Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee

Kucingku bernama Sun. Dalam bahasa Inggris artinya matahari, tapi dalam bahasa Korea, Sun berarti kebaikan, atau segala sesuatu yang baik. Dia jelas kebaikan bagiku. Sun adalah satu – satunya temanku untuk bercerita di rumah.

Aku anak tunggal yang kebetulan lahir di keluarga yang serba berkecukupan. Tapi, seperti yang dialami oleh banyak anak berkecukupan lainnya, harta yang kami terima tidaklah menutupi kerinduan kami akan kehangatan keluarga.

Papa menjabat sebagai salah satu direksi perusahaan telekomunikasi terkenal di Korea. Sedangkan mama ? Dia lebih suka jalan – jalan dengan teman-teman sesama tante girangnya (mama selalu memelototiku kalau aku menyebut sebutan itu, dan besoknya, aku tak akan dapat uang makan siang ).

Setahun yang lalu, aku menemukan Sun – yang badannya hitam legam seperti habis jatuh ke dalam jelaga – di depan rumah. Hampir benar. Ia tercebur ke dalam got dan kaki belakangnya terluka, sehingga kalau ia berjalan, jalannya meloncat-loncat. Lucu sekali (aku tahu seharusnya aku tak boleh tertawa karena ia terluka, tapi mau bagaimana lagi ?). Karena yang merawatnya selama sakit hanya aku, maka setelah sembuh, ia kini benar-benar lengket padaku.

Awalnya mama menolak habis-habisan waktu aku bilang mau memelihara Sun. Papa malah bilang, biarkan dia di jalan, karena memang di sanalah hidupnya. Enak saja ! Sekalinya aku bisa dapat teman, aku harus membuangnya ? Dengan berbekal tangisan bombay dan mogok makan selama sehari penuh, Sun resmi jadi penghuni rumah ini. Kini aku punya teman untuk bermain di rumah. Aku sering sekali mengajak Sun bermain ,seperti siang ini.

Aku sedang tidur-tiduran di kasur sambil membaca majalah. Sun ada disamping tempat tidurku, melompat-lompat, berusaha naik ke kasurku. Aku pura-pura membaca majalah, sambil sesekali melirik perjuangan kerasnya.

Percobaan pertama, kukunya tersangkut di bedcoverku, lalu ia terjerembab.

Percobaan kedua, kepalanya berhasil muncul di tepi tempat tidur, tangan mungilnya gemetaran, dan ia kembali terjerembab.

Percobaan ketiga, ia mengeong dengan nada memelas, memintaku menggendongnya ke atas. Gagal, karena aku pura-pura tuli dan terlalu sibuk membaca majalah (padahal aku ingin melihat usahanya sekali lagi).

Percobaan keempat, dia mundur cukup jauh dan berlari kencang sebelum melompat. Tepat sebelum dia terjerembab untuk yang ketiga kalinya, aku menangkap tubuh mungil berbulunya dan menyimpannya di punggungku. Dia bergelung senang dan mendengkur manja. Aku sangat menyayangi Sun.

Handphoneku berbunyi. Kuraih handphone itu dengan malas dan membuka kuncinya. Ternyata ada sms masuk. Lagi-lagi dari Jyuu-hun. Dan lagi-lagi ia mengajakku bertemu.Dengan sebal kumatikan handphoneku (supaya ia tak mencoba menghubungiku) dan kulempar handphoneku ke ujung tempat tidur. Dasar pengkhianat. Aku benci dia.

Sun, yang nampaknya tahu aku sedang kesal, menuruni pundakku dan menjilati pipiku. Kalau kau belum pernah dijilat kucing, kuberitahu rasanya. Hangat, kasar, geli dan basah (tapi setelah itu langsung kering,sih). Aku membelai kepalanya sebagai ucapan terima kasih.

Ada satu hal yang menggangguku (dan Sun) akhir-akhir ini, yaitu munculnya sesosok pria yang selalu melihat kami dari jendela. Awalnya aku merasa takut. Aku memang bisa melihat hal-hal gaib, kekuatan turunan keluarga yang merepotkan. Tapi sosok pria itu tidaklah terasa berbahaya. Ia hanya mengamati kami, lalu pergi. Mungkin hanya anak tetangga baru. Atau setan betulan. Yang mana saja, selama dia tidak melukaiku atau Sun, aku sih tak peduli.

