Satu Setengah Juta Rupiah

Sampan bergegas ke sekolah tempat anaknya didaftarkan di sekolah menengah pertama. Tasnya ia sampirkan dibahu kirinya. Hari ini ia membawa uang satu setengah juta rupiah.

Bersama Cipluk, anak tertuanya, Sampan menumpang bajaj tetangganya. Sampan mampu pergi dengan hati sedikit bersyukur. Karena giatnya ia menabung dan menjual beberapa barang - barangnya, Cipluk bisa masuk SMP. Tak tanggung – tanggung, Sampan membayar dua juta rupiah lebih hanya untuk biaya masuk murid baru. Kadang Sampan bangga. Itu artinya ia mampu menyediakan uang dan anaknya tak sampai putus sekolah. Kata Pak Bimo, majikannya, pendidikan itu penting karena bisa membuat hidup lebih baik. Sampan dan istrinya hanya sekolah sampai kelas enam SD, itupun tak tamat karena tak mampu bayar biaya ujian sekolah negeri yang katanya sudah amat murah itu. Tapi Sampan sekaligus bingung. Kalau Cipluk saja sudah menghabiskan jutaan rupiah untuk masuk SMP, bagaimana nanti dengan adik – adiknya? Ah, Sampan yakin Tuhan Maha Pemurah pasti memberi kemudahan padanya.

Nasib Sampan tak akan seberuntung ini jika ia tidak ditemukan oleh Pak Bimo. Ketika itu ia sedang mencari barang bekas di tempat sampah sebuah rumah besar. Ia memang biasa mencari sampah plastik di rumah – rumah besar karena dalam pikirannya rumah besar pasti milik orang kaya dan orang kaya pasti membuang banyak sampah plastik. Yang tak diduganya adalah ketika si empunya rumah ternyata beberapa kali mengamati saat ia mengaduk – aduk tempat sampah. Sampan ditegur oleh perempuan muda bertubuh kecil. Mungkin pembantunya, pikir Sampan, mungkin juga nyonya rumah. Sampan dipanggil masuk ke dalam rumah. Sampan gemetar. Ia membayangkan akan dimarahi karena mengorek – orek tempat sampah empunya rumah. Terlintas ia ingin lari. Tapi kakinya malah melangkah masuk ke halaman yang besar itu. Halaman rumah yang besarnya mungkin 10 kali rumah kontrakannya.

Sang pemilik rumah yang memperkenalkan dirinya bernama Pak Bimo bertanya kepada Sampan. Pak Bimo duduk di undakan lantai teras berhadapan dengan Sampan.

“Saya perhatikan kamu hampir tiap hari mencari sampah di tempat sampah rumah saya. Apa yang kamu cari?” tanya Pak Bimo. Suaranya yang empuk dan bijak membuat hati Sampan agak tenang.

“Saya mencari sampah plastik, Pak,” jawab Sampan singkat.

“Saya tahu kamu mencari sampah plastik. Maksud saya, kenapa kamu mencarinya disini? Sebelumnya saya tidak pernah melihat kamu mencari sampah disini. Baru beberapa minggu ini saya sadar bahwa hampir setiap hari saya melihat kamu mengorek – orek tempat sampah saya,” kata Pak Bimo.

“Maaf, Pak!Kalau tidak boleh saya tidak akan mencari sampah disini lagi,” kata Sampan setengah takut.

Tapi Pak Bimo malah bertanya, “Siapa nama kamu? Darimana asal kamu? Atau jangan – jangan kamu punya niat tidak baik terhadap penghuni perumahan ini. Kamu kerjasama dengan komplotan pencuri untuk memata – matai,” ujar Pak Bimo. Perkataannya langsung membuat Sampan sedikit terhenyak. Sampan tak menduga akan disangka maling.

“Saya bukan maling, Pak! Saya juga tidak kerjasama dengan maling manapun. Saya bersumpah demi Tuhan cuma mau cari sampah plastik, Pak. Mau saya jual lagi,” Sampan memberanikan diri menatap mata Pak Bimo untuk meyakinkan bahwa anggapan Pak Bimo terhadap dirinya salah. Pak Bimo tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat ekspresi Sampan yang polos.

“Lalu kenapa kamu jadi pemulung? Sebelumnya kamu kerja apa?” tanya Pak Bimo lagi.

Lalu Sampan menceritakan asal – usul dirinya yang berasal dari sebuah dusun di Jawa Tengah sana. Sekolah dasarnya yang tidak tamat karena orang tuanya cuma buruh tani yang tidak punya lahan pertanian sendiri. Dengan ketrampilan yang serba terbatas. Ajakan teman ke Jakarta. Dan akhirnya sejak enam bulan lalu ia menjadi pemulung di Ibukota ini.

