Menunggu di Am Sande

“Ada dua jenis pria di dunia ini, pria yang sangat tidak setia dan pria yang terlalu setia. Dua duanya….nggak ada yang bener..!”

Dia selalu berada disana…

Duduk di depan sebuah toko barang antik tua di Am Sande sambil memangku Nikkon D80. Bahasa wajahnya berkata kalau dia sudah bosan setengah mati berada disana, menatap menara gereja sambil memangku kamera yang tidak pernah digunakan. Suatu hari dia memakai topi Bayern München sambil kembali menatap menara gereja, menahan silau yang menyerang kedua mata biru tuanya yang sudah kukenal dengan sunglasses hitam sambil menjilat Ice cream Venezia rasa Yoghurt yang berwarna hijau.
Lagi-lagi menatap menara gereja….

Bukan hanya sekali aku berhenti di depannya dan ikut-ikutan menatap menara gereja, berusaha mengerti apa serunya menatap menara gereja St.Johannis yang berwarna hijau dan berbentuk kerucut membosankan itu. Maksudku , ini bukan katedral yang indah dengan banyak ukiran bergaya gothicnya seperti di Köln itu, kan?.

Ini cuma sebuah gereja tua biasa yang wajib ada di setiap kota kecil di Jerman, dengan arsitektur Eropa utaranya yang sederhana dan tanpa ukiran apa-apa, cuma sebuah bangunan batu berwarna oranye yang berlumut dengan menara hijaunya yang berbentuk kerucut dan jam dinding besarnya yang dibaliknya terdapat lonceng berisik yang selalu berdentang setiap jam.

“Dong..dong dong..”

Bahkan bunyinya juga membosankan…

Bukan cuma sekali aku berdiri di depannya sambil mempertanyakan apa sebenarnya yang orang ini sedang lakukan. Sungguh ironis, ketika kau menemukan dirimu memperhatikan seorang pria dan pria itu justru meperhatikan menara gereja yang bahkan tidak mempunyai dada.

Aku bersandar pada Bushaltestelle (Halte bus)sambil menunggu bisku yang akan datang pada pukul 17.05 menuju Heiligenthal. Sambil sesekali menghisap rokokku, aku terus menatap seseorang dengan t-shirt hitam di seberang sana, ia duduk di depan toko barang antik tua sambil terus menatap menara gereja.

Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan..?

88888

Satu bulan yang lalu….

Aku berdiri di depan danau buatan di Kur park, Lueneburg. Sejak memberikan remah-remah roti kepada bebek-bebek di danau sampai memperhatikan sepasang kekasih yang sudah berciuman selama sepuluh menit delapan belas detik di seberang danau ini sudah kulakukan, tetapi aku masih belum ingin pulang ke rumah.

Aku tidak ingin meninggalkan kota ini..

Aku tidak ingin meninggalkan Florean…

Aku baru lulus kuliah seminggu yang lalu. Mendapat gelar Master of Arts dari Universität Lüneburg dan lulus dengan waktu cepat merupakan kebanggaan tersendiri

Tetapi aku terluka…

Akan meninggalkan kekasihku yang berambut cokelat dan bermata biru tua..

Meninggalkan Florean…

Malas menghancurkan roti menjadi serpihan, aku buang satu roti penuh ke dalam kolam sambil memperhatikan betapa antusiasnya para bebek itu melahap rotiku. Aku menatap pasangan yang berciuman itu lagi.

Lima belas menit….lima detik..

Ceweknya menyerah…

Cewek itu menarik kepalanya yang pirang menjauh dari wajah cowoknya..

Wajah cowok itu puas….

Dan cowok itu Florean….

88888

“Kita tidak akan bisa bertahan, bagaimanapun juga…” Florean berkata pelan sambil tertunduk setelah aku lempar sisa roti makanan bebek tepat diwajahnya dan menarik pelacur pirang tersebut jauh-jauh dari Floreanku dan mendorongnya ke danau. Cewek itu tadi berteriak-teriak sambil mengatakan bahwa aku adalah seorang psikopat edan, kemudian ia lari terbirit-birit basah kuyup setelah aku bilang bahwa aku bisa sewaktu-waktu melempar bom rakitan Bali ke arahnya.

