Hunt : The Prologue Chapter 16 "Whisper"

Karmin membuka matanya dan terbangun dari tidurnya. Kumisnya yang tebal mengganggu tidurnya. Meskipun ia sudah terbiasa dengan hal itu selama bertahun tahun, tapi ia masih saja terganggu. Ia selalu bangun setiap tengah malam sejak ia membeli rumah ini. Itu bermula dari 2 bulan yang lalu. Semenjak ia menjejakkan kakinya di rumah ini, merasakan udaranya yang segar, anginnya yang sejuk, ia terlena sehingga tak menyadari apa yang pernah terjadi di rumah ini.

Karmin bangkit dari lelapnya. Ia berjalan menuju dapur, lalu mengambil segelas air putih yang telah siap diatas meja bekas makan malam. Ia meminumnya lalu menarik nafas lega. Namun ada yang mengganggu pikirannya semenjak ia tinggal di rumah ini, kenapa pemilik sebelumnya meninggal? Karena perusahaan yang menawarkan rumah ini padanya tidak mau menjelaskan bagaimana pemilik sebelumnya meninggal.

Sebenarnya ia merasakan ada yang aneh dari rumah ini. Kadang-kadang badannya menggigil tanpa sebab, dan ia seperti melihat seorang wanita dengan pakaian putih dan berambut panjang setiap kali ia berjalan ke ruangan bawah tanah. Tapi itu hanya halusinasinya. Ia harus merasa semua itu hanya halusinasinya saja...Hingga sekarang. Benarkah?

Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Masuk ke telinganya, berdengung dalam kepalanya.

“Bunuh mereka...”

ia memegangi kepalanya yang sakit, sambil mencoba bersandar di meja makan. Suara itu terus terdengar.

“Bunuh mereka...”

ia menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil meringis, menahan sakitnya. Melawan. Mencoba agar suara itu tidak menguasainya. Apapun itu, ia dapat dengan mudah membunuhnya sekarang. Atau...ini hanya imajinasinya juga!!

“BUNUH MEREKA!!” kini suara itu memaksanya. Entah apa maksudnya, tapi suara itu menyuruhnya membunuh orang. Siapa yang dibunuh, ia tak tahu. Kini ia harus mencari senjata. Senjata! Apapun yang tajam dan dapat menyakiti!! Yang dapat membelah dan memotong! Yang dapat menusuk menyayat, memenggal...

“aaaaaakkkhh!!” ia berjalan terhuyung-huyung ke dalam ruang bawah tanah. Gembok pintu dibukanya secara paksa dengan tang dan obeng. Ia terjatuh, kemudian berguling berkali-kali ke bawah dari tangga lalu terhempas ke tanah.

Sakit di tubuhnya tak menghentikannya untuk melangkah. Ditengah kegelapan dan sinar remang bulan yang menembus ventilasi ruang bawah tanah, ia berjalan, sesekali terjatuh, bangkit lagi, lalu kemudian sampai di rak penyimpanan alat bangunan.

“tidaaaaakkk....” ia mencoba melawan, namun kedua tangannya seperti punya keinginan lain. Ia mencoba berontak, namun tak bisa. Tanpa bisa ia kendalikan tangannya meraih sebuah kapak besar yang tergantung di dinding dekat rak penyimpanan. Ia hampir menangis karena tak berdaya melawan kekuatan ini. Setiap kali ia mencoba rasanya sakit sekali.

Ia naik ke atas, ke lantai dua. Berjalan dengan setengah menyeret di tangga, meninggalkan bunyi berdecit seperti suara karet basah yang digesek ke lantai marmer. Lampu rumah yang redup menyamarkan kedatangannya. Ia membuka pintu kamar tidur, tempat istri dan anaknya tidur. Dilihatnya istri dan anaknya tengah terlelap. Didekatinya, lalu diarahkannya kapak ke arah mereka berdua. Pertama-tama istrinya. Dilayangkannya sekali ayunan kapaknya dan seketika darah segar menyemprot keluar dari leher istrinya yang tak sadar dan seketika mati. Anaknya yang masih berumur 8 tahun terbangun, lalu tersadar dan berteriak saat ia melihat kepala ibunya nyaris putus.

“KYAAAAA!!!! IBUUUU!!!” ia menatap ayahnya, yang segera mengambil ancang-ancang untuk menebas leher seseorang lagi. Leher anaknya sendiri. Air matanya berlinang. Tak bisa menghentikan yang akan ia lakukan. Air matanya mengalir semakin deras saat tangannya melayang sendiri menebas leher anaknya.

Kepala anaknya terjatuh dan berguling beberapa kali di lantai. Dengan segenap kekuatannya, Karmin berteriak sambil menangis dan menjerit.

“WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!”

