Kladezig - Dipersatukan oleh Takdir (1)

“Apa… yang baru saja terjadi?”

Kalimat itu dapat terlontar oleh siapapun yang melihat pemandangan ini.

Gedung-gedung miring kelabu yang terbengkalai, tanah basah hancur dengan genangan-genangan lumpur terciprat di atasnya, serta pecahan-pecahan beling dan logam. Tak terlupakan, pemandangan ini—bangkai-bangkai makhluk hidup dan bercak-bercak darah. Atau setidaknya, apa yang akan dikira sebagai sisa dari bangkai-bangkai makhluk hidup dan bercak-bercak darah. Lalu langit berwarna merah suram yang menaungi di atasnya. Gumapan-gumpalan awan dengan bentuk yang mengerikan. Udara yang stagnan. Tak mengalir, mengumpulkan aroma asing yang menyesakkan dada.

“Padahal… aku cuma pergi sebentar ‘kan? Cuma... ke gudang sebentar, ‘kan? Apa aku… enggak sengaja masuk suatu dunia lain atau semacamnya, ya? Ahahaha.”

Pikiran-pikiran konyol lalu akan melintas dalam kepala. Tapi tak satupun pikiran konyol itu bisa diterima, saat disadari bahwa pemandangan di hadapan ini tak mungkin merupakan suatu bahan candaan. Ini semua adalah kenyataan.

Dunia dalam sekejap telah berubah. Maka kau mulai cemas. Maka kau mulai merasa ada sesuatu yang hendak meluap dari dalam dadamu. Maka kau mulai ingat semua orang yang pernah kau kenal. Kemudian, akhirnya, kau mulai menangis, saat menyadari bahwa mungkin saja, sangat mungkin, di tengah kesunyian ini, hanya kau sendiri satu-satunya makhluk hidup yang masih tersisa di dunia yang telah hancur ini.

____

“Hei, kau masih hidup? Abang? Kakak? Sukanya dipanggil apa?”

Bagi Oki yang telah menyusuri puing-puing ini selama berhari-hari untuk mencari makan, kata-kata itu terdengar bagaikan nyanyian surgawi. Tapi pandangannya telah kabur. Ia tak dapat melihat dengan jelas. Tenaga telah terkuras. Maka ia jatuh pingsan, ambrik di sana, di atas bubuk beton yang kasar.

Butuh waktu lama sekali baginya untuk terbiasa dengan kehidupan baru ini. Hidup bagai pemulung yang menggulirkan sampah, berusaha mengambil manfaat dari apapun yang masih ada. Oki, beserta kawan-kawan barunya, para penolongnya, hidup dengan penuh kesulitan di bawah gundukan sampah itu. Terutama saat mereka harus menghadapi kebuasan musuh-mush yang sebenarnya adalah sesama manusia.

Manusia-manusia yang telah terlanjur tertelan dalam keputusasaan dan menjadi gila. Manusia-manusia yang bersedia melakukan apapun demi mencapai tujuan. Manusia-manusia yang telah menjadi iblis dan akhirnya menjadi musuh bagi Oki dan kawan-kawannya.

“Panggil aku Ceking. Mulai sekarang, kau jadi kawan kami ya! Namamu?”

“O...” Tenggorokan yang kering dengan susah berbicara. “Oki.”

“Tenanglah. Kau akan pulih suatu saat nanti.”

_______

Ini adalah kisah tentang anak-anak manusia yang telah dipertemukan oleh jalan nasib yang sama. Jalan nasib yang mengharuskan mereka untuk menjalani sisa masa hidup mereka dalam keterasingan yang sunyi.

Pada suatu masa, tentara negara adidaya Mesopotalia secara paksa memasuki wilayah Republik Kisokudira dengan alasan untuk membebaskan penduduk di sana dari pemerintahan bertangan besi. Kenyataannya, yang Mesopotalia inginkan hanyalah tanah dan kekayaan alam yang belum pernah mereka miliki. Sumber-sumber strategis yang akan banyak bermakna dalam rencana jangka panjang mereka untuk menguasai dunia.

