Secret of Elliuzel bag. 2 : Quinsive Fanhart

Pagi di hari yang baru. Suara gemuruh air terjun terdengar jelas menghantam sungai yang cukup dalam di bawahnya. Di sekitar sungai itu terdapat batu-batuan yang besar bagai karang. Terlihat juga di sekitar bebatuan itu seorang anak perempuan berambut merah pendek yang sedang bermain air sedangkan laki-laki berambut merah berbadan kekar yang menemaninya menangkap ikan dengan tombak. Anak perempuan itu melompati bebatuan di depannya dengan riang.

“Hei, Riou, lihat!” teriaknya sambil menunjuk ke celah di antara dua buah batu besar. Sepertinya ia melihat sesuatu.

“Ada apa, Shiva?” balas suara rendah Riou lalu mendekat ke arah Shiva.

Yang dilihat Shiva adalah tubuh seorang anak berusia duabelas tahun yang tersangkut di celah batu. Di dahi anak itu ada bekas darah. Ia terluka dan tak sadarkan diri. Gemericik air sungai menggelitik tubuh anak itu.

“Ayo, kita tolong dia!” kata Shiva. “Kita bawa saja ke rumah.”

Riou mendekati tubuh anak itu dan mulai mengangkat tubuh anak itu ke bahunya yang kekar.

“Aaaah…!” gumam anak itu di tengah ketidaksadarannya. Sepertinya dua tulang rusuknya patah.

Rencana Riou dan Shiva untuk mencari ikan tertunda untuk menolong anak ini. Jarak antara sungai dan rumah mereka cukup jauh. Mereka harus menempuh perjalanan sepanjang sepuluh kilometer dengan berjalan kaki.

Sesampainya mereka di rumah, ibu Shiva menyambut mereka. Ibu Shiva memiliki wajah yang dihiasi dengan beberapa kerutan di sekitar matanya. Rambutnya merah panjang dan dihiasi oleh pita warna kuning pada ujungnya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi namun ideal untuk seorang wanita, dan yang mengejutkan, ia masih terlihat cantik di usia yang hampir mencapai limapuluh tahun.

“Siapa anak laki-laki yang kalian bawa pulang itu, Riou?” tanya ibu mereka sambil mengamati wajah anak malang yang berada di bahu Riou.

“Anak ini kami temukan terluka sewaktu kami sedang mencoba menangkap beberapa ikan, Bu,” jawab Riou dengan singkat.

“Kalau begitu cepat bawa dia ke tempat tidur! Ibu akan memanggil ayahmu untuk segera mengobati luka-lukanya,” kata sang ibu. “Shiva, bawakan sebaskom air hangat dan kain!”

Riou segera membawa anak itu ke tempat tidurnya, membaringkannya, dan memberi bantal di bawah kepalanya. Shiva datang dengan membawa sebaskom air hangat dan kain seperti yang sudah diperintahkan oleh ibunya dan kemudian ia duduk di samping anak yang sedang berbaring itu. Segera saja Shiva membasuh luka di dahinya dengan kain yang sudah dibasahi oleh air hangat. Anak yang masih setengah sadar itu merintih pelan karena ada yang sesuatu menyentuh lukanya.

Tak beberapa lama, ibu Shiva datang diikuti oleh suaminya. Wajah ayah Shiva terlihat sangat berwibawa dengan kumis tipis yang menghiasi. Kepala keluarga ini juga berambut merah dan pekerjaannya adalah tabib. Sang tabib ini terburu-buru berjalan menuju tempat tidur yang ditunjukkan oleh Riou.

Sang ayah terkejut saat melihat wajah anak yang sedang berbaring lemah di dalam rumahnya. “Ya Tuhan!” pekik sang ayah.

“Ada apa, Ars?” tanya ibu Shiva sambil maju mendekati suaminya diikuti oleh Riou dan Shiva.

“Rinna, dia adalah Pangeran Quinsive Fanhart putra mahkota kerajaan Clondrane,” kata Arsene yang kemudian langsung memeriksa denyut nadi anak itu.

“Oh…! Maksudmu, ia adalah anak dari Raja Theonose Fanhart?” Rinna terkejut mendengar perkataan suaminya.
“Bagaimana kau bisa tahu bahwa itu adalah dia?” tanya Rinna lagi setelah melihat anggukan kepada Arsene sebagai jawaban dari pertanyaannya yang pertama.

“Aku sering dipanggil ke istana untuk pemeriksaan kesehatannya. Oh, dua tulang rusuknya patah. Riou, tolong ambilkan perban yang ada dalam laci! Ya, itu dia.”

Segera saja Arsene dibantu oleh istri dan kedua anaknya membungkus dada dan perut Quinsive dengan perban kemudian mengoleskan balsam ke tubuh anak itu. Mata anak itu perlahan terbuka dan kesadarannya sudah mulai pulih. Ia melihat ke sekelilingnya. Ia mengamati empat orang yang sedang menatapnya dengan cemas.

“Oooh, akhirnya Pangeran siuman!” kata Arsene yang membantu Quinsive untuk duduk.

“Pangeran?” tanya Quinsive kebingungan sambil memegang dahi dan perutnya yang terasa sakit. “Di mana dan apa yang terjadi denganku?”

Rinna memekik, “Ya, Tuhan, ia tidak ingat siapa dirinya. Oh, jangan banyak bergerak, Nak!”

“Siapa pangeran yang kalian maksud?” Quinsive membetulkan posisi duduknya sambil meringis memegangi dadanya yang dibalut perban.

“Anda, Pangeran Quinsive Fanhart, Putra Mahkota kerajaan Clondrane, anak dari Raja Theonose Fanhart. Sekarang, Anda berada di rumah saya, Arsene Wigrade, tabib yang selalu memeriksa kesehatan Anda. Dan ini Rinna, istri saya, anak-anak saya, Riou Wigrade dan Shiva Wigrade,” Arsene memperkenalkan diri.

to be continued...

Read previous post:  
49
points
(711 words) posted by coolkid 13 years 49 weeks ago
70
Tags: Cerita | fanfic | fantasi | secret
Read next post:  
80

Mau berpendapat apa lagi ya? Semua udah ditulis di atas. Ngikut deh!

Kunjungi juga karyaku ya, thx

70

masa tulang rusuk patah cm diperban duank??
kyknya klo jatoh dr air terjun gitu bisa gegar otak dehh...
masa ini ga knapa2??
hahaha...
deskripsinya uda ok..
hehe..

70

Yang pertama : 10 km dengan berjalan kaki?

Anak-anak hercules?
Atau paling engga, kasitaulah paling engga. Butuh waktu yang lama untuk mengantar quinsive hingga akhirnya mereka tiba di rumah kala matahari sudah tinggi/turun. (mereka nemu quinsive pagi2 kan?)
------------------------

Yang kedua : Kok langsung bereaksi setelah siuman?

Abis siuman, sewajarnya ada reaksi nyer2an yang relatif lama dan tak mampu menanggapi dan menjawab langsung. Atau. Suara2 di sekelilingnya kresek2 dan ga bisa didengar untuk detik2 pertama.

Contoh :
"Oh, akhirnya pangeran siuman!"
menjadi...
"Oh, ...irnya... ...siuman..."

-------------------------------

Dan saya rasa, pendarahan di jidatnya quinsive gara2 kebentur, harusnya punya efek lebih mematikan dari itu.

-------------------------------

Cukup dulu. Dari sini, kau bisa membuat ceritanya jadi (paling engga) lebih berbelit biar kesannya lebih menantang. Tulis terus lanjutannya, ok?

Keep writing!