Aku Jatuh Cinta?

Bayangan tentang Rangga berputar-putar kembali di kepala Arlene sepagi itu.

Sosok pria yang meletupkan pesona di hatinya, sekaligus juga membungkus misteri. Bagaimanakah sosok pria itu sebenarnya?

Ruang itu semakin dingin karena hanya dia sendiri di dalamnya. Rangga biasanya baru muncul pukul setengah sembilan. Enaknya jadi bos! pikir Arlene iri. Bisa datang siang tanpa dipelototi atasan.

Hei, kenapa Rangga lagi? Batin Arlene. Kenapa nama itu terus yang ada dalam pikirannya tiga hari belakangan ini? Sejak pria itu menjabat erat tangannya seakan tak ingin dilepaskannya?

Kertas kerja yang terbentang di depannya tak juga menunjukkan kemajuan berarti. Padahal, biasanya banyak yang bisa diselesaikannya dalam dua hari. Ia sungguh tak mengerti. Dibolak baliknya lembaran kertas itu tanpa tujuan pasti.

Ah, jika saja gosip miring tentang pria itu tak pernah didengarnya...Ia mendesah.

Sudah pukul sembilan. Mengapa atasannya belum datang juga? Biasanya saat ini Rangga sudah bertengger di kursinya dekat pintu, persis di bawah jam dinding.Kenapa Arlene malah resah? Bukannya senang karena tak diganggu kehadirannya yang sering membuyarkan konsentrasinya?

Tapi Arlene memang gelisah. Sebentar-sebentar ia melongokkan kepala. Mengintip lewat tirai jendela yang tersingkap. Sosok itu belum juga terlihat berkelebat. Bagaimana kalau tak datang? Lho, memangnya kenapa? Bukankah tak ada masalah penting yang harus diselesaikan atasannya itu? Arlene menggaruk-garuk kepalanya. Bingung!

Jam 9.30. Ia melirik sekali lagi pintu ruang kerja melalui tirai jendela yang terkuak itu. Sekali lagi, tak ada tanda-tanda kehadiran Rangga. Barangkali saja Rangga memang tak hadir hari itu. Begitu kesimpulannya akhirnya.

Laporan di depan hidungnya terlihat lebih beku dari dinginnya ruangan itu. Meski begitu, ia toh harus memulai. Arlene mulai mengumpulkan konsentrasi. Untuk sebuah uji Pisah batas penjualan, titah atasannya kemarin.

Dua...tiga...sepuluh sampel penjualan seminggu sebelum dan sesudah akhir tahun 2005 diambilnya. Lalu, ditelusurinya ke faktur penjualan dan dokumen pengiriman. Penanya menggoreskan nomor dokumen pengiriman terakhir di catatannya. Nomor 125.
Berarti, dokumen pengiriman terakhir di tahun 2005 harus juga bernomor segitu. Akan diceknya saat Stock Take nanti, karena file itu ada di Sentul, gudang perusahaan.

Sebuah bayangan berkelebat di jendela. Secepat itu juga mata Arlene mengawasi. Untuk kesekian kalinya ia tak melihat sosok Rangga. Kecewa? Akh, yang benar saja! Gerutunya.

Ditundukkannya wajahnya. Kembali tekun bekerja, meski pikiran mengembara. Kini, giliran menguji pisah batas penerimaan kas. Sesaat ia terdiam, berusaha mengumpulkan konsentrasinya yang tadi terburai bagai serpihan-serpihan debu.

Waktu terus bergulir. Lewat jam istirahat siang, atasannya itu belum datang juga.

Mungkin ada baiknya Rangga tidak hadir saat itu. Pekerjaan yang tertunda kemarin karena ia hampir-hampir tak bisa berkonsentrasi, kini bisa dikerjakannya dengan lancar.

Dua jam menjelang pulang, pintu ruang meeting terkuak. Rangga muncul di ruang itu bersamaan dengan senyum menawannya dan debur jantung di dada Arlene.

“Maaf, saya terlambat.” jelasnya tanpa diminta. ”Pak Winardi mendadak mengajak meeting seharian dan saya tak sempat memberitahumu.” Ia langsung menghempaskan tubuhnya di kursi itu. Di bawah jam dinding.

“Ndak apa-apa, Pak Rangga. Belum ada hal penting yang harus didiskusikan.” Kata-kata Arlene terdengar datar. Sementara dadanya berdebar kencang. Sejak kecil Arlene memang terbiasa mengendalikan diri. Dari amarah dan segala perasaan yang bisa membakar ubun-ubunnya.

Rangga sibuk mengatur deru nafasnya. Seperti habis berlari saja. Tangannya tampak sibuk membuka-buka laporan keuangan.

”Habis naik tangga...Liftnya mati.” Katanya tersenyum ketika dilihatnya gadis itu mengamatinya dengan bingung. ”Bagaimana hasil pemeriksaan Pisah batas kita, Arlene? Apakah sudah selesai?”

“ Mengejutkan sekali, Pak!” seru Arlene bersemangat. “Ini hasil pengujian Pisah batas penjualan.” Ia mengulurkan kertas kerjanya. “Ternyata…”

“Duduk di sini saja, Arlene. Supaya lebih enak menjelaskannya…” kata Rangga sambil menepuk kursi di sebelahnya.