Upaya-upaya campur tangan yang senantiasa berujung dengan pembantaian seperti ini telah terjadi semenjak lebih dari dua puluh tahun sebelumnya, antara kedua negara tersebut. Kebenarannya selalu ditutupi dari mata negara-negara yang lain. Cerita-cerita tentangnya beberapa kali sempat bocor, tapi tak ada satupun negara yang bersedia untuk melakukan suatu tindakan nyata. Terlalu berbahaya. Bagaimanapun, yang masing-masing negara itu hadapi adalah sebuah hegemoni mendunia. Sesuatu yang pada nantinya dapat berubah menjadi suatu tirani. Suatu penguasaan dunia secara mutlak. Meski sejauh ini gagasan seperti hanya hidup dalam angan-angan saja, gagasan itu bukanlah suatu hal sepenuhnya tak mungkin menjadi nyata.

Bagi kebanyakan orang, seperti itulah bagaimana Mesopotalia dipandang.

Maka saat orang-orang yang hidup di perbatasan semakin dicekam oleh ketakutan, dunia dikagetkan oleh kejadian yang memastikan bahwa saat munculnya tirani yang ditakutkan itu ternyata tak akan pernah tiba. Seluruh negara Mesopotalia terlanjur hancur sebelumnya. Hancur dalam semalam oleh suatu penyebab misterius.

Ada yang bilang bahwa seluruh Mesopotalia hancur oleh satu serangan senjata pemusnah massal yang diam-diam telah dikembangkan oleh orang-orang Kisokudira, sebagai suatu bentuk upaya pembalasan dendam. Ada juga yang bilang kehancuran diakibatkan oleh kecelakaan dalam pengembangan senjata pemusnah massal milik Mesopotalia sendiri. Tapi tak ada yang tahu pasti kebenaran akan berita itu. Kebenaran tentang senjata pemusnah massal itu untuk waktu yang lama tak pernah terungkap.

Suatu senjata yang mampu mendatangkan kehancuran yang bagaikan bencana alam terdahsyat yang bisa dibayangkan. Sesuatu yang hampir menyamai tindakan lewat tangan tuhan itu sendiri. Apakah mungkin hal seperti itu diwujudkan oleh tangan manusia?

Semestinya, tak ada lagi yang tersisa dari negara Mesopotalia yang luasnya dahulu meliputi seluruh benua. Namun, kehidupan di bekas negara itu rupanya masih belum sepenuhnya sirna

_______

“Oki! Oki! Sebelah sini!”

Suara dalam kegelapan itu mendesis, memanggil seorang pemuda berwajah tirus menaiki tangga panjat. Genggaman demi genggaman tangan mencengkram palang-palang besi horisontal itu, mengangkat tubuh si pemuda pada sebuah landasan lembab berdebu yang tak terlihat dari dasar tangga tempat sebelumnya ia berada.

“Lihat! Di bawah sana!”

Suara itu berkata lagi.

Tak ada cahaya yang terpancar, selain dari lubang kecil pada permukaan landasan yang ia perlihatkan. Si pemilik suara telentang di atas permukaan itu. Sosok kurusnya nyaris tak terlihat dalam kegelapan. Baginya, penemuan yang ia lihat lewat cahaya dari balik lubang itu sungguh merupakan suatu keajaiban.

“Itu... rak-rak makanan kalengan! Makanan kalengan yang asli! Ada yang menimbunnya di bawah sana!”

Memang benar. Mengintip melalui lubang di landasan, di bawah suatu lampu gas gantung di baliknya yang entah sejak kapan telah menyala, Oki melihat rak-rak tinggi dari logam berjajar tersusun. Sepertinya menyimpan makanan-makanan yang diawetkan dalam kaleng-kaleng yang terbuat dari logam.

“Kita bisa ambil semuanya! Ya ‘kan, Ki?”

Oki berpikir. Makanan-makanan kalengan dalam jumlah yang teramat sangat banyak. Sungguh suatu harta yang tak ternilai pada masa sekarang.

“Jangan terlalu gegabah, King.” jawab Oki. “Kita enggak tahu itu semua punya siapa.”

“Okiiii! Kesempatan kayak begini kapan lagi terjadi?” rengek lelaki yang dipanggil Ceking itu. “Aku pemimpin di sini. Jadi kuputuskan aku akan ambil makanan itu!”

“Memang apa yang bisa kamu lakukan?”

“Panggil anak-anak lain, lalu sikat habis semuanya!”

Oki menggeleng-gelengkan kepala. Ia termasuk yang lebih tua di antara anak-anak yang lainnya. Sesuatu dalam dirinya, pengalaman lebihnya atau entah apa, mengatakan bahwa segalanya takkan mungkin berjalan semudah itu.

