Silent Hill

Silent Hill

Teks: Edo Wallad

Ada sesal yang menyesak-nyesak di sebuah tempat bernama hati, tempat nuraniku bersemayam. Sudah hampir setahun semenjak kuputuskan meninggalkan perempuan yang sangat kucinta sepenuh hati dan jiwaku. Di antara hari saat aku meninggalkan dirinya, hingga hari ini aku mengenang dirinya. Hanya ada duka menitik-nitik turun bagaikan gerimis yang tidak bisa berhenti. Membasahi pelataran lara. Menggenang dan mulai membanjiri kalbuku dengan keinginan untuk kembali padanya.

Hampir…

Hampir tak dapat kubendung.

Sudah terlalu dalam.

*****

Angin di bukit ini membawa bisikannya. Kembali datang. Seperti kawan semasa kecil yang telah seumur-umur tak berjumpa. Aku bukannya hendak bertingkah jumawa. Dengan mengabaikan rasa rindu ini.

Kuhisap dalam kabut. Lalu kuhembus asap yang menggumpal bersama malam dingin. Dan asap serta kabut yang mengepul pergi jauh keatas. Meninggalkan jejak di gelap malam. Kadang terlihat bersama lampu kota di bawah bukit ini. Lalu hilang.

Seperti dia.

Saat itu…

*****

Entah aku yang pergi dan meninggalkannya. Atau dia yang menghendaki aku hilang dari kehidupannya. Terakhir aku melihatnya, adalah kemarin sore. Ketika seperti biasa, aku mengikuti dia menjalani kesehariannya. Dia masih sendiri. Masih ada kerut di wajahnya yang lahir ketika aku memutuskan untuk raib. Raib dari cerita hidup kami yang dulu indah.

Dia mungkin tidak pernah tahu.

Aku yakin dia tidak pernah tahu. Bahwa dari kejauhan, aku selalu mengamatinya. Bahwa aku akan selalu menjaganya. Aku sendiri sudah hilang akal. Entah kenapa aku mau menjalani tahun yang pedih ini. Antara putus asa, dan secuil harapan. Aku berdiri, dan kadang terjatuh. Digilas roda waktu yang tak mau memberikan rehat.

Perempuan itu ada di sana. Dan selalu di sana. Aku tahu dia menungguku.

Tapi aku seperti tersesat.

Tersesat di hutan gaib. Dalam labirin tanpa akhir. Dan ketika aku tersadar. Aku tahu bahwa semua mungkin sudah terlambat. Ketakutan akan telah mengerasnya hati dia. Mengalahkan rasa butuhku akan dirinya yang tak pernah berhenti aku damba.

*****

Di bukit ini, aku menenangkan diriku. Tapi semakin ku beri otakku waktu untuk berpikir. Semakin deras titik-titik rindu itu menderasi pelataran hatiku yang sekarat.

Atas nama rasa nyaman hatimu…
Aku harus pergi dan meninggalkanmu…
Aku tidak pernah berhenti mencintaimu…
Tapi aku akan belajar melupakanmu
Aku tahu…
Dengan mudah aku bisa melupakanmu,
Jika aku mau…
Tapi sebenarnya,
Aku tak pernah mau…
Maka mengertilah,
Kulakukan semua ini…
Atas nama rasa nyaman hatimu…

Jakarta, Desember 2004

J

Begitu kata-kata yang kurangkai dalam secarik kertas yang ku tinggal di atas meja kerja tempat kami biasa saling membantu pekerjaan kantor masing-masing, sebelum naik ke atas ranjang dan bercinta. Lalu tertidur dengan tanganku melingkari pinggangnya.

Lalu aku mengelus bahunya. Punggungnya. Kemudian dia membalikan badannya. Dan kami bercinta lagi.

Aku akan menikahimu. Begitu suaraku menutup malam mengiringi terpejamnya mata kami untuk kemudian tertidur.

*****

Aku memutuskan untuk meninggalkan dia ketika kusadari bahwa hari yang kami jalani selalu diiringi pertengkaran. Sebuah pertengkaran yang masalahnya bukan datang dari pribadi kami berdua. Tapi justru datang dari orang lain. Orang-orang terdekat kami.