Sampai malam ini, ketika kulihat jubah putihnya berkibaran di atasku. Aku langsung duduk terbangun dan Sun yang tertidur di atas perutku, jatuh ke bawah tempat tidur. Ia mengeong protes.

Yang pertama kusadari matanya aneh. Yang kiri berwarna abu-abu, yang kanan berwarna biru pucat. Rambutnya yang hitam pekat jatuh dengan halus dan membingkai wajah tirusnya. Bibirnya tipis dan berwarna oranye. Singkatnya, ia makhluk paling tampan yang pernah kulihat. Bahkan mengalahkan Rain.

“Kau bukan manusia” seruku. Bagus. Hal pertama yang kukatakan pada makhluk – tampan – yang – mengalahkan – Rain – adalah bahwa ia bukan manusia.

Senyumnya mengembang. Angin malam yang berhembus dari kamarku meniup tiap helai rambutnya. “ Benar.” jawabnya. Suaranya merdu sekali. Seakan ia tak berbicara, tapi menyenandungkan tiap kata yang keluar dari mulutnya (padahal ia baru bicara 1 kata).

“ Apa kau…hantu ?”. Ingin rasanya kusumpal mulutku yang kerap melontarkan pertanyaan – pertanyaan bodoh.

Ia berjalan mendekat, membiarkan sinar bulan menyinarinya, membiarkanku melihatnya lebih jelas.

SRAT !!!

Kini aku melihatnya. Sepasang sayap berwarna abu-abu mengembang dari punggungnya. Warna abu-abunya hangat. Bukan abu-abu dari aspal di pinggir jalan. Tapi lebih mirip warna abu-abu milik tikus,atau burung hantu. Abu-abu hangat, yang membuatku ingin memeluk kedua sayap itu.

Ingin dipeluk tepatnya.

“Kau malaikat.” seruku kagum. Tapi kekagumanku dengan cepat digantikan oleh pertanyaan berikutnya. “ Sedang apa seorang malaikat di sini ? Dan aku tahu kalau kau sudah mengawasiku sejak seminggu yang lalu ! “

Senyumnya memudar.

“Aku tertarik padamu, karena kau bisa melihatku. Dan aku tahu kalau kau tahu kalau aku mengawasimu “ jawabnya.

Belum sempat aku mencoba mencerna kata-katanya, ia melanjutkan, “Jarang-jarang ada manusia yang bisa melihat kami. Itu sebabnya aku ingin tahu sedikit tentangmu “

“ Kami ? kau punya semacam…kawanan ? “tanyaku sambil memperbaiki posisi dudukku.

“Kelompok tepatnya. Aku adalah pencabut nyawa,Min-jee” jawabnya kalem.

Aku tersentak kaget. Karena dia bilang kalau dia adalah pencabut nyawa dan karena satu hal yang jelas : dia tahu namaku.

“Kalau begitu kau harus memberitahu namamu. Tak adil kalo hanya kau yang paling tahu disini. “ Rasanya aneh sekali, berbincang-bincang dengan malaikat maut di kamar malam-malam dan menanyakan namanya. Orang-orang tak akan percaya.

“Namaku Cung-hee. Aku bertugas mencabut nyawa dalam beberapa waktu lagi, di rumah ini. Aku mengawasimu karena aku tertarik pada manusia yang memiliki kekuatan spiritual yang besar.” Jawabnya cepat. Bulu sayap Cung-hee bergerak-gerak pelan mengikuti arah tiupan angin, begitu pula rambutnya. Kedua mata berbeda warna yang mengintip dibalik rambut hitam itu benar-benar memesonaku.

