Salahkah Aku?

Rabu, 20 Agustus ’08

Hari ini hujan lagi. Hembusan angin cukup membuatku merasakan dingin. Aku hanya duduk memandang jauh keluar melalui jendela kaca kamarku. Sudah hampir 1 bulan aku tidak keluar kamar. Badanku terasa bau. Bajuku mulai kumal. Dan aku tak peduli. Aku merasa sangat tidak berharga. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa. Sekarang ini aku tak tahu aku menghukum diriku sendiri? atau malah menghukum Mamaku?

Flashback

Jumat, 08 Agustus ‘08

Suasana dirumahku begitu ramai. Penuh dengan sanak saudara. Karena besok acara pernikahanku. Aku dijodohkan oleh keluargaku tepatnya Mamaku dengan anak temannya. Mungkin karena usiaku yang tidak muda lagi, 35tahun. Tanpa keberatan sedikitpun aku menyetujuinya. Karena aku berpikir pilihan Mamaku pasti yang terbaik

Aku melihat kakak-kakakku sibuk mencoba kebaya yang sama yang mereka jahitkan bersama untuk acara pernikahan ku besok. Disudut yang lain aku melihat para keponakanku bermain sambil tertawa. Aku melangkah mendekati pintu utama, aku melihat abang-abangku sibuk menata halaman rumah kami. Begitu bahagianya mereka melihat aku akan segera menikah. Mama. Yah…aku belum melihat Mamaku. Dimana dia? Aku berjalan memasuki ruang tengah. Aku tak mendapatinya disana. Aku berjalan menuju taman belakang dan aku melihat dia duduk diayunan yang terbuat dari kayu tempat aku biasa duduk. Aku menghampirinya dan memeluknya erat dari belakang.

“Mama” Bisikku ketelinganya sambil mengecupnya
“Grace” Ucap mama sambil menghapus airmatanya
“Kenapa Ma? Kok Mama menangis?” Aku sedikit terkejut
“Mama sangat senang sayang. Akhirnya putri kesayangan Mama menikah juga” Katanya sambil membelai rambutku
“ihhh…Mama…tuhkan Grace jadi sedih juga nichhh” Ucapku dan tak terasa airmata itu mengalir
“Mama senang kalau Mama sudah dipanggil yang Mahakuasa, Grace sudah ada yang jaga. Jadi Mama ga perlu khawatir lagi untuk datang kepada Papamu yang di surga” Ucap Mama dengan lembut dengan airmata yang semakin deras mengalir dipipinya
“Ma…tapi Grace sedih setelah ini siapa yang akan menemani Mama?” Aku semakin mempererat pelukanku
“Mamakan bisa datang berkunjung kerumah kamu nanti Grace. Kakak dan abangmu juga sering main kerumah. Yang terpenting bagi Mama adalah putri Mama akan menikah besok” Mama memegang tanganku untuk menyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja setelah aku menikah. Kami berpelukan sambil menangis.

Sabtu, 09 Agustus ’08; Pukul : 03.00WIB

Aku terbangun. Aku ga bisa tidur. Untuk mengusir kegalauan hatiku aku mengambil sikap doa. Dan aku berdoa memohon petunjuk yang daripadaNya. Aku ga tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Harusnya aku bahagia kenapa justru disaat detik-detik pernikahanku akan berlangsung aku justru sedih. Airmataku tak dapat berhenti. Aku berdoa sampai terisak memohon kepadaNya.

Sabtu, 09 Agustus ’08; Pukul : 05.00WIB

Aku sudah harus dirias. Aku melihat kebaya yang dipilih oleh Mamaku. Begitu cantik. Dalam hati aku berucap terimakasih buat semuanya Ma. Mataku terasa panas dan airmata itu seakan ingin meleleh lagi.

