Nama di Surat Kabar

Ketika aku beranjak keluar melewati pintu butik, wanita itu tengah sibuk mematut-matutkan diri di depan sebuah cermin besar, memastikan warna tas tangan bermotif huruf LV yang sedang diselempangkan di bahunya itu sudah senada dengan warna sepatu yang dikenakannya. Wanita itu lebih perduli dengan keserasian warna tas dan sepatu mahalnya daripada memangilku agar kembali masuk ke dalam butik. Jangankan untuk memanggil namaku, diliriknya saja pun aku tidak.

Letih sekali menemani wanita itu sesiang, atau mungkin seharian ini. Mengelilingi plasa dengan luas melebihi stadion sepakbola. Keluar dan masuk, berpindah dari satu butik ke butik yang lain. Ruangan yang dipenuhi dengan rak-rak berisi pakaian dan aksesoris berbagai label. Sebutkan saja. Ruangan dengan label Dior, Prada, Gucci, Hermes, dan entah label apa lagi, sudah kusinggahi. Rasanya seperti menyaksikan Paris dan Milan Fashion Week dalam satu waktu. Melelahkan!

Selama hampir satu jam terakhir, aku sudah merelakan tubuhku digerayangi oleh tangan dari orang-orang yang sama sekali tidak kukenal di dalam salah satu butik. Para pegawai dengan seragam elegan dan polesan kosmetik tanpa celah hingga wajah mereka tampak seperti tertutup topeng keramik yang sewaktu-waktu akan pecah.

“Jangan banyak bergerak!”, wanita itu menyuruhku untuk tetap meregangkan tangan selama beberapa menit, “Salah ukuran sedikit saja, hasilnya bisa jelek”,

“Pegal!”, sungutku, “Lagipula jas ini dipesan bukan untukku. Untuk apa aku harus merelakan badanku ditusuk dengan banyak jarum seperti ini?”,

“Kamu satu-satunya yang memiliki ukuran tubuh yang sama dengan orang yang akan memakai jas ini. Badannya tidak seperti laki-laki pada umumnya”,

“Siapa?”. Wanita itu tidak menjawab pertanyaanku. Tanpa jawaban darinya pun aku sudah mengetahui untuk siapa jas ini akan diberikannya.

Sudah lama aku mengetahui permainan tersembunyi wanita itu. Bukan untuk pertama kalinya wanita itu memberikan barang-barang mewah kepada seseorang yang tidak kuketahui dengan pasti identitasnya. Barang-barang tersebut selalu dikirimkan ke tempat yang sama. Yang aku tahu, terakhir kali wanita itu mengirimkan satu unit kendaraan bermotor roda empat ke nama dan alamat yang aku tahu aku tidak mengenalnya.

Kutinggalkan wanita itu di butik bersama tas LV dan barang-barang yang tadi dibelinya barang sebentar saja. Wanita itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan menyibukkan para pegawai berwajah keramik dengan pertanyaan harus memilih warna coklat atau hitam. Akan menyita waktu yang sangat lama. Pikiran wanita itu sudah banyak tersita dengan masalah tas coklat dan hitam. Jadi untuk apa aku harus menambah beban pikiran wanita itu dengan memberitahukan kemana aku pergi. Terlalu banyak masalah yang dipikirkan wanita itu akan membuat otaknya yang sudah tidak normal menjadi semakin rusak. Pasti wanita itu juga tidak akan merasa kehilangan aku. Karena selama ini aku tidak pernah dijadikan nomor utama dalam daftar kehidupan wanita itu.

Berjalan berlama-lama di lorong lebar dengan pintu-pintu, lagi-lagi, menuju ke arah barang-barang berlabel membuat kepalaku terasa sedikit sakit. Mungkin bukan salah tubuhku, tapi pikiranku yang lelah melihat barang-barang itu membuat saraf-sarafku mengirimkan sinyal kepada kepalaku agar berdenyut dan kepada perutku agar meronta untuk mual. Untung saja aku termasuk dalam kelompok manusia yang sering melatih otak sehingga aku masih dapat berpikir normal. Coffee shop di tepi plasa sepertinya dapat menjadi tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran.

