Be My Lover, Please...

“Arlene, maukah kamu menjadi kekasihku?” Tanya Rangga tiba-tiba.

Entah untuk keberapa kalinya pertanyaan itu meluncur dari bibir Rangga. Namun sepertinya kata-kata itu bagai angin lalu saja. Tanpa pernah menghadirkan satu jawaban.

“Aku berharap kali ini jawabannya ya, Len.” pinta Rangga penuh harap.

Arlene terdiam. Ia seakan berada di persimpangan jalan. Diambang dua pilihan. Dunia yang dipijaknya di sisi Rangga melambungkan angannya tinggi, meluapkan kebahagiaan tak terkira. Tapi, di dunia lain yang nyata, ia hanya bermimpi. Ada tirai besi yang membentengi jalinan cintanya dengan pemuda itu.

”Entahlah, Rangga,” desisnya. Membuat pemuda itu dirundung kecewa.

Harapannya kembali tak tercapai. Arlene hanya menghadiahinya senyuman sambil menelusupkan wajahnya di pundak Rangga.

“Kamu sayang nggak sih sama aku?” Bisik Rangga lirih sambil membelai rambut Arlene.

Pertanyaan yang lugas itu membuat Arlene tertunduk. Tersipu. Kembali ia menjawab dengan senyuman dan pelukan yang makin erat.

“Atau begini saja…” Rangga mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya dan membukanya. Benda yang ada di dalamnya membuat Arlene terpana. Dua buah cincin putih yang indah berkilau, dihiasi ukiran halus. Seperti cincin kawin yang di bagian dalamnya terukir nama mereka.

Diambilnya sebuah cincin dan dipakainya di jari manisnya. Diraihnya tangan Arlene dan disematkannya juga cincin yang satu lagi di jari manisnya. Matanya menatap lembut pujaan hatinya itu. “Aku---aku ingin meminangmu untuk menjadi kekasihku.” Katanya terbata. “Apakah kamu bersedia?”

Kelihatannya konyol memang. Seperti kisah cinta pria-wanita tempo dulu. Tapi bagi Rangga, tak ada sesuatu pun yang terlalu konyol dilakukan untuk Arlene, pujaan hatinya.

Rangga menunggu. Dengan harapan di hatinya. Tapi, Arlene hanya memandangnya, tanpa sepatah kata terucap. Di matanya yang bening, seberkas sinar nampak bercahaya. Terlalu mudah bagi Rangga untuk menebak, apa yang tersirat di balik sinar itu. Ia menarik Arlene ke dalam rangkulannya dan mendekatkan wajahnya. "Jika saat ini kamu tak melempar cincin ini ke luar, aku beranggapan kamu tak keberatan menjadi kekasihku…”

Arlene tertawa. “Ha...ha...ha...Kamu gila! Mana mungkin saya membuang cincin ini, Rangga? Kamu sudah capek-capek membuatnya.”

“So, you’re my lover now, honey.” Bisik Rangga. Bibirnya menyentuh pipi Arlene.

Wajah Arlene memerah. Meski begitu, mulutnya tak mengucapkan kata penolakan. Aneh rasanya, tapi mendebarkan!

“Kamu boleh memakainya atau menyimpannya, Len. Terserah kamu. Tapi aku akan memakainya sampai kapan pun…” Rangga menatapnya lekat.

Sampai kapan pun? Apa Rangga benar-benar serius dengan perkataannya?

***

Read previous post:  
Read next post:  
Writer snap
snap at Be My Lover, Please... (12 years 23 weeks ago)
70

kok putus?

Writer imoets
imoets at Be My Lover, Please... (13 years 19 weeks ago)
80

lanjutannya dari yang pertama..tapi emosi yang ada udah sama sekali beda.
walaupun hanya menggambarkan satu kejadian tapi jiwanya sangat terasa...
good luck... :)

Writer diorisnotgucci
diorisnotgucci at Be My Lover, Please... (13 years 29 weeks ago)
50

nggak asik nihhh... masa udahan sih? pengen lagi!

Writer runi septiawati
runi septiawati at Be My Lover, Please... (13 years 29 weeks ago)
70

A cute story..=)

Runi

Writer Farah
Farah at Be My Lover, Please... (13 years 29 weeks ago)
50

asik,,asik,,asik,,,romantis bener kisahnya rangga n arlene, cinderela jaman modern euy,,,masih ada lanjutannya pula kan?!!?,,,cuman bener kata frenzy, kasih tanda dunks klo cerita yg ini lanjutan dari cerita yg lain,,,

Writer FrenZy
FrenZy at Be My Lover, Please... (13 years 29 weeks ago)
50

Hmmm kalau ditulis apa ada sambungan atau gak, dan kalau dikasih tanda tanda arah crita mau ke mana, mgkn ga terasa datar ya...

Writer evillya
evillya at Be My Lover, Please... (13 years 29 weeks ago)
70

blom selesaikah...? coz masi bertanya2 juga sih, seserius itukah si rangga? cie ciee.. :D

Writer meier
meier at Be My Lover, Please... (13 years 29 weeks ago)
70

saya tunggu kelanjutannya...apakah benar?hehehe