SKETSA-B [2]

Bergantinya hari-hari adalah bagian sebuah hal, seperti peristiwa hari ini….
Begitu bersemangat kau begitu mengagumi aku, entah dari sisi mana kau membuat keputusan seperti itu, rasanya aku tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat dirimu mampu mengagumi diriku.
Bagian mana yang bisa membuktikan bahwa rasa kagummu padaku itu sangat beralasan, sebab rasanya begitu banyak alasan yang aku berikan ketika kau membutuhkan suatu alasan untuk kagummu itu.
Begitu besar rasa kagum itu hingga seolah membuat aku merasa diselimuti olehnya, sungguh hangat benar jiwaku.
Bila boleh aku pertanyakan, apa sih yang bisa kau kagumi dari diriku?.
Bila mampu aku dengar, aku yakin kau akan mengatakan bahwa kau kagum padaku.
Bila mungkin aku tetap memaksakan tanyaku padamu, aku akan tetap yakin kau akan mengatakan bahwa kau memang kagum padaku.
Bila memang aku sungguh-sungguh ingin mendengar ucapan kagum dari bibirmu, aku yakin pasti senyum yang akan kau berikan.
Bila memang senyum yang pasti akan engkau berikan, aku yakin itulah senyum kekagumanmu, dan aku juga kagum padamu!.
Berapa banyak waktu yang telah kau sita hanya sekedar untuk mencari suatu kiasan dari diriku yang kemudian kau implementasikan menjadi suatu bagian bayangan (dan) dirimu?.
Bagian yang mungkin tentu berarti bagi dirimu, sementara aku tidak atau belum menyadari sama sekali tentang hal itu.
Bagian yang kadang membuatmu seolah berjalan tanpa ada batas waktu.
Bagian yang tak jarang pula sering memberi begitu banyak improvisasi pada dirimu.
Bagian yang sering membuatmu terlalu banyak berhalusinasi.
Bagian yang akan kau bagi lagi menjadi beberapa bagian, hanya sekedar untuk mengisi dan menemani dari setiap bagian dirimu.
Bagian yang mungkin juga sedang kau proses menjadi satu bagian utuhmu!.
Bahkan mungkin juga bagian yang tak tentu berarti bagi dirimu, sementara aku tidak atau belum menyadari sama sekali tentang hal itu.
Bagian yang kadang membuatmu seolah berjalan dikekang waktu.
Bagian yang tak jarang pula sering menghalangi improvisasi pada dirimu.
Bagian yang sering membuatmu seolah mati suri.
Bagian yang akan kau bagi lagi menjadi beberapa bagian, hanya sekedar untuk mengisi dari setiap bagian dirimu.
Bagian yang mungkin juga sedang kau proses menjadi beberapa bagian kecil untuk kemudian kau lenyapkan secara serentak, atau mungkin satu demi satu, demi hati.
Benar-benar sebuah peristiwa yang memang tersusun atas nama hari… waktu… menit… dan detik… yang begitu indah untuk didengar dan dirasa….

Beberapa hari ini…, dalam beberapa hari ini semua bagian peristiwa telah menjadi hal yang begitu istimewa.
Beberapa hari telah kau lewati dengan sangat melelahkan, namun beberapa hari juga telah aku lewati dengan sangat melelahkan.
Beberapa hari yang terlewati mungkin sama-sama melelahkan, namun belum tentu kita sama-sama merasakan kelelahan di bagian yang sama, tapi mungkin kita sama-sama merasakan kelelahan yang sama.
Beberapa hari yang terlewatipun telah mampu menciptakan suatu hal yang manis tentang egomu, yang selalu menenggelamkan aku dalam kiasan-kiasan perasaanmu yang aktif dan sensitif.
Berkali-kali kau gelitiki hatiku dengan bermacam-macam rasa yang menggugah egoku.
Berkali-kali pula aku kumpulkan semua itu, lantas aku bungkus dengan sebuah kewajaran yang manis agar terlihat indah, demi kamu.
Bahkan sepertinya tidak pernah ada kata jera pada dirimu untuk sekedar memberi sebungkus perasaan tanpa alasan pada diriku.
Bahkan juga kadang sederet rentetan tanya untuk diriku, ketika alasan yang aku berikan tak beralasan, atau ketika raut yang kupampangkan tampak beralasan, atau ketika janji yang kuberikan hanya sekedar alasan!.
Betapapun yang terjadi, aku juga tak pernah dan tak akan pernah jera pada dirimu untuk memberi setetes senyum pada setiap titik jengahmu, pada setiap argumentasimu yang juga kadang tak beralasan, pada setiap alasan yang kau ciptakan hanya untuk sekedar melihat diriku.