Entah kenapa perbedaan yang ada diantara kami begitu mengusik mereka. Sehingga pada suatu titik aku mengambil kesimpulan, bahwa mereka memang tidak mau melihat kami bahagia. Padahal kami adalah orang terdekat mereka. Padahal kami adalah darah daging mereka sendiri.

Sebenarnya pertengkaran kami sendiri selalu diakhiri dengan saling memeluk, saling mencium dahi, dan bercinta dengan ganas. Karena kami sadar bahwa tidak seharusnya kami saling menjatuhkan. Justru kami harus saling mendukung satu sama lain. Dan kami sadar betul kami saling membutuhkan satu sama lain. Untuk tetap bertahan hidup.

Namun kala pagi menjelang, di bagian ujung malam yang menua, diiringi langit yang mulai lelah, aku biasa mendengar ia menangis. Memanggil ayahnya, memanggil ibunya, menyebut nama adiknya. Sambil mengisak ia meminta maaf pada mereka karena telah menjadi anak yang tidak mematuhi orang tua.

Kala momen seperti itu datang aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berpura-pura tetap tertidur. Dan berharap semuanya segera berlalu. Dan kadang, aku ikut menangis, karena merasa bersalah telah menyeretnya ke masalah ini.

Tapi ternyata aku tidak sekuat yang aku kira. Bahkan aku tidak sekuat dia. Dia, walaupun harus melepaskan perasaaannya tiap malam. Namun tetap bisa bertahan untuk menemani aku dan hidupku. Tapi tidak aku. Karena pada hari itu, hampir setahun yang lalu, aku sudah merasa tidak sanggup lagi melihat dia bersedih. Aku tidak mau memisahkan dia dan keluarganya. Aku memutuskan, kalau ada orang yang harus pergi dari hidupnya. Orang itu seharusnya adalah aku.

Maka setelah menulis surat terakhirku itu, aku meninggalkannya.

*****

Hari ini ia pergi berbelanja di sebuah mall. Ia tampak sibuk mencari kado natal untuk keluarganya. Sebuah pisau Swiss Army untuk sang ayah yang terkenal sebagai laki-laki handyman, sebuah kimono tidur untuk ibu tercinta, dan sebuah weker untuk adik laki-lakinya yang kini sudah berumur kepala dua. Lalu dia pergi ke tempat pengemasan kado dan membungkus semua kado dengan kertas kado bermotif garis putih dan biru. Lengkap dengan kartu natal kecil dengan paraf serta inisial namanya. Semua hal ini juga ia lakukan di hari aku meninggalkannya. Setahun yang lalu.

Setelah itu dia pergi ke supermarket untuk berbelanja bulanan. Sabun mandi, deterjen, syampo, pasta gigi, dan seperti biasa untuk barang-barang yang bisa diisi ulang, dia membeli isi ulangnya. Tidak seperti aku yang mau praktisnya saja. Dan biasanya kami mulai mengadu di argumentasi yang terjadi dengan dua bagian. Bagian pertama ketika di tempat berbelanja, dan bagian kedua akan berlanjut di kamar mandi ketika kami menaruh barang belanjaan kami.

Kini kulihat ia berhenti di bagian laki-laki. Dengan haru kutatap dia mengaromai wangi deodoranku. Setiap bulan dia berbelanja, dia selalu melakukan ini. Sudah seperti menjadi ritualnya. Yang semakin membuatku teriris sedih memandangnya.

Sayang, sungguh… aku ingin kembali padamu. Tapi entah bagaimana caranya. Aku tidak tahu, aku tak pernah bisa tahu. Bisakah kau menolongku untuk kembali padamu? Aku hanya bisa terhanyut dalam bisu. Dalam keheningan itu aku menjadi hanya sekedar angin, yang berlalu setelah sekejap menghampirimu.

Aku ingin menyentuhmu, aku ingin merasakan halus kulitmu, aku ingin mendekap erat tubuh kecilmu, aku ingin melumat bibir merah jambumu, aku ingin menyelusuri helai-helai rambut legammu. Aku ingin bersatu denganmu. Tapi sekali lagi. Dalam keheningan itu aku menjadi hanya sekedar angin, yang berlalu setelah sekejap menghampirimu.

