Dragon X Riffles 06

Kepulan asap rokok menyesaki ruangan temaram. Ada degup nadi teratur bersama senyum sinis di sana. Tempat itu gelap persis gua mati. Diding yang dingin menyimpan gaung kekehan dengan rytme harmonis. Degup itu adalah milik lelaki yang mampu membaca dalam gelap.

“Cukup tangguh,” ucapnya pelan, “tapi sampai di mana batas kemampuanmu… Zahir”
Ditutupnya koran perlahan sambil menengadah, menatapi bintang-bintang ciptaannya yang tertempel di langit-langit ruangan. Dihelanya nafas tenang. Permainan baru dimulai, tapi ekspresimu salah Zahir.

Lekali dalam gelap itu tertawa. Bangga.

“Guru sudah datang.”

“Suruh dia masuk.”

Yang disebut guru memasuki ruangan. Kain penutup matanya dibuka.

“Silahkan duduk.”

# # #

Zahir menyusun photo di meja sebelah komputer Jane dengan cepat. Korban yang jatuh hampir seratus orang. Ekspresi semua korban saat ditemukan hambir sama.
Rata-rata mulut dan wajah mereka terbuka lebar. Seluruh panca indranya mengalirkan darah. Gambaran kejam sepertinya tak berhenti disana kecuali setiap korban ditandai dengan tikaman semacam paku.

Jane diam. Dugaan kalau Zahir sedang bercanda pupus.

“Angel yang diambil cukup profesional,” komentar Zahir terdengar kaku setelah cukup lama diam, “Tapi ini semua tak sebagus yang diambil oleh Dr. Ihsan.”

“Kamu punya data juga?”

“Semuanya, lengkap.”

“Keren.”

Senyum pria jangkung disebelah Jane terlihat sekilas, “Ada yang salah?”

“Banyak.”

“Heh?”

“Kamu sudah benar-benar bergabung dengan kepolisian?”

Zahir mengambil sebuah buku tulis dari kamar itu.

“Tunggu sebentar. Jika kau sudah bekerja sama dengan kepolisian, berarti mereka tahu kalau rentetan kematian ini adalah pembunuhan berantai.”

Zahir menyobek selembar kertas dari buku tulis Jane, “Begitulah.”

“Lantas bagaimana caramu meyakinkan pada Kepolisian kalau kematian-kematian yang ada merupakan sebuah kriminal.”

Zahir yang sedang asyik membuat kapal-kapalan dari kertas berhanti sejenak setelah mendengar pertanyaan, “Kematian yang natural, seperti kelaparan, penyakit, dan semacamnya terutama di Indonesia masih menjadi minoritas yang akselerasinya cukup rendah. Adalah dasar forensik yang sangat lumrah bahwa perbedaan antara kematian wajar dengan pembunuhan sangatlah mencolok. Ciri kematian akibat pembunuhan diantaranya menyisakan luka-luka yang tak mungkin diciptakan oleh tangan jenazah itu sendiri. Kamu mengerti yang kumaksud, kan?”

Jane menyahut cepat, “Maksudmu, tusukan benda tajam yang dianggap paku?”

Zahir mengangguk, “Rata-rata, dimana letak luka itu?”

“Biasanya dibahu, punggung, dan tangan.”

“Punggung. Di punggung Jane. Tempat dimana orang kesusahan membuat apapun di sana meski hanya sekedar menggaruk sekalipun.”

“Di punggung?”

Zahir mengangguk sambil menerbangkan pesawat kertas buatannya santai, “Selain itu, perlu dicamkan bahwa sifat regular individual, apalagi warga Indonesia, tak mungkin sama. Setiap orang menyukai warna yang berlainan. Perjalanan pagi antara petani dan pedagang besar kemungkinan berbeda. Itu sekaligus menjadi kunci utama yang memberitakan pada kita bahwa semua luka yang merata di setiap jenazah ialah tanda yang diciptakan oleh satu orang kalau bukan komunitas.

Tapi komunitas tidak bisa menyembunyikan karakter asli setiap anggotanya. Sekuat apapun komunitas, pasti memiliki perbedaan sistem kerja untuk anggotanya meski hanya bersifat formal. Maka kemungkinan untuk komunitas aku singkirkan.

Itu kesimpulan yang cukup meyakinkan mereka bahwa rentetan kematian ini adalah criminal yang dilakukan oleh seorang dua orang saja...”

“Seperti itu…” Jane kurang puas, “Tapi kenapa kau begitu yakin kalau pelakunya berada di Indonesia?”

“Tidak,” Zahir memotong, “Aku tidak yakin dia berada di negri ini.”

“Lantas?”

“Victim yang berbicara.”

“Victim?”

“Sure!” sambutan Mahasiswa ISID itu spontan, “Victim awal menurut data akurat dari Dr. Andika menyatakan kalau diri sang korban ialah seorang anak pingit dengan link sempit, dan kemungkinan akses keluar negri semuanya tertutup.”

“Indonesia penduduknya jutaan. Bagaimana kau memilah jumlah itu untuk mendapatkan seseorang?”

“Untuk saat ini, aku hanya menunggu perjalanan semua rencanaku.”

Jane menggelengkan kepalanya takjub, “Jadi selama seminggu ini kau sudah bergerak sejauh ini?”

“Tidak jane, aku hanya baru menerapkan teori dari buku saja,” Zahir tenang, “sementara kau sudah bolak-balik rumah sakit untuk meneliti korban dengan teliti.”