Dan ia percaya…

Mungkin dia pikir semua orang Indonesia itu tingal di Bali dan semua orang Bali pasti memiliki bom. Bukan salah Albert Einstein kalau generasi mudanya ternyata punya otak udang. Otak udang dan tukang rebut pacar orang.

Aku menunggu penjelasan Florean selanjutnya, ia menarik tanganku yang gemetar karena menahan marah dan menyuruhku duduk. Aku menurut saja saking tidak tahu harus melakukan apa. Napasku memburu karena amarah, aku yang sangat membenci pengkhianatan harus menghadapi bahwa pacarku sendiri berkhianat tepat di depan hidungku. Sejelek-jeleknya, kenapa nggak menunggu sampai aku pulang ke Indonesia saja, sih?

“Aku tidak akan bisa melakukannya, Lila…” Florean semakin tertunduk, remah-remah roti yang berwarna putih berwserakan dirambut cokelat terangnya. Rambut cokelat yang dulu begitu sering berada diantara sela-sela jemariku, rambut yang terlihat menghangatkan ketika musim dingin tiba. “Kau akan begitu jauh…aku tidak akan bisa menunggu, bagaimanapun juga…… maafkan aku..”

Aku mengangkat dagu Florean ke atas dan memaksa mata hijaunya menatap mataku. “Aku kecewa, Florean…” aku berjalan mundur satu langkah . “Padahal aku dulu begitu yakin bahwa kau sebenarnya punya kemampuan untuk mencampakkanku dengan cara yang lebih keren..”

Kemudian aku berbalik dan berjalan meninggalkannya dengan remah-remah roti di rambutya.

88888

Tidak mau menghadapi kepingan hatiku yang berserakan di sebuah taman dengan danau yang dipenuhi bebek kelaparan, aku mulai berdoa agar waktu dipercepat sehingga aku bisa meninggalkan semua ini, termasuk meninggalkan kota ini yang setiap kerikilnya sudah pernah aku dan Florean injak ketika kami bersama-sama menyusuri jalan setapak Lüneburg sambil menjilati saus kari Potato King yang menetes di jemari kami.

Aku sering membunuh waktuku di pusat kota, menyusuri kembali kota kecil ini sambil menghapus setiap kenangan bersama Florean dalam setiap langkahku, menghapus jejak kami dengan menginjaknya kembali dan membuangnya jauh-jauh.

Kemudian aku melihat dia…

Si bodoh bermata biru tua yang selalu menatap gereja..

Dia membuat sisa waktuku yang singkat di Jerman jadi memiliki misi untuk mengetahui apa gerangan yang ia lakukan sepanjang sore didepan toko barang antik sambil menatap menara gereja. Maksudku, dia kan masih muda, kerja kek, pacaran kek…ngapain kek…masih muda kok yang dilirik cuma benda mati itu.

Saat ini aku sungguh-sungguh tidak tahan. Aku membuang puntung rokokku yang sudah pendek dan menyebrang jalan menuju cowok bermata biru itu yang kini sedang menguap dan menggaruk-garuk kepalanya sambil terus menatap menara gereja.

Aku berdiri di depannya…

Hebat! Dia sama sekali tidak terganggu. Aku boleh diselingkuhin, tetapi aku tidak bisa dicuekin!

Aku duduk di sebelahnya dan ia bereaksi, ia menunduk dulu sebelum akhirnya menoleh sedikit ke arahku. Ia diam…

Aku tersenyum dan langsung bicara. “Aku langsung saja ya..” aku menyalakan rokokku lagi “Memangnya diatas sana ada apa sih?” tanyaku sambil menunjuk kearah menara gereja.