Bagian demi bagian masa lalu coba aku susun kembali demi mencari sebuah waktu yang pernah aku lalui menit-menitnya dengan senyum harapan di setiap detiknya.
Barangkali aku bisa menemukan satu titik yang menjadi rinai-rinai dihari nanti, yaitu hari ini.
Barangkali aku bisa menemukan bagaimana titik kagummu dimulai, bagaimana titik simpatimu dimulai, bagaimana titik rindumu dimulai, bagaimana titik harapanmu dimulai, padaku!.
Beribu rinai menyerbu di setiap penjuru jiwaku, dan setiap titik-titiknya menerpa disetiap hampa jiwaku, menetes membasahi.
Begitulah, lantas serta merta aku mecoba mendengar detik waktu disetiap senyumku, merasakan menit waktu disetiap langkahku, melihat waktu disetiap waktuku.
Begitulah, lantas serta merta aku mencoba, bagaimana aku harus mulai menitikkan kagumku, bagaimana aku harus mulai menitikkan simpatiku, bagaimana aku harus mulai menitikkan harapanku, padamu!.

Belasan…, bahkan ribuan kagum, simpati dan harapan sebenarnya pernah aku curahkan pada setiap kesempatan, pada sebuah keadaan untuk mereka yang manis.
Belasan, bahkan ribuan kali bagi mereka yang manis mencurahkan pula rasa kagum, simpati dan harapan mereka atas rasa kagum, simpati dan harapan yang aku curahkan.
Belasan, bahkan ribuan kali, namun aku yang tak mengerti tentang rasa kagum, simpati dan harapan itu sendiri, sehingga aku mencurahkannya begitu saja, atau bahkan mereka yang terlalu mengerti akan kagum, simpati dan harapan, sehingga bagi mereka itu bukan hanya sekedar curahan saja.
Berlalu, dan semua memang berlalu begitu saja, tanpa aku sadari telah meninggalkan begitu banyak rindu beku, sementara aku terus saja berlalu dalam rasa dalam, dalam sayang dalam, dalam asmara dalam.
Berlalu, dan semua memang kubiarkan berlalu membawa sebaris rindu kelu, sementara aku terus saja berlalu menggandeng mesra mereka yang merasa lesu, selesu egois diriku, selesu naif diriku, selesu munafik diriku.
Berlalu, ketika semua berlalu membawa egoisku, membawa naifku, membawa munafikku, dan aku tersenyum, ternyata mereka sebenarnya sayang padaku.
Berlalulah semuanya setelah itu, uraian-uraian sebelum itu yang begitu syahdu juga berlalu, aku dan mereka yang melaluinya membiarkan itu semua berlalu!.
Biarpun semua telah berlalu, namun semua itu belum usai hanya dengan begitu saja, semua tidak berlalu begitu saja, hanya tertidur untuk sementara.
Biasanya aku mengusik tidurnya ketika aku mulai rindu, mungkin demikian juga pada mereka yang rindu seperti diriku.
Biasanya juga langsung kubawa tidur ketika rindu mengusik, entah pada mereka yang terusik rindu.

Berhelai-helai kasih sayang tanpa kusadari telah aku sulam dalam hati, dalam hati mereka sekaligus dalam hatiku.
Berhamparan sulaman kasih sayang di hati kita, selalu mengiringi dimana langkah ini akan dijatuhkan.
Berhamparan sulaman kasih sayang membalut jiwa kita, selalu mengiringi dimana pesta kita akan berlangsung.
Berhamparan sulaman kasih sayang membalut kita, kan selalu kupersembahkan untukmu, hingga kita nanti berpisah untuk bertemu kembali.