Aku baru sadar ucapannya beberapa saat kemudian. “Kau bilang, kau bertugas mencabut nyawa beberapa jam lagi ? DI RUMAH INI ? Ada yang akan mati di rumah ini ? Siapa ? “

Lalu aku terdiam sebentar, menyadari sesuatu. “Aku?”tanyaku takut-takut. Kalau memang dia bertugas mencabut nyawa, dan dia mengawasiku selama beberapa hari, bukan tidak mungkin kalau aku-lah yang akan ia cabut nyawanya.

Lagi-lagi ia hanya memamerkan senyum tipisnya. “Kau tidak perlu tahu. Manusia tidak boleh ikut campur dalam urusan hidup dan mati.”

Tiba-tiba Sun membelai kulitku dengan bulu-bulu tebalnya. Aku terpekik kaget, melupakan kucing mungil yang tadi jatuh karenaku. Aku bahkan tak menyadari bahwa kucingku sudah berhasil naik ke tempat tidur. Aku mengangkat Sun dan memeluknya.

“ Aduh…maaf Sun, aku melupakanmu..”seruku sambil membelai lehernya. Sun mendengkur manja dan memejamkan matanya. Nampaknya aku dimaafkan.

“Kucing yang cantik. Baik sekali kau memungutnya.” seru Cung-hee.

Kali ini aku tak kaget lagi kalau dia tahu bahwa aku memungut Sun. Aku bahkan tak akan kaget kalau dia juga tahu tanggal ulang tahunku dan jtempat dimana aku menyembunyikan hasil ujian matematikaku yang jeblok.

“Sun adalah satu-satunya temanku. Dia satu-satunya orang – tunggu,dia bukan orang – dia satu-satunya kucing yang pernah melihatku marah meledak-ledak, atau menangis tersedu-sedu. Hanya di depannya aku bisa menjadi diriku sendiri.” Seruku sambil terus membelai Sun. Ia menelengkan kepalanya ke sisi kiri, memintaku membelainya di sisi itu. Kubelai dia dan ia mulai tertidur.
Cung-hee masih berdiri disana,menatapku dan Sun dengan lembut.

“Aku menyukai manusia yang menyayangi lingkungannya. Kau manusia yang baik. Tapi suka menyendiri. Kenapa begitu ?” tanyanya polos.

“Umm…kurasa,kalau kau berteman dengan seseorang yang bisa melihat makhluk gaib setiap saat, hidupmu tidak akan tenang juga. Mereka duluan yang menjauhiku, bukan aku.” Jawabku tak peduli. Toh aku memang tak peduli.

Mata abu-abu Cung-hee menatap handphoneku yang masih berada di sudut tempat tidur, tempat terakhir kali aku melemparnya.

“Bagaimana dengan temanmu, Jyuu-hun ? Kau belum memaafkannya ?” tanyanya lagi.

Astaga. Malaikat ini benar-benar ingin tahu tentangku.

“Dia yang membocorkan pada anak-anak sekolah bahwa aku punya kekuatan lebih. Dan terima kasih padanya, kini aku hanya berteman dengan Sun..Iya kan Sun sayang..?” aku menggosokkan hidungku ke hidung Sun yang kecil dan lembap.

“ Kau harus segera memaafkannya.”serunya tiba-tiba.

“Karena aku akan mati sebentar lagi kan ?” aku kembali memancingnya. Aku benar-benar penasaran. Siapa yang akan ia ambil nyawanya ?

Cung-hee tersenyum dan menjawab tegas. “Kau tak perlu tahu. Manusia tak boleh ikut campur dalam urusan hidup dan mati.”

Sekali lagi ia bilang begitu, kuhadiahi dia payung.

“Seseorang pernah memberitahuku. Persahabatan itu seperti mengompol di celana.” Serunya pelan, sambil duduk di tepi tempat tidurku.

Aku terngaga. Bagaimana mungkin persahabatan yang diagungkan manusia diibaratkan dengan…mengompol ?

“Semua orang bisa melihatnya. Tapi hanya kita sendiri yang bisa merasakan kehangatan yang sebenarnya.” Lanjutnya dengan wajah yang polos.

Artinya indah (walau agak jorok. Kau tahu, membayangkan ompol yang hangat…yuck) dan menyentuh hatiku.