Pak Bimo mendengarkan ceritanya penuh perhatian. Kemudian disuruhnya pembantunya membuatkan minuman dingin untuk Sampan. Mendengar cerita Sampan yang tidak dibuat – buat, Pak Bimo semakin yakin Sampan orang jujur dan mau bekerja keras. Karena itulah Pak Bimo bertanya apakah Sampan bisa memotong rumput dan merawat tanaman. Sampan menjawab bisa. Lalu Pak Bimo menawarinya pekerjaan di rumah itu sebagai tukang kebun. Sampan kaget. Ia tak percaya pendengarannya. Ia tak percaya ada orang sebaik Pak Bimo. Sampan tak bisa menjawab ketika ditawari pekerjaan itu. Ia sungguh tak percaya sekaligus senang. Minah, istrinya dan Cipluk dan Masnih, anak – anaknya, pasti senang. Segera Sampan menjawab mau. Sejak itu ia bekerja di rumah Pak Bimo sebagai tukang kebun. Tiga kali seminggu ia datang untuk memotong rumput, merawat kebun, merapikan tanaman pagar, dan kadang membersihkan kolam renang. Sampan bertekad jangan sampai mengecewakan Pak Bimo yang begitu baik. Sampan dan keluarganya bahkan dikontrakkan rumah petak tak jauh dari rumah Pak Bimo meski di perumahan kumuh. Sampan bahkan tak peduli omongan sinis pembantu –pembantu dan sopir di rumah itu yang menghina dan menganggap remeh dirinya karena pernah menjadi pemulung.

Sudah tujuh tahun Sampan bekerja di rumah Pak Bimo. Dari gajinya yang enam ratus ribu rupiah sebulan ia bertekad untuk menabung meski sedikit. Sejak lima tahun lalu, istrinya diberi modal oleh Bu Nina, istri Pak Bimo untuk berjualan nasi uduk di depan rumah, sehingga beban keuangan tidak terlalu berat bagi Sampan. Sampan semakin menyukuri hidupnya karena dipertemukan dengan keluarga Pak Bimo yang begitu baik dan pemurah.

Sejak tujuh tahun itu pula lahir adik Cipluk dan Masnih, yaitu Gino. Cipluk kini sudah lulus SD dan akan mendaftar di SMP negeri. Masnih masih kelas empat dan Gino akan masuk Taman Bermain. Sampan bangga anak – anaknya pintar di sekolah dan baik budinya.

Namun, naik kelasnya anak – anak berarti naik pula pengeluaran Sampan dan Minah. Selama sebelas bulan Sampan giat menabung, dan setiap bulan kedua belas, tabungannya dikuras untuk biaya sekolah. Lalu sebelas bulan berikutnya ia giat kembali menabung, lalu terkuras kembali pada bulan kedua belas. Tapi tak apa, toh demi sekolah anak – anaknya juga. Ia ingin anak - anaknya berhasil dan kelak dapat mengangkat harkat orang tua.

Satu minggu setelah pengumuman Cipluk diterima di SMP negeri, Sampan mengambil uangnya di bank. Ia bayarkan semuanya untuk sekolah Cipluk, Masnih, dan Gino. Terbanyak untuk sekolah Cipluk karena ada uang pangkal, uang seragam dan uang gedung yang jumlahnya satu juta rupiah. Tapi dua minggu kemudian ketika akan mengambil seragam, Sampan ditagih lagi bayaran uang buku, ekstrakurikuler, komputer, dan sumbangan sukarela. Jumlahnya satu setengah juta rupiah.

Sampan kaget karena ibu guru yang cantik itu sebelumnya tidak memberitahu bahwa ada uang – uang segala macam itu. Ibu guru yang cantik itu berkata bahwa ada tulisan kecil di pojok kiri bawah formulir tentang pemberitahuan itu. Sampan menelisik kembali formulirnya sambil memicingkan mata membaca tulisan yang kecil gemercil itu. Kepalanya nyaris pusing karena tulisannya demikian keciiiil, meski akhirnya terbaca juga.

Sampan, dengan polosnya, lalu berkata pada ibu guru itu, ”kalau begitu nanti Cipluk tidak usah ikut komputer dan ekstrakurikuler saja, bu guru. Jadi saya kan tidak usah bayar biayanya.”
Bu guru mengerutkan keningnya. “Biaya itu sudah paket, Bapak. Pelajaran komputer itu wajib. Dan kalau Cipluk nanti tidak ikut ekstrakurikuler tidak apa – apa, tapi biayanya harus tetap dibayar karena sudah paket dan itu termasuk biaya wajib,” bu guru itu kelihatan mencoba sabar.

Sampan tidak berani berkata lagi. Ia takut bu guru itu marah nantinya. Akhirnya ia minta waktu untuk melunasi. Bu guru memberi waktu satu minggu lagi karena tahun ajaran baru dimulai sepuluh hari lagi.

