nggak butuh lagi di sekolah ini, SILAHKAN KELUAR! Saya tidak akan segan-segan MENGELUARKAN KALIAN! Kalian ini MASIH MURID, tuntutan kalian untuk DIDIDIK! Kalau tidak mau dididik, SILAHKAN KELUAR SEKARANG! Saya TIDAK BUTUH MURID seperti itu, MENGERTI KALIAN ?!
KAMU YANG DI POJOK!!! NGGAK USAH KETAWA-KETAWA! INI HAL YANG SERIUS!!!”

Demikian amukan sang KepSek menggelegar bagai petir di siang bolong. Setelah mengamuk, Ia pergi meninggalkan kelas, membanting pintu, dan tidak kembali lagi. Namun tidak ada seorangpun yang berani meninggalkan kelas. Ya, semuanya masih terdiam.

Tidak ada wibawa yang terpancar dari Pak Eman. Yang ada adalah ketakutan akan kekuasaannya yang dapat menghancurkan masa depan seseorang.

Saat itulah Sura teringat akan artikel yang dibacanya tadi pagi. Betapa sang pemimpin begitu murka, sampai-sampai mengeksekusi sang pemuka agama tersebut. Ia tersadar bahwa negara ini telah menjadi negara yang otoriter. Pemimpin adalah satu-satunya hal yang benar, dan tidak ada yang boleh menentang negara.

Pak Eman, dalam bayangan Sura, justru lebih parah lagi. Ia bahkan bertindak sebagai pimpinan yang sifatnya absolut totaliter. Semuanya harus mengacu padanya, harus mendukung tindak-tanduknya, dan tidak ada yang boleh membantah, apalagi KRITIK! Mungkinkah Edosia begitu rusaknya, bahkan sampai jenjang sekolah pun ada cerminan dari pemimpin yang otoriter?

Kalau sudah begini, siapa yang bisa dipercaya? Kalau sudah begini kapan Edosia mau maju? Apakah ingin tetap tertinggal dari negara-negara lainnya?

Sura terus membatin, sampai akhirnya bel pelajaran selesai berbunyi, menandai berakhirnya jam sekolah.

Sepanjang perjalan ke rumah, Sura terus memikirkan hal itu dan ia bertekad bulat, untuk mengingat-ingat satu hal.

Satu hal yang utama, yang dapat mengacaukan pikiran seorang manusia, yaitu...

Rasa haus akan KEKUASAAN.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Read previous post:  
66
points
(1180 words) posted by picsou 14 years 22 weeks ago
82.5
Tags: Cerita | kehidupan | belajar | makan | miris | sekolah
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer layaty
layaty at ~Identity \\ kekuasaan~ (12 years 43 weeks ago)
80

cerita yg bgus

Writer KD
KD at ~Identity \\ kekuasaan~ (14 years 21 weeks ago)
100

pemilihan nama-nama tokoh dan tempat menarik

Writer maximillian
maximillian at ~Identity \\ kekuasaan~ (14 years 22 weeks ago)
60

OK sih, tapi kok rasanya gak kayak baca fiksi ya...

Muatannya terlalu berat.

Writer nirozero
nirozero at ~Identity \\ kekuasaan~ (14 years 22 weeks ago)
80

Hebat!!! Emosinya kerasa banget!

Kip writing yaq!

Writer Armila_astofa
Armila_astofa at ~Identity \\ kekuasaan~ (14 years 22 weeks ago)
80

Jarang lho kemudianers yang ngangkat tema sosial seperti ini.
aku liat tulisan-tulisanmu bertema seperti ini.Terus terang aku sangat suka.Dan aku sebenarnya pengen buat tulisan2 seperti ini cuma tidak bisa.
Semangat ya.
Setuju dengan brown

Writer brown
brown at ~Identity \\ kekuasaan~ (14 years 22 weeks ago)
70

jadi Picsou suka dengan tema2 sosial ya? oklah, lanjutkan perjuanganmu! Kuberi '7' untuk keperdulianmu, meskipun hanya dalam bentuk tulisan.

Writer wehahaha
wehahaha at ~Identity \\ kekuasaan~ (14 years 22 weeks ago)
100

Mirip banget sama basQ! =P Kira2 user laen, terutama yg di jakarta dan masih sekolah, perlu dikasih tau gak tokoh ini sbenernya siapa? ^^