Dia menatapku dengan lembut. “Kau harus bisa belajar memafkan. Aku tak tahu apa-apa. Tapi kan kau sendiri yang merasakan kehangatan persahabatan kalian dulu. Manusia itu makhluk sosial yang paling tidak bisa ditinggal sendiri.”

“Er….terima kasih. Memangnya itu ya tujuanmu kemarin ? Menasehatiku agar aku berbaikan dengan Jyuu-hun ? “

“Aku hanya ingin kau mempunyai teman lain selain kucing itu. Bukan berarti Sun tidak baik untukmu. Tapi kau butuh teman manusia. Sudah kukatakan kalau manusia adalah makhluk sosial kan ? “

Cung-hee menunduk, menatap jam saku kunonya (kau tahu, yang dimiliki oleh kaum-kaum ningrat Inggris jaman dulu, yang mereka gantung dileher dan dimasukkan ke saku) lalu lembali memandangku.

“Sudah waktunya…ya?”tanyaku pelan.

Dia tersenyum dan baru membuka mulutnya, lalu aku menyela,

“Ya,ya..manusia tidak boleh ikut campur urusan hidup mati .Aku tahu..aku tahu…”

Sun mendadak bersin di pangkuanku. Tatapan kami langsung beralih padanya.

“Kucingmu sakit ?”tanya Cung-hee.

Aku membelai Sun dan mendekapnya lebih erat. ”Beberapa hari ini dia bersin terus. Setelah kutanya pada mama, katanya kucing memang gampang terkena flu kucing. Tapi bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu 4-10hari.”

Sun kembali menatap jam sakunya, lalu ia mendadak berdiri dan berjalan hingga ia berdiri tepat di depanku. Ia menatapku dan Sun dengan tatapan enggan. Seolah ia harus melakukan sesuatu yang ia sendiri tak suka. Sudah waktunya,pikirku. Aku akan mati dan tak perlu mengkhawatirkan berapa nilai yang harus kuraih, berapa besar prestasi yang harus kucapai, dan berapa teman yang harus kudapat. Aku memejamkan mata, menunggu.

Aku merasakan Cung-hee membelai Sun. Kini rasanya aku mau menangis. Aku akan meninggalkan Sun sendirian. Siapa yang akan merawatnya? Bagaimana kalau mama menbuangnya ?

Tiba-tiba aku merasakan kehangatan yang luar biasa di depanku, dan ada cahaya yang sangat terang, sampai-sampai kegelapan yang diberikan ketika aku menutup mata dapat melihat cahaya itu. Aku sontak membuka mata.

Cung-hee menarik seutas tali keemasan yang berpendar ganjil, yang kusadari, ditariknya bukan dariku. Ia menariknya dari perut Sun. Tali itu membulat dengan sendirinya, dan akhirnya membentuk bulatan mutiara emas yang sempurna. Cung-hee menggenggamnya, dan ketika ia membukanya, mutiara itu berubah menjadi keping-keping cahaya yang melayang dan menghilang perlahan. Aku duduk terpaku.

“ Sun, kucing jenis Maine Coone, usianya terhenti pada umur 1 tahun 6 bulan. Mati tepat pada 7 Februari 2008, pukul 00.12 malam. Kematian disebabkan oleh penyakit radang selaput rongga perut yang sudah diderita selama 1 minggu. “ Cung- hee menatapku sedih ketika ia selesai memberitahuku detail kematian Sun.

Sayapnya kembali terbentang lebar. Menghembuskan angin hangat ke wajahku. Mengeringkan airmataku yang baru menetes.

Ia lalu membungkuk dan memberi salam, seperti yang dilakukan pemain drama teater megah. “Selamat malam”serunya. Lalu ia terbang keluar jendela, melintasi langit malam.

Aku masih duduk terpaku, menatap tubuh Sun yang masih terasa hangat di pangkuanku. Tapi tak ada desah napas yang teratur. Tak ada geliat tubuh menggemaskan yang biasa ia lakukan ketika ia tertidur. Tak ada dengkuran manja yang ia biasa tujukan untukku, meminta belaian.