*****

Kulihat kau telah selesai berbelanja. Dan kau berjalan keluar mall. Namun kau tidak segera memanggil taksi. Kau terus berjalan, menelusuri trotoar jalan. Lalu berhenti di sebuah kios. Kios bunga. Kau memilih beberpa tangkai krisan putih. Bunga kegemaranku. Bunga yang biasa mengiringi kado ulang tahunmu untukku. Kau meminta abang tukang bunga merangkainya menjadi sebuah rangkaian indah lengkap dengan pita berwarna merah hati.

Lalu kau pergi dan memanggil taksi. Dan pulang ke rumah, yang dulu adalah rumah kita.

Aku harus kembali. Kembali kebukit tempat aku menenangkan diriku. Sendiri bersama gelap malam. Dan kunang-kunang yang menjadi teman di malam hariku.

*****

Aku sedang terdiam ketika kau melangkah menghampiri tempat peristirahatanku. Aku sedikit terkejut. Kau begitu anggun dengan pakaian serba putihmu, mengemas indah tubuh yang dulu selalu kudekap erat. Aku ingin mendekat dan meremasmu tapi aku tak mampu. Lalu kau bersimpuh di sampingku. Dan kau letakkan bunga itu. Seiring tangismu mengisak keras, kau berbaring. Sambil memeluk, nisanku.

Catatan: Cerpen ini pernah terbit di majalah Soap dengan nama penulis Simon Praditya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer deedim25
deedim25 at Silent Hill (6 years 36 weeks ago)
80

Klimaks nya dapet. Tapi udah ketebak. Overall. Good story.

Writer _Nanami_
_Nanami_ at Silent Hill (12 years 25 weeks ago)
60

jd inget pas nnt silent hill x3

Writer himawari
himawari at Silent Hill (12 years 26 weeks ago)
70

:)

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at Silent Hill (15 years 11 weeks ago)
90

silent hill...

Writer melda_jo2
melda_jo2 at Silent Hill (15 years 14 weeks ago)
80

tauching...seperti diari ya..keep it up

Writer imoets
imoets at Silent Hill (15 years 23 weeks ago)
90

ceritanya keren euy...
pemilihan kata dan gaya bahasa sangat pas sehingga kita serasa menjadi tokoh aku..
tapi diawal2 agak nyaru antara penjelasan bukit dengan karakter aku-nya..
tapi, overall 2 thumbs up deh

Writer pianoloco
pianoloco at Silent Hill (15 years 34 weeks ago)
70

rada penasaran juga ya, jadi kepikiran nih matinya kenapa hehe keren deh

Writer KD
KD at Silent Hill (15 years 35 weeks ago)
100

bunuh diri ya?

Writer bulqiss
bulqiss at Silent Hill (15 years 37 weeks ago)
100

Kagum neh ma pemilihan kata-katanya..hebat eui...

Writer -riNa-
-riNa- at Silent Hill (15 years 37 weeks ago)
60

liat temanya..dah ketebak endingnya bakal kayak gimana..
cerita tanpa dialog, cuma kalimat2 puitis..tapi oke lah

Writer edowallad
edowallad at Silent Hill (15 years 39 weeks ago)

-Moga aja cuma kebetulan yang menginspirasi-
aduh liat videonya j-lo aja ndak pernah tuh...apa judulnya?
ames udah kaya nama temen gue

i just write what crossed in my mind

untuk mas walank editor bahasa ya, mau dong dibantuin ngedit karya-karya saya. saya penulis bukan editor... mau ya

Writer pikanisa
pikanisa at Silent Hill (15 years 39 weeks ago)
60

ceritanya kok seperti cerita dalam video klipnya "No me Ames" J-Lo yah!!
Moga aja cuma kebetulan yang menginspirasi

Writer walank
walank at Silent Hill (15 years 39 weeks ago)
60

sebenarnya cerpen anda bagus, dan emang bagus kok!

ada yang bilang jarang ada yang pake akuan lirik, nah akan lebih baik jika anda juga berani menokohkan sesuatu yang ekstrim sekalian. Dugaan saya ketika memencet judul postingan anda bahwa yang bercerita justru bukitnya, ternyata saya mesti kecewa meskipun cerita juga lumayan bagus.
Oya, mohon penulisan kata depan diperbaiki.
Salam, walank.