Pasti, seperti sebelum-sebelumnya, pada saat yang ini, takdir sedang mempersiapkan sebuah tipuan yang akan mempermainkannya secara keji. Lalu Ceking yang belakangan berhasil memimpin kelompok mereka dalam menuai kemenangan mulai cenderung gegabah dalam bertindak.

“Apa kamu tahu persis posisi kita sekarang ada di mana?” tanya Oki, sambil memandang sekelilingnya yang gelap dan suram.

Namun Ceking tak menjawab. Matanya terlalu terpaku pada apa yang tengah ia lihat. Pikirannya tengah bekerja menyusun rencana untuk mengambil alih makanan-makanan kalengan itu. Dalam lamunannya, ia pasti membayangkan dirinya meminta bantuan anak-anak besar yang lain.

Kemudian malam esoknya, Ceking dan teman-teman berandalnya Oki temukan telah tewas terbunuh di markas bawah tanah rahasia yang seharusnya hanya diketahui kelompok mereka. Lubang-lubang peluru memenuhi tubuh mereka. Cipratan darah dan daging ada di mana-mana. Oki yang sebelumnya memaksakan diri mencari tempat untuk buang air besar menjadi satu-satunya yang selamat dari adegan pembantaian.

“Oh Tuhan. Tidak... tidak lagi!”

Sebelumnya, Oki mengira dirinya bisa merawat mereka. Oki kira dirinya bisa mendidik mereka. Seperti Ceking, menggantikan peran orangtua mereka yang telah tiada.

“Tak mungkin! Ini pasti tak mungkin!”

Yang sama-sama lenyap dalam serangan senjata pemusnah massal itu. Senjata bernafas maut yang telah memusnahkan segala-galanya. Merenggut semuanya dari diri mereka. Maka saat dia melihat itu semua, seketika dia ambruk di bagian lantai marmer yang tetap kering. Air mata mengalir, tersengguk-sengguk ia menangis.

“Tidak... tidak! Tidaaaaaaaak!”

Ia tak tahu bagaimana sekali lagi, ia telah lolos dari maut mencekam yang gagal mengambil nyawanya, tapi berhasil mencuri begitu banyak nyawa lain. Namun kali ini tak ada lagi pikiran-pikiran konyol yang membuatnya merasa bisa menyangkal kenyataan.

Pada saat itulah, dari samping tiba-tiba ia rasakan sesuatu bergerak. Untuk pertama kali, ia melihat si gadis kecil berjalan ke arahnya.

________

Gadis kecil itu berpenampilan lusuh dan kumal. Rambut merahnya yang panjang nampak sudah lama tak dibersihkan. Noda-noda hitam berceceran di wajahnya. Sepasang matanya yang besar tampak sayu. Lelah oleh upaya keras dan penderitaan. Usia? Oki tak bisa menebak. Siapapun akan tampak bertambah tua di dunia yang penuh kekerasan seperti ini.

Gadis kecil itu menggenggam tangannya, menuntunnya menyusuri gorong-gorong saluran air bawah tanah. Oki menyadari gadis itu pasti sudah hafal jalan-jalan lorong di seputar sini sejak lama. Namun baru sekali itu Oki pernah melihatnya. Mengapa Oki belum pernah mengenal gadis itu sebelumnya, jika ia memang seseorang yang tinggal di sekitar sana? Siapa gadis ini? Ke manakah akan ia bawa Oki pergi?

Dahulu, di atas mereka, berdirilah salah satu kota terbesar di Mesopotalia. Tapi sama seperti tempat-tempat lain di negeri itu, kota itu turut hancur oleh angin kematian yang memusnahkan negeri tersebut. Semenjak saat itu, tak ada yang berani berlama-lama menjejakkan kaki di wilayah permukaan kota itu lagi. Sekalipun tahun-tahun panjang sudah berlalu. Kini, orang-orang tersisa yang dahulu sering berselisih sudah berpindah. Mereka dibuat takut oleh patroli tentara yang datang dari Republik Kisokudira. Karena itu, akibat tiadanya kesempatan untuk membangun kembali, secara terpisah mereka mulai menjalani hidup di bawah tanah. Semenyata, pada saat yang sama, di atas tanah, peleton demi peleton tentara Kisokudira mulai berdatangan kembali.