Ia tampak bingung dan pelan-pelan tersenyum. “Akhirya…”

Gantian aku yang diam…

“Sejak kapan anda memperhatikan saya?” tanyanya sambil sedikit menunduk. “Anda sudah memperhatikan saya sejak lama, bukan?”

Idiih, pede bener manusia ini..

Aku mengisap rokokku dan mengangguk. “Sudah dua minggu ini..”aku menoleh lagi ke arahnya. “Memangnya anda lagi ngapain sih?”

“Menunggu burung….” Sahutnya lirih..

“Heehhh?” dia bilang apa, tadi? Burung?

Ia mengangguk. “Burung gereja, kadang mereka bergerombol terbang keluar dari menara gereja dan menyebar, seperti titik-titik hitam di langit biru…” ia semakin menunduk sambil menggenggam kameranya erat-erat. “Saya cuma ingin mengambil foto ketika mereka terbang keluar dari menara dan tersebar di udara.”

Aku menggeleng sambil tertawa pelan. “Dan sampai sekarang anda tidak pernah mendapatkan momen itu?”

Ia kemudian berkata pelan. “Mana saya tahu…” ia mengangkat wajahnya dan menatap dadaku. Awalnya aku kira dia porno, hampir saja dia aku tampar sampai akhirnya aku sadari ada sesuatu yang aneh pada pandangannya.

Ya Tuhan… dia tidak bisa melihat..

Aku terdiam…

Kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “Hahhaha.. jangan bilang kalau anda baru tahu kalau saya ini tidak bisa melihat?” ia memegangi perutnya sambil terus cekikikan. “ Sudah dua minggu, dan anda baru tahu kalau saya tidak bisa melihat…hahhaha, sebenarnya yang matanya beres siapa sih?” Ia terus cekikikan.

Eh, kurang ajar ni cowok…

Aku mau tidak mau jadi tersenyum juga. “Maaf..” kataku lirih..

Ia menggeleng sambil mengibaskan tangannya. “Kein problem..”(Bukan masalah)

Aku menyebutkan namaku. “Ich haiße Lila..”(Namaku Lila)

Ia tersenyum simpul. “ Dennis..”

Aku menatap kamera di pangkuannya. “Untuk apa kau bawa-bawa kamera itu, maksudku , kau kan tidak bisa .. eh..” aku jadi salah tingkah.

Dennis memberikan kamera tersebut kepadaku “ Boleh aku minta tolong? ambil foto ketika burung-burung tersebut keluar dari menara gereja..” Dennis menatap kearah menara gereja lagi. “Sudah dua bulan aku menunggu ada orang yang datang kepadaku dan bertanya apa gerangan yang sedang aku lakukan…karena aku akan butuh bantuan mereka untuk mengambil foto ini..tetapi aku tidak akan meminta”

Wow bayangkan itu, dua bulan…bisa dilihat betapa kurang kerjaannya aku memperhatikan dia selama ini bukan?

Aku duduk disampingnya sambil sama-sama memperhatikan atap gereja, aku menoleh ke arahnya. “Tampaknya kau orang yang cukup sabar, Dennis..” aku tersenyum. “Menunggu itu kan menyebalkan..”

Dennis mengangguk. “Benar sekali, tetapi bagaimanapun juga aku akan terus menunggu..”

“Kau lebih memilih menunggu daripada kehilangan?” tanyaku lagi.

Dennis mengangguk. “Tentu saja..”

Aku butuh cowok seperti ini…

Kemudian Dennis bercerita tanpa kuminta. “Aku tidak bisa melihat semenjak tiga bulan yang lalu, kecelakaan mobil. “ ia memakai topi Bayern Münchennya. “Saat itu aku bersama Petra, pacarku…”

Aku menoleh pelan ke atahnya “Dia…?”

