Formula Sederhana untuk Hidup Bahagia (part 2)

"Ayah, kenapa orang harus berpikiran negatif?" tanyaku sore itu, sepulang kerja, sekitar pukul lima seperempat, di balik punggung suamiku yang sedang berkonsentrasi mencari jalan tikus supaya kami tidak terjebak macetnya arus pulang menuju Bekasi.
"Hmm...kenapa ya Nda?" dia balik bertanya dengan nada geli.
"Supaya orang selalu alert kali, Nda..waspadalah, waspadalah..," lanjutnya, menirukan nada Bang Napi. Aku mengerutkan kening.
"Waspada gimana Yah?"
"Tunggu.. sebelum Ayah jawab, Nda bilang dulu alesan Bunda tanya itu. Ada hubungannya nggak dengan pertanyaan Nda tadi pagi, kenapa orang pingin bunuh diri?"
"Mmmh..dibilang ada, ya ada..dibilang nggak ya nggak..,"
"Maksudnya apa, Nda?" aku terdiam sejenak, menyusun kata-kata.
"Begini Yah, tadi malem waktu Nda online, Nda dapet email dari temen Nda yang pingin bunuh diri,"
"Sesama HIV positif?"
"Bukan, dia dokter,"
"Lha alasannya pingin bunuh diri kenapa?"
"Mm..dia merasa hidup ini 'gelap'. Hidupnya serasa nggak ada progress lagi,"
"Kesepian juga, dia?"
Aku lagi-lagi terdiam. Runi, kesepian? Dengan seorang suami yang baik, manajer bank, anak sepasang -cowok dan cewek- yang lucu, patuh, pintar, praktek dokternya lancar, pasiennya banyak, dan jangan lupa, dia pun cantik di pertengahan usia tigapuluh tahun...
Apa Runi kesepian?
"Menurut Nda sih, nggak..dari kenampakan luarnya loh. Nda nggak tahu yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupannya sih..,"
Aku melihat kepala suamiku manggut-manggut. Hari ini kami berhasil menembus padatnya Kali Malang dengan cukup sukses.
"Lalu, hubungannya dengan pertanyaan Nda tentang berpikir negatif?"
"Nha itu Yah! Yang buat Nda heran, siang ini kami ketemu di chat room, dia curhat lagi tentang keingingan bunuh dirinya itu. Dan dia bilang Yah, hidupnya jadi statis karena selama ini dia selalu berpikiran positif, dan apa yang terjadi di hari-harinya adalah hal baik saja. Dia pingin mengubah pikiran positifnya jadi negatif, supaya kadang dia mengalami hal buruk dalam hidupnya,"
"Ayah bingung..,"
"Sama..,"
Kami terdiam sampai di rumah.

"Mau dimasakkan apa untuk makan malam, Ayah?" tanyaku sambil meneliti sisa persediaan sayur dan bahan mentah kami di kulkas. Masih ada wortel, loncang sledri, kembang kol, bayam, tomat, tempe.. (sebagai seorang HIV positif, aku harus banyak makan makanan sehat, bukan? ;D)
"Bunda," jawabnya pendek, sambil meraih gantungan baju dan menggantung seragam kantornya.
"Dimasakin.. lho kok dimasakin Bunda, sih?"
"Iya, Ayah kan pingin makan Bunda..aemm..," tangan hangatnya memelukku dari belakang dan menggigit pipiku. Aku tergelak dan berbalik, menghujani perut buncitnya dengan cubitan sayang.

"Meneruskan pembicaraan kita yang tadi ya, Yah..Nda masih penasaran," ujarku, yang dijawab dengan alis terangkat suamiku. Mulutnya sedang penuh nasi sop ayam dan bergedel, lauk makan malam ini, hasil percobaan resep dari majalah.
"Jadi, apa maksudnya 'pikiran negatif diperlukan supaya waspada'?,"aku menyuapkan kembang kol dan irisan wortel ke mulutku.
"Hakhutnyaa..hitu hupaya hita hehimbang..,"
"Ayah, ditelen dulu nasinya," protesku. Suamiku menyeringai kocak dan menelan dengan satu tegukan besar, glek.
"Maksudnya, Bunda sayang... Supaya kita seimbang. Jangan sampai saking positive thinking nya, kita jadi naif. Pikiran negatif itu sebenarnya untuk mengukur risiko dari kejadian yang akan atau sedang kita alami,"
"..Bunda paham nggak?"
Aku merengut.
"Ya paham lah...,"
"..jadi kalau alesan bunuh diri itu karena hidupnya terlalu flat dan 'bersih' karena nggak punya pikiran negatif, itu naif sekali ya?"
"Hmm..ya, bisa dibilang begitu Nda. Lebih tepatnya, pikiran sempit,"
Kami sudah selesai makan. Pembicaraan terhenti sejenak, karena aku beranjak ke kulkas, mengambil pepaya iris dingin sebagai desert nya.
"Kalau menurut Ayah, sih, intinya satu kok Nda,"
"Hapa?" kejarku dengan mulut penuh irisan pepaya dingin. Dengan gemas pria penyayang ku mencium bibirku yang sedang manyun karena mulutku kebanyakan isi.
"Telan dulu pepayanya, baru ngomong,"
"..intinya, sejauh mana orang bisa bersyukur. Saat hidupnya flat bahagia, ya sangat disyukuri. Kalau hidupnya baru di bawah, ya lebih disyukuri..kalau orang selalu nggak puas dengan hidupnya, dia nggak akan merasakan bahagia itu. Gimana menurut Nda?"
"Hmm..Nda setuju sekali. Intinya memang bersyukur, dan ikhlas. Supaya kita nggak merasa terlalu lekat dengan sesuatu, kan? Baik kebahagiaan maupun kesedihan..,"
Suamiku mengangguk-angguk setuju.
"Tapi Yah..," lanjutku yang segera dicegah jari telunjuk suamiku.
"Sshh..wanita satu ini cerewet sekali..sudah, temeni Ayah santai liat TV aja yuk. Oiya, Ayah tadi beli VCD The Secret nya Rhonda Birney, tentang kekuatan berpikir positif. Ayo nonton bareng aja," ujarnya sambil menggamit lenganku. Protesku diabaikannya.
"Bundaa...diam sebentar. Ayah lupa satu hal,"
"Apa?"
"Nah, dengerin,"
"Iya, apa?"
"...i love you, Bunda..,"
Telak, aku kemudian jadi speechless.
Dengan penuh senyum kemenangan pria kesayanganku menggendongku ke ruang keluarga.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Banyak dialognya ^^

80

Terimakasih mampir nya.. :D
* Azelia: hehe semua tulisanku fiksi jeng..cuma terinspirasinya dari kehidupan nyata. misal temenku, pasienku, etc ;) tapi dengan mencampur banyak karakter dan latar belakang.
* Arra: hehe iya ya? kesenengan dialog nih ;) makasih ya
* Vilam: yap, setubuh. eh, setuju. betewe, ayo dilajutin kolaborasinya sama dian :D
* Aura: hehe sama dunk Ra.. lam kenal
* Om Jorna: wkwkwkwkkk.... jualan santen...

70

Aku kok ngerasa tulisan2 kamu isinya kayak curahan hati ya. Jadi semacam blog yang dicerpenkan gitu. Kalo iya, wah oke juga idenya menulis dengan ide diri kita sendiri. Kalo nggak, pinter amat nulisnya, sampe gak kerasa kalo cuman fiksi ;)

70

hemm.. yang ini kamu sibuk berdialog sendiri..

80

betul... mari bersykur...

80

wah benar tuh The Secretnya - Ronda adalah my favorit book/dvd...

:)