Keluarga Ironik (1)

Sepasang orang tua yang telah berusia lanjut dan seluruh anaknya menjadi orang kaya pun ternyata tidak selalu hidup bahagia, bahkan ketika mereka masih dikaruniai kesempatan menikmati dunia. Anak pertama (Eko Subondo) adalah seorang direktur di perusahaan multinasional dengan aset kekayaan trilyunan rupiah. Anak kedua (Dwi Suharto) menjadi seorang anggota DPRD yang sudah pasti bergelimang dengan banyak uang. Anak ketiga (Tri Adikuwoso) bekerja sebagai pilot senior di maskapai penerbangan internasional. Anak keempat (Runi Setiasih) membuka usaha restoran dan kafe yang laris dikunjungi banyak orang. Anak kelima (Rita Suciati) tidak bekerja, tapi menjadi isteri seorang pengusaha mebel yang sukses. Dan anak keenam (Ragil Adiputro) adalah seorang pesepakbola profesional yang setahunnya dikontrak minimal 500 juta rupiah.

Keenam anak itu pun telah menikah seluruhnya dan rata-rata sudah dikaruniai sejumlah anak. Hanya anak keempat yang tidak mempunyai anak, sedangkan anak keenam baru saja bercerai, meski telah menghasilkan dua anak. Rumah dan mobil minimal satu dimiliki masing-masing anak beserta keluarganya.

Orang tua mana yang tak akan bahagia dan bangga dengan kondisi anaknya yang sedemikian rupa? Tapi ternyata tidaklah demikian yang dialami oleh Bapak dan Ibu Ndang Matyo, orang tua yang melahirkan anak-anak hebat tersebut. Mereka berdua hanya tinggal di sebuah rumah sederhana yang sebagian ruangannya disewakan pada orang lain. Memang setiap bulan anak-anak mereka selalu menyetor sejumlah uang tertentu ke rekening tabungan bapaknya, tapi sangat jarang mereka memberi perhatian khusus pada orang tuanya.

Padahal sebagian besar dari mereka masih tinggal sekota atau di kota yang letaknya tak jauh dengan orang tuanya. Bahkan sekadar menelepon menanyakan kabar pun hampir tiada yang melakukannya. Hanya anak keempat dan anak keenam yang sesekali menelepon atau mampir ke rumah. Ragil, anak keenam yang dalam satu musim kompetisi selalu bermain ke berbagai daerah, justru sering menelepon dan setiap timnya bermain di kota asalnya, selalu disempatkannya waktu mengunjungi bapak ibunya tercinta.

***
Betapa anak-anak kurang perhatian terbukti ketika Bu Ndang suatu ketika mesti dirawat di rumah sakit. Semua anak berkumpul di rumah Dwi, anak kedua yang menjadi wakil rakyat. Hanya Ragil yang belum bisa datang karena masih mengikuti timnya bertanding di Indonesia Timur.
“Ibu kita masuk rumah sakit. Masalahnya sekarang, siapa yang mau membayar biaya perawatan Ibu?” Eko, anak tertua membuka pertemuan.
“Ya, Mas Eko saja. Sebagai anak tertua wajar ‘kan?” sahut Tri, anak ketiga. Dwi, anak kedua dan Rita, anak kelima setuju banget mendengar usul tersebut. Runi, anak keempat masih diam melihat sikap saudara-saudaranya.
“Lho, kebutuhan buat keluargaku itu banyak lho, Dik. Jangan terus asal tunjuk gitu!” seru Eko.
“Memangnya kami tidak?” kata Dwi, Tri, dan Rita hampir bersamaan.
“Aku baru beli mobil baru, habis seratus juta lebih,” ucap Dwi.
“Anakku baru minggu lalu berangkat sekolah ke Australia, sudah habis banyak juga duitku,” timpal Tri.
“Suamiku habis ngirim barang ke luar negeri, belum dibayar sama yang beli. Lagi pas-pasan nih uangku,” sambung Rita.
“Ya sudah, sudah. Kamu Runi, kok diam saja?” tanya Eko.
“Memang aku tidak habis beli mobil dan juga tidak punya anak seperti kalian. Cuma aku juga punya karyawan yang harus dibayar dan buat kebutuhan resto-kafe juga perlu banyak biaya. Tapi buat biaya rumah sakit Ibu, aku tak mau pikir panjang lagi. Aku pasti mau membayarnya. Aku heran sama mas-mas dan juga kamu, Rita. Untuk membiayai perawatan Ibu kita sendiri saja, kok sepertinya kalian berat gitu sih? Kalau kalian lebih sayang ke uang kalian sendiri, silakan tetap simpan uang kalian. Tidak usah khawatir berkurang, masih ada aku dan Ragil yang mampu membayarnya! Sudah, aku pergi saja sekarang! Mending aku nungguin Ibu, ketimbang ketemu dengan kalian yang tak punya perasaan ini!”

i berlalu meninggalkan saudara-saudaranya dengan hati pedih. Tak disangkanya mereka bisa bersikap begitu menanggapi sakitnya ibu mereka. Eko, Dwi, Tri, dan Rita bengong sesaat mendengar ceramah Runi. Akhirnya mereka bereempat bersepakat mengumpulkan dana seadanya untuk menyokong Runi dan Ragil yang sudah jelas mau membayar biaya perawatan Bu Ndang di rumah sakit.
***
bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer brown
brown at Keluarga Ironik (1) (15 years 21 weeks ago)
60

memang seperti cerita-cerita dalam sinetron, aku ga terlalu menikmatinya (tp kurasa ini hanya masalah selera). tp bagaimana kamu mengakhirinya?

Writer Super x
Super x at Keluarga Ironik (1) (15 years 33 weeks ago)
90

terus nulis, aku suka

Writer v1vald1
v1vald1 at Keluarga Ironik (1) (15 years 35 weeks ago)
60

Sori ini bukan hal besar, tapi gw cuma mo sok2 komen di ranah ini. Ada 2 kata paling mencolok yang gw liat harus dibenerin. Yaitu kata "banget", dan "bengong". Sebenernya sah2 aja kalo diitalic, dan bila secara keseluruhan penulis memang menggunakan bahasa santai dalam mendeskripsikan ceritanya. Tapi berhubung penulis memilih bahasa formal ada baiknya 2 kata itu diganti juga. Sedang untuk saat dialog, penulis kadang lupa kalo disitu justu dia berhak menggunakan bahasa apa pun, tanpa italic. Eh malah penulis terkesan ragu, spt penggunaan kata "saja" di dalam dialog yang sebelumnya digambarkan menggunakan bahasa santai.
--
Sori kalo sok tahu di ranah ini

Writer julie
julie at Keluarga Ironik (1) (15 years 36 weeks ago)
60

emang kayak sinetron banget oi. betapa anak-anak emang kurang ajar, lebih sayang duit dari pada ortu. yang nulis cerita gitu juga ngak ya? he he he

Writer KD
KD at Keluarga Ironik (1) (15 years 36 weeks ago)
100

Mestinya anak keempat Catur dan anak kelima Panca, biar klop.

Writer loushevaon7
loushevaon7 at Keluarga Ironik (1) (15 years 36 weeks ago)

sori, paragraf terakhir nge-copynya kurang tuh, seharusnya 'Runi berlalu...'
met bikin kritikan!

jika saja kedua ortuku msh hidup,gak bakal aku spt anak2 itu,apalagi ibuku barusan wafat awal tahun ini menyusul bapakku yg sdh lama alm.