***

Kota Danau Baru, di daerah sekitar Bogor utara. Dalam beberapa tahun terakhir, Bogor telah menjadi ladang tanam bagi para pecinta Nature Living. Mereka yang memilih untuk tinggal dengan alam memilih Bogor karena selain dekat dengan Jakarta, juga segar dan alami. Tak heran pemerintah mempertahankan Bogor sebagai ‘Kota Hujan’ sesuai julukannya terus menerus.

Ditengah hujan gerimis yang mengguyur kota, sebuah bus kecil yang berpenumpang penuh berhenti di sebuah halte kosong dan melemparkan dua penumpangnya ke jalan. Cara yang tidak sopan, tapi nampaknya itu hal yang pantas untuk dilakukan untuk dua penumpang yang ini.

“sudah dibilang, ongkosnya kurang! Masih ngeyel...sana jalan kaki aja ke puncak!!” teriak kenek bus itu sambil menutup pintu bus dengan kasar. Salah satu penumpang berdiri dan langsung menendang tiang halte bus dengan kesalnya.

“DASAR KENEK SIALAAAANNN!! Siapa yang bilang kalau uang kita kurang? Kita kan masih punya 50.000 buat ongkosnya!!” teriak pria muda yang lebih pendek, berambut acak-acakan dan berjaket merah dengan kerah leher yang panjang namun dibiarkan terbuka.

Selagi pria yang lebih pendek itu mengumpat, pria satunya yang tampak lebih tua,- berpotongan rambut jabrik belakang dan rambut depan yang disisir lurus serta kaos tebal dengan lengan panjang.

“kita nggak akan dilempar keluar bus dengan tidak hormat jika kau TIDAK MENGHABISKAN UANG KITA UNTUK MEMBELI MAKANAN!!” bentaknya kesal. Pria yang lebih pendek berbalik dan langsung membalas kata-kata pria yang lebih tinggi.

“siapa bilang? Tadi di stasiun kan katanya cuma 25.000 sampai ke puncak!”

“tapi kan dia juga bilang kalau hujan jalan nya licin, jadi harganya naik!”

pria yang lebih pendek terdiam. Lalu kemudian ia kembali berbicara lagi.

“itu tidak jadi alasan nya, kan?”

“TENTU SAJA ITU ALASANNYA, RYAN!! Ya ampun...aku sudah bosan bertengkar melulu, nih. Sekarang kita terdampar di tengah jalan ke puncak dan kita tidak tahu arah!!” ketus Ling kesal. Ryan menaikkan alis matanya dan menunjuk ke satu jalan tanjakan ke atas.

“bukannya kita bisa jalan kaki?” ujarnya. Kali ini yang diam itu Ling. Tapi ketika melihat kondisi tanahnya, becek...udah ujan, nggak ada ojek, bechek....ampun deh...

“celanaku baru saja aku beli. Jadi aku takkan berjalan ditengah tempat yang becek dan berlumpur.” Balas Ling sambil melipat tangannya dan membuang mukanya.

“kau mau menunggu hari terik? Di Bogor?” ucap Ryan dengan nada mengejek. Ia tahu Ling belum pernah ke Bandung, dan sejauh yang mungkin Ling baca di Tourism Guide, tak menyebutkan bahwa jarang ada hari terik di Bandung. Apalagi di puncak. Masa, sih?

“semuanya mungkin terjadi.” Ucap Ling tak mau kalah.

“terserah kaulah...aku tak mau berdebat lagi. Lagipula...” Ryan mencoba meraih sesuatu di belakangnya. Namun sesuatu yang ia cari itu tak ada. Ia berbalik dan menyadari tas ranselnya hilang. “WAAAAAAA!! Ta...ta...tasku!!” teriaknya terkejut. Ling terdiam. Bukannya mustahil jika tertinggal di bus. Ryan kan orangnya pelupa.

“nah, kan...itu namanya kualat. Siapa suruh ngelawan orang tua.” Ling mencoba mengejek. Namun Ryan sudah terlanjur panik sehingga ia tak sempat mendengar kata-kata Ling.

“padahal disana ada buku Novel Legendary Kingdom karangan Robert Winterkill favoritku! Dan belum sempat kubacaaa!!” teriak Ryan histeris. Ia hampir menangis karena merasa kehilangan buku yang ia favoritkan dan termasuk dalam buku langka karena di Indonesia saja hanya ada dua puluh yang baru terbit. Ia mendapatkannya dengan sudah payah. Menabung, bekerja, dan sekarang hilang!!

“ini semuanya salahmu!!” teriaknya sambil menunjuk ke arah Ling dengan geram.

“oh ya? Siapa yang menghabiskan uang kita? Aku mencoba berhemat!!” balas Ling tak mau kalah.

Selagi mereka bertengkar, saling mengumpat, mengejek dan menghina, bus tadi yang melemparkan mereka keluar kembali, dan ketika tiba di depan mereka melemparkan sebuah ransel hitam dengan bawaan yang kelihatannya banyak ke arah mereka berdua.

