Bapak... Terlalu Banyak Kata

Adalah seraut paras tua-bijaksana yang terbayang di benakku kala aku mengingatmu, Bapakku.

Kau yang selalu kubanggakan, yang selalu kukagumi cara pikir kritis terkelumit membelit-belit, yang selalu kuberikan cinta murni kasih sayang kerinduan bakti sejati.
Kau yang selalu ingin kulindungi, kurengkuh, kuhibur, kutopang, yang selalu menjadi landasan dari segala macam pikiran. Aku menyanyangimu, sebaiknya kau tahu itu.

Terlalu Banyak kata, bapak. Terlalu banyak kata yang ingin kulontarkan, kuperbincangkan bersamamu. Padahal aku paham benar waktu untuk itu hampir tidak ada. Kau terlalu lemah bahkan untuk sekedar melangkah setepak saja sekarang. Sedang aku membutuhkanmu mendengarkan segala keluh-kesahku, unek-unek dari anak bungsumu yang kau cap grasa-grusu.

Kau bapakku yang pendiam, yang paling kusayang.

Kerap aku berbincang-bincang dengan dewa kematian, berharap dia mau menukarkan separuh suratan dengan sendatan nafasmu nan kian tak bersuara, memendek seiring masa tua memakan usia. Atau potongan tempo takdirku, sering benar aku memohon pada dewa kematian itu agar dia memberikannya padamu.

Tapi, Bapak, ingin sekali aku memaki, menghajar, meludah si Dewa Kematian kurangajar karena ia menolak apa yang kuperintahkan. Katanya, "Aku hanya menjalankan perintah Tuhan."
Tapi, Bapakku, apatah yang Tuhan ketahui tentang rasa inginku tuk selalu bersamamu, mengecup punggung tanganmu seusai kita menyudahi shalat lima waktu. Apa yang Tuhan ketahui tentang kehausan jiwaku akan kukuh pelukanmu, kau yang mengenggam tanganku erat, mengajakku berlari meniti jalan pinggir pematang sawah. Kau yang selalu membopongku di masa muda dulu, mendudukkan anakmu ini pada kursi goyang bahan rotan, lantas kau tuturkan cerita macam-macam. Aku paling suka jika kau bercerita soal wayang.

Jujur sekali aku benci melihat jasadmu yang kritis-miris, setengah tak bernyawa, di ambang kehancuran dunia. Aku benci harus mendapati bibir kecilmu yang tua itu perlahan memutih memucat membeku menghantuiku.

Memang, aku masihlah anak bungsumu yang sembrono. Masih tetap anak bungsumu yang suka menulis cerita sudut pandang orang pertama, menyampurkan puisi bersama prosa, menggabungkan mereka tanpa moral tanpa norma. Tapi, berhari-hari kucari-cari di sudut lemari, tak kutemui karyaku sendiri bertuliskan apa-apa tentangmu. Dan itu seakan menorehkan kesan bahwa aku tak menyayangimu, tak berbakti padamu.

Ada yang menyedihkan.

Aku tak tahu bagaimana harus mengakhiri tulisan ini.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer my bro
my bro at Bapak... Terlalu Banyak Kata (12 years 6 weeks ago)
80

yg menarik adalah kau menulis dengan menghadirkan jiwa dan kepingan kenangan

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Bapak... Terlalu Banyak Kata (12 years 6 weeks ago)
100

Karyaku yang paling kusayang...

Nih, kukasih nilai tambahan...

Writer naela_potter
naela_potter at Bapak... Terlalu Banyak Kata (12 years 8 weeks ago)
80

Kalo menurut saya, justru sisi unik dr tulisan ini adalah kosakata yg digunakan. sering baca tlisan sastra yaaa? :)
baguus. kena ke saya.
salam kenal yaah.

Writer dipu_adipura
dipu_adipura at Bapak... Terlalu Banyak Kata (12 years 8 weeks ago)
80

hikz..
aku sedih ...
jika brkata sperti itu..
jd ku tw rsanya..
tq....

ttap berkarya yahhh

Writer bl09on
bl09on at Bapak... Terlalu Banyak Kata (12 years 8 weeks ago)
100

Suara hatimu seirama sobat. Ku beri 10 karena akupun memiliki ayah sepertimu,alhamdulillah beliau mash sehat.
Lam kenal^^

Writer lia.lilycute
lia.lilycute at Bapak... Terlalu Banyak Kata (12 years 8 weeks ago)
60

ihik.....ihik......sedih seeh tapi kurang bikin gue merinding gitu....kata2nya kurang mengena gitu...gue seeh ga terlalu bisa comment ya...cuma itu aja yg gue rasa dari tulisan lo....more learning lagi d....