Ups..ada lagi yang ketinggalan.
Kehadiran kalimat-kalimat pendek itu justru enak sekali membangun suasana cerpen yang tegang dan terus sinambung.

Nulis terus ya...

Writer comicusmnn
comicusmnn at Silent Hill (15 years 40 weeks ago)
70

Ceritanya dalem banget ya mas. Tapi dari beberapa paragraf bisa langsung ketebak siapa si 'aku'. Tapi pokoknya siplah!!

Jarang ada orang yang berani bikin cerita sudut pandang orang pertama. Biasanya orang ketiga.

Writer firmanwidyasmara
firmanwidyasmara at Silent Hill (15 years 40 weeks ago)
100

Hmm... leher gue tegang membaca ini, jadi terkumpul lagi serpihan masa yang udah lewat :( seperti dihantam godam dan dijernihkan lagi dengan sang ending, yang ngingetin kalo ini adalah sebuah cerita pendek ... sependek masa yang sudah lewat itu :)

Writer diorisnotgucci
diorisnotgucci at Silent Hill (15 years 40 weeks ago)
70

Dear Edo,

scary abis ya cerpenmu ini? Tokoh 'aku'-nya ternyata dah mati lagi... hiiy! Malem ini bobo sama Mama ahh... takuuuut!

Writer mamoru
mamoru at Silent Hill (15 years 41 weeks ago)
80

Cerita yg melankolik depresif ^^, untuk membaca dan mendalami cerita ini, membutuhkan sisi melan yang agak kuat sepertinya, ada bbrp detail yang mungkin kurang dimunculkan sehingga bai pembaca yg bukan tipe melan, akan sulit mendalaminya mungkin ^^

Writer Farah
Farah at Silent Hill (15 years 41 weeks ago)
50

bisa banget ditebak,sejak si tokoh menyatakan kalau dia selalu memperhatikan kekasihnya,,,n ada yang aneh,,,ko ceritanya jadi kaya berbelok yah??? kan awalnya percintaan mereka terlarang, tapi kenapa ada pernyataan yang bilang soal "rumah kami"? padahal sebelumnya aku menduga mereka backstreet lho,,,tapi bagus lho ide ceritanya

Writer Valen
Valen at Silent Hill (15 years 41 weeks ago)
90

Endingnya membuatku merinding...
I should say, salah satu kelebihan Edo ialah dalam menggambarkan emosi. Jika umumnya orang cuma bilang" Lelaki itu rindu" tapi Edo bisa menjabarkannya dalam setiap prilaku dan suasana yg ada. Good luck!Tapi boleh sekali2 dikirimin cerpen yang happy ending?

Writer ratihsugarzels
ratihsugarzels at Silent Hill (15 years 41 weeks ago)
80

hei...
kau demikian mudah kutebak.
sejak tengah cerita yang menggambarkan betapa apapun yang dilakukan perempuan itu terlihat oleh laki2nya aku langsung tau laki2 itu sudah mati.
man... aku jadi merasa mengenalmu dengan baik.
aku juga pernah menulis yang semacam ini sebelumnya.
eniwei... maksud dari 'pernah dimuat di majalah... dengan nama ...'
kamu punya banyak nama pena atau ini kutipan sajah?

tapi aku lebih suka yang 'a night i save a dj's life'
so i just can put 7.5 and make it 8 ;)
salam kenal

Writer youngroorkee
youngroorkee at Silent Hill (15 years 41 weeks ago)
90

Cerita yang sangat baik dengan disisipi untaian2 puitis. Tapi ada kalimat yang membuat saya bingung : "....dan bagian kedua akan berlanjut di kamar mandi ketika kami menaruh barang belanjaan kami."
Walaupun porsinya kecil dalam cerita, tapi mengganjal.
Hal2 kecil dan detil bisa memperindah ataupun merusak cerita yang sudah bagus.
Meskipun begitu cerita ini diakhiri dengan ending yang memikat.
Salam.

Writer aisha shiifa
aisha shiifa at Silent Hill (15 years 41 weeks ago)
100

Mengharukan sekaleeeee ceritanya
alurnya bagus & nggak mudah ketebak
aku suka....