“Adaapa Grace?” Tanya Bu Dina yang memang sudah langganan tempat keluarga kami salon
“Ga ada apa-apa” Aku mencoba tersenyum
“Wajah kamu murung. Senyum donk inikan hari bahagia kamu”
“ Iya ya Bu. Terimakasih ya Bu”

Sabtu, 09 Agustus ’08;Pukul : 07.00WIB

Semua keluarga telah bersiap-siap menunggu pihak laki-laki untuk menjemput. Mama selalu memperhatikanku dan mengandeng tanganku

“Ternyata my little Grace menikah juga” Abangku yang paling sulung mulai meledekku
“Apaan sich…” Jawabku dengan malu
“Iya ya…little Grace yang ingusan hari ini cantik sekali” Kakakku merangkulku
“Jangan gini donk. Gracekan jadi sedih. Ga bisa manja-manja lagi ma Abang dan kakakku yang baik hati” Ucapku sambil tertawa tapi aku ingin menangis
“Oh…Little Grace” Mereka kompakan memanggilku
Aku tertawa lepas. Senangnya dikelilingi orang-orang terkasih. Tapi Papa ga ada lagi. Dia sudah disurga.

Sabtu, 09 Agustus ’08; Pukul : 12.00WIB

Pihak laki-laki belum datang juga. Mama mulai panik. Tanpa menunggu perintah dari Mama abangku yang paling sulung segera menelepon pihak laki-laki. Semua orang terkejut dengan suara kencang abangku.
“Apa! Johan ga ada dirumah!” Tanya abangku terkejut bercampur emosi. Johan lelaki yang menjadi calon suamiku.
“Iya, maafkan kami. Pernikahan ini sepertinya ga bisa dilanjutkan. Kami sudah melaporkan hal ini kepolisi untuk pencarian Johan” Suara lelaki diseberang menjawab
“Bagaimana mungkin. Adik saya sudah bersiap-siap disini dan keluarga besar kami sudah berkumpul”
“Iya, saya mengerti. Kami juga sedang berusaha menemukannya”
“Tidak perlu lagi. Saya tidak butuh laki-laki pengecut yang menjaga adik saya. Pernikahan ini dibatalkan. Terimakasih” Abang langsung meletakkan gagang telepon dengan kencang. Nafasnya tak beraturan karena luapan emosinya. Mama yang ada disampingnya langsung bertanya ada apa yang terjadi. Abang menjelaskan semuanya. Semua keluarga terperangah dan Mama tak kuasa dengan semua ini hingga dia tak sadarkan diri. Seketika suasana rumah gempar. Kebahagiaan yang seharusnya terjadi justru membawa kekacauan. Aku hanya bisa mematung tak tahu harus berkata apa. Kakak-kakakku segera memelukku untuk menguatkan aku. Airmata itu tak ada lagi. Bahkan aku sangat sulit menangis. Airmata kakak-kakakku terasa membasahi badanku. Dan aku hanya diam.

Senin, 25 Agustus ’08

Aku masih terduduk dibangku ini. Akupun tak tahu harus sampai kapan aku seperti ini. Mengurung diri sendiri. Mama selalu setia datang setiap pagi kekamar ini untuk berbicara dan menyisir rambutku walaupun tak ada jawab dariku. Tapi pagi ini. Aku rindu memanggilnya. Sudah hampir satu bulan aku tidak memanggilnya

“Ma” Panggilku lembut
“Grace…sayang, kamu panggil Mama” Mama begitu senang sambil membelai rambutku dan memelukku. Aku melihat wajah itu kembali basah oleh airmata.
“Maafin Grace Ma, secara ga langsung Grace dah buat Mama merasa bersalah” Kataku terus mendekap tubuhnya yang mulai agak kurusan
“Tidak sayang, kamu ga salah. Justru kamu begitu baik dan penurut kepada Mama. Terimakasih sayang karena kamu sudah mau bicara kepada Mama”
Kami berdua saling berpelukan dan menangis.
"Hatiku begitu damai dalam dekapanmu Mama" Bisikku lembut

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer GodelivaSilvi
GodelivaSilvi at Salahkah Aku? (13 years 5 days ago)
60

Alu Bunda Ery..thanks dah mampir ya ^^
ini ceritanya belun selesai kah? ditunggu lanjutannya ya...