Dennis menguap lagi. “Meninggal seketika…” ia meraba kameranya yang kupegang. “Ini kamera Petra, ia adalah seorang Fotografer…” Dennis menatap atap menara gereja lagi. “Mendapatkan foto ini adalah obsesinya yang tak sempat ia lakukan….aku ingin mewujudkannya, tetapi aku tidak bisa melihat…”

Aku menatap kamera dipangkuanku dengan bisu…

Ia menoleh ke arahku dan menatap dadaku lagi. “Bantu aku ya… bitte..(Tolong)”

Aku terpana melihatnya. “Apa kau akan terus menunggu meskipun aku sudah mengambil foto ini?”

Ia tertunduk dan mengangguk pelan. “Aku akan menunggu…..” ia menunduk semakin dalam. “Menunggu mati….”

Aku menarik sehembus napas kekecewaan, kemudian kutarik dagunya ke atas dan kuarahkan matanya ke wajahku. “Wajahku disini…mataku disini…katakan padaku ketika kau memutuskan untuk berhenti menunggu dan mengambil yang ada….”

Ia menatapku dalam dengan kedua matanya yang tidak berfungsi….

Tepat ketika itu puluhan burung gereja terbang menyebar dari atap menara gereja. Aku segera mengambil fotonya beberapa kali dan mengembalikan kamera Petra kepada Dennis.

“Vielen Dank..” (Terima kasih banyak)katanya lirih sambil tersenyum.

“Bitte..” (Kembali) kataku pelan sambil menggigit bibirku, kemudian kutempelkan tangan kananku pada pipi kirinya sebentar dan aku beranjak pergi.

Aku mau pulang…aku mau pulang…

Ada saatnya ketika harapan yang datang selama lima detik lenyap begitu saja rasanya akan lebih sakit daripada kehilangan apa yang kita miliki selama lima tahun.

Ataukah rasanya sebanding..?

Runi

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer kopipahit
kopipahit at Menunggu di Am Sande (13 years 33 weeks ago)
50

ide cerita ok, dan gaya bahasamu enak diikuti.

salam kenal
fe
febriannugroho.blogspot.com

Writer man Atek
man Atek at Menunggu di Am Sande (13 years 49 weeks ago)
100

wuich bwgus nech
ada sedikit gombal
tapi bersih memang
nikung-nikung dikit

seep !

Writer Agripzzz
Agripzzz at Menunggu di Am Sande (14 years 10 weeks ago)
80

Sebenarnya aku suka dengan cara penceritaan yang begini, tapi kayaknya agak kurang menggigit ya???

Writer runi septiawati
runi septiawati at Menunggu di Am Sande (15 years 23 weeks ago)

Thanks ya buat comments kalian, they are very precious...=).Oh ya sekalian jawab sedikit pertanyaannya disini.
Mengenai detil lokasi, itu emang asli di Lueneburg, North Germany. Terus mengenai aku kamu dan saya anda, dalam bahasa Jerman ada dua jenis percakapan dg tingkatan kesopanan dan kapan kita menggunakannya,seperti ich und du= aku dan kamu, ini untuk yang sudah kenal dan sudah akrab, sedangkan ich und Sind= Saya dan Anda, ini jauh lebih sopan, mungkin dalam kasus ini untuk yang baru ketemu. Makanya pas Lila dan Dennis sudah tahu nama masing2, mereka langsung berubah dari Ich, du, ke Ich, Sind, tapi disini saya translate jadi pakai bahasa Indonesia, begitchu, hehehe.
Dan cerita ini ga dibikin ngegantung kok, pada akhirnya Lila memutuskan untuk pulang ke Indonesia, karena sudah dapat jawabannya saat itu juga.
Dan foto itu ga dibuat timbul hihihi aneh-aneh aja deh,hehehee. Sebenrnya Dennis ga butuh hasilnya seperti apa, yang penting obsesi Petra terwujud, gichu aja, okay? heehhe

Thanks ya all!!