Oki dan kawan-kawannya yang telah tewas hanya salah satu dari sekian banyak komunitas kecil yang masih bertahan di gorong-gorong saluran air bawah tanah di bekas kota itu. Mereka yang ada dalam kelompok Oki semuanya berbagi satu kesamaan: mereka sama-sama muda dan yatim-piatu. Mereka telah kehilangan segalanya dalam kejadian bertiupnya angin kematian. Dijauhi bersama akibat rasa ketidakpedulian, bersama-sama sebelumnya mereka telah berusaha untuk bertahan hidup.

Mereka telah kehilangan segalanya di sana, saat angin kematian bertiup. Kini saat mati, mereka telah kehilangan segalanya lagi.

Angin Kematian. Itu nama yang cukup pantas untuk menyebut kejadian itu.

Seluruh udara, dalam wujud angin, seakan tersedot tiba-tiba dalam suatu pusaran mini. Suatu pusaran yang terletak jauh, jauh di tengah negeri, beratus kilometer dari tempat Oki sebelumnya tinggal, namun memberi pengaruh pada segala sesuatu di sekelilingnya sampai ribuan kilometer jauhnya. Lalu, sekejap kemudian, tampaklah berkas-berkas cahaya. Sedotan angin terpecah. Kemudian semuanya luluh lantak. Debu berterbangan di udara, terbawa angin, mewarnai langit dengan warna abu pekat. Berwarna kelam, dengan alur yang bergerak-gerak cepat secara mengerikan, tak heran jika angin tersebut disebut ‘angin kematian’.

“To... long.”

Gadis kecil itu bahkan sebelumnya tak sempat berbicara. Ia ambruk begitu saja, di hadapan Oki, di hadapan tumpukan mayat itu, tak jauh dari kubangan darah teman-temannya.

“O-oi!” Oki selama sekejap tak dapat berbicara. Air mata masih dengan deras berurai. Namun secepatnya ia berusaha berhenti menangis. “Ka... kau baik?”

Untuk sesaat, Oki mengira gadis kecil itu terluka. Untuk sesaat, Oki mengira gadis kecil itu sedang sekarat. Tapi tidak. Sama sekali tidak. Sebab sesudah Oki memapahnya, mengamati tubuhnya, gadis kecil itu rupanya hanya kelelahan. Apakah dia habis berlari dari tentara Kisokudira yang juga mengejarnya? Ataukah ada alasan lain? Oki sebenarnya tak sanggup bertanya.

Maka sesudah Oki memberinya makanan, membantu kesadarannya pulih kembali, gadis kecil itu mengamati tumpukan mayat kawan-kawan Oki. Mayat-mayat itu masih tercecer tak jauh dari tumpukan makanan kalengan yang mereka curi, kini mulai membusuk dalam kegelapan yang membuat mata meringis. Tatapan gadis itu entah bagaimana menyiratkan seolah ia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini.

“Apa Kakak bersedia menegakkan keadilan?” Tiba-tiba gadis kecil itu bertanya.

Oki menoleh, terhenyak, dan hanya bisa menatapnya tanpa bisa berbicara.

“Apa Kakak merasa marah karena tak bisa berbuat apa-apa?”

Oki, masih menatapnya, masih terhenyak, dan tak tahu harus menjawab apa.

“Febi tahu. Sesuatu yang bisa bantu.”

Febi? Itukah namanya?

Maka Oki menyambut uluran tangan Febi, si gadis kecil misterius, dan mengikutinya menyusuri lorong-lorong saluran air bawah tanah yang panjang dan berliku. Semakin jauh ia dibawa, ke bagian-bagian lorong yang baginya tampak asing. Wilayah gorong-gorong yang sebelumnya ia kira dikuasai oleh kelompok-kelompok lain namun ternyata tampak telah ditinggalkan saat mereka melintas.

“Febi, sebenarnya kamu siapa? Kamu berasal dari kelompok mana?”

“Bukan dari kelompok manapun.” jawab si gadis kecil. “Febi ya Febi. Bukan siapa-siapa lagi.”

