Formula Sederhana untuk Hidup Bahagia

Pagi ini pukul lima kurang aku sudah bangun. Hebat, setelah beberapa pagi aku berusaha bangun lebih awal dari suamiku dan gagal, hari ini aku berhasil. Aku berjingkat menuju dapur dan mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas. Sarapan pagi ini orak arik sayur dan ayam semur. Bekal makan siang kami bihun goreng dan telur kornet. Tidak terlalu rumit untuk pemula. Ah ya, jangan lupa, sebelum semuanya dimulai, aku menjerang air untuk teh hangat pembuka mata -istilah keren yang diciptakan suamiku.

Tak berapa lama kemudian, pria bermata lembut dan punya senyum jenaka itu menyusulku ke dapur, wajahnya berseri melihat segelas teh terhidang di meja dan mencium tengkukku.
"Terimakasih Bunda..,"
"Sama-sama..Ayah, mandi gih,"
"Mau setrika dulu, Bunda mau pakai baju yang mana?"
"Hm..udah Nda setrika kok kemarin, baju Ayah aja,"
Lalu dia melongokkan kepala ke wajan yang menguarkan bau harum tumisan bawang.
"Ayam semur, Bunda? Istimewa..," dia mencium pipi kananku. Kusorongkan pipi kiriku, dia tertawa.

Pukul tujuh kurang sedikit, kami selesai sarapan dan bersiap meninggalkan rumah.
"Berdoa dulu, Bunda, biar hari ini lancar," kami pun bergenggaman tangan dan mendaraskan doa pendek sebagai ajimat hari ini.
"Oiya ada yang lupa..," ujarnya seperti teringat sesuatu, menepuk jidatnya.
"Apa, Ayah?"
Dia melirik jenaka.
"I love you, Bunda..,"
Aku jadi speechless.

Jalanan sudah mulai ramai tapi kami lewat jalan tikus sehingga tidak terjebak macet. Sepanjang jalan, kadang kami diam, kadang kami bercakap ringan.
"Ayah," ujarku dibalik punggung lebarnya.
"Hm?"
"Kenapa ya, ada orang pingin bunuh diri? Padahal hidup ini begitu lengkap?"
Suamiku terdiam sejenak. Walau mungkin aneh mendengar pertanyaanku, tapi dia sudah biasa kuhujani pertanyaan spontan yang kadang tidak nyambung dengan apa yang sedang kami amati atau bicarakan.
"Sedih yang terlalu, mungkin?"
"Hidup ini kan seimbang, Ayah.. kalau sekarang sedih, pasti nanti bahagia,"
"Itu kan teori, Bunda. Kalau orang baru ada di jurang sedih, dia sulit memikirkan hal ini akan berlalu,"
Aku gantian terdiam. Aku pernah merasa sangat sedih, atau putus asa, tapi kupikir itu hanya sesaat. Pun ketika pertama kali aku didagnosis HIV positif, kupikir ini adalah awal dari perjuangan panjang. Putus asa, tapi tidak sampai mau mati. Apalagi kami hampir menikah.
"Atau merasa sendirian, Bunda?" sambung suamiku, pria yang tanpa menyerah melamarku saat itu, meyakinkanku bahwa status HIV positifku tidak mengurangi cintanya, bahkan menggandakannya.
"Hmm..mungkin itu lebih masuk akal, Ayah..," aku mempererat pelukanku di perutnya yang mulai membuncit ('gara-gara dimasakin bunda tiap hari' elaknya).

Kami sampai di depan kantorku, aku turun dari motor dan mencium tangannya.
"Bunda," panggilnya saat aku baru mau melangkah.
"Semoga pertanyaan Bunda tadi bukan dari diri Bunda ya. Bunda gak pingin bunuh diri kan?" aku membelalakkan mata.
"Enggak ayah! Kamu itu energiku terbesar untuk hidup," dia tersenyum.
"..ingat formula bahagia kita. Itu alasan sederhana untuk membuat kita semakin ingin hidup," dia mengirimkan kecupan jauh untukku, lalu melaju menuju kantornya, sepuluh menit dari kantorku.
Aku berjalan pelan dan meresapi kata-katanya barusan.

Ya, formula bahagia kami berdua yang sangat sederhana.
Terimakasih -wujud syukur.
I love you -wujud penyadaran kehadiran satu sama lain.
Jalani -hari ini adalah berkat, masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah misteri. Tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, tidak ada masa depan yang bisa ditebak.

Aku mengembangkan senyum paling lebar, siap menyongsong hari.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

:''( mengharukan...

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Formula Sederhana untuk Hidup Bahagia (12 years 15 weeks ago)
80

Kisah ini membuatku merasa damai.

90

aku suka....
thanks silvi

Writer Rijon
Rijon at Formula Sederhana untuk Hidup Bahagia (12 years 16 weeks ago)
80

Iya, aku suka!! Tapi sayang, deskripsinya terlalu tipis menurutku ^o^

LANJUT!!!!

Writer Villam
Villam at Formula Sederhana untuk Hidup Bahagia (12 years 16 weeks ago)
90

formula sederhana, tapi sering dilupakan. ah... aku suka pesan-pesan ceritamu, silvi. aku bakal sering mampir nih...

50

*Arra: makasiy Ra, untung kamu suka ;)
*just_call_me_be: iya dong, hiidup kan hakekatnya supaya manusia bahagia, dan itu tergantun gkacamata kita. iya ndak?
*Aura: hehe benarkah? (*tersipu-sipu*) tulisanmu kutunggu lho..kok belum posting?
*mas Bam: lho..yang namanya pemula kan coba-coba terus hobinya mas... ;D
*man Atek: selamat mencoba!!

hmm..hidup itu pasti nyammi..

Writer man Atek
man Atek at Formula Sederhana untuk Hidup Bahagia (12 years 17 weeks ago)
100

wich .. perlu dicoba nech !

80

Hehehe perutnya buncit karena masakan bunda, berarti Bunda bukan pemula dunk dalam dunia masak memasak.

Hidup ini indahnya tanpa rasa sakit. Bersyukurlah dengan anugerah sehat.

Cerita yang bagus.

Writer Aura
Aura at Formula Sederhana untuk Hidup Bahagia (12 years 17 weeks ago)
80

Tulisannya indah dan menyentuh sekali...
:)

70

Bagus. Sarat dgn pesan yg bagus.
Hidup emg harus bahagia.
Hehehe

Writer Arra
Arra at Formula Sederhana untuk Hidup Bahagia (12 years 17 weeks ago)
70

sipp... aku suka pesan yang disampaikan