“Tapi hasil yang kudapat tak sebanyak yang kau capai…”

Senyum Zahir terkembang, “Kau terlalu merendahkan dirimu sendiri Jane.”
Yang ditegur heran.

“Akibatnya kau tak menyadari kalau tumpukan photo di ruang tamumu adalah bukti penguat bahwa semua luka pada korban bukan disebabkan oleh paku seperti yang diisukan warga.”

“Bukan karena paku?”

“Tapi ular. Itulah kenapa aku memintamu mencarikan jenis gigi ular macam apa barusan.”

Kening jane berkerut, “Jadi barusan kau tidak bercanda?”

“Ha… ha ha,” tawa Zahir pecah, “Kau adalah orang yang paling tahu tentang aku Jane. Hanya kau orang yang paling tahu kalau aku tidak menyukai gurauan.”

# # #

Ruangan kecil itu redup. Kepulan asap rokok yang menyesaki ruangan membuat deskripsi terdekat antara tempat itu dengan gua di pegunungan. Bekunya tembok lux jelas menyimpan jutaan misteri. Bayang-bayang hitam di tiap sudut ruangan menunjukkan bahwa ruangan itu terhiasi kepala hewan-hewan langka.

Seseorang terbatuk. Ia ialah seorang budayawan jawa yang dianggap gila oleh masyarakat luas. Pria dengan pakaian gaya kaum ‘abangan’ tempo dulu. Blangkon yang dikenakan seperti sebuah ucapan ‘aku tahu cerita masa lampau’. Dan kenyataannya memang begitu.
Sekitar setahun lalu, nasibnya yang tak jauh beda dengan gelandangan berubah drastis setelah bercerita tentang keris Naga Runting di sebuah emperan surau. Dia masih ingat jelas wajah tiga pendengarnya. Dua orang dari mereka tak jauh berbeda dari warga biasa

Hanya satu dari mereka yang mendengar sampai akhir. Pendengar terakhir itu ialah seorang pemuda yang selalu tampak tenang, taksiran bahwa dia seorang mahasiswa memang tepat. Dialah yang memberinya sebuah kartu nama seseorang dengan nama Andromeda 28.

Pemuda itulah yang memberi tahu padanya kalau cerita-ceritanya akan sangat diperhatikan jika ia mendatangi alamat dalam kartu nama itu. Lalu budayawan itu mencari, alamat itu sangat sulit dicari.

Ketika sampai di alamat yang dituju, ia langsung digeledah. Semacam proteksi ketat sebelum masuk pintu gerbang. Rumah dalam pintu gerbang sangat luas. Saat memasuki rumah itu, matanya ditutup.

Ia dituntun menuju sebuah ruangan sempit ini dan bercerita tentang semua yang didapat dari ayahnya tentang mitos. Ia bercerita pada pria didepannya yang membebaskannya dari tema.

Dus, ia dijadikan guru privat tentang budaya sampai saat ini. Bayaran yang ia dapat persis seperti dosen di Universitas negri. Dalam sekejap, ia menjadi kaya.

“Kita ciptakan drama yang sesungguhnya,” ucap lelaki didepannya pelan.

“Maksudmu?”

“Keris Naga Runting…” lelaki jangkung itu mengeluarkan sebilah keris, “sekarang ada padaku.”

Budayawan itu terkesiap, “J… jadi?”

“Dan Naga Runting sudah jinak padaku.”

“K… kau?” mulut budayawan
tercekat, “Yang menciptakan semua…”

“Tepat!”

bersambung...

Read previous post:  
40
points
(16 words) posted by azura7 15 years 18 weeks ago
57.1429
Tags: Cerita | horor | dendam | detektif | misteri | thriller.
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer bluer
bluer at Dragon X Riffles 06 (15 years 8 weeks ago)
80

wah makin tegang nih..
cerita mu bagus nih, dah jadi buku ya??
lanjuut...

Writer sekar88
sekar88 at Dragon X Riffles 06 (15 years 15 weeks ago)
60

ceritanya menggabungkan antara hal2 berbau msitis di indonesis dengan a little bis of sience. makanya aku bilang mirip death note. tapi versi indonesia yang ini keren^_^

Writer redshox
redshox at Dragon X Riffles 06 (15 years 16 weeks ago)
100

menarik, gue baca dari seri 1 dulu yah...

Writer KD
KD at Dragon X Riffles 06 (15 years 16 weeks ago)
100

seremmmm

Writer indritaauthorize
indritaauthorize at Dragon X Riffles 06 (15 years 16 weeks ago)
90

....

ga bisa kasih coment

Writer azura7
azura7 at Dragon X Riffles 06 (15 years 17 weeks ago)

kau, kamu. aku, saya, gue. itu memang tantangan berat untuk karya sejauh pengamatan saya selain kata 'yang' yang berlebihan. Makacih udah diingetin yoo

Writer miss worm
miss worm at Dragon X Riffles 06 (15 years 17 weeks ago)
80

..ada beberapa similiarity terhadap beberapa karya di luaran.. anyway, bagus..
tinggal perbaiki beberapa EYD dan konsistensi pemakaian kata.

Writer imr_aja
imr_aja at Dragon X Riffles 06 (15 years 17 weeks ago)
80

Deg deg deg... jantung gue berdetak...

Lanjut...