Mendengar jawaban itu, Oki memutuskan untuk tak bertanya lagi tentang dirinya. Mungkin zaman yang sulit telah membuat pikiran Febi menjadi keras. Mereka yang pikirannya terlanjur mengeras akan susah mempertahankan pembicaraan dengan orang-orang yang berusaha menunjukkan perhatian padanya. Mungkin Febi, di usianya yang semuda itu, telah menjadi salah satu dari orang-orang tersebut

Febi membawa Oki terus berputar dan berputar. Sudah tak terhitung lagi banyaknya lorong yang telah mereka lalui. Febi, bahkan dengan sepasang kakinya yang pendek, terus berjalan begitu cepat di depannya. Seakan-akan ia takkan pernah mengenal lelah. Sedangkan Oki di belakangnya terus berupaya keras agar tak sampai kehilangan sosoknya. Benaknya bertanya-tanya. Dalam upayanya, ia bahkan lupa akan keganjilan suasana yang ia hadapi.

Keadaan di sekeliling mereka secara berangsur menjadi semakin remang. Saat ia menyadarinya, Oki bertanya-tanya apakah senja telah berangsur di atas tanah. Sudah berapa lamakah mereka berjalan? Apakah cahaya yang masuk lewat celah-celah ventilasi sudah tak bersisa lagi? Apakah mereka telah berjalan selama itu?

Lalu, Okipun menyadari sesuatu yang benar-benar mengherankan.

Beberapa tahun lalu, sesudah Angin Kematian bertiup dan memusnahkan segalanya, membagi mereka yang masih tersisa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah, sejumlah kelompok yang telah terbentuk mendapati bahwa gardu-gardu listrik yang ditempatkan di bawah kota hampir tidak terpengaruh oleh kerusakan yang terjadi di atas tanah. Dengan sedikit perbaikan dan penyesuaian, tenaga listrik minimal dalam jumlah terbatas bisa mereka hasilkan, yang selanjutnya digunakan untuk menerangi gorong-gorong yang dulunya gelap itu dengan berderet-deret lampu tabung.

Sumber tenaga listrik itu selanjutnya menjadi sesuatu yang vital bagi kehidupan mereka seterusnya. Lampu-lampu itu seakan menjadi penanda bagi wilayah tiap-tiap kelompok. Setiap gardu listrik yang ditemukan berakhir menjadi markas kelompok-kelompok yang selalu bertikai. Di seputaran tiap markas, berbagai jebakan dan terowongan baru dibuat demi mencegah masuknya penyusup dari kelompok-kelompok asing. Tak ada yang rela untuk terus hidup dalam kegelapan. Dengan sumber tenaga listrik inilah, masyarakat bawah tanah Mesopotalia secara terpisah-pisah kemudian terlahir dan berkembang.

Dapat dikatakan bahwa di mana cahaya terang lampu terlihat di gorong-gorong itu, maka di situlah sekelompok manusia tinggal dan berada. Di mana ada cahaya lampu, maka di sana ada sedikit sisa-sisa peradaban, termasuk di lorong-lorong penghubung antara dua markas kelompok manusia yang kebetulan tidak bertikai.

Namun Oki sadari, keremangan yang ia rasakan adalah karena lorong-lorong yang Febi masuki merupakan lorong-lorong terlantar yang keberadaannya semakin jauh dari cahaya lampu. Cahaya yang tersisa hanya berupa pendaran suram berwarna kuning-hijau dari lumut-lumut yang memiliki biofluorosens—sejenis mutasi dari bentuk kehidupan rendah yang menempel di dinding-dinding, sehingga proses pengolahan senyawa pada tubuh lumut itu menghasilkan efek sampingan berupa cahaya alami.

Tapi langkah kaki Febi masih tetap cepat. Ia rupanya benar-benar telah hafal jalan untuk sampai ke sini—terlepas dari keremangan yang ada, sehingga menimbulkan pertanyaan di benak Oki: bagaimana Febi bisa pertama mengenal alur lorong-lorong di sini? Sebab ini bukanlah tempat yang masih lazim didatangi manusia.

Di sepanjang dinding memang ada sisa-sisa lampu tabung yang mungkin dulu dipergunakan sebelum Angin Kematian bertiup. Tapi keadaannya sudah teramat memprihatinkan, telah lama rusak dimakan waktu, dengan bungkusan-bungkusan pelindung yang telah tercabik dan serat-serat logam telah terburai. Ini bagi Oki mengindikasikan bahwa mungkin memang ada sesuatu yang tersisa di sekitar sini, di tempat di mana Febi tengah menuju.

“Kita sekarang ada di mana?” Sedikit ragu, Oki mencoba bertanya.

