CINTA SI PRIMITIF: THE ADVENTURE OF LOVE(bag. 2)

”Pagi semua...!!” Sapaku riang saat menginjakkan kaki di kelas. Emang sih, tidak ada yang peduli. Tapi... Itu udah jadi kebiasaanku. Menyapa siapa saja dan di mana saja.

Lagi, lagi, dan lagi, kulihat seorang cowok berambut gondrong acak-acakan tidur di sudut kelas. Hhh... Itulah Levi. Teman sekelasku yang tidak pernah peduli pada apa pun. Kuulangi, apa pun. Gak peduli sama keadaan di sekitarnya. Seenaknya aja keluar masuk kelas tanpa peduli ada guru di ruangan itu. Seenaknya aja datang ke sekolah. Seenaknya aja tidur di dalam kelas. Seenaknya aja marahin orang. Dan seenaknya aja yang lain yang gak bakalan habis kalo kuceritain secara lengkap.

Tapi ya... Hmm... Harus kuakui, cuma dia cowok di kelas ini yang gak nyiksa aku. Yang gak ngejek aku, ngolok aku, caci aku, atau apa pun itu yang sifatnya ngerugiin aku. Mungkin karena dia gak pernah peduli sama keadaan di sekitarnya.

Dan, karena sikap-sifat-perilakunya itu, dia jadi agak ditakuti oleh adik-adik kelas dan orang seangkatannya. Kalo yang kelas tiga sih, biasa aja. Pikir mereka, cuma adik kelas, kok. Mana berani macam-macam sama kakak kelas.

Hmm... Sedikit informasi lagi tentang Levi. Tukang berantem, tukang tawuran, senang kekerasan. Kayak manusia berdarah dingin, ya. Hiiieeey... Makanya orang-orang pada ngeri berada lama-lama di dekat dia.

Rasa heranku muncul lagi sekarang. Sebuah kesimpulan juga bisa kutarik dari semua yang telah kukatakan tadi. Kesimpulannya...

DUNIA UDAH TERBALIK! MAKIN DEKAT DENGAN KIAMAT, MAKIN SUSAH DIMENGERTI!!

Mungkin masih belum jelas kenapa aku narik kesimpulan begitu. Tapi... Liat pertanyaannya...

KENAPA COWOK SEANCUR LEVI LARIS DI KALANGAN CEWEK?!? KENAPA BUKAN MAKHLUK KAYAK DIA AJA YANG DICERCA?!? KENAPA MESTI BIDADARI KAYAK AKU YANG JADI KORBAN?!? DI MANA SIH, PERBEDAAN ANTARA AKU DAN LEVI SELAIN JENIS KELAMIN DAN SIFAT?! FAKTOR APA YANG BIKIN AKU JADI ORANG TERPILIH UNTUK MENAMPUNG HINAAN MEREKA SEMUA?!?

Tuh, kan! Banyak banget pertanyaannya! Pusing mikirin si Levi yang ancur lebur itu begitu disegani. Sedangkan aku yang cantik molek gini patut dikasihani.

Lepas dari semua itu, aku juga bertanya-tanya sendiri, sih. Aku tau kalo Levi itu gak broken home. Aku juga tau kalo orangtua Levi termasuk kategori mampu, yang masih bisa nyekolahin anak pertamanya sampai lulus kuliah dan bekerja, Levi hingga SMA saat ini, juga adiknya sampai sekarang masih duduk di bangku SMP. Kalo denger dari cerita orang yang udah kenal lama dan pernah dekat sama Levi, Marsha, keluarga Levi juga orang yang baik. Pokoknya gak ancur lebur seperti anaknya sekarang. Dan lagi, Levi juga baik dan patuh sama orangtuanya! Nah lho! Kenapa di sekolah gak bersikap seperti itu, ya?

”Siora! Untung lo dateng cepet hari ini! Gue pinjem pe-er lo, dong! Cepetan…” Marsha menarik lenganku, menyuruhku duduk, dan memaksaku membuka tas. Yah… Gini deh, Marsha. Suka banget narik-narik orang. Gak sabaran. Cerewet. Walau pun... Aku lebih cerewet dan lebih ribut dari dia, sih... Hehehe...

”Sabar dong, Neng! Gue baru aja dateng, bukannya bales salam gue, malah minta pe-er gue! Emangnya lo pikir gue dateng ke sekolah cuman buat jadi tempat nyontek lo, apa? Trus, kalo gue gak dateng, lo bakal kehilangan harapan nilai bagus karena gue gak ada?!” Repetku panjang, lebar, tinggi. Gini deh, kalo udah ketemu sama temen satu profesi. Bahan pembicaraan gak pernah habis, selalu ngeributan apaaaa aja, walau pun itu gak penting banget buat diributin.