Runi

Writer Valen
Valen at Menunggu di Am Sande (15 years 23 weeks ago)
70

Alur cerita yang flashback namun tetap jelas. Gambaran emosi yg kental. Aq suka deskripsi "serpihan remah2 rotinya." Emang gitu orng kalo lg emosi ya? Tadinya aq pikir endingnya, si "Aku" jadian sama cowok kamera itu. Tp tnyata tidak. Sengaja dibuat ngegantung ya Runi?
Tapi cerita ini punya kesan tsendiri. Ada feelingnya.
Kalo sempet, pls kritiknya donk Run, ceritaku: "Aku Jatuh Cinta?" TQ.

Writer F_Griffin
F_Griffin at Menunggu di Am Sande (15 years 23 weeks ago)
80

jadi foto itu buat apa? Dicetak timbul?
Nice story...

Writer niska
niska at Menunggu di Am Sande (15 years 23 weeks ago)
70

Detil lokasi yang ditulis di sini memang alam asli di sana ya? Keseluruhan cerita ini mencerminkan prolog yang awalnya kukira ga bakalan 'senyambung' itu.. kejutan yang menarik.
O iya.. aku baru 'ngeh' kalo penggunaan beberapa kata "Anda" bukannya "kamu" pada percakapan antara Lila dan Dennis karena pengaruh bahasa percakapan di Jerman ya..

Writer v1vald1
v1vald1 at Menunggu di Am Sande (15 years 23 weeks ago)
80

Hi Runi, gw suka ama cerita kamu.Ada 'sensasi' tersendiri.Duduk mengamati seseorang yang berhari2 termenung menatap satu titik yang kesannya 'biasa' aja. Dan orang itu buta. Buta karena kecelakaan. Keren.And totally make sense.Biasanya orang dengan head trauma (t.u di bagian oksipital/belakang kepala)memang bs mengalami kebutaan kortikal (dua mata kena).Tapi jujur aja,gw masih kurang jelas,saat kapan orang buta tertutup matanya (kebanyakan yang sejak kecil butanya,begini),dan kapan orang buta menjadi dendy spt Al Pacino di Scent of Woman. Ada yang bisa kasih tahu?

Writer wafie
wafie at Menunggu di Am Sande (15 years 23 weeks ago)
90

Runi, pertama saya menganggap cerpen kamu ini biasa2 saja. Karena didukung oleh sebuah alur cerita dipermukaan masih dangkal.
Tapi tidak tahunya, setelah sampai pada babak pertengahan, aku menemukan inti dari kisah ini. Pembaca akan tersendat setelah sampai pada tahap penceritaan si LILA yang tidak tahunya dalam kisah ini dia merokok khobis.
Mengenai pasalnya, kenapa gadis ini bisa merokok, padahal dia seorang wanita yang tidak semestinya menghisap sebatang rokok. Nah, pertanyaan2 seperti itu tidak perlu kau jelasin dalam cerita ini. Kenapa demikian, karena itu adalah hak penulis untuk membuat pembaca penasaran membaca cerpen ini. Karena dengan itu, maka jangan heran jika sebagian besar dari pembaca akan ketagihan sendiri dengan cerpen kamu ini. Tanyakan kalau gak percaya... :D
Didukung lagi dengan akhir cerita yang sangat bermakna. Itu sudah membuat pembaca, utamanya saya sendiri, merasa ketagihan sekali.
Hanya diakhiri dengan "TEPUK TANGAN" inilah yang mewarnai keindahan alur cerita yang kau miliki.
"Salam Kompak Persahabatan"
NB: Runi, postingan cerpen baruku, tolong dikasik komentarnya ya. Bitte... OK! :)

Writer evillya
evillya at Menunggu di Am Sande (15 years 23 weeks ago)
50

Cukup menarik. Aku suka detailnya. Cuma aku masih agak bingung sama endingnya, "Ada saatnya ketika harapan yang datang selama lima detik lenyap begitu saja rasanya akan lebih sakit daripada kehilangan apa yang kita miliki selama lima tahun." Maksudnya gimana ya? Tapi mungkin ini hanya kebingungan sesaat saja :)