Lemparannya telak mengenai Ryan di kepala. Ryan langsung terjerembab dengan tasnya di kepalanya sehingga menimbulkan percikan air yang mengenai Ling juga.

“ya ampuun!!” jerit Ling saat melihat celana barunya terkena percikan air kotor. “dasar bodoh, kubilang celana ini baru saja kubeli!!” lanjutnya kesal.

Lalu bus itu pergi lagi tanpa berbuat apa-apa lagi.

“oh ya?” sahut Ryan. “bagaimana dengan wajahku ini?” ia berdiri lalu memperlihatkan wajahnya yang kotor karena terkena lumpur. Ling memperhatikannya sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak.

“bahkan lebih baik dari sebelumnya. Kau memakai lotion wajah?”

Ryan hanya bisa meringis kesal.

“baiklah...” ucap Ling sambil merapikan bajunya yang kusut saat ia tertawa. “kita lewat sana. Lagipula kompasnya menunjuk ke sana.”

Mereka pun berjalan menaiki bukit yang basah dan licin. Ada tempat yang ingin mereka tuju. Dan itu ada di puncak. Klien Ling yang baru menginginkan ‘pembersihan’ pada sebuah rumah di puncak. Ia mengatakan bahwa rumah itu terkutuk dan beberapa orang yang pernah meninggalinya mati dengan mengenaskan. Ling tertarik dengan kasus ini karena klien nya mengatakan ‘penampakan hantu wanita berbaju putih dan berambut panjang’. Mirip dengan deskripsi yang ada di kamusnya. Ling mempunyai kamus yang berisikan data dari berbagai macam hantu dan makhluk malam,- siluman dan jejadian, serta bagaimana cara mengalahkannya atau mengantisipasinya. Ia menamakannya ‘kamus dunia ke dua’. Dan kesanalah, ke rumah itu, mereka menuju.

***

angin berhembus menusuk dinginnya tulang. Tak terasa setelah beberapa jam mereka berdua telah sampai di puncak. Begitu sampai, Ryan langsung terjerembab terjatuh dengan peluh yang membasahi tubuhnya.

“WAAAAAHHH,....capek banget....Ling, kau tidak capek, yah?” tanya Ryan setengah pingsan. Rupanya perjalanan mendaki bukit tadi memang sulit.

“nggak, tuh. Kau harus mencoba gunung Everest. Salju disana lebih menghalangi daripada lumpur di bukit ini.” Balas Ling sambil tersenyum dan merapihkan baju dan celananya yang sempat kusut lagi. Ia tak terlihat lelah sama sekali.

“kau bilang Evereeest??” seru Ryan kaget. Ternyata Ling pernah mendaki gunung Everest! “aku nggak percaya. Jangan-jangan kau berbohong...” Ling hanya tersenyum sinis.

“menurutmu?” ucapnya.

PASTI BOHONG. Benak Ryan yakin. Pasti bohong. Ia yakin semua yang dikatakan Ling tentang pendakiannya ke gunung Everest itu bohong.

“sudahlah, daripada kau terus mengumpat seperti itu, coba lihat perumahan di depan sana.” Ling menunjuk ke arah perumahan yang padat namun teratur dengan tataan yang rapi dan disekitarnya masih tertanam pohon-pohon yang membuat perumahan ini sangat segar untuk ditinggali. Di gapura masuknya tertulis ‘Green Living’ yang berarti kehidupan hijau atau hidup bersama alam. Tak heran Indonesia kini menggalakkan ‘panggilan alam’ untuk ditanamkan dalam susunan masyarakatnya. Kebakaran besar beberapa tahun yang lalu hampir menghabiskan seluruh hutan di Sumatera dan asapnya membuat keributan di berbagai daerah, bahkan negara!

“wah, indahnya...kita akan kesana?” Ryan sudah bangkit dan bersiap melangkahkan kakinya kesana.

“nggak, kita akan ke sana.” Ling mengubah arahnya menunjuk ke arah sebuah rumah besar di puncak bukit, mungkin sebuah Villa.

“kesana? Tapi tadi kau bilang ke arah sini!” Ryan menunjuk ke arah perumahan.

“cuma iseng aja, kok.” Setelah mengucapkan itu, Ling langsung melangkahkan kakinya ke arah rumah yang dituju dan meninggalkan Ryan dengan kekesalan yang meledak-ledak.

“dasar mata sipit kurang kerjaaannn!!!”

~TO BE CONTINUED~

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

baru gabung neh...

keren abizz....kyk nonton film gitu..jadi pengen baca lanjutannya,,congrats!!!

90

ya...
becek ujan lagigak ada ojek ada mister bleck...blacklist lagi.....
masaak sih si ling pernah mendaki gunung everest? aku gak percaya banget....
ya...
lanjuut terus ya...
baca rintihan malamnya

90

Bagus ceritanya. Cerita misteri yang patut ditunggu lanjutannya.

Keep writing!