”Udah, gak usah merepet sekarang! Gue buru-buru, nih! Mesti siap-siap buat penyiksaan hari ini!” Hanya itu balaan Marsha. Great! Tumben dia gak memperpanjang masalah. Sambil melihat sahabatku itu mengobrak-abrik isi tas selempang hijauku, aku mengernyit heran menatapnya.

”Penyiksaan what? Gue gak ngerti,” tanyaku polos. Tanpa berhenti mencatat dengan super duper cepat, Marsha menjelaskan maksudnya, agak lebih tenang daripada tadi.

“Pelajaran pertama, kumpul pe-er dan diskusi kelompok. Kedua dan ketiga ulangan. Keempat hapalan.”

Seketika saja aku melongo mendengar penuturan Marsha. Butuh waktu setidaknya satu menit bagiku untuk mencerna kata-katanya. Dan kemudian....

TIDAAAK!!

Aku langsung mengeluarkan semua buku teks pelajaran hari ini dan mulai komat-kamit seperti Mbah Dukun, berusaha menghapal setiap definisi dan rumus yang ada. Oh God... Otakku kayaknya meleleh deh, saking panasnya...

Saat aku sedang sibuk menghapal berbagai macam definisi di buku biologi, aku mendengar suara cempreng yang sedang tertawa di depan kelas. Suara itu semakin mendekat. Si empunya suara masuk ke dalam kelas.

Saat itu juga, kebenciaanku membuncah, membludak.

Seorang cowok berambut semi mohawk, kulit sawo matang, dengan tinggi sekitar 183 cm masuk ke dalam kelas 2-7 ini, kelasku. Dan cowok itu adalah teman sekelasku, yang paling kubenci di seluruh dunia. Nanti saja kuceritakan alasannya.

Ia masuk sambil tertawa dengan dua...Apa ya, bagusnya? Dua pesuruhnya? Mungkin…anteknya, Feyza dan Aran. Nama dia sendiri... Ugh, aku benci harus mengingat dan menyebut namanya.

Baiklah. Cowok tengil yang sinar matanya selalu dipenuhi dengan kejahilan dan keusilan itu bernama... Rio. Secara tak resmi, semua orang menganggap si Rio itulah ketuanya. Dan dia, adalah dalang dari semua kesialanku selama duduk di bangku SMA sejak tahun lalu.

Dia yang membuat teman-teman sekelasku mengejekku.

Dia yang membuat teman-teman dari kelas lain ikut mengejekku.

Dia yang telah membuatku merasa sedih dan tertekan, yang hanya kusimpan di dalam hati, tak ingin kuobral ke orang lain, sekali pun ke Marsha.

Seharusnya, dengan segala kesmpurnaan yang ada pada diriku, aku bisa dengan mudahnya membuat para cowok berjejer di belakangku. Gara-gara dia mengejekku Mami Wewet si Cerewet, imej anggunku jadi hilang dalam sekejap. Apalagi, saking gak tahannya aku diejek terus-menerus oleh dia(bayangkan! Semua kegiatan yang kulakukan pasti dikomentari!)aku mengejarnya tanpa henti, sampai dapat. Setelah itu, ia kubantai habis-habisan. Esoknya, aku langsung mendengar julukan baru telah tercipta untukku: Cewek Cendrawasih Secepat Ceetah Berkekuatan Badak! Wuiiih, marahku langsung sampe ke ubun-ubun.

Karena ia selalu mencetuskan semua julukannya kapan pun dan di mana pun saat melihatku, maka teman-teman seangkatan kelas dua sekarangterutama cowokikut-ikutan memanggilku dengan semua julukan yang Rio buat. Ugh... Aku keseeeeel!!

Sejak masuk ke dalam kelas, berkali-kali Rio melirik ke arahku. Jangan salah, aku gak akan pernah ge-er sama sekali dilirik oleh mesin pengejek seperti Rio. Ketika akhirnya ia melirikku lagi, aku langsung membelalakkan mata padanya dengan mengerahkan seluruh kebencian yang ada. Hanya sedetik, karena aku tidak ingin melihat wajah jeleknya lama-lama. Setelah itu, perhatianku kembali tersita pada buku biologi.
Bodoh. Seharusnya tadi aku tidak menatapnya. Mungkin gara-gara itu, dia jadi nyengir jahil dan mulai berjalan ke arahku. Duh... Udah pikiran lagi kayak benang kusut gini, mesti ngadepin satu orang yang paling gak penting di seluruh dunia, lagi! Kiamat, deh...

”Mami Wewet...” Itulah sapaannya padaku. Great! Pembuka yang bagus. Aku menutup buku teks itu. Sia-sia belajar kalo udah mendapat gangguan begini. Aku mendongak menatap mata cokelatnya.