Sampan bingung. Darimana ia dapat satu setengah juta rupiah lagi. Uangnya dan uang istrinya jika digabung tinggal tujuh ratus ribu. Itupun untuk bayar kontrakan rumah dan makan sehari – hari. Sampan menggadaikan sepedanya ke Mas Musro, tetangganya. Melego dua lemarinya ke Bu Nur, dan menggadaikan satu – satunya perhiasan emas cincin 2 gram hadiah dari Bu Nina. Dapat juga uang satu setengah juta rupiah. Soal makan dan bayar kontrakan urusan nanti. Sampan masih bersyukur karena Cipluk masuk sekolah negeri. Ia membayangkan jika Cipluk sekolah swasta mungkin biayanya akan lebih mahal.

Akhirnya hari ini Sampan dan Cipluk menumpang bajaj Kang Karman menuju sekolah Cipluk membayar kekurangan biaya sekolah. Sampan lihat wajah Cipluk cerah dan penuh senyum. Ditengah suara deru bajaj, Cipluk membayangkan hari – harinya di sekolah baru. Ia akan memakai rok warna biru. Belajar banyak ilmu, pengetahuannya bertambah, temannya banyak. Cipluk berniat akan selalu ranking satu lagi. Sampan bangga pada anaknya ini.

Pulang dari membayar tagihan hati Sampan plong. Ia ingin cepat ke rumah Pak Bimo untuk bekerja. Pekerjaannya banyak karena kemarin ia izin tidak bekerja. Cipluk pun ingin membantu ibunya menggoreng emping dan bawang untuk jualan nasi uduk sore nanti.

Tiba – tiba, Braak! Sampan merasa tubuhnya seperti terpukul godam dan terguncang hebat. Badannya bertubrukan dengan Cipluk dan terlempar keluar dari pintu samping kirinya setelah sebelumnya pinggang kirinya membentur besi. Tak sempat berteriak, tubuhnya tertindih rongsokan bajaj. Rasa sakit menjalar di punggung, pinggang dan dadanya. Dirasanya darah mengalir dari pelipis. Dipanggilnya Cipluk tapi suaranya pelan karena menahan sakit. Cipluk ternyata juga luka. Badan Cipluk penuh luka – luka dan ia merintih – rintih.
“Pak, kita ditabrak mobil. Bajaj kita ditabrak mobil. Sakit, Pak!” rintih Cipluk. Sampan tidak sanggup berkata – kata. Ia hanya bisa menahan sakit. Orang – orang mengerubutinya, berteriak – teriak “Tabrakan!Tabrakan!”, dan bertanya – tanya kepada dirinya.

Orang – orang ini ribut sekali. Sampan ingin mencari Kang Karman. Matanya mengelilingi segenap ia mampu. Tapi kenapa Kang Karman tidak kelihatan. Apa ia luka – luka atau selamat. Sampan ingin mencarinya lagi tapi kepalanya makin pusing, pandangannya gelap dan nafasnya berat.
Tiba - tiba dilihatnya seseorang mengambil dompetnya yang tercecer tak jauh darinya. “Hei!Itu dompet saya!Kembalikan dompet saya!Copet!” Sampan mencoba bangkit tapi tak sanggup menahan rasa sakit. Ia berusaha teriak agar ada yang menangkap copet itu. Tapi semua orang terlalu sibuk berlagak panik hingga tak mendengar maksud Sampan. Sampan memaki dalam hati. Sial copet itu!

Tak lama kemudian dilihatnya tubuh Cipluk diangkut ke mobil ambulans. Masih bisa dirasanya pula ketika orang – orang mengangkat tubuhnya ke ambulans yang sama. Tak lama kemudian setelah mendengar sirene meraung –raung, Sampan memasrahkan dirinya dalam gelap.

Jakarta, 19 Agustus 2006

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer bunghatta_crb
bunghatta_crb at Satu Setengah Juta Rupiah (13 years 49 weeks ago)
100

Wow seni bercerita yang baik, kamu menggunakan alur mundur dalam bercerita untuk memperkenalkan penokohannya, kemudian kamu lanjutkan dengan alur maju diakhir cerita. It's ok..Salut dengan gaya penulisanmu..

Lihat karyaku:
Tik..tak..tik..tak.. (suara apaan yach he..he..)
http://www.kemudian.com/node/189122

Writer md_atn
md_atn at Satu Setengah Juta Rupiah (13 years 49 weeks ago)
90

bagus banget !

Writer Cabernet Sauvignon
Cabernet Sauvignon at Satu Setengah Juta Rupiah (13 years 49 weeks ago)
50

emang kurang ajar yg suka mengambil kesempatan dalam kesempitan