Air mataku kembali menetes, dan semakin lama semakin deras. Aku mendekap tubuh Sun yang tergolek lunglai ketika kuangkat. Aku memeluknya lama, membiarkan air mata membasahi perut gembulnya.

Aku menatap handphone ku di ujung tempat tidur dan meraihnya. Aku menekan nomor telepon yang sudah kuhapal sejak dulu dan tak pernah kulupakan, sambil berharap yang kutelepon belum tidur.

“Halo…?” seru suara di seberang sana.

Air mataku kembali merebak dan bergulir menuruni pipiku. Aku mencoba berbicara di telepon, di tengah isakan tangis.

“Jyuu-hun….”

Read previous post:  
112
points
(2319 words) posted by SnowDrop 13 years 17 weeks ago
86.1539
Tags: Cerita | cinta | Kehidupan | kematian | malaikat
Read next post:  
Writer Kika
Kika at Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee (10 years 50 weeks ago)
90

Yang Seri ini buat kika nangis gara2 inget kucing kika... Kucing kika matinya gara2 muntah darah :-(
huuuaaa....

Writer boby
boby at Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee (13 years 1 week ago)
90

wah ternyata klasifikasi malaikat kita sedikit beda. wahahaha abu2 yang cabut nyawa hewan toh. sbnernya nih cerita uda gw kasih nilai 10, yang kurang cuma satu hal. .....kok ke korea2an sih....... malaikat kematian gw bilang lebih keren kalo nama2nya tetep nama2 eropa yang lu kasih pada cerita2 kepak sayap yang laen. wah gw pamit dulu dah, sydney lagi dingin banget nih. bisa2 nyawa gw di cabut malaikat kematian karena "boby, umur 20 tahun, mati krn kedinginan di sydney" terus gw jawab "TIDAK! saya masih mao baca2 cerita di kemudian.com, terutama serial kepak sayap" hahahahaha. lanjut lagi dah baca kepak sayapnya kapan2. baca juga ya seri angelarium gw. baru dua cerita sih, total ada 12.

dadun at Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee (13 years 10 weeks ago)
90

hmhmhm... sempet bertanya2 kalo sayap abu2, berarti buat nyabut nyawa hewan ya? hehehe...
gw ngarep ada dialog bahasa korea di sini... tapi kok kagag ada yak? huehueheue

ada yg salah tulis nama tuh... mustinya---sapa yak nama tokohmu itu? tapi kau tulis dengan nama Sun (si kucing)

Writer Loki
Loki at Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee (13 years 16 weeks ago)
90

ini bagus banged, serius.

gaya humornya 'kena' buat gw sih :D

Writer the_analogist
the_analogist at Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee (13 years 16 weeks ago)
80

Wah, cerita tentang malaikat maut yaa? Keren, kereeeen.... Kisahnya rame', gaya bahasa cukup pas, but what drive me curious is: knapa pake setting Korea? Apakah sekedar berkreasi dengan setting budaya yang berbeda? Ato ada sebab lainnya...

Overall, cerita ini bagus.
Saya kasih 'kacamata' ya?

:D

Salam Kenal

Writer Titan
Titan at Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee (13 years 16 weeks ago)
90

>:D<

keren abiz dh pko'y..

Writer -ViE-
-ViE- at Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee (13 years 16 weeks ago)
90

Aku cuma bisa bilang..KEREEN =D>

Writer prince-adi
prince-adi at Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee (13 years 16 weeks ago)
90

lebih keren dari rain?
emang rain keren?
coba deh nonton film yang rain jadi orang gila itu, pasti illfeel deh...hehe

ceritanya...ketebak
tapi tetep berkelas.

hmm, rasanya kamu wajib baca buku stephen king yang seluler deh...

(jika buat buku cerpen, masukkan cerita ini ya)

Writer arsenal mania
arsenal mania at Kepak Sayap Kelabu : Cung-hee (13 years 16 weeks ago)
80

Srat??? (jadi inget KRAD, the white wings dari DN angel deh :-? )

hm...., Selera humor mu jadi sedikit sarkatis deh :-?. Tapi ok banget.

Ditunggu Malaikat selanjutnya :D :D :D =D> =D> =D> =D> =D> =D>