”Rajin bener, Mam... Tumben! Bukannya Mami paling males kalo disuruh belajar? Oya, Mami pagi ini udah merepet-pet-pet belum? Biasanya, pagi-pagi gini langsung berkotek kayak bebek? Wek... Wek... Wek...” Rio memeragakan gaya bebek di depanku. Hhh... Kenapa manusia kayak dia bisa hidup, sih?!?

Sebenarnya, aku ingin sekali membalas kata-katanya dengan kata-kata lain yang lebih keji. Namun kenyataannya, yang keluar malah kata-kata konyol yang sekali setahun keluar dari mulutku.

”Lo bisa gak sih, gak usah ganggu gue barang sehari?!? Pagi-pagi udah cari masalah! Dasar mesin pengejek! Lo kira enak apa, terus-terusan diejek setiap hari?! Coba lo jadi gue, diejek terus! Mungkin lo bakal ngerti gimana sakitnya perasaan gue kalo kita tukeran tempat.”

Satu kelas terkejut mendengarku membentak Rio, hal yang semenjak tiga bulan setelah menginjakkan kaki di SMA ini tak pernah kulakukan lagi. Karena sejak saat itu, aku berusaha tak peduli pada semua cemooh Rio. Kalau pun aku membentaknya tidak akan sampai sekeras ini, tidak akan sampai membawa-bawa rasa sakit hatiku yang terpendam.

Tapi aku tak peduli. Aku justru merasa bingung pada diriku hari ini. Aku kenapa? Kenapa saat melihat Rio hari ini emosiku langsung meledak? Apa karena ada begitu banyak tugas sekolah hari ini? Rasanya tidak. Lalu kenapa? Karena mimpiku yang tadi malamkah...? Mimpi tetang kenangan masalalu... dengan Rendra???

Puas membentak Rio, aku langsung mendorongnya dengan kasar dan berlari keluar kelas. Sesaat kulihat pandangan Levi mengikuti arah gerakku. Aku tidak terlalu peduli pada hal itu. Yang kupikirkan sekarang adalah menenangkan perasaanku.

Read previous post:  
59
points
(929 words) posted by ThaMie 15 years 37 weeks ago
59
Tags: Cerita | drama | bohong | ejekan | hujan. | masalalu | persahabatan | sakit hati
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Keren...
duH loM aada terusan na ya ~_~

80

critanya menarik nih!!
kok lanjutannya blom ada2 nih?
di tunggu ya..

NO!! NO!! NO!!

Akhirnya... Uty kejebak sama imajinasi Ty sendiri!!

Gaswat!!

Ty jadi kikuk ngelanjutinnya!!

Selain karena ortu membatasi jam komputer...

Otak lagi mampet sama rumus2, tanggal2, dll... dll...

Idenya gak mau keluar!!

Mampet!!

Ada yang bisa bantu...???
(Hehe... dengan malu2, nih...)

70

Kata2nya ngalir. Bahasanya smart. Kamu masih kelas 3 SMP kan? Tulisan kamu bagus!
Dan aku yakin tulisan ini masih bersambung kan? Sambungannya sudah ada belum? Karena, pertanyaan di posting pertama, belum terjawab di sini. Malah sekarang kamu membuat cerita dengan konflik baru, yang belum juga memberi penyelesaian.
Karena ini memang bersambung (mau jadi novel kan), maka potongan2 posting kamu cukup baik. Kamu berhasil membuat pembaca tetap bertanya2, dan terpancing membaca keterusannya untuk mengetahui seperti apa akhir cerita kamu.
Silahkan Thamie dilanjutkan lagi ya..

70

isinya masih kayak curhat. Dan aku yakin Thamie pencurhat yang sangat ekspresif. Tapi hebat, sampe bisa dituliskan lewat cerpen.

60

weleh... slaah tebakan gua di 1sr part... oke oke... sekarang nebak mimpi... Elo mimpi basah ya??? wakwkawkakwa.... Oke kita liat part-3... hmmm

50

bikin aku bernostalgia saja membaca ceritamu huhuhu...lanjuttt!

100

aku sudah mulai menebak-nebak lanjutannya

60

membaca tulisan kedua ini.. terasa bersemangat ya. Perasaan Siora tercurah gamblang. Aku jadi bertanya-tanya.. siapa si 'primitif' itu? Kenapa ia disebut primitif?
aku harus menunggu kelanjutan cerita ini :)

50

ceritanya ok.. alurnya jelas.. n bikin penasaran... eh ya nanya donk.. pa kabarnya rendra??

50

jadi inget masa2 sekolah... pasti ada aja yang suka iseng & ngejek ini itu, padahal... :D well, kutunggu lanjutannya :)