Arlene terdiam. Jangan-jangan ini dalih Rangga saja agar bisa duduk berdekatan dengannya? Tapi mata Rangga seakan menyeret langkahnya mendekat. Pria itu menarik kursi itu dan mempersilakannya duduk.

Akhirnya duduklah Arlene di sisi pria itu. Seketika muncul rasa sesal di hatinya. Dari sudut matanya ia menangkap Rangga tengah menatapnya lekat. Ia mencoba tak peduli. Mulai menjelaskan hasil pengujiannya. Namun, tangan pria itu yang merangkul erat sandaran kursi di belakang Arlene mengusiknya. Begitu eratnya. Hingga Arlene merasa seolah-olah Rangga ingin memeluknya. Dadanya bergemuruh, meski tak diijinkannya. Perlahan ia menggeser duduknya ke depan, menjauhi sandaran kursi.

“Kenapa tadi dengan…pisah batas penjualan?” Tanya Rangga bagai orang yang baru tersadar dari lamunannya.“Maaf, tadi aku…belum menyimak,” katanya, tersenyum malu.

Arlene mengulangi penjelasannya. “Oh ya, ada dokumen yang ingin saya tunjukkan.”

Ia bergegas bangkit dan kembali ke kursinya sendiri di sudut ruangan. Tanpa beranjak, diulurkannya copy faktur penjualan Desember dan laporan bank Januari tersebut kepada Rangga.

Ha! Soraknya dalam hati. Akhirnya, ia punya kesempatan menghindari atasannya itu. Lega rasanya…Tapi tidak demikian dengan Rangga yang menatapnya dengan pandangan pias.

Ah, sekali lagi Arlene mendesah. Apakah itu cinta yang ia lihat di mata Rangga?
*

Read previous post:  
51
points
(388 words) posted by Valen 15 years 36 weeks ago
63.75
Tags: Cerita | cinta | Cincin | Menjadi Kekasih
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer imoets
imoets at Aku Jatuh Cinta? (15 years 26 weeks ago)
80

gue suka ceritanya..
bikin penasaran tapi sebenarnya menurut gue juga cukup jelas.karena terutama ingin menonjolkan pergulatan emosi dari arlene hanya pada saat itu saja.hmmm...congrat yach...ditunggu selanjutnya.. :)

Writer Valen
Valen at Aku Jatuh Cinta? (15 years 36 weeks ago)

Dear All, thanks u/ commentnya.
Runi: yes, sebenernya ini bagian dari cerbung. Iya ya, kayaknya kurang emosi. So, ada revisi sedikit nih, mudah2an lebih punya feeling. tx tuk sarannya ya Run. aq pasti ngelanjutin.
Uchie: Lega juga kalo penasaran.
Frenzy: tx u/ sarannya. dah dibikin "kaitannya" nih. Ya, Arlene memang sangat bingung.
Stella: Gosip miringnya ya. Masih rahasia nih. he he.Tx ya.
meier: kelihatannya Arlene gitu ya? Mengenai komen yang itu. Ha ha...kalo lagunya Basofi sih bilang... tidak semua laki-laki...he he...
Kristopher: thanks ya.

Tengkyu sekali lagi n ditunggu komen dari temen2 yang lainnya. Ayo, jangan ragu!

Writer runi septiawati
runi septiawati at Aku Jatuh Cinta? (15 years 36 weeks ago)
70

cerita ini tampak masih panjang ya..hehhe, soalnya emosinya belom dapet nih Valen. Tapi mngkin ini harus diterusin ya, kalo enggak, judulnya bukan aku jatuh cinta dong, hehehe. Ceritanya bagus tapi blum selesai aja ya kyaknya, klo dibilang dibikin ngegantung juga enggak, bukan? saya suka kok sama cerita ini, keep writing ya..=)

Runi

Writer FrenZy
FrenZy at Aku Jatuh Cinta? (15 years 36 weeks ago)
50

Wah aku br baca.. trnyata ini sambungan yang kedua td.. hmmm kayaknya hrs ada tanda2 d klo ini berseri, jd gak bingung! BTW arlene nya jadi kelihatan bingung bgt di kedua cerita, mgkn ada cerita tersingkap di baliknya?

Writer stella_ernes
stella_ernes at Aku Jatuh Cinta? (15 years 36 weeks ago)
70

Baca ini jadi ikut deg-degan nunggu Rangga dateng :)...tapi ceritanya belum selesai ya? Gosip miring tentang Rangga yang mana? kok ga dijelasin lebih lanjut sih? Masih belum tau Arlene sebenernya jatuh cinta atau cuma simpatik? saya pikir Arlene belum mengenal Rangga banyak...terusin ceritanya dong...

Writer KD
KD at Aku Jatuh Cinta? (15 years 36 weeks ago)
100

bagus, namun perlu dilanjutin agar lebih seru.

Writer uchie
uchie at Aku Jatuh Cinta? (15 years 36 weeks ago)
70

endingnya keren...bikin penasaran..imho....hihihi..great story..salam

Writer meier
meier at Aku Jatuh Cinta? (15 years 36 weeks ago)
40

Saya duga Arlene tidak jatuh cinta, hanya terkesima.
Rangga?well,basic-nya seorang pria...suka ambil kesempatan. (mudah mudahan ga ya..)