Sesaat setelah kakiku menginjak lantai kayu dengan aroma kopi menempel di setiap incinya, mataku menangkap seorang pria yang tengah bersama seseorang yang entah siapa. Pria itu bersama seorang perempuan. Bukan barang langka lagi bila pria itu berjalan dengan seorang perempuan selain wanita itu. Tetapi kali ini dengan perempuan yang berbeda dari biasa yang kulihat, baik itu yang kulihat dengan mata kepala sendiri maupun di video rekaman dan gambar foto yang ada di dalam memori telepon genggam teman-temanku, entah bagaimana caranya mereka mendapatkan gambar-gambar pria itu. Mungkin saja beredar di internet, entahlah.

Pria itu bukan orang biasa. Pengusaha sukses dengan perut dan dompet yang buncit, seringkali menjadi sasaran utama perempuan-perempuan yang sering kulihat tetapi tidak kukenal, dan tentu saja wanita itu juga menyukainya. Bahkan wanita itu memasukkan posisi dompet pria itu di atas posisiku dalam daftar kehidupannya. Wanita itu memang tidak mencintai pria itu dan aku sebesar cintanya kepada dompet pria itu. Pria itu juga tidak mencintai wanita itu dan aku seperti mencintai perempuan-perempuan jalang itu.

Perempuan itu yang dibawa pria itu kali ini tidak jauh berbeda dengan perempuan-perempuan itu lainnya, hanyalah seorang perempuan yang tidak jauh lebih tua dariku, sepertinya tidak jauh lebih berkelas dariku, tidak jauh lebih elegan dariku, bahkan wajahnya pun tidak jauh lebih cantik dariku ataupun wanita itu.

Kepalaku kembali terasa sakit melihat pria itu terus menggenggam tangan dan terkadang sedikit mengintip ke arah kaki jenjang perempuan itu karena rok mini perempuan itu tersingkap sedikit ke atas.

Koran tak bertuan di sudut ruangan kuambil. Memilih untuk duduk dengan jarak terjauh dari kursi pria itu dan perempuan itu. Kugunakan koran untuk menutupi wajah dan pandanganku dari pria itu.

Beruntungnya, koran pengalihku menyajikan bacaan yang menarik. Ada namaku tercantum dalam salah satu kolomnya. Tulisan yang kukirim beberapa hari yang lalu masuk dalam kolom opini. Audit Forensik: Satu Senjata Membasmi Tikus Negara, dengan tulisan kecil di sudut kanan bawah kolom berbunyi namaku dan statusku sebagai mahasiswi dan pekerja magang di salah satu kantor auditor. Pekerjaanku akhir-akhir ini untuk membantu para auditor melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan mendorong untuk menulis kolom opini di salah satu surat kabar.

Belum sampai aku selesai mengagumi buah karyaku, bahkan berniat untuk membawa pulang koran ini, telepon genggam yang kuletakkan dalam saku celana bergetar pelan tanpa suara. Kuletakkan koran di atas meja dan meraih telepon genggam dari dalam saku. Satu pesan singkat yang aku yakin bukan dari wanita itu karena wanita itu tidak akan mau berpayah-payah untuk mencariku yang tiba-tiba tidak berada di dalam butik, ataupun dari pria itu yang akan menanyakan satu pertanyaan sederhana, “Kamu dimana? Baik-baik saja?”.

Aku melihat ke arah pria itu selesainya aku membaca pesan singkat tadi. Entah karena aku dan pria itu terhubung erat atau karena aku yang secara tidak sengaja mengeluarkan pekikan kecil, hingga pria itu melihat ke arahku. Aku yakin pria itu akan lebih terkejut lagi begitu aku membuka suara.

Aku berdiri dari dudukku dan berjalan perlahan ke arah pria itu. Mataku memandang lurus dan bertemu pandang dengan pria itu. Detak jantungku yang semakin cepat tidak seirama dengan langkah kakiku yang bergerak lambat. Aku hanya berdiri diam di hadapan pria itu. Dapat kulihat dari sudut mata, mulut perempuan itu bergerak dan mengatakan sesuatu yang tidak kutahu apa maksudnya karena perempuan itu memang tidak jauh lebih pintar dariku.

“Kemarin bilang ada acara kampus ke luar kota. Kenapa sekarang tiba-tiba di sini?!”, tanya pria itu, juga tidak memperdulikan perempuan itu,

“Sekarang polisi sedang mencari ayah”, kataku sambil memberikan telepon genggamku pada pria itu tanpa memperdulikan pertanyaan pria itu, “Maaf, aku belum bisa jadi anak yang baik”.

Entah aku harus memberitahu apalagi pada pria itu. Pesan singkat di telepon genggamku sudah mengatakan semuanya.

Tentang masalah ayahmu, saya harus lapor polisi. Sekarang mereka sedang bergerak mencari ayahmu. Maaf!

Sender:
NN1 (Kantor)
+628004556678

Sent:
10-05-2008
20:08:53

Sebelum pergi meninggalkan pria itu terduduk lemas, aku mengeluarkan secarik kertas dari balik saku dan menyerahkannya pada pria itu.

“Ada bunda di butik samping butik jas langganan ayah”, kataku menyerahkan kertas kecil ke dalam genggaman pria itu, “Ini ada nota pemesanan jas. Tapi aku tahu jas ini bukan untuk ayah. Aku yakin begitu polisi datang, bunda tidak lagi pulang ke rumah kita”.

Kutinggalkan pria itu sendirian karena kali ini perempuan jalang gila harta itu sudah meninggalkan tempat ini terlebih dahulu. Banyak pikiran yang melintas dalam otakku. Aku tidak dapat berpikir dengan sehat lagi. Yang aku tahu esok hari seluruh surat kabar akan menuliskan berita dengan judul utama di halaman depannya lengkap dengan gambar pria itu: Lagi, Kasus Suap Wakil Rakyat Terungkap.

Aku sudah dapat membayangkan nama wanita itu juga akan tertulis di surat kabar esok hari sebagai berita pelengkap berita utama: Suami Di Bui, Istri Tersangka Kasus Suap Melarikan Diri Membawa Lelaki.

Akan kutambahkan satu artikel berita yang akan menjadi makanan penutup berita utama surat kabar esok hari, dengan namaku di dalamnya, sebagai penulis, pemeran utama sekaligus korban: Mahasiswi Pengungkap Korupsi Bunuh Diri Karena Depresi.

Jogja, 17 Juli 2008
5:52 AM

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yaiba_seiya
yaiba_seiya at Nama di Surat Kabar (11 years 12 weeks ago)
70

bagus

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Nama di Surat Kabar (11 years 27 weeks ago)
100

Jadi ingat ceritamu yang ini hehe.

Writer Onik
Onik at Nama di Surat Kabar (11 years 27 weeks ago)
100

Waw... KEREN!!! Km hebat!

Writer cde-an
cde-an at Nama di Surat Kabar (11 years 41 weeks ago)
100

Duh rin, bagus nian cerpenmu.
SALUT
aku tunggu yang laen ya ;;)

Writer nicky
nicky at Nama di Surat Kabar (11 years 45 weeks ago)
90

nice... =D>

Writer buayadayat
buayadayat at Nama di Surat Kabar (12 years 3 weeks ago)
90

keren..
misteri kaubuka tak terburu2..
kukira tadinya si aku pacar si ibu, ternyata bukan..
lalu kupiir pacar si ayah, karena kau sebut mahasiswi, ternyata juga bukan!
baru di akhir2 kauungkap semuanya, dengan penutup yg hitaaaam.. keren!
kalau ada yg mengganjal, 'kendaraan bermotor beroda empat', bukankah akan lebih menghemat nafas bila kausebut: 'mobil'.. :p

Writer shuwher
shuwher at Nama di Surat Kabar (12 years 3 weeks ago)
50

menyetuh./..

Writer naila
naila at Nama di Surat Kabar (12 years 3 weeks ago)
90

dalem banget...

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Nama di Surat Kabar (12 years 3 weeks ago)
100

Hahaha terkadang kalau lagi pikiran mampet oleh hal lain akan memperlancar bagian hal yang lain.

Setelah lama dirimu tidak menyajikan cerpen, akhirnya ada juga yang bisa kubaca.

Menurutku, cerita ini tidak terduga melibatkan anak, ayah dan ibu dalam satu frame waktu. Cerita berjalan ke depan, tanpa kilas balik cepat.

Mungkin juga terilhami oleh banyaknya politikus dan pejabat negara yang tertangkap KPK.

Dalam urusan deskripsi life style kelas atas, Rina sangat canggih. Aku rasa ini cerita sangat menarik. ^_^