Bukan pamrih yang kusiratkan dibalik hangat peluk eratku, justru aku merasa ada suratan yang kau harap didalam bening kaca di matamu.
Benar-benar aku terpesona oleh tipisnya air di kelopak mata itu, dan aku memang suka terpesona oleh tipisnya air disetiap kelopak mata itu.
Belum lagi lengkungan senyum dibibir itu, dan aku juga suka terpesona olehnya.
Biarkanlah aku memandangi lekat-lekat beningnya kelopak matamu, dan biarkanlah aku memandangi lekat-lekat indahnya ukiran dibibirmu.
Biarkanlah aku menyatukan keduanya dalam hatiku, dan akan kuberikan sebuah lukisan indah yang begitu mempesona, sehingga kau tak akan percaya ketika aku menghadirkannya di depan matamu.
Betapapun semua pesona yang ada, aku menganggapnya sebagai anugerah di dirimu yang memang pantas untuk aku kagumi dan manusiawi bila aku terpesona olehnya, wajar bila aku juga suka memperhatikan di bagian itu dengan begitu mendalam.
Betapapun semua pesona yang ada, salahkah diriku jika aku memang benar-benar kagum padamu, jika aku memang benar-benar terpesona padamu, jika aku memang benar-benar terobsesi padamu?.
Biarkanlah aku terlena dengan nyanyian-nyanyian kekaguman yang begitu mendalam….
Bukakan satu kalimat “mengagumi tanpa harus memiliki”, dan itulah yang aku lakukan, tanpa memberi sesuatu tanpa mengharap sesuatu, salahkah aku jika mereka ternyata telah menerima sesuatu?.
Begitulah keadaannya, hari-hari dilalui dengan harapan, hari-hari berlalu penuh mimpi, hari-hari berlalu dalam rindu dan hari-hariku hanya mengikutinya saja.
Begitulah keadaannya, sampai suatu ketika telah membuatku bahagia dan terharu.
Bukakan satu kalimat “mengagumi berarti memberi”, dan itulah yang mereka terima.
Bersalahkah aku atas semua itu?, walaupun tak ada maksud untuk melakukan itu.
Bersalahkah aku atas semua itu?, atas sebuah ketulusan yang aku berikan, ketulusan yang pada saat itu memang benar-benar keluar dari hati kecilku yang paling dalam, hanya untukmu.
Bersalahkah aku atas semua itu?, atas kekaguman diriku padamu, kekaguman yang pada saat itu memang benar-benar mempesona diriku.
Bersalahkah aku atas semua itu?, atas semua pujian dari kekagumanku padamu yang pada saat itu memang benar-benar kuucapkan dengan tulus.
Bagaimanapun juga semua yang aku lakukan itu tanpa ada maksud tertentu atas dirimu, karena aku murni memang terpesona padamu, dan aku murni mengagumi sesuatu yang ada pada dirimu, dan kau menganggap semua itu tidak begitu, aku juga bisa memakluminya, tapi bersalahkah aku?.
Berilah aku ma’af jika semua yang aku berikan telah membuaimu dalam mimpi.
Berilah aku ma’af jika semua yang aku lakukan telah memberimu seribu harapan tentang asmara.
Berilah aku ma’af jika semua yang aku katakan telah membukakan hamparan lena rindumu.
Berilah aku ma’af jika semua yang aku berikan telah perih melukaimu.
Berilah aku ma’af karena aku tak bermaksud untuk menyakitimu.
Begitu semua aku rasakan, sedikit demi sedikit aku juga bisa memahami perasaanmu padaku atas semua perlakuanku padamu.
Begitu semua aku rasakan, semua yang kulakukan padamu selama ini mungkin terlalu berlebihan bagimu.
Begitu semua aku rasakan, begitu juga perasaanku kusut!.
Bermacam-macam kisah kasih masa lalu yang sempat tertidur, akhirnya sempat pula terbangun dan menghadirkan kembali bermacam-macam kisah kasih masa lalu, dan sudah terasa masam.
Berkali-kali bermacam-macam kisah kasih masam itu menghantui diriku, hingga akupun kadang juga merasa masam sendiri.
Bermacam-bermacam kisah kasih masam itu berkali-kali juga telah membuat aku merasa bahagia semusim.
Bahagia semusim?, seperti apakah bahagia semusim itu?, setiap kali mencoba mengartikan hal itu selalu saja terasa masam, dan musim kisah kasih itu pasti seketika akan hadir, dan seketika pula membuat aku merasa masam sendiri dalam indahnya bahagia semusim itu.
Bagaimanakah perasaanmu nanti setelah tau apa yang sebenarnya terjadi?
Bumi pasti terang selama bulan dan mentari bersinar, dan mendung……? dan mendung adalah kekasihku, dan awan……? dan awan adalah kekasihku, dan kabut……? dan kabut juga kekasihku……
Bumi pasti terang selama bulan dan mentari bersinar, dan kekasihku……? dan kekasihku pasti masih menyimpan mendung… awan… dan kabut itu…
Bumi pasti terang selama bulan dan mentari bersinar, dan bintang-bintang…? dan bintang-bintang akan kupersembahkan untuk kekasihku.
Bagaimana aku tidak sakit… sementara engkau terluka…, bagaimana aku tidak bersedih… sementara engkau menangis…, bagaimana luka dan tangismu bisa membuat aku sakit dan bersedih?
Bahagia hatiku melihat engkau tersenyum…, bahagia hatiku melihat engkau tertawa…, bahagia hatiku dalam senyum dan tawamu!.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, aku tak yakin engkau akan bertanya “Untuk siapakah telaga itu tercipta?”.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, aku yakin kau pasti akan serta merta berkata “Biarkan aku berenang di dalamnya…”.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, yakinkah kau bila aku berkata “Buat mereka yang butuh kasih sayang…”.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, yakinkan aku dengan berkata “Aku pasti akan menjaganya…”.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, kau akan tau untuk siapa telaga itu tercipta.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer diraparau
diraparau at SKETSA-B [2] (14 years 47 weeks ago)

buat semua komen yang masuk hingga saat ini :) edowall, Jamil_begund

Writer Jamil_begundal
Jamil_begundal at SKETSA-B [2] (14 years 49 weeks ago)
80

ada begitu banyak premis menarik di sini. sayang kamu jarang mengakhirinya dengan konklusi yang yang sama mengagumkannya.
anyway, aku suka dengan kalimat terakhirmu.

Writer edowallad
edowallad at SKETSA-B [2] (14 years 50 weeks ago)
100

keren...