“Di suatu tempat, berdasarkan pembagian wilayah saluran, termasuk di dalam Area 77.” Tanpa menoleh Febi menjawab.

“Area 77?” desis Oki, yang dalam benaknya menyadari bahwa sudah begitu lama semenjak sistem penomoran pemerintah Mesopotalia untuk menyebut wilayah digunakan terakhir kali. Oki tak lagi bisa memetakan di mana persisnya mereka berada. Ia sudah lama melupakan detil-detil soal sistem penomoran wilayah itu.

Lalu tiba-tiba saja, langkah Febi terhenti.

Ia masih tampak sebagai gadis kecil bermata sayu di tengah lorong yang gelap itu. Berdiri diam di atas lantai beton, di sisi sebuah dinding yang berlapiskan logam, dengan sebuah selokan di mana air bergemericik mengalir di sisinya, seolah-olah tak tahu harus berbuat apa. Tapi Oki bisa melihat, terselubung dalam kegelapan itu, di hadapan dirinya dan di hadapan si gadis, ada sebuah pintu. Nyaris tak terlihat pada dinding berlapis logam itu.

“Di sini.” gumam Febi, dengan sejenis nada yang maknanya sukar ditebak. Raut wajahnya pun sulit Oki lihat di dalam kegelapan itu. Tapi niat Febi untuk memperlihatkan pintu itu telah tersampaikan dengan jelas.

Perlahan, sedikit ragu, Oki menyentuhkan tangannya pada permukaan pintu yang dingin itu. Berusaha mencari-cari sejenis kenop atau gagang. Tapi yang ia dapati malah sebuah tombol. Yang saat ditekan, tiba-tiba saja mengeluarkan suara mendesis. Desisan yang keras, seperti bunyi saat udara lolos keluar dari sebuah botol minuman.

Bersama desisan itu, pintu lalu bergeser, dan membuka.

Read previous post:  
Read next post:  
50

Haah?

Bwt elbintang, kayak biasa, aku sama sekali enggak ngerti apa yang kamu maksud. Tapi bukan berarti komenmu ga berguna sih. Trims banget. Tenang aja, cerita ini kubuat bukan buat dibaca kok.

Bwt addang13, sungguh ga pantes kamu memakai cerita ini sebagai contoh. Kau selalu bisa ngesave web page ini kalo kau mau.

50

bikin bengong aja...

Aku minta soft copynya plizzz. Buat referensi.
Bwakakakakaakaaka

90

mungkin aku harus membaca ulang...
kerna jaringanku teramat lelet maka, bacaan kali ini scrollfast saja.

Anin-master...*ah aku baru tahu kalu kamu dipanggilnya Anin :D*

bagian pertama *sengaja?* mengambil tempat sebagai narator orang kedua tunggal(kau)?-bener nggak siy istilah ini?- *yg jarang-jarang ditemui*...wew takjub! itu pendekatan yang -bagiku- sangat menarik.

sayangnya hanya sampe bagian itu saja.

bagian kedua Anin, masuk lagi sebagai orang ketiga...
arrrg...padahal pendekatan "kau" itu sungguhg-sungguh membuatku tercengang...

ya.ya...ignorelah...

masih untuk bagian pertama...
apa ya maksudnya "...ahahaha." pada ekspresi si aku? lebih dramatis kalu monolognya diterangkan atau ahahaha-nya dihilangkan *weee...bolehlah kalu nggak setuju*

bagian-bagian selanjutnya...

narasi yg lumayan panjang berpotensi untuk dilewati pembaca -atau aku saja yang begitu- *aku mungkin akan membacanya lebih detail, nanti*

tensimu bercerita kali ini cepat, renggang dan melompat-lompat. Belum lagi bisa masuk pada kondisi Ceking dan Oki...eh tiba-tiba sudah tiwas. Lagi-lagi, suasananya ketangkap hanya kondisi manusianya samar...

ada beberapa typos...

benarkah sang narator menyebutkan Oki dan kawan-kawan telah tewas? (bagian 5)
jadi apakah dari perjalanan Oki yang sedang kubaca kali ini? sesuatu misteriusnya kah?

apa ya?
aku kok jadi salah menyebut Mesopotalia dengan Mesopotamia...
----------------------
*heuh!maafkan kecerewetanku kali ini, dan kali2 sebelumnya dan kali-kali setelah ini